Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1988 Panitia untuk ekspor film

PUNCAK Festifal Film Indonesia (FFI) tahun ini masih sebulan lagi. Tapi insan film sudah mulai menghitung-hitung, siapa yang kebagian Piala Citra, lambang supermasi keunggulan pekerja film nasional. Senin pekan lalu, Komite Seleksi sudah mengumumkan 18 film filihan untuk dinilai para juri. Dari segi mutu, FFI tahun ini sama saja dengan FFI sebelumnya. Tak ada loncatan yang berarti apalagi dengan absennya sutradara beken seperti Teguh Karya dan Arifin C. Noer. Namun, dari penyelenggaraan, tahun ini memasuki era baru. Kegiatan yang bersifat pemborosan benar-benar ditinggalkan. Dan perubahan yang lebih mendasar adalah sistem kepanitiaan yang ditetapkan lima tahun berdasarkan keputusan Menteri Penerangan. Perubahan yang menyegarkan itu memang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. "Dulu tanggung jawab penyelenggara sebatas asal sukses. Sekarang harus mampu meningkatkan apresiasi masyarakat dan mutu perfilman," kata Johan Tjasmadi, Ketua Umum Pantap (Panitia Tetap) FFI. Tugas lain yang diemban panitia tetap ini adalah meningkatkan produksi film, sehingga sampai akhir Pelita V nanti jumlahnya mencapai 120 hingga 140 buah per tahun. Itu berarti kenaikan hampir 100 persen dibanding rata-rata yang sekarang ini bisa dicapai. Karena itu, Pantap ini tak berhenti bekerja setelah Piala Citra dibagikan. Ia tetap menyusun program bulanan untuk mendorong produksi serta mutu film. Baik lewat diskusi, ceramah, maupun pekan-pekan film. Selain itu, mempromosikan film-film Indonesia di luar negeri. Bukan sekadar harus bisa menjual. "Tapi mengenalkan bahwa Indonesia juga punya industri film," kata Johan. Karena itu, dalam Pantap ini ada Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri. Bidang Hubungan Luar Negeri ini menurut Menteri Penerangan Harmoko adalah untuk mamantau seberapa jauh film Indonesia bisa diekspor ke luar negeri. "Arahnya memang ke sana, yakni mengejar ekspor nonmigas di bidang film. Dan saya yakin bisa," katanya. Sebagai bukti, Menteri memberi contoh, setiap bulan TV Malaysia rata-rata memutar dua film Indonesia. "Dan itu dibeli dari kita," kata Harmoko. Nantinya, target pasar tak cuma di kawasan Asia, tapi masuk ke Eropa. Tentang FFI itu sendiri, Menteri memang menekankan agar dibuat sederhana dan tidak membebani masyarakat. Dana FFI '88 sama dengan tahun lalu, berkisar antara Rp 150 dan Rp 200 juta. Sebagian besar dari Dewan Film Nasional dan Departemen Penerangan. Sumbangan dari sponsor tidak berupa uang, tapi barang, misalnya spanduk dan umbul-umbul. Produser juga bebas dari pungutan. Alasannya, menurut Johan, produser sudah mengeluarkan biaya untuk mendatangkan artis ke daerah-daerah dalam pekan film. Jumlah film peserta FFI '88 memang lebih banyak. Tahun lalu yang masuk komite seleksi hanya 53 film. Film pilihan berjumlah 15 buah. Tahun ini masuk komite seleksi 83 film dan film pilihan 18 buah. "Tak semua film bisa dinilai. Ada delapan kopi film yang rusak," kata Ilham Bintang. Yusroni Henridewanto dan Tri Budianto Soekarn

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar