Senin, 14 Februari 2011

FFI 1987 / Citra itu untuk nagabonar


TERJADINYA sedikit kesalahan teknis -- keputusan juri salah masuk amplop yang mengganggu kelancaran upacara, untunglah tak sampai merusakkan suasana gembira malam penutupan Festival Film Indonesia 1987, Sabtu malam pekan lalu. Dan sesudah Nagabonar dinyatakan memenangkan 6 Piala Citra, bisa ditebak bahwa komedi itu pastilah dipilih sebagai film terbaik. Sebelumnya banyak yang menduga, Citra untuk film terbaik akan jatuh pada Biarkan Bulan Itu. Sebab, film ini mencatat 12 nominasi, sementara Nagabonar, dan Kodrat, masing-masing hanya sembilan. Tapi rupanya Bulan karya Arifin C. Noer tak beruntung alias gagal. Tak satu pun Citra diperolehnya. Sementara itu film yang tak lolos nominasi, seperti Secawan Anggur Kebimbangan karya Wim Umboh, memperoleh Citra untuk editing. Apa yang terjadi? Ada sejumlah hal yang menimbulkan pertanyaan. Umpamanya, Citra untuk penyutradaraan -- unsur terkuat yang menentukan sebuah film sebagai terbaik -- tidak dimenangkan oleh M.T. Risyaf, sutradara Nagabonar. Citra untuk penata fotografi juga tidak diperoleh film yang menang ini. Padahal, fotografi termasuk unsur penting dalam menentukan sebuah film menjadi baik atau sebaliknya. Kalau dikaji lebih jauh, kekuatan Nagabonar hanya terkumpul pada tiga aspek: cerita dan skenario, akting, musik dan tata suara. Bandingkan umpamanya dengan film terbaik dalam FFI tahun lalu, Ibunda yang juga memenangkan sejumlah aspek penting dalam sebuah film. Dari sembilan Citra yang diraih oleh film Teguh Karya itu di antaranya adalah unsur-unsur penting: penyutradaraan, pemeran utama, fotografi, editing, cerita. Tentu saja, mutu sebuah film tidak ditentukan oleh tiap-tiap unsurnya, tapi keterpaduan dan keserasian kesemuanya: bobot artistik, teknis, kematangan penggarapan. Di samping itu, masih ada faktor x, yang membuat sebuah karya dipandang punya nilai lebih daripada karya lainnya. Mungkin di situlah keistimewaan Nagabonar -- menurut dewan Juri, tentu. Adapun susunan lengkap pemenang: Film: Nagabonar sutradara: Slamet Rahardjo (Kodrat) pemeran utama wanita: Widyawati (Arini) pemeran pria: Deddy Mizwar (Nagabonar) pemeran pembantu wanita: Rodiah Matulessy (Nagabonar) pemeran pembantu pria: Darussalam (Kodrat) skenario: Asrul Sani (Nagabonar) cerita asli: Asrul Sani (Nagabonar) editing: Emile Callebout (Secawan Anggur Kebimbangan) penata fotografi: M. Soleh (Kodrat), penata artistik: A. Affandy S.M. (Cintaku di Rumah Susun) penata suara: Hadi Artomo (Nagabonar) penata musik: Franki Raden (Nagabonar).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar