Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1982 Bila bintang cilik berubah

DIA anak yatim yang bercita-cita jadi dokter. Honorariumnya main film yang Rp 0,5 juta sudah ia habiskan untuk mainan dan pakaian. Tapi Sumardani Marsuni alias Dhani, 8� tahun, nampak tetap ceria, lincah dan banyak tawa. Sebagai Temon dalam Serangan Fajar dia sangat mengesankan hingga juri FFI 1982 memberinya penghargaan, khusus untuk peran anak-anak. Dengan ini sutradara Arifin C. Noer berhasil mencetak seorang bintang lagi, sah diakui sebagai penghuni dunia film yang gemerlapan. Akankah dia bertahan lama di sana, agaknya masih terlalu pagi untuk direka. Untuk peran Temon, Arifin sebenarnya mencari seorang bocah Jawa tulen, 100%. Tapi dari sekitar 30 anak yang dites, Dhani paling top, menurut Budi Setiawan, abang pemain cilik itu. Pilihan pun jatuh padanya. Ternyata tidak mengecewakan, padahal beraksi di depan kamera baru itulah yang pertama. Mungkin juga yang terlama. Mengapa? Untuk membintangi Serangan Fajar (SF), Dhani terpaksa meninggalkan bangku sekolah lima bulan, dari November 1980 sampai Maret 1981. Akibatnya dia tidak naik kelas. Tapi anak itu tidak menyesal mendekam satu tahun lagi di kelas 2 SD. Kok tidak? "Karena main film dapat uang banyak," jawabnya mantap. Dhani rupanya sudah mengetahui benar nikmatnya uang. Tanpa ragu ia bersedia main film lagi tapi honorariumnya yang dimintanya kini tidak kurang dari Rp 1 juta. Tatkala ia diterima Presiden Soeharto akhir Februari lalu, kepadanya dijanjikan tabanas. Sayang, tabanas yang dinanti-nanti dari Kepala Negara itu belum juga sampai ke tangannya. "Sekarang masih diurus," tutur Dhani. Ketika ditanya ia minta berapa, anak itu mencetus tak terduga: "Dua juta!" Tapi segera ia menambahkan, "Yang dari Pak Harto biar sedikit, mau ditabung juga." Di samping telanjur dengan uang, Dhani juga ketagihan menonton film. Dalam sepekan ia menonton 3 - 4 kali, terutama film perang, film silat dan film sedih. Anehnya dia tidak berminat pada film anak-anak. Terbilang anak yang terjun ke film untung-untungan, Dhani nampaknya kurang terarah. Sebaiknya ada persiapan lebih rapi hingga andaikata kelak ia tidak "laku" lagi, anak itu tidak mesti mengulang nasib Mangapul Panggabean, bintang cilik tenar (filmnya antara lain Jenderal Kancil) yang sekarang jadi pegawai negeri rendahan. Persiapan semacam itu diperoleh Rizki Amelia alias Kiki, 7� tahun. Gadis cilik itu -- kini mengambil alih tempat Faradilla Sandi -- sudah memulai karirnya pada umur 1 tahun 8 bulan. Ini tidak terlalu mengherankan karena Kiki memang keturunan aktor. Kakeknya, Sjamsuddin Safei, pemain sandiwara kenamaan dari perkumpulan sandiwara Keluarga Ratu Asia. Ibunya, Pipiet Sandra, sering muncul dalam sandiwara televisi. Begitu pula ayahnya, K.M. Bey Erry. Melihat anak lain main sandiwara, pernah ia bertanya kepada ibunya, "Kok Kiki tidak diajak main?" Kemudian ia menirukan lagu Hujan Rintik-rintik hingga berurai air mata. Maka Kiki pun "dicoba" untuk pertama kali berperan dalam sandiwara televisi Keluarga Berencana. "Waktu itu dialognya masih dibatasi," tutur sang ibu. Sekarang kepada pemain cilik itu diajarkan cara akting yang baik, menghafal dialog dan menghayati cerita. Meski kebolehannya berperan "sudah agak lumayan," katanya, "menghayati cerita" tidak gampang. Memang itu bisa diatasi, karena "kan sudah biasa main film," lanjutnya ringan. Nona kecil itu tidak melebih-lebihkan. Dalam tempo 4 tahun ia sudah membintangi 8 film belum terhitung sandiwara televisi. Filmnya terakhir Tangan-tangan Mungil. Di sini Kiki berperan sebagai Lala, anak perempuan yang kelaki-lakian. Permainannya sudah menonjol, namun piala khusus sebagai pemeran anak-anak terbaik justru diperoleh Kiki tahun lalu di FFI Surabaya, dalam film Nakalnya Anak-anak. Bercita-cita jadi insinyur pertanian, Kiki sekarang duduk di kelas 2 SD Al-Azhar. Tidak seperti Dhani, "honornya dirahasiakan, ditabung," tutur Pipiet. Tapi Kiki pun seperti Dhani, gemar menonton film. Mereka berdua mengaku "main film itu capek " biarpun "tidak mengganggu sekolah." Di sela-sela shooting, Kiki membuat pekerjaan rumah, menghafal atau membaca. Menurut penilaiannya, sutradara dan crew film "baik-baik semua," selalu membantunya dalam akting dan belajar. Namun selama shooting anak itu tetap didampingi ibunya. "Menjaga ia dari hal-hal yang semestinya belum boleh ia dengar," Pipiet menjelaskan. Sebagaimana anak-anak lain, Kiki oleh kedua orang tuanya diarahkan agar bisa tumbuh secara wajar. Anak tunggal yang punya lesung pipit pemanis itu bebas bermain-main, asal tahu waktu. Tapi Dhani, yang pernah terlibat shooting 5 bulan di Yogya, kembali ke rumah sudah berubah. Pergaulannya yang cukup lama dengan orang dewasa di sana menyebabkan anak ke-9 dalam 10 bersaudara itu sampai kini masih kurang "sreg" bermain dengan teman sebaya. Sampai bisa begitu rupanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar