Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1977 Antara rencana cerita dan film ...

Direktorat Bina Film Departemen Penetangan baru-baru ini mengadakan suatu sayembara penulisan cerita untuk film. Penyair Taufiq Ismail adalah salah seorang di antara anggota juri bagi sayembara tersebut. Tulisan berikut ini adalah catatan Taufiq dari pengalamannya memeriksa 856 naskah peserta sayembara. Ia membandingkannya juga dengan film-film yang dilihatnya selama jadi juri FFI '77 (TEMPO, 12 Maret 1977). DARI 856 naskah cerita film yang ikut Sayembara Penulisan Cerita Film Indonesia 1977 (diselenggarakan oleh Direktorat Film, Deppen), dinyatakan memenuhi syarat 561 naskah. Tujuh orang juri bekerja selama tiga bulan, dan untuk mencapai lima cerita yang dianggap terbaik, 33 naskah dipilih masuk final. Cerita angka ini mengenai naskah yang 33 buah itulah. Lingkugan Cerita Dari 33 naskah yang masih babak akhir itu, 21 buah bercerita tentang manusia Indonesia di kota (63,6%) dan 12 berkisah tentang orang desa di pedesaan (36,4%). Dilihat dari gerakan pelaku terlihat 4 cerita urbanisasi, dan sebuah dengan ciri gerakan dari kota ke desa. Nampaknya para pengarang ini lebih besar perhatiannya pada desa dibandingkan dengan para pembuat film kita yang ikut Festival Film Indonesia 1977 yang silam. (FFI: kota 81,5%, desa 14,9%). Kelas Masyarakat Empat naskah bercerita mengenai kalangan atas (12,1%), 20 tentang kelas menengah (60,6%) dan 9 mengenai kelas bawah (27,3%). Perlu jadi catatan bahwa dari 4 cerita kelas atas itu 3 mengenai raja-raja zaman dahulu dan 1 mengenai anak pegawai tinggi setingkat di bawah Dirjen zaman ini, yang kaya-raya, punya lima perusahaan (impor-ekspor, angkutan, tekstil, peternakan sapi dan real estate) dan, betul seperti dugaan anda, anak itu ketagihan obat bius. Film-film FFI tahun ini tidak memaparkan kehidupan kelas atas, sangat berorientasi pada kelas menengah (92,6%) dan nyaris luput memotret kehidupan kelas bawah (7,4%). Lambang Kekayaan Pengarang-pengarang ini rupanya tak begitu peduli akan mobil sebagai simbol kemewahan orang kota Indonesia: merek-merek mobil yang disebut paling pol Fiat, Citroen (itupun salah eja lagi: Zitroen), dan misalnya tentang mobil seorang pemilik perkebunan kaya-raya, perinciannya hanyalah "sedan berwarna abu-abu dan baru berumur setahun". Mobil pegawai tinggi yang punya lima perusahaan di atas, dan juga mobil anaknya si korban narkotika yang akan diangkat jadi direktur perusahaan "Cendana Biru" itu pun tidak diberi merek yang tegas. Sineas Indonesia yang mengikutkan filmnya di FFI yang lalu memperlihatkan Mercedes-Benz dan Volvo secara nyinyir pada 18,5% entri festival. SPCFI: 6,06%, atau pada dua cerita. Dalam soal bermobil-mobil ini pembuat flm kita nyinyir dan berisik, sedangkan para pengarang gagu tapi bersahajanya mencurigakan. Perabot mewah (termasuk perabot ukir) muncul sebagai latar belakang pada 5 cerita, atau 15,2%. Dua dari lima cerita itu berlangsung di keraton zaman dahulu. FFI: 55,5%, dan semuanya perabot ukir Indonesia mutakhir. Sepeda Tokoh-tokoh pada dua cerita (6,06%) pergi ke mana-mana naik sepeda. Semuanya tokoh guru, semuanya di kota kecil. Pak guru SMA kita ini, muda, berpacaran boncengan naik sepeda Pergi menunaikan tugas mengajar, naik sepeda. Gam baran suasana seadanya dan serasi. Yogya kota sepeda itu tidak tertangkap dalam film Kampus Biru. Ada mekanisasi besar-besaran pada kendaraan roda dua ini di kota itu. Sebuah long shot pada Kampus Bn menggambarkan deretan parkir berpuluh-puluh sepeda motor bikinan Jepang itu, dan pada shots lain mahasiswa bersliweran dengan kuda karbon-dioksid itu: barangkali memang dianggap tidak perlu sepeda-sepeda diikutkan dalam gambaran Yogya sebagai suatu suasana. Sepeda dalam FFI 1977: 0%. Gejala Anak Tunggal Lumayan juga banyaknya tokoh anak tunggal yang muncul dalam cerita-cerita sayembara ini, yaitu pada 14 naskah atau sebanyak 42,4%. Namun anglia ini belum menandingi ledakan anak tunggal di FFI sebesar 70,3%, yang memberi kesan kuat bahwa mayoritas keluarga Indonesia cuma bisa beranak satu orang saja. Kembali pada SPCFI lagi, maka tokoh-tokoh yang berasal dari keluarga Melayu yang beranak lebih dari satu terdapat pada 11 cerita (33,4%). Naskah yang ada anak tunggal dan anak lebih dari tunggal ada 4 buah (12,1%), kemudian yang tidak jelas statusnya ada 4 buah pula (12,1%). Klab Malam Klab malam, tempat mandi uap dan rumah pijat muncul dalam alur cerita 3 naskah, berarti besarnya adalah 14,3% dari cerita yang berlangsung di kota. FFI yag lalu: 52,1%. Fantasi pengarang peserta sayembara mengenai klab malam, tempat mandi uap dan rumah pijat, ternyata miskin. Meminjam istilah militer, kuat dugaan kita mereka tidak "mengenal medan". Sineas kita lebih bersahabat dengan tempat-tempat itu. Kehormatan Apabila 22,2% film peserta FFI 1977 mengisahkan wanita Indonesia yang terdesak hidup ekonominya lantas segera disorongkan pembuat film lewat jalan pintas menjadi penjual kehormatan, maka hal semacam itu pada SPCFI 1977 terdapat sebesar 6,06% (pada dua naskah). Mengherankan sabarnya tokoh-tokoh pimpinan wanita Indonesia zaman ini, yang tidak pernah angkat bicara mengenai penggambaran cucu-cucu Ibu Kita Kartini di seluloid, yang lebih banyak sebagai obyek sahaja - cuma syaraf dan daging, tanpa otak dan tulang itu. Riwayat Nyi Gunawarman (karangan Pamelingan) adalah kutub yang melawan kecenderungan itu. Ini dia cerita yang bisa memuaskan fernale chauvinistis, karena sang Nyi Gunawarman, tokoh wanita zaman dahulu kala ini mengkotak-katikkan lelaki seenaknya. Dia membujuk, memperdaya, menipu lelaki, dari bawahan sampai raja. Nampaknya lelaki bagi Nyi Gunawaman adalah semacam lempung untuk benda keramik. Sedap juga membaca naskah begini, sesudah melihat film yang 22,2o dan cerita yang 6,06% tadi, yang menjadikan wanita Indonesia semata-mata jadi obyek belaka. Hubungan Kelamin Kegiatan menghubung-hubungkan kelamin ini terdapat pada 9 cerita, yaitu yang di luar pernikahan: satu dengan pelacur (11%) dan 8 dengan bukan-pelacur (89%). FFI: 6 berbanding 10 (37,5% berbanding 62,5%). Yang dimaksud dengan bukan pelacur adalah teman, kekasih, dan (dalam satu dongeng rakyat Irian Barat) adik kandung sendiri. Tidak ada penggambaran hubungan kelamin dengan pembantu rumah tangga (dalam FFI ada), atau dengan yang sejenis. Masturbasi ada (satu cerita, 3,03%, sedangkan pada FFI 0%). Tema dan Cerita Untuk memudahkan perbandingan dengan FFI 77, maka penggolongan jenis cerita dari naskah-naskah SPCFI ini disesuaikan dengan jenis film peserta festival itu. Dengan demikian ditemukan drama 51,6%, komedi 9,1%, cerita kejahatan dengan suspense 0%, cerita anak-anak 15,1%, cerita revolusi 15,1% dan cerita rakyat 9,1%. Untuk perbandingan dengan FFI 77, dapat dilihat tabel di halaman ini. Jenis komedi cuma sedikit saja lebih banyak pada naskah cerita film (9,1) dibanding dengan film (7,4%). Dilihat dari segi jumlah, kedua-duanya sedikit sekali. Orang Indonesia suka lelucon dan banyolan, suasana negeri ini pun cukup kocak dari masa ke masa, namun itu tidak terwakili pada kedua peristiwa FFI dan SPCFI ini. Terlampau sedikit kita diberi kesempatan untuk ketawa sejadi-jadinya dan secara lepas: seri kocak Ateng-lskak terlalu jasmaniah, Benyamin garapan Syuman menyorongkan pil pahit ke langit-langit mulut kita. Wilayah humor yang digarap pengarang peserta SPCFI lumayan pula sempitnya lewat tiga cerita: dongeng kanak-kanak Pak Mujur (nama samaran pengarang Yusi Syamsidar), Akhmad Dikubur Hidup-hidup (nama samaran Akhmad Idris) dan Riwayat Nyi Gunawarman (nama samaran Pamelingan). Yang terakhir ini berkisah tentang kemampuan serang janda zaman baheula mempermain-mainkan para pria dari bintara sampai raja, yang mengukuhkan dia sebagai subyek dan menjadikan lelaki obyek. Humor yang tangkas dan cerdas seperti yang tergambar pada sketsa-sketsa Arwah Setiawan (majalah Astaga mendiang) tidak nampak samasekali, yang secara umum kelihatan ialah pemaparan situasi komedi. Dialog tidak ping-pong. Sayang sekali film Inem Pelayan Sexy (skenario dan sutradara Nya' Abbas Acup) tidak ikut dalam festival yang lalu. Cerita kejahatan dengan suspence tidak ada yang masuk final SPCFI. Cerita anak-anak yang didaktis ada 5 buah (15,1%) dan dua di antaranya bisa juga digolongkan pada cerita bertema penanaman rasa cinta tanah-air, karena berlatar-belakang revolusi kemerdekaan. (FFI: 11,2 %). Kisah revolusi terdapat sebanyak 15,1%, dan dalam festival film yang lalu 0%. (Ada sebuah film yang dalam alur ceritanya ada adegan pertempuran di zaman revolusi, Mustika Ibu, tetapi itu bukan tema utamanya). Yang digarap pengarang-pengarang kita ialah peristiwa gerbong maut yang terkenal di Jawa Timur itu (Tragedi Gerbong Maut, nama samaran Widyakelana), pemberontakan Madiun (Singa Lodaya, samaran Macan Tutul dan Pengorbanan, samaran Suha), kemudian tentang lima pquang yang terdampar di sebuah pulau dan akhirnya mati semua (Lahirlah Kami, nama samaran Saba). Cerita rakyat yang absen di FFI 77, muncul sebanyak 9,1% di SPCFI. Mereka itu: Keluarga Siri (nama samaran pengarang Aldous Clesja), sebuah dongeng rakyat Irian Jaya yang belum dikenal luas di Indonesia. Dua cerita berikutnya dari Jawa Timur, yaitu Jaka Tingkir (nama samaran Chres) dan Sarip Tambak Yasa (nama samaran Brother de Luxe 1350). Yang terakhir ini memenangkan hadiah. Pro Orde Baru, Anti PKI Satu-satunya naskah (3%) yang terjalin erat dengan peristiwa demonstrasi pelajar-pelajar sekolah menengab menentang Orde Lama di tahun 1966, adalah Yang Pernah Jadi Tokoh, karangan (nama samaran) Abu Istighfar. Tempat terjadinya kisah ini ialah Tegal, di sebuah SMA Negeri, dengan tokoh seorang guru muda idealis yang berhasil memenangkan Orde Baru tetapi kalah dalam bercinta. Di FFI tidak ada film yang menggarap tema dengan latar belakang ini. Para Pemenang Dari lima naskah yang menang itu, tiga buah (60%,) berjenis drama, sebuah diangkat dari cerita rakyat (20%) dan sebuah lagi cerita kanak-kanak (20%). Cerita kanak-kanak ini dapat juga digolongkan pada cerita revolusi, karena jalinan kisahnya erat sekali dengan masa perjuangan kemerdekaan. Tiga cerita mengenai manusia desa berlangsung di pedesaan pula (60%) dan dua cerita selebihnya mengenai manusia kota, terjadi di kota pula (40). Sinansari Ecip memenangkan hadiah pertama, sejuta rupiah, untuk naskahnya Pulang. Ini adalah kisah tentang konflik-konflik di antara gerombolan pencuri ternak di pedalaman Sulawesi Selatan Karakterisasi kuat, penceritaan mengalir lancar dan banyak kejutan-kejutan. Latar belakangnya sebagai wartawan tergambar pada ketelitiannya mengenai nama tempat, jarak, dan warna lokal Ecip, kini dosen publisistik di Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, telah berkali-kali memenangkan hadiah penulisan roman Dewan Kesenian lakarta dan hadiah penulisan sebagai wartawan. Tiba-tiba Malam, cerita kedua seharga juta ini ditulis Putu Wijaya. TTM menggambarkan pertikaian adat-istiadat di sebuah desa Bali dan keinginan campur-tangan pihak luar untuk membuat kehidupan desa jadi moderen. Pengembangan watak dan penggarapan peristiwa dijalankan secara rapi oleh Putu sampai klimaksnya. Pada bagian akhir terasa pengendoran stamina. Putu, dramawan-wartawan yang hampir selalu menang pada setiap sayembara novel dan drama DKJ, menguasai benar lingkungannya di Bali. Suasana teduh dan damai di lingkungan biara Katolik tergambar benar dalam Damai, karya Mudjimanto As, seorang pengarang baru yang kerja sehari-harinya di persurat-kabarnya juga. Temanya "damai ada dalam diri kita sendiri". Cerita � juta rupiah ini berkisah tentang jalan hidup seorang muda, 20-an, anak pegawai tinggi yang kaya-raya, ketagihan narkotika, dirawat dan jatuh cinta pada susternya. Pengarang tidak mendalam benar tentang masalah ketergantungan pada obat bius ini. Pengarang tenar cerita anak-anak Djokolelono, bekerja di bidang periklanan, memenangkan hadiah keempat untuk cerita Sarip Tambak Yasa (Rp 300.000). Tokoh "Robin Hool Jawa Timur ini kuat sekali penampilan dan pengembanga wataknya, melalui dialog. Dialog ringkas, tangkas dan sehari-hari. Ada hal yang terletak di luar logika, tapi karena ini dongeng, ya bolehlah. Menentang Matahan adalah cerita anak-anak dengan latar belakang revolusi, berlangsung dari Surabaya menuju ke barat. Susilomurti (dia menerima Rp 200.000) memang penulis cerita anak-anak, di samping juga wartawan. Kisahnya agak sentimentil, tentang seorang anak-anak yang kehilangan orang tua dan penglihatannya selama mengungsi. Dia pandai main biola dan akhirnya jadi musikus kenamaan. Sumbangan Berarti Untuk tahap ini, kelima naskah pemenang SPCFI ini akan jadi sumbangan berarti bagi kurangnya cerita yang baik dalam industri film Indonesia. Terpulang pada produser untuk melayarputihkan cerita-cerita ini. Di samping itu, naskah-naskah yang masuk final pun, bukannya jelek untuk dipilih. Untuk memperkaya khazanah, perlulah SPCFI semacam ini dilakukan setiap tahunnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar