Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1977 Ketua juri pingsan. orang film marah ketua juri pingsan. orang film marah

ALAT pendingin bioskop Citra tidak sanggup mendinginkan ruangan yang penuh sesak itu. Gumpalan asap rokok mengambang di atas kepala sejumlah besar orang-orang film, yang gelisah menantikan pengumuman dewan juri. Kegelisahan kemudian beralih jadi kedongkolan. Waktu itu Rosihan Anwar, salah seorang anggota dewan juri, mulai membacakan pertimbangan dan pandangan dewan juri terhadap 37 film (27 film cerita, 10 film dokumenter) yang mereka nilai selama setengah bulan bekerja. Teriakan terdengar dari berbagai penjuru gedung. Mereka yang duduk di depan - menteri penerangan, gubernur serta pejabat tinggi lainnya -- kelihatan asyik menikmati gaya teatral Rosihan dalam menyampaikan pertimbangan dewan juri itu. Dari belakang, kelihatan Ali Sadikin tertawa dan mengangguk-angguk justru pada saat orang film meneriaki kritik dewan juri terhadap film dan pembuat film Indonesia. Setelah membacakan tinjauan juri, Rosihan turun dari panggung untuk memberi kesempatan kepada D. Djajakusuma. Ketua Dewan Juri ini dapat giliran mengumumkan hasil pemilihan juri. Dari kursinya ke panggung, D. Djajakusuma, 57 tahun, Anggota Akademi Jakarta, dan tokoh perfilman senior, diantar oleh teriakan dan ejekan sejumlah suara. Suara itu menggema dalam gedung yang makin penuh sesak oleh kegelisahan. Ketua juri pun mulailah mengumumkan satu pemenang dalam bidang film dokumenter. Tiba-tiba suara Djajakusuma melemah, bagai pita perekam yang kehabisan batu batrei. Bahkan badannya perlahan-lahan doyong ke belakang. Dua artis pengawal piala menyelamatkan Djajakusuma dari jatuh telentang. Adegan selanjutnya adalah penggotongan ketua dewan juri dari panggung ke mobil yang membawanya ke rumah sakit. "Pak Djaja tidak tahan diejek" komentar Wim Umboh. Tapi dokter di Rumah Sakit Jakarta dengan yakin menyebut kelelahan sebagai penyebab robohnya pak Djaja. "Bukan cuma sekali itu terjadi, saya beberapa kali menyaksikan pak Djaja pingsan selagi bekerja", kata penyair Taufiq Ismail, anggota dewan juri dan teman serumah Djajakusuma. Rosihan tampil kembali. Suasana kembali bergema seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Di Plaza, di ruangan bertenda terpal di kompleks Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, sejumlah makanan lezat menanti hadirin yang baru saja bersama menutup Festival Film Indonesia 1977. "Sampai ketemu di Ujung Pandang, tahun depan", kata Anita Rahman, penyiar televisi yang memimpin upacara malam itu. Suara Anita masih lantang, tapi desau suara orang-orang film yang berbicara - beberapa malah berteriak-menelan suara penyiar cantik itu. Protes sudah bermula di kursi masing-masing dan meledak tatkala semuanya sudah berada di Plaza. Bintang film dan sutradara Ratno Timur -- pemeran terbaik pria tahun silam di FFI Bandung -- dengan penuh emosi mendatangi seorang juri yang sehari-harinya bekerja sebagai wartawan. "Bung, saya ingin belajar bikin film dari wartawan. Bagaimana, sih, film baik itu? Jangan mentang-mentang wartawan jadi juri lalu ngomong seenaknya di panggung. Taek, ah". Rosihan Anwar malah ditantang oleh nyonya Ratno Timur untuk bikin film, Rosihan tidak menolak. Katanya kepada wartawan TEMPO: "Saya sekarang ini memang lagi cari duit untuk menghidupkan kembali Perfini yang ditinggal mati oleh Usmar Ismail". Kemarahan tidak cuma hinggap pada suarni isteri Ratno Timur. Sebagian besar orang film malam itu betul-betul marah. "Mereka sangat tersinggung oleh pernyataan dewan juri", kata Wim Umboh. Laporan mengenai yang tersinggung, yang marah, yang dongkol Jnaupun yang (ternyata ada juga) senang dikerjakan oleh beberapa wartawan TEMPO yang malam itu berada di kompleks Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Inilah laporan itu: Gani Rachman, produser yang mengikutkan dua filmnya dalam FFI '77 Janji Sarinah dan Dr Firdaus: "Juri kali ini tidak fair. Buktinya? Silakan lihat sendiri film-film yang menang. Apa film-film itu pantas dapat piala? Komentar juri keterlaluan". Nico Pebmonia, sutradara terbaik FFI '76 di Bandung, tahun ini menyertakan filmnya Tiga Wajah Perempuan: "Saya tahu komentar juri cambuk. Tapi mestinya yang bersifat mendidik, dong. Ini, sih, keterlaluan. Dan film saya, itu betul-betul wajab Indonesia yang saya angkat dari kehidupan gadis pemijat. Saya memang tidak mencari piala, tapi kalau tadi saya menang, tidak akan saya ambil. Bagaimana saya bisa menerima penghargaan setelah sebelumnya saya diejek". Sophan Sophian, (bintang film yang kini jadi sutradara. Isterinya, Widyawati, dalam FFI ini menang sebagai pemeran pendukung terbaik wanita): "Biar saya dianggap kampungan, tapi bagi saya juri-juri iri hati pada orang film yang kini bisa hidup lebih baik dari penghasilan di dunia film kita yang maju. Komentar juri itu memang baik kalau dibacakan di Hyde Park, London. Tapi di sini suasananya lain. Kalau saja ada kebebasan politik, saya akan membikin film tentang kasus Budiaji, Krakatau Steel, atau bahkan mungkin tentang Peristiwa 15 Januari. Juri mestinya konsekwen, kalau tidak ada film Indonesia yang baik, tidak usah bagi-bagi piala. Isteri saya tadinya saya larang menerimanya, tapi Widya merasa tidak enak, ditambah lagi pak Djaja pingsan. Apa boleh buat, deh". Yudi Astono Cahaya, pedagang kayu dan produser yang menyertakan sebuah filmnya, Cinta Rahasia? dalam FFI ini: "Kita terima apa yang diumumkan dewan juri, tapi saya tidak dapat membenarkan cara pembeberan yang amat terbuka. Saya tahu juri itu orang-orang pintar. Tapi orang-orang pintar, kok tega ngomong begitu di depan umum. Saya harap saja salah satu di antara mereka membikin film nanti, biar tahu sulitnya keadaan di lapangan. Ah? tidaklah sama mereka semua". Drs. H Amura, (panitia FFI): "Keputusan juri kali ini mengerikan. Tapi di sana tidak tercium bau sabun sama sekali". Deddy Sutomo, (bintang film? bekas anggota grup teater Rendra di awal tahun enam puluhan. Tahun ini membintangi dua film yang ikut FFI Musrika Ibu dan Embun Pagi): "Saya senang dengan hasil juri. Kalau memang tidak ada film baik? tidak usah diberikan hadiah. Komentar juri yang keras? Saya juga senang. Juri memperlihatkan mereka punya sikap". Drs. Hood Idris, (produser film seri-seri Benyamin yang juga importir film-film India): "Keputusan uri itu tepat sekali. Ini cambuk yang baik. Saya akui film kita memang tidak ada yang bermutu, termasuk film saya sendiri". H. Turmo Djunaedi, (Ketua yayasan FFI, produser, tapi tidak menyertakan filmnya dalam FFI '77 ini): "Keputusan untuk tidak memilih film terbaik terlalu pagi. Saya bukan tidak setuju, tapi nanti setelah FFI selesai berlangsung di enam kota yang telah kita tentukan. Tentang pandangan dewan juri, saya kira tidak pada tempatnya dibacakan di sini. Itu sama saja dengan memaki didepan hadirin anak-anak kita yang sedang kita kawinkan". Wim Umboh, sutradara dan produser yang selalu menang sebagai editor terbaikl: "Ada beberapa juri yang melihat film Indonesia dengan mata sebelah. Sangat tidak bersahabat dengan film kita. Saya tidak akan ikut FFI lagi jika orang semacam itu masih duduk sebagai juri pada masa-masa mendatang. Orang semacam itu sama sekali tidak mengikuti jatuh bangunnya perfilman kita yang masih dalam tarap perkembangan. Bagi saya, pertimbangan dewan juri yang keras itu tidak apa-apa. Cuma saya khawatir tahun depan makin kurang saja yang ikut FFI". Benyamin S, (pemeran utama terbaik FFI 1973 dan FFI sekarang): "Cambukan juri itu baik, tapi tempatnya tidak tepat. Cambuklah kami di kamar, jangan di tempat umum. Film-film yang saya bikin sendiri memang tidak saya ikutkan FFI. Terus terang saja, dari film-film itu saya cuma cari uang. Tapi mulai sekarang saya akan lebih hati-hati dan akan meningkatkan diri". Drs. Sjuman Djaja (sutradara dan penulis skenario yang tahun ini memenangkan dua piala citra): "Saya tidak tersinggung oleh pertimbangan dewan juri itu. Itu kan masalah kata-kata saja. Tapi keras macam apapun, saya anggap tetap baik. Dan yang marah-marah itu 'kan mereka yang bikin film jelek. Film saya 'kan menang". Soemardjono, (Sekjen Majlis Musyawarah Perfilman Indonesia): "Saya senang dengan keputusan dewan juri. Saya tidak berkeberatan mereka mengemukakan latar belakang penilaiannya. Curna kalau pendirian itu tidak disetujui masyarakat film, harus diadakan forum terbuka untuk membicarakan hal tersebut. Ialau juri tidak hisa mempertanggungjawabkan penilaiannya, maka keputusan mereka harus dicabut. Kalau tidak, kita akan jatuh pada sinisme yang justru akan mengakibatkan pessimisme".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar