Senin, 14 Februari 2011

FFI 1977 ADA APA FFI 1977

Ada Apa di FFI 1977?
Maaf, mengapa juri bicara keras ?
Ffi 1977 berakhir dengan ketersinggungan. hasil yg diumumkan dewan juri mengagetkan orang-orang film. kritik yang disampaikan terasa keras sekali, dan tak ada piala citra untuk film terbaik. (fl)

AGAK kurang sedap, memang. Festival Film Indonesia 1977 nyaris dibuka tanpa doa, berlangsung tanpa glamor dan warna, dan berakhir pekan lalu dengan ketersinggungan. Ceritanya bisa dimulai dari Majelis Ulama Daerah Khusus bukota lakarta. Untuk upacara pe nbukaan di Gedung Citra di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, panitia rupanya menghubungi Majelis itu. Mereka minta agar dari Majelis ada yang berkenan membacakan doa dalam upacara Sabtu 26 Pebruari itu. Tapi Majelis ternyata menolak. Dengan bahasa yang halus tapi lugas, isi surat balasan kurang-lebih bernada "maaf-kami-takbersedia" Baik Majelis sebagai lembaga, maupun para ularna secara perorangan yang sudah dihubungi Majelis, menyatakan berat hati. Alasan: film nasional, "dalam beberapa hal tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia" .... Tentu saja adanya doa tak Wlaramkan, walaupun dalam FFI '77 ikut juga misalnya salah satu prestasi film Indonesia: Tante Sex. Dan doa pun dibacakan oleh H.O.R. Udaya dari Dinas Kerokhanian DKI. Tapi Majelis Ulama DKI Jakarta nampaknya hanya bermaksud mengingatkan: bagi sementara kalangan yang cukup bersuara, film kita justru sedang diragukan "wajah Indonesia"-nya.

Harian terkemuka Kompas, misalnya, dalam tajuk yang menanggapi hasil-hasil FFI '77, menulis: "Dihadapkan pada persaingan sesama rekan di dalam negeri dan terhadap film impor, kita mendapat kesan, unsur komersialisme semakin menonjol pada perfilman kita. Jarang film yang benar-benar berjiwa dan berwajah Indonesia". Maka pasti bukan cuma basa-basi bila dalam pidato pembukaan yang dibacakan oleh Sekjen Departemen Penerangan Soetikno Lukitodisastro, Menteri Mashuri menyambut gembira tema FFI '77: "upaya menemukan identitas Indonesia dalam film nasional". Seraya mengingatkan bahwa identitas nasional tidak boleh diberi arti yang "sempit dan picik", Menteri memuji kesadaran untuk tidak membuat film Indonesia "dengan klise film asing". Di tengah-tengah tuntutan semacam itulah - yang sebenarnya memantulkan kembali kritik terhadap film Indonesia sejak tiga tahun yang silam -- FFI '77 berlangsung. Berbeda dengan festival di Surabaya, Medan dan Bandung, misalnya, kali ini tak ada "pawai artis". Tak nampak khalayak ramai berkerumun di panas terik mengelu-elukan bintang-bintang pujaan mereka. Mungkin ini karena orang lakarta sudah terbiasa dengan tokoih layar putih. Tapi mungkin pula karena, seperti dikatakan Ketua Kayawan Film dan Televisi Soemardjono menjelang pembukaan, FFI '77 ini "disederhanakan, sehubungan dengan pemilu". Tak kurang penting ialah pendekatan festival tahun ini, yang diselepggarakan lebih cepat dari seharusnya - juga karena pemilu. Menurut Soemardjono, "tahun ini pendekaan yang bersifat promosi dihapuskan". Mungkin dari situ pula bisa dicari sebab, mengapa festival berlangsung sonder keramaian tongjring-tongjring, tak nampak bergincu dan berdandan. Pendeknya, serius.


Bahkan Turino lunaidi, Ketua Yayasan FFI, dalam pidato pembukaan menyatakan tekadnya buat lebih "meningkatkan mutu". Ia kaitkan tekad ini dengan kenyataan, bahwa dewan juri - sebagai peniiai buat menentukan siapa yang berhak mendapatkan piala Citra - "selalu jadi sasaran kritik". Tidak jelas adakah untuk menghindarkan kritik maka buat FFI '77 uni Turino meminta bantuan Dcwan Kesenian Jakarta untuk memilih para anggota dewan juri. Dengan tanpa banyak kesukaran Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyusun para juri. Sudah sejak 1973 sebenarnya secara tak langsung DKJ ikut dalam penjurian festival: dari tahun ke tahun, seorang atau lebih anggotanya selalu termasuk dalam regu juri. Kali ini prosesnya lebh diperlancar karena Soemardjono sendiri, yang di samping Turino merupakan motor penggerak FFI, adalah anggata DIW Komite Film. Dan regu juri pun dibentuklah: D. Djajakusuma, H. Rosihan Anwar, Irawati M. Sudiarso, Zulharmans, Setyadi Tryman MS., Dr. Soedjoko, D. Peransi, TaufKl Ismail, Salirn Said. Sebagian besar dari mereka pernah duduk sebagai anggota dewan juri lebih dari satu kali FFI. Setidaknya 7 dari 9 mereka adalah "muka-muka lama". Melihat itu, memang tak terduga bahwa keputusan juri FFI '77 ternyata merupakan keputusan yang berbeda dari yang pernah ada selama ini. Setidaknya jika Tunno mengharapkan bahwa juri kali ini bisa bebas dari kritik, ia keliru sama sekali. Belum pernah sebelumnya FFI mernutuskan bahwa untuk satu tahun tidak ada flm terbaik yang berhak satu piala Citra. Dan belum pernah penilaian juri terus-terang dicerca orang film seperti dalam FFI '77 ini. "Orang film biasa bermulut manis, terutama di muka pers", kata seorang wartawan film, "tapi kali ini tumben tidak". Suasana yang kurang lazim memang terasa dalam acara penutupan FFI '77. Dan itu nampak sejak jam-jam sebelum pengumuman juri. Di luar Gedung Citra di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail yang luas itu, tak banyak tanda-tanda bahwa suatu puncak acara sedang berlangsung di bagian dalam. Tak ada penonton berjubel. Mobil-mobil tak 'sampai berdesakdesak memenuhi tempat parkir. Di dalam, para hadirin yang pada duduk di kursi gedung bioskop itu sebagian esar adalah orang film yang tak pasang dasi. Pakaian gemerlap dan resmi yang biasanya bermunculan di penutupan FFI kali ini tak nampak merata.

Bahkan musikus Idris Sardi -- yang malam itu kemudian menerima satu piala Citra untuk iringan musiknya - cuma berbaju lengan pendek. "Seperti habis dari lapangan golt", komentar seorang tamu. Keadaan kian kurang rapi ketika acara diundurkan hampir satu setengah jam. Para hadirin mengisi waktu sembari bergurau, atau ngobrol. Juga mereka yang di baris terdepan, di mana sudah duduk menunggu Menteri Penerangan Mashuri dengan nyonya dan juga Gubernur Ali Sadikin dengan nyonya. Juga bekas Menteri Penerangan Budiardjo, kini duta besar untuk Spanyol, yang sedang di Jakarta. Apa boleh buat semuanya harus menanti naskah hasil penilaian juri tiba dari kantor Komdak Metro Jaya, di mana dokumen itu terjaga secara tradisionil dalam sampul yang dilak supaya jangan sampai dipalsukan atau dibocorkan. Setelah akhirnya acara dimulai, dengan penyiar TVRI Anita Rachman di depan mike, ternyata urutan berubah sedikit: Gubernur Ali Sadikin tak jadi memberikan pidato sambutan. Ia kelihatan batuk-batuk. Akhirnya langsung Menteri Mashuri yang dipersilakan ke atas pentas, setelah - dengan isyarat ia sekali lagi menawarkan kesempatan itu pertama-tama kepada Gubernur (Bang Ali menggeleng dengan hormat). Pidato Menteri tak panjang.

Dalam baju batik warna coklat dan santai, Menteri berbicara tanpa teks - dan diselingi humor. Ia mengingatkan lagi akan pentingnya masalah identitas dalam film nasional, dan pendekatan integral dalam menanoani masalah film. Setelah Mienteri Penerangan, sampailah puncak acara yang ditunggu: pengumuman juri. Rupanya karena panjangnya naskah pengumuman, para juri menampilkan H. Rosihan Anwar dan Ketua D. Djajakusuma untuk membacakan hasil penilaian mereka. Direncanakan bahwa Rosihan akan membaca bagian pertama, berupa penilaian umum dewan juri terhadap semua film yang ikut FFI '77. Djajakusuma kemudian akan membacakan siapa-siapa pemenang yang berhak mendapatkan piala Citra dan piala lain. Pilihan atas Rosihan sebagi pembaca hasil penilaian umum ternyata menghasilkan sesuatu yang menarik: Rosihan telah membikin mata acara itu suatu pertunjukan tersendui. Mula-mula tibalah perwira kepolisian yang bertugas mengawal dokumen hasil penilaian juri, ke atas pentas. Disaksikan para hadirin, Rosihan membuka dan mengeluarkan isi amplop kuning itu. Ia setengah bergurau: "Supaya dapat disaksikan bahwa para juri pun memperhatikan faktor sekuriti". Setelah itu ia mulai membaca dengan suara jelas, berirama dan di sanasini kocak - seraya tubuhnya tidak menghadap ke hadirin, lantaran mencari cahaya lampu yang paling efektif. Agaknya buat pertama kali dalam sejarah FFI sejak 1973, bahwa hasil penilaian umum dewan juri bisa menarik perhatian seperti malam itu. Biasanya hadirin mendengarkannya sebagai sekedar pengantar yang tak perlu. Biasanya mereka tak sabar menanti pengumuman para pemenang piala Citra. Tapi kali ini, hadirin pasang kupung. Gaya Rosihan membaca memang memikat, tapi juga isi penilaian umum itu memang mengagetkan. Sebab di sana tak ada kalimat ramah yang bisa membungkus kritik. Pukulannya terasa keras sekali. Antara lain: "Dari penilaian 27 film cerita itu, Dewan Juri berkesimpulan: film Indonesia dewasa ini dibuat oleh para produser semata-mata sebagai alat hiburan yang tidak selalu berarti sehat. Produser film Indonesia menampakkan diri terutama sebagai pedagang-pedagang impian.

Dalam posisi demikian memang produser tidak berpijak pada bumi Indonesia, sebab mimpi yang indah selalu berkisah mengenai dunia yang tidak selalu kita kenal". "Kecuali sebagian kecil, film-film ini samasekali tidak memperlihatkan keterlibatan sosial. Beberapa fulm mencoba berbicara tentang masalah sosial, tapi lantaran kurangnya persiapan dan pengenalan lingkungan, maka masalah sosial yang ditampilkan terasa sangat dibuatbuat dan semu". "Dibandingkan dengan tahun 1973 umpamanya terlihat adanya kemunduran dalam keragaman tema dan lingkungan cerita. Bersamaan dengan itu keragaman watak manusia juga semakin miskinù" "Penulis skenario, sutradara dan editor belum menguasai wawasan dramaturgi yang memadai. Film-film peserta kali ini dipenuhi kejadian-kejadian kebetulan, tidak bermotif". "Juga fotografi film kita masih pada tingkat menciptakan gambar-gambar yang baik. Fotografi dalam film kita belum memenuhi tuntutan dramaturgi. Demikian juga dalam ilustrasi musik dan pengarahan artistik". Tak salah lagi: dewan juri FFI '77 memang menggebrak prestasi film Indonesia selama tahun 1976. Sebagai klimaksnya bahkan diputuskan bahwa tidak ada piala Citra diberikan kepada "film terbaik". Tak ada film yang memenuhi syarat dewan juri FFI '77. Syarat itu, berbeda dengan syarat dewan juri sebelumnya, rupanya berdasarkan ketentuan tersendiri: gelar "Film Terbaik" hanya akan diberikan kepada sebuah film yang berhasil mengumpulkan empat piah penopang, yakni pengolahan cerita (skenario) terbaik, sinefotografi terbaik, penyutradaraan terbaik dan pemaduan-gambar (editing) terbaik. Dari semua film yang masuk, agaknya hanya Si Dul Anak Modern dan Sesuatu yang Indah yang hampir saja lulus ke kelas tertinggi yang ditentukan para juri itu. Kedua film itu, masing-masing disutradarai oleh Syumanjaya dan Wim Umboh, memang bertanding dengan sengit dalam rapat-rapat penilaian. Tapi akhirnya Si Dul hanya memperoleh piala Citra untuk penyutradaraan dan pengolahan cerita - di samping satu Citra lagi buat aktornya, Benyamin S. sebagai si Dul. Sesuatu yang Indah hanya memperoleh Citra buat editing, yang dilakukan Wim Umboh sendiri, di samping Citra untuk musik dan Citra lain untuk Christine Hakim, pemegang peran utama wanita. Dengan komposisi semacam itu, wajar jika tak ada satu pihak yang puas benar. Apalagi suasana sebelumnya telall jadi panas oleh gebrakan-gebrakan juri. Di pentas, ketika semua pemenang sudah berjajar untuk disalami dan aipotret, hanya Syumanjaya yang nampak senyum-senyum terus bagaikan Jimmy Carter. Wim Umboh tampak tidak begitu cerah.

Dalam jas hitam dan dasi konservatif, ia nampak capek. Widyawaty yang cantik, yang diantar suaminya Sophaan Sophian sampai ke tepi pentas juga tak ada menunjukkan kegembiraan. Sebagai peran pendukung wanita, ia telah berhasil mengalahkan calon kuat lain, misalnya konon Rae Sita dalam Cintaku di Kampus Biru. Tapi bintang dalam One Way Ticket ini agaknya ikut gundah: suaminya marah kepada dewan juri yang baru saja mengecam film Indonesia secara tajam. Cuma Christine Hakim yang kemudian mengikuti Syumanjaya dalam soal wajah riang: dengan pakaian putih mengkilap seperti seorang puteri dari dongeng Yunani, Christine senyum ke sana ke mari - sejak penyanyi Brury Pesulima, pacarnya, melepaskannya naik pentas untuk terima piala. Ini adalah Citranya yang kedua. Di tahun 1974, Christine menang untuk hal yang sama dalam film Cinta Pertama. Sementara itu, cukup banyak juga yang tak datang ke pentas, ketika nama mereka diumumkan sebagai pemenang. H. Syamsuddin Yusuf, pemenang sinefotografi untuk film Ateng Sok Tahu (yang juga film terlaris selama 1976), tak muncul. Roy Marten, bintang muda baru yang menarDk perhatian sejak Cintaku Di Kampus Biru, juga tak hadir buat menerima piala Usmar Ismail sebagai aktor harapan dalam Sesuatu Yang Indah, Sudarsono Wiryosuwaryo, pengarah artistik buat film Mustika Ibu, juga tak kelihatan.

Mungkin orang yang sama sekali tidak dikenal ini tak mengharap, bahwa ia akan bisa mendapatkan sebuah Citra -- terutama dalam film yang kata setengah orang dibikin secara tak serius. Sebaliknya yang punya cukup alasan untuk berharap menang, tapi ternyata namanya tak disebut-sebut adalah Marini, untuk peranannya dalam Sesuatu Yang Indah, dan Wahab Abdi, untuk peran pendukung dalam Si Dul. Kedua pemain berbakat dan serius ini barangkali termasuk yang kecewa . . . Tapi suasana sehabis pengumuman yang juga dibacakan oleh Rosihan Anwar itu, (karena D. Djajakusuma roboh pingsan setelah tiga kalimat di atas pentas), terutama bukanlah suasana kecewa. Melainkan tersinggung. Siapa-siapa yang menang Citra bahkan kali ini tak dibicarakan dan dipersoalkan - satu hal yang juga belum pernah terjadi dalam FFI yang terdahulu. Di plaza Gedung Citra, di mana makanan dan minuman disediakan buat para hadirin setelah gong penutup dipukul enteri lashuri, resepsi jadi hangat oleh pembicaraan sekitar kritik tajam juri kepada film Indonesia. "Saya sih tidak mempersoalkan keputusannya", kata Ny. Halidar Hadiyuwono, produser dan tokoh PPFI (Persatuan Produser Film).

"Komentarnya itu yang menyakitkan hati". Dari wajah Ny. Hadiyuwono yang tenang, sampai dengan ucapan bintang film dan praduser Ratno Timur yang memaki, tak pelak lagi: sebagian besar orang film merasa dewan juri telah "menghina" mereka atau "menggurui". Bahkan tiba-tiba tertiup kecurigaan rara juri ditunggangi oleh anggota-anggota Lembaga Pengembangan Film Nasional (Lepfinas yang baru saja dibentuk oleh Menteri Penerangan. Sebagai salah satu bukti: Ketua Dewan Juri Djajakusuma dan anggota Dewan Juri Zulharmans adalah orang Lepfinas. "Keputusan yang menjelek-jelekkan film nasional itu adalah bombardemen pertama mereka sebelum Lepfinas bekerja", tuduh seorang produser yang minta agar namanya dirahasiakan. Tapi kenapa bombardemen itu, bila betul ada, harus datang dari Lepfinas? Rupanya ada perkiraan bahwa Lepfinas akan mengarahkan film ke suatu kecenderungan yang tak menguntungkan para produser yang telah terbiasa dengan gaya selama ini. Misalnya, dengan mengurangi aksentuasi komersiil seraya melahirkan film-film "nyeni" yang biasanya dapat keplok tapi tak laku.

Mungkin pula dengan lebih meneliti soal ijin produksi, sehingga film macam Tante Sex tidak perlu ada, sementara film seperti Enam Jam di Yogya dapat dibuat lagi tanpa repot mencari cukong. Namun apapun niat Lepfinas nanti, nampaknya agak terlampau jauh juga tuduhan bahwa dewan juri telah diperalat lembaga tersebut. Tak setiap hal selalu bisa dikait-kaitkan dengan "penunggangan" dan merupakan hasil suatu konspirasi. "Yang jelas maksud kami baik", kata Setiadi Tryman M.S., wartawan senior Sinar Harapan yang juga anggota juri. "Demi kemajuan film nasional juga". Pembelaan Setiadi bisa dimengerti. Betapapun, bagi orang di luar memang timbul pertanyaan apa gerangan yang menyebabkan dewan juri FFI '77 keras berbicara? Sebuah dugaan menyebutkan, bahwa suara keras itu disebabkan karena di antara ke-9 orang juri itu tak terdapat tokoh-tokoh tua seperti Ny. Maria Ulfah Subadio, R.M. Sutarto dan Moh. Said, yang dalam beberapa penjurian sebelumnya ikut serta. Seandainya di antara juri itu ada mereka, demikian kata dugaan itu, pasti juri FFI '77 akan lebih hati-hati dalam merumuskan kalimat-kalimat kritiknya. Tapi bagaimana dengan adanya D. Djajakusuma dan H. Rosihan Anwar? Meskipun lebih muda dari Pak Said, misalnya, mereka bisa dianggap bukan orang-orang tua yang suka menggebrakkan pendapatnya di depan publik. Dan mereka dalam FFI '77 bukan tinggal membacakan kalimat-kalimat yang disusun orang lain. Di samping itu, mereka sudah punya pengalaman penjurian FFI. Juga para anggota dewan juri bukan orang-orang baru dalam mengikuti perkembangan film Indonesia. Dengan kata lain, tak mungkin para juri FFI '77 termasuk orang yang kaget melihat wajah film Indonesia --betapapun jeleknya. Maka bisa saja diperkirakan adanya faktor lain sebagai penyebab. Mungkin justru karena sudah lama mengikuti perkembangan film nasional, suara keras mereka itu terdengar.

Para juri mungkin merasa bahwa sudah saatnya kini kecenderungan yang mereka anggap kurang sehat dalam film nasional diperingatkan dengan tanda seru. Dari segi bisnis, film Indonesia setidaknya rata rata bukanlah usaha yang rugi. Kini, dengan adanya PT Perfin dan keharusan bagi bioskop buat memutar film nasional, tanggungjawab sosial para produser dan orang film menjadi lebih perlu disadari. Paling sedikit, termasuk dalam tanggungjawab sosial itu ialah membuat film yang bermutu, agar bioskop jangan kena getahnya - suatu tuntutan yang misalnya terdengar di Surabaya (lihat: Bisnis). Tapi benarkah itu semua jadi alasan juri FFI '77 buat bicara keras? Setidaknya dari catatan dua anggota juri, yang ditulis khusus untuk TEMPO nomor ini, dapat diperkirakan bahwa juri punya kesan: nampaknya kritik yang sudah lama terdengar terhadap film Indonesia, oleh para produser kurang diperhatikan. Misalnya adanya pameran kemewahan yang tak pada tempatnya, munculnya adegan erotik yang vulger, tak cocoknya latarbelakang sosial antara cerita film dengan masyarakat yang ada - semua itu masih berulang dari tahun ke tahun. Masalahnya, tentu saja, adakah semua hal yang "kurang sehat" itu semata-mata, merupakan kesalahan orang film? Bagaimana pun juga, prestasi film nasional selama ini bukan semata-mata merupakan hasil keinginan mereka sendiri. Struktur perfilman Indonesia sejak 1973 menyebabkan kehidupan perfilman sangat ditentukan oleh permintaan pasar, perizinan pemerintah serta restu Badan Sensor.

Pasar, peranan pemerintah dan kekuasaan sensor itu toh termasuk bagian kenyataan Indonesia yang ikut memberi corak "wajah Indonesia" dalam film kita - suka atau tak suka para juri terhadap mutu "wajah" itu. Kekurangan dewan juri FFI '77. mungkin karena mereka seakan-akan tak memasukkan pertimbangan semacam itu dalam penilaian "galak" yang mereka umumkan. Kekurangan lain yang bukan kesalahan para juri - agaknya ialah berubahnya ketentuan penilaian dari tahun ke tahun, bersamaan dengan berubahnya susunan juri. Di dalam FFI '77 misalnya, para bintang yang suaranya terdengar di layar putih karena hasil dubbing suara orang lain, tidak dapat biji tinggi. Ini tak berlaku di festival sebelumnya - hingga pembuat film tak siap agaknya buat menghadapi perubahan itu. Juga tak adanya film terbaik dalam FFI '77 adakah berdasarkan ketentuan dewan juri tahun ini semata-mata. Mungkin sikap teguh ini baik. Tapi tidakkah kini timbul kesan bahwa film Si Dul Anak Modern seakan-akan lebih jelek dari Si Mamat, film terbaik FFI '74? Atau bahwa Yang Indah lebih jelek dari Perkawinan, pemenang film terbaik FFI '73? Jawabnya, tentu saja, "belum tentu". Sebab kriteria berbeda. Tapi di situlah justru soalnya: kenapa FFI tak punya pegangan yang agak tetap? Walhasil, FFI '77 menimbulkan perdebatan. Seperti FFI sebelumnya, hanya lebih keras kali ini. Dan para juri FFI '77 terkena kritik - seperti para juri sebelumnya, hanya jauh lebih keras kali ini. Mungkin semua itu justru menarik bagi suatu dialog, jika nanti para produser - seperti direncanakan Turino Junaidy - jadi bertemu dengan dewan juri. Turino sendiri, sebagai Ketua Yayasan Festival Film, mulai dikecam oleh rekan-rekannya. Ia ikut bertanggung jawab dalam soal ini, seperti dikatakan Wim Umboh akhir pekan lalu kepada TEMPO. Tapi setidaknya suara keras dan kontroversi dalam FFI '77 menunjukkan satu hal yang patut dibanggakan: bahwa festival film Indonesia berbeda dengan sementara festival di luar negeri yang cuma merupakan acara bagi-bagi hadiah, lalu ajojing dan cincay.




Cerita angka, FFI 1977
Dari 27 film cerita yang ikut ffi 1977, 23 buah berkisah mengenai manusia kota bertempat di kota (85,1%) dan 4 buah mengenai manusia yang hidup di lingkungan desa (14,9%).

Penyair Taufiq Ismail adalah salah seorang juri dalam FFI 1977. Ia sejak lama "penasaran" tentang tuduhan bahwa film Indonesia "banyak sex", "tidak mencerminkan kenyataan Indonesia", "memamerkan kemewahan" dan semacam itu. Apa betul? Berapa persen yang begitu? tanya Taufiq dalam hati. Maka sejak hari pertama penjurian ia bawa buku catatan dan menyiapkan satu sistem buat menghitung, seberapa jauh tuduhan di atas terbukti. Sehabis penjurian ia pergunakan mesin hitung (jangan lupa, dokter hewan ini pernah belajar statistik). Hasilnya ia terakan di bawah ini: DARI 27 film cerita yang ikut Festival Film Indonesia 1977, 23 buah berkisah mengenai manusia kota bertempat di kota (85,1%) dan 4 buah mengenai manusia desa dengan desa sebagai lingkungan (14,9%). Hampir seluruhnya mengenai kelas menengah (92,6%). Hanya dua film saja murni bercerita tentang petani di pedesaan (7,4%). Dari dua film selebihnya yang mengambil tempat di desa juga, sebuah (3,7%) para pelakunya berpindah ke kota, sedangkan satu lagi (3,7%) pada prinsipnya para pelakunya tinggal di desa saja walaupun pernah pindah ke kota dalam jangka waktu pendek. Film terakhir ini misalnya, berkisah tentang dua keluarga di desa: satu kelas menengah pernah tinggal di kota (orang kaya dengan sejumlah sawah, kebun dan ternak) dan satu kelas bawah (pedagang kopi di warung dinding bambu). Lambang Kekayaan Mobil Jerman Barat Mercedes-Benz sebagai simbol kekayaan mulai digeser oleh sedan mahal bikinan Swedia itu, Volvo Lima buah film secara menyolok memperlihatkan merek-merek mobil ini (18,5). Mercedes-Benz bersiluncur dengan sedapnya pada tiga film (satu di antaranya di jalanan desa tak beraspal, milik petani-peternak kaya itu), dan Volvo pada dua film. Pada dua film terakhir ini, Volvo terdapat lebih dari sebuah dan lebih dari satu warna, pada masing-masing film. Perabot Ukir Sebagai pertanda taraf ekonomi orang Indonesia yang tinggi baik juga disebut tentang perabot ukir. Pada 55,5% dari seluruh film (15 buah), atau 65,2 dari film yang ceritanya bermain di kota, nampak perabot ukir menjadi unsur penting dalam penataan artistik. Perabot ukir ini meliputi kursi dan meja tamu, kursi dan meja makan, lemari hiasan dan lemari pakaian. Lampu gantung berukir bergantungan di langit-langit. Pada sebuah rumah pelacuran nampak sampai tiga lampu gantung semacam ini masuk dalam frame. Sejalan dengan perabot ukir dan lampu gantung berukir ini juga hampir selalu digunakan bunga plastik dan permadani.

Bunga plastik tidak selalu tumbuh di rumah tokoll-tokoll Indonesia kaya saja, tetapi terdapat juga sebagai elemen penataan artistik di rumah tokoh yang tidak berada. Pada dua film (7,2%) perabot ukir sedemikian berdesak desaknya dalam adegan, sehingga kelihatan seperti toko meubel yang tak punya gudang atau rumah orang kaya Indonesia yang meluap nafsu pamernya. Pada kedua film tersebut penataan artistik semacam ini tidak lagi mendukung dramaturgi. Gejala Anak Tunggal 70,3% film menampilkan tokoh anak tunggal. Artinya tokoh pada 19 film adalah anak satu-satunya dalam keluarga. Baru pada 8 film selebihnya (29,7%) keluarga Indonesia itu beranak lebih dari satu orang. Dari film yang 19 itu, dua film (7,4%) menunjukkan dua anak tunggal dalam setiap filmnya, sedangkan satu film (3,7%) menampilkan empat anak tunggal. (Ceritanya begini: dua anak tunggal berpacaran, kawin dan beranak. Anaknya tunggal pula. Salah satu tokoh dalam plot cerita juga anak tunggal. Jadi ada empat anak tunggal dalam satu film). Bagaimana kira-kira keterangan wajah anak tunggal yang demikian dominan dalarn film kita ini? Anak yang banyak menyulitkan penulis skenario. Dia mesti mengarangkan dialognya, mengembangkan perwatakan mereka, menganyam mereka dalam jalinan konflik secara rapi, mengatur pengadeganan mereka, pokoknya repotlah. Kenapa mesti repot-repot amat? Anak Tunggal Sajalah Begitu juga dengan tokoh-tokoh tambahan lain, yang dari sudut pandangan produser menambah biaya saja. Biasa pula jadi korban adalah pembantu rumah-tangga. Demikianlah kita lihat pada 5 film (18,5%) ada keluarga Indonesia yang kelas sosial dan secara ekonomis berkecukupan, tetapi tidak ada pembantu atau babunya, tanpa alasan yang logis terjalin dalam alur cerita.

Kehormatan Kelab malam muncul pada 52,1% film yang ceritanya berlangsung di kota (12 dari 23 film, jadi lebih dari separo). Di setiap adegan kelab malam selalu ada botol minuman keras dan hostess. Seperti di sasana tinju, kerja orang Indonesia selalu berantem di kelab malam. Pada keenam film (22,2%) di mana diceritakan wanita Indonesia hidup ekonominya terdesak, Ibu Kita Kartini dipaksa untuk: menjual kehormatannya, menyanyi lantas menjual kehormatan, dan memijat di rumah mandi uap dan akhirnya menjual kehormatan juga. Tidak pada sebuah filmpun yang ikut FFI 1977 ini wanita Indonesia yang hidupnya secara ekonomis sudah terlampau kepepet, diberi jalan mencari nafkah dengan mati-matian menjahit, jualan gado-gado, jadi guru, makelaran barang perhiasan, mencuci pakaian orang, menyapu jalan raya, kerja di pabrik plastik, jadi buruh batik, atau kerja kasar lainnya. Semuanya ambil jalan pintas: jual kehormatan. Hubugan Kelamin Hubungan kelamin di luar pernikahan yang dinampakkan di layar putih terdapat pada 11 film, atau 40,7%. Dari 11 film itu, 5 film (18,5%) memperlihatkan adegan hubungan sex dengan pelacur dan bukan-pelacur, pada satu film (3,7%) dengan pelacur saja, dan pada 5 film (18,5%) melulu dengan bukan-pelacur. Dilihat dari jumlah peristiwa hubungan kelamin, maka terdapat 6 peristiwa hubungan kelamin dengan pelacur (37,5%) dan 10 peristiwa hubungan kelamin dengan bukan-pelacur (62,5%). Yang dimaksud dengan bukan-pelacur itu adalah kekasih, kenalan, babu dan isteri orang. Indikasi ke arah masyarakat permissive? Hubungan sex dengan yang sejenis dan masturbasi tidak ada. Kasus perkosaan tidak dicatat. Tokoh yang bunuh diri terdapat pada dua film (7,2%) dan yang mencoba bunuh diri tapi gagal atau digagalkan ada pada 4 film (14,4%). Tema dan Cerita Dilihat dari ceritanya, 20 film (74%) berjenis drama, 2 buah (7,4%) komedi, sebuah kisah kejahatan dengan suspense (3,7%), 3 buah cerita anak-anak (11,2%) dan sebuah lagi cerita anak-anak belasan tahun atau remaja (3,7%). Tiga dari 20 film drama tersebut merupakan film berurai air mata (15%). Enam buah di antaranya (30%) diramu dengan bumbu dan cabe sex yang kuat. Contoh dialog dari salah satu di antara film sex yang pedas itu: "barangmu itu masih mulus". Nafsu berahi dikatakan "ngumpul di paha".

Dan ketika tante syahwat itu berbaring-baring malas dengan pejantan sewaan di atas pasir pantai, dia mengelus lutut sang gigolo dengan tungkai kirinya seraya memuji "bulu maut" lelaki itu. Lingo di kalangan tante-tante sex umur 40-an adalah istilah ekonomi input untuk hubungan kelamin dan output untuk entah apalah itu. Contoh salah satu adegan Tante Sex (skenario Pitrajaya Burnama, sutradara Bay Isbahi): kamera menembak reproduksi Venus Boticelli, pelahan menggusur ke bawah dan Tuty S berbaring miring, pakaiannya dua potong tekstil hitam agak menerawang yang dinamakan orang pakaian dalam, dan di depannya anak belasan tahun (Rano Karno) melotot mempelajari topografi Tante Kita yang tidak berimbang komposisi hormonnya itu. Exhibisionisme untuk pendidikan sex? Dari 27 film ini cuma sebuah yang menggambarkan patriotisme (3,7%), yaitu mengenai penunaian tugas merebut Irian Barat (Semoga Kau Kembali, skenario dan sutradara Motinggo Busye). Yang dalam alur cerita memaparkan revolusi kernerdekaan dengan adegan pertempuran cuma satu juga 3,7%) yaitu Mustika Ibu (skenario Sufriamin Umar, sutradara Wisjnu Mouradhy). Namun kisah utamanya adalah perjalanan hidup seorang pengusaha, sebuah biografi sebenarnya seorang usahawan perkapalan Indonesia turunan Cina dari Nam An. Apakah film kita kehilangan tema patriotisme?

Ya. Berjuang melawan tahayul adalah tema film Apa Salahku (skenario dan sutradara Sandy Suwardi Hasan), sebuah film drama berurai air mata, yang satu-satunya menggarap tema ini (3,7%). Tanpa berkhotbah mengenai modernisasi, tanpa pretensi mau jadi manusia moderen, Apa Salahku menggambarkan pertikaian di masyarakat desa yang masih membandel percaya pada kesialan yang dibawa sejak lahir paa seorang anak perempuan desa kecil, Faradilla Sandy. Drama satire satu-satunya (3,7%) Si Doel Anak Moderen, skenario dan sutradara Sjumanjaya, mencemooh pemuda pinggiran yang mau jadi pemuda ibukota (yang kepingin jadi "anak modern") dan juga mengejek habis-habisan orang Betawi keturunan Arab Hadramaut sekaligus orang-orang kampung yang karikatural itu. Orang-orang kampung itu diberi Syumanjaya kopiah haji di kepala mereka. Pembukaan wilayah rimba raya Indonesia yang mengundang mesin-mesin baru nampak sebagai latar belakang pada sebuah film -(3,7o), skenario Arifin C. Noer, sutradara Wim Umboh, berjudul Sesuatu Yang Indah. SYI bertema kisah cinta segitiga-segiempat dua orang penerbang kakak-adik. Masalah manusia Indonesia dengan alam rimba raya yang perawan dan keras, dengan kerja menggali tambang dan kontak manusia dengan mesin-mesin baru serta konflik yang munkin timbul karenanya. tidaklah dipersoalkan dalam SYI. sebab tidak diangap Penting. Film anak-anak (11,2%) yang 3 buah itu berturut-turut mengenai penculikan anak orang kaya, fantasi jadi gubernur Jakarta selama satu hari dan perlawanan terhadap tahayul orang desa. Sebuah film remaja (3,7%) berjudul Remaja 76 (skenario Ismail Soebardjo dan Teguh Esha, sutradara Ismail Soebardjo) mengisahkan kehidupan biasa anak-anak remaja di sebuah SMA Jakarta.

Alur cerita mendatar tetapi hidup dengan dialog yang segar, bukan bahasa-buku. Walaupun kisah drama dengan bumbu dan cabe sex banyak (30%), tetapi yang bertema kekerasan, hanya satu (5%). Orang biasanya menggandengkan kecenderungan sex dengan kekerasan. Film dengan tema cerita rakyat absen dalam festival ini (0%). Meskipun film-film kita ternyata urban (85,1%), tetapi tema yang diangkat dari masalah sosial di kota berpusu-pusu di sekitar soal terbatas benar: narkotika, kesulitan ekonomi (erat dengan jual kehormatan), cinta tidak sampai, otoritas orang tua pada anak. Masalah sosial yang aktuil seperti sulitnya mendapatkan kesempatan kerja, hancurnya industri kecil, krisis perumahan, berjangkitnya hama pertanian, kepadatan penduduk di pulau Jawa, mahalnya biaya pendidikan, untuk beberapa misal, belum dipetik jadi tema yang dikembangkan sebagai kisah manusia Indonesia. Produser tidak tertarik pada tema-tema ini? Betul. Film Dokumenter Ada sebuah film animasi dan 9 dokumenter. Dari yang 9 ini 4 mengenai pembangunan fisik, 2 mengenai olahraga, dan berturut-turut masing-masing satu mengenai adat, bunga dan riwayat hidup pemimpin pergerakan nasional. Sembilan dari 10 film ini bertata-warna, dan sebuah hitam-putih, yaitu Ki Hadjar Dewantoro. Sehabis melihat segala yang gemerlapan dari entri festival, menyaksikan film hitam-putih dokumenter mengenai almarhum Ki Hadjar, saya jadi terpukau.

Film itu secara teknis, miskin. Dengan teknik wawancara kita dibawa menyelusuri kehidupan pemimpin tua itu. Wajah Ki Hadjar yang kerut-merut, kurus, berkemeja katun itu mengingatkan kita bahwa pernah dulu ada di antara kita keteguhan cita-cita, keluhuran budi dan kesederhanaan hidup, yang kini begitu menipis di zaman kita ini. Adegan pemakaman alangkah mengharukan. Kolonel Soeharto, berbintang tiga, adalah inspektur upacara. Jenazah masuk tanah, semua mengusap mata: sebuah kesederhanaan telah dikuburkan. Lampu ruangan hidup kembali dan kita tercenung.



Mengapa "Harapan" FFI Menghilang?

PUNCAK Festival Film Indonesia (FFI) 2008 Bandung berlalu sudah. Ternyata, peringkat "pemain harapan", tak pernah lagi hadir. Penerima gelar Aktor/Aktris Harapan atau Pendatang Baru Terbaik, selama ini tenggelam di balik pamor pemenang Piala Citra. Padahal, di awal kembalinya festival film (FFI 1973 Jakarta), kedua penghargaan itu menyatu ke dalam gelar Aktor/Aktris Harapan Pendatang Baru Terbaik, yang diberikan kepada Arman Effendy ("Mereka Kembali") dan alm. Tanty Yosepha dari film "Seribu Janji Kumenanti".

Kemenangan mereka, bahkan dihargai dengan Piala Citra. Sayangnya, tak pernah terdaftar dalam deretan para pemenang lambang supremasi perfilman nasional itu ("PR",7/12). Tidak setiap FFI pula, dewan juri memberi anugerah untuk insan film yang dinilai prospektif itu. Dalam FFI Surabaya (1974), Medan (1975), dan Bandung (1976), gelar pemain harapan itu absen. Di Bandung justru muncul predikat Aktor/Aktris Pendatang Baru Terbaik, yang dimenangi Enteng Tanamal dari film "Jangan Biarkan Mereka Lapar" (Christ Pattikawa), dan Marini dalam film "Cinta" karya alm. Wim Umboh.

Berselang tiga kali FFI sejak 1973, Roy Marten terpilih jadi Aktor Harapan (1977) dari film "Sesuatu yang Indah" (Wim Umboh). Meski tidak ada penerima aktris harapan, namun Ismail Soebardjo bergelar Sutradara Harapan Terbaik (film "Remaja ’76"). Itu gelar "langka", yang tak pernah berulang lagi di pentas festival film. Di Ujungpandang 1978 pun, hanya terpilih Aktor Harapan untuk Rachman Arge (film "Jumpa di Persimpangan"). Pasangan gelar Aktor/Aktris Harapan, muncul lagi di FFI 1979 Palembang, yang diraih Alan Suryaningrat ("Pengemis dan Tukang Becak"), dan Nur ’Afni Oktavia dalam film "Pulau Cinta". Amak Baljun dari film "Janur Kuning" (alm. Alam Rengga Surawidjaya), dan Farah Meuthia dalam film "Yuyun" karya alm. Arifien C Noer, merebut gelar tersebut di FFI 1980 Semarang.

Mencermati kilas-balik FFI dalam penetapan gelar harapan, terkesan menggelikan di FFI 1981 Surabaya. Seolah bimbang di antara peringkat aktor harapan dan pendatang baru terbaik! Hasilnya, Adi Kurdi yang tampil apik dalam film "Gadis Penakluk" (Edward Pesta Sirait) ditetapkan sebagai Aktor Pendatang Baru Penuh Harapan.

Kalau maknanya tak banyak berbeda dengan FFI terdahulu, kenapa gelar itu mesti berganti? Bahkan, bentuk hadiah harapan itu belum pernah baku. Seusai FFI 1973 menghadiahkan Piala Citra, penerima gelar itu berganti dengan piala khusus, seperti Piala Suryosumanto, Piala PWI Jawa Barat, serta Medali Emas Parfi. Sejak kebangkitan lagi FFI dalam kondisi kekinian, kategori harapan tak pernah mengemuka. Gelar keaktoran Adi Kurdi pun yang menjanjikan dengan "penuh harapan", hanya sekali itu saja terjadi.

Gemilang

Banyak kenyataan membuktikan, harapan di balik peringkat "harapan" itu, mampu berbuah prestasi gemilang. Pesatnya reputasi Tanty Yosepha, hingga melaju ke tingkat The Best Actrees versi PWI Jaya Seksi Film 1974, dari film "Suster Maria" (S.A. Karim), merupakan cerminan terpuji. Penerima gelar Aktris Harapan Pendatang Baru Terbaik FFI 1973 itu, menajamkan lagi suksesnya dengan gelar Aktris Terbaik FFI 1975 Medan, sekaligus berjaya di Festival Film Asia (FFA) ke-21 Jakarta, dari film "Setulus Hatimu" karya Arizal.

Tanty Yosepha penyanyi cantik bersuara melankolis, membintang dalam masa kejayaan perfilman nasional. Setelah pernah lama menghilang, kekuatan aktingnya masih berdaya saing dalam peraihan Piala Citra. Di FFI 1982 Jakarta, Tanty terjaring nominasi pemeran utama wanita terbaik dari film Dokter Karmila (Nico Pelamonia), namun tersisih kemenangan Jenny Rachman dari film Gadis Marathon (Chaerul Umam). Ismail Soebardjo sang Sutradara Harapan Terbaik FFI 1977, menguatkan pembenaran "harapan" dewan juri festival itu.

Terbukti, film karyanya kemudian, "Perempuan Dalam Pasungan", sukses menjadi Film Terbaik, dan menobatkan Ismail Soebardjo berkelas Sutradara Terbaik FFI 1981 Surabaya. Memang, tak semua pemenang harapan, mampu memperbaiki peringkatnya. Laju karier Arman Effendy (1973), Racman Arge (1978), Alan Suryaningrat (1979), Amak Baljun (1980), serta Adi Kurdi (1981), agaknya tidak terkembang secerah harapan. Reputasi Roy Marten menguat dalam perfilman, namun itu dicapainya sebelum bergelar Aktor Harapan (1977).

Sejarah bersaksi, Franky Rorimpandey sebagai Aktor Pendatang Baru Terbaik di film "Fadjar di Tengah Kabut" (Usmar Ismail) dalam Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967, tak bisa melambungkan keaktorannya. Agaknya, peluang pemain pria tidak selicin artis wanita. Berbeda dengan alm. Suzanna sebagai Aktris Harapan (1960), dari film "Asrama Dara" (Usmar Ismail), yang secepat itu jadi bintang gemilang. Franky Rorimpandey melesat sebagai Sutradara.Terbaik dan membuahkan Film Terbaik ("Perawan Desa") di FFI 1980.

Pelengkap

Lain dengan Enteng Tanamal, Marini, dan Nur ’Afni Oktavia, yang kembali menggeluti profesinya semula sebagai pemusik dan penyanyi pop. Hanya saja Farah Meuthia, yang menghilang bersama kekuatan potensinya. Betapa pun, peringkat harapan tidak harus hilang dari FFI. Terlebih, karena penilaian sistem nominasi diterapkan sejak FFI 1979 di Palembang. Masih terbuka peluang bagi dewan juri, untuk memilih insan film yang memenuhi kriteria "harapan", dengan menjaring lagi pemenang di antara nama yang dinominasikan.

Namun, Alan Suryaningrat dan Nur ’Afni Oktavia (1979), ternyata masih saja nama di luar nominasi. Begitu juga dalam festival film berikutnya. Semasa PWI Jaya Seksi Film menggelar tradisi tahunan, pemilihan The Best Actor & Actress, konsisten menetapkan peringkat pemain harapan. Pada pergelaran pertama (1970), terpilih empat aktor (almarhum); Farouk Affero ("Noda tak Berampun"), W.D. Mochtar ("Kutukan Dewata"), Dicky Zulkarnaen ("Si Pitung"), dan Sandy Suwardi Hassan ("Nyi Ronggeng").

Predikat Aktris Harapan terbagi kepada Suzanna ("Bernapas Dalam Lumpur"), Chitra Dewi ("Nyi Ronggeng"), Widyawati ("Hidup, Cinta, dan Air Mata") dan Mieke Widjaya ("The Big Village"). Di putaran 1971, terjaring nama Rachmat Hidayat, alm. Maruli Sitompul, alm. Soekarno M. Noer dan Rima Melati. Setiap tahun, pemain harapan silih berganti, terkadang berulang dengan perbaikan peringkatnya. Tahun 1972, alm. Sophan Sophiaan berada di urutan keempat ("Perkawinan"), setara dengan Lenny Marlina ("Teror Tengah Malam").

Kejelian dalam memilih pemain harapan, menguat dengan prestasi Rano Karno sebagai Aktor Harapan I ("Rio Anakku" 1973), yang membawahi alm. Purnomo, alm. Kusno Soedjarwadi, dan Slamet Rahardjo ("Cinta Pertama"). Terbukti, Rano mampu bergelar Aktor Terbaik FFI 1990 dari film "Taksi" (Arifien C. Noer). Tak banyak lagi diingat orang, Christine Hakim pun pemboyong enam Piala Citra, berangkat dari prestasi Aktris Harapan II ("Cinta Pertama"), setelah alm. Fify Young dari film "Jembatan Merah" (1973).

Ini bisa dimaknai, predikat "harapan" bukan sekadar gelar pelengkap! FFI 1973 dan 1974 pernah memilih peringkat "terbaik II" bidang film, sutradara, aktor, dan aktrisnya, namun kemudian gelar itu lenyap. Tak jelas, dari jaringan nominasi saja tak pernah lahir pemenang harapan. Bahkan FFI 1980 Semarang memvonis tidak ada aktor terbaik di antara sederet nama yang dinominasikan. Tragis, aktor harapan pun luput.***

Yoyo Dasriyo, wartawan, pemerhati film nasional dan sinetron, tinggal di Garut.


Catatan Kelam Dunia Perfilman

CATATAN kelam dunia perfilman nasional dimulai tahun 1977. Tragedi pengeroyokan remaja di Jakarta, 8 September 1977, merenggut nyawa Arry Suprapto, putra pasangan artis almarhum Suzanna dan Dicky Suprapto, yang tengah populer dalam perfilman nasional. Kepergian Arry Suprapto (17) mengusik keharuan insan film nasional, karena reputasi abang kandung penyanyi Kiky Maria itu mengembang bersama sukses film "Tuan Tanah Kedawung" karya Liliek Sujio, "Nafsu Gila" dan "Pulau Cinta" karya Ali Shahab.

Serangan jantung menutup riwayat artis Ratmi B-29, setiba di Makassar untuk shooting film "Direktris Muda" garapan alm. Kusno Soedjarwadi, pada 31 Desember 1977. Tetapi, Suratmi kelahiran Bandung 26 Desember 1932, bukan satu-satunya artis jenaka korban serangan jantung. Penyakit itu juga mengakhiri aksi Jalal (11 November 1980), primadona pelawak "Surya Group" Surabaya, yang bertubuh tinggi besar. Aksen Madura Ayub Abdul Jalal, pelawak kelahiran Mojokerto 12 Februari 1946 itu, yang turut mendukung kejutan sukses Dorris Callebaut di film "Inem Pelayan Sexy" karya alm. Nyak Abbas Akup (1978).

Catatan hitam di balik kejutan duka keartisan, tergores bersama tragedi di Jakarta, 18 Juni 1984. Aktris film Marlia Hardi, ditemukan tewas tergantung di rumahnya, dengan belitan tali plastik. Sungguh di luar dugaan, akhir kehidupan pelakon ibu bijak dan agamis itu, sangat kontroversial dengan banyak peran dalam filmnya. Kekuatan akting almarhumah yang memikat penonton film dan televisi, sejak tampil di film "Untuk Sang Merah Putih" (1950) hingga "Kereta Api Terakhir" (1984) itu, berpuncak tanya dalam kepiluan.

Almarhumah pernah terjaring ke dalam nominasi Aktris Terbaik FFI 1981 Surabaya, atas film "Busana Dalam Mimpi" (Ida Farida). Sukses gemilang karier pimpinan grup sandiwara televisi "Keluarga Marlia Hardi" itu, ternyata berakhir dramatis bagai ending lakon film.

Kedukaan menimpa pula pelawak Gepeng yang berpulang 16 Juni 1988, saat sukses jadi primadona group lawak "Srimulat". Pelawak bernama Aries Freddy yang berpenampilan "kutilang" (kurus, tinggi, langsing) itu, pernah dibintangkan di film "Untung Ada Saya" (1982) karya Liliek Sujio. Judul filmnya menjual dialog khas kejenakaan Gepeng, yang menggelitik tawa.

Episode berkabung

Kejutan duka artis berulang mengejutkan lagi, dengan kepergian Tutty Indra Malaon, 20 September 1989. Aktris keibuan yang menguatkan film-film alm. Teguh Karya itu, tutup usia setelah menderita lever.

Pesona akting almarhumah, menawan sejak film "Wajah Seorang Lelaki" (1971). Di luar film Teguh Karya, pernah pula tampil dalam film "Neraca Kasih" (Hengky Sulaeman) dan "Cintaku di Rumah Susun" (alm. Nyak Abbas Akup). Gelar "Aktris Komedi Terbaik" FFI 1976 Bandung, diboyongnya dari film "Kawin Lari". Dua kali terpilih jadi Aktris Terbaik FFI 1986 dan 1989, dari film "Ibunda` dan "Pacar Ketinggalan Kereta". Namun kemenangan kedua, tergelar setelah Tutty Indra Malaon tiada.

Suasana berkabung menyekap insan sinetron, 1 September 1991, ketika Irwinsyah (38) yang bergelar `pendekar sinetron` TVRI Pusat berpulang. Dunia sinetron yang tengah menegakkan martabatnya di balik kejayaan perfilman nasional, kehilangan sutradara besarnya setelah serangan jantung. Memang, karya almarhum senantiasa bermandikan pujian, seperti "Sayekti Dan Hanafi", "Di Timur Matahari", "Aksara Tanpa Kata" dan "Tuanku Tambusai". Di puncak suksesnya, Irwin menggarap film "Sebening Kaca", yang terjaring ke dalam 16 film pilihan FFI 1986.

Puncak "tahun kedukaan artis Indonesia" 1995 yang menamatkan sebelas keartisan, berakhir dengan kepergian alm. H Benyamin Sueb. Pemenang "Aktor Terbaik" FFI 1973 Jakarta dari film "Intan Berduri" (Turino Junaedi), dan FFI 1977 (film "Si Doel Anak Modern" karya alm. Drs. Syumandjaya, yang tengah memagut kecintaan penonton sinetron "Si Doel Anak Sekolahan" (RCTI).

Bagi tim sinetron "Si Doel", ketiadaan Benyamin harus pula mengemas episode berkabung, untuk menyelamatkan tayangan alur lakonnya. Kesibukan mendadak seperti itu, terjadi juga di lokasi shooting sinetron "Warisan II", ketika Nike Ardilla berpulang. Tim sinetron kalang-kabut menjaring pelakon mirip Nike, untuk kelanjutan tokoh "Ajeng"! Duka cita di kubu "Si Doel", berulang dengan kepergian Tino Karno, Pak Tile, Ami Priyono dan Pak Bendot, yang mewarnai rangkaian panjang drama bernuansa Betawi itu.

Di tengah sukses sinetron "Kecil-kecil Jadi Manten" yang melambungkan Sukma Ayu, gadis belia puteri aktris film Nani Widjaya itu berpulang dalam perawatan panjangnya di rumahsakit (2004). Sukma Ayu seakan tiba-tiba saja tiada! Nyaris sulit dipercaya pula, jika komedian dan presenter Taufik Savalas, 11 Juli 2007, tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Kejutan tragedi maut pun akhir kehidupan aktor film Sophan Sophiaan, 17 Mei 2008, yang tengah memimpin konvoi moge "Jalur Merah Putih" di kawasan Mantingan, Sragen, Jawa Tengah.

Belum habis masa kejayaannya, Suzanna, "bintang panas" dan "ratu" film horor Indonesia tutup usia di Magelang (Rabu, 15 Oktober 2008). Film "Hantu Ambulance" jadi film perpisahannya dengan Clift Sangra. Semua itu kenyataan batas kehidupan sejumlah bintang, yang berpulang saat reputasinya gemilang. Mereka penguat fakta, bahwa kejutan kedukaan artis bukan hanya menimpa Nike Ardilla. Benar, garis finis kehidupan itu bagai misteri, yang tak pernah tersingkap sampai akhir zaman ***Yoyo Dasriyo - Wartawan, pemerhati film nasional dan sinetron, tinggal di Garut.

1 komentar:

  1. Next Kid Magic : こおり

    園子「あと2週はキッド様~!」
    蘭「じゃあちょっと早いけど、」
    コナン・蘭・園子「メリークリスマース!!」

    BalasHapus