Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1981 Dengan citra, rasanya plong

BINTANG film Maroeli Sitompoel 44 tahun, kelihatan riang dan segar. Juri FFI di Surabaya telah memilihnya sebagai pemeran utama pria terbaik (memperoleh Citra) berkat permainannya dalam film Laki-Laki Dari Nusa Kambangan. "Setelah mendengar keputusan itu, hati saya rasanya mak plong!" katanya dalam logat Jawa bernada berat. Maroeli sudah lama mendambakan Citra. Ia pernah kehilangan kesempatan memperolehnya dalam film Tuan Tanah Kedawung (sebagai pemeran utama) di 1972 dan November 1828 (sebagai pemeran utama) di 1979. Kegagalan itu, katanya, terasa pahit. "Sebab saya merasa sesungguhnya punya kemungkinan menang." Hingga kini, Maroeli sudah bermain di 40 film lebih. Ia terjun ke film pertama kali (1963) dalam Tangan-tangan Kotor (sutradara Sunjoto Adibroto). Tapi film itu, karena dianggap kiri, dilarang beredar. Pendidikan aktingnya antara lain diperolehnya dari Akademi Seni Drama dan Film Yogyakarta. Imbalan yang diterima aktor kawakan ini -- paling tinggi Rp 2,5 juta dalam Dokter Siti Pertiwi Kembali Ke Desa - jelas di bawah Jenny Rachman yang konon menerima Rp 35 juta. Gara-gara mempersoalkan honor itulah, ia pernah (1973-1975) dikucilkan dari dunia film. "Anak-anak saya ketika itu hampir mati kelaparan," katanya. Maroeli, sekalipun berdarah Batak, ternyata lebih mahir berbahasa Jawa. Ia memang lahir di Cilacap, dan besar di tanah Jawa. Dari pernikahannya dengan M.F. Susilowati, ia kini memperoleh tiga anak. Sampai saat ini, ia masih merasa cukup memperoleh nafkah sebagai pemain film. "Belum terpikir oleh saya, misalnya, jadi sutradara, sekalipun bidang itu saya sukai," katanya. Kenapa? "Jika jadi sutradara, saya takut cepat mati karena terlalu banyak berpikir." Suasana riang juga meliputi bintang film Mieke Wijaya. Ia, seperti juga Maroeli yang tak berangkat ke Surabaya, menyongsong kemenangan itu (lewat siaran langsung TVRI) bersama keluarga di rumah. Mieke meraih Citra berkat permainannya (sebagai pemeran utama) dalam Kembang Semusim (sutradara M. Taha) setelah (1978-1980) absen main film. "Dalam usia seperti sekarang ini (41 tahun), kemenangan itu punya arti kuat buat saya pribadi," katanya. Ia pernah dapat Citra sebagai pemeran pembantu di Ranjang Pengantin (1974). Mieke terjun pertama kali ke film (1955) dalam Gagal sebagai pemeran pembantu. Sampai kini ia sudah bermain di 60 film lebih. Pendidikan akting (1956-1957) diperolehnya di Akademi Teater Nasional. Dari pernikahannya dengan Dicky Zulkarnaen juga bintang film, ia memperoleh empat anak. Sekalipun profesinya pemain film, Mieke mengaku lebih sering berada di lapangan bola mendampingi Dicky yang mencintai bola. Bila tak ada shooting film, pagi hari ia sering jogging di lapangan silang Monas. Setelah berlari santai, ia biasanya menunggu (selama 3 jam) Barry, 5 tahun, anak bungsunya, yang bersekolah di Taman Kanak-kanak Aisyah. "Menonton film pun, saya jarang melakukannya," katanya. "Heran memang, saya kok justru lebih sering bergaul di luar lingkungan masyarakat film." Hasil lengkap FFI pekan lalu di Surabaya: Perempuan Dalam Pasungan (film cerita terbaik), Ismail Soebardjo (sutradara terbaik), Mieke Wijaya (pemeran utama wanita terbaik), Maroeli' Sitompoel (pemeran utama pria terbaik), Parakitri Tahi Simbolon (skenario terbaik), Ita Mustafa (pemeran pembantu wanita terbaik), Zaenal Abidin (pemeran pembantu pria terbaik), Tantra Suryadi (sinefotografi terbaik), George Kamarulah (editing terbaik), Eros Jarot (tata musik terbaik), Benny Benhardi (tata artistik terbaik). Perempuan Dalam Pasungan meraih Citra terbanyak (film cerita terbaik, penyutradaraan, sinefotografi, dan tata artistik). Kemudian menyusul Usia 18 (sutradara Teguh Karya) memperoleh Citra (tata musik, editing dan pemeran pembantu pria).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar