Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1976 Seorang Juri menjelaskan...

D. Djajakusuma, anggota Akademi Jakarta, anggota Dewan Kesenian, Jakarta yang juga seorang suutradara film, tiga tahun terakhir merupakan anggota dewan juri FFI yang baru 4 kali diadakan itu. Beberapa saat setelah pengumuman hasil FFI 1976 di Bandung, reporter TEMPO, Zulkifli Lubis, menemuinya. Berikut ini hasil wawancara itu: T: Bagaimana pendapat bapak tenang penjurian yang berlangsung dua tingkat pada FFI ke-IV di Bandung: J: Cara tersebut menguntungkan para juri, karena tak perlu menonton semua film. Namun dengan diciutkannya jumlah film yang harus dinilai dewan juri tingkat akhir, bukan tak mungkin ada juga film baik yang tak terikutkan dalam penilaian tersebut. karena gagal pada penjurian awal yang dilakukan anggota PWI seksi Film. T: Apakah ada film yang cukup baik tapi tak termasuk dalam penjurian akhir? J: Kebetulan saya tak melihat film yang lain. T: Apakah pembagian Citra, kini berdasarkan "rasa keadilan"? J: Tidak. Ratno Timur misalnya, untuk tahun ini memang dia yang pantas menang, karena ada semacam peningkatan dalam permainannya dibanding dengan yang lain-lain. Begitu juga dengan Rina Hasyim dan lain-lain. T: Dengan film Cinta, bagaimana? J: Film itu memenuhi syarat dan selesai, baik artistik maupun penyutradaraan. Ini dapat dilihat dari cara peyutradaraan yang baik, filmnya yang mudah diikuti, logis dan pemotretannya pun bagus. T: Mengenai hadiah khusus Untuk film komedi, mengapa Ateng Mata Keranjang yang menang. Apa dasarnya? J: Di samping film ini sebagai satu-satunya film komedi yang diajukan ke penjurian akhir, film ini juga mampu menunjukkan sesuatu, tapi dengan cara lain. T: Bagaimana sebenarnya proses penjurian akhir berlangsung? J: Setelah menonton film yang masih dalam penjurian akhir, kami mulai menilai bintang-bintangnya lebih dahulu. Bukankah masyarakat juga mengharapkan dari festival ini siapa bintang terbaik dan baru kemudian film apa yang terbaik? Nah, setelah bintang dan para karyawan yang mendukung film terpilih sebagai pemenang baru kami menjuri film yang terbaik. Dan ini berlangsung dengan adu argumentasi, bukan dengan pengumpulan angka. T: Apakah benar bahwa dewan juri juga memperhatikan cerita Indonesia, bukan cerita Hongkong dalam penilaian ? J: Benar, memang seharusnyalah film Indonesia berpijak atas keadaan Indonesia. Soal shoot dan sudut pemotretan terpengaruh Hongkong itu bukan soal. T: Apakah pengaruh film Hongkong atau penjiplakan film Hongkong banyak terjadi dalam film-film yang diajukan pada penjurian akhir? J: Dibanding dengan festival-festival yang lalu, keadaan itu sekarang malah menipis. Tapi mungkin juga karena saya tak pernah nonton fim Hongkong, sehingga kurang begitu-tahu. T: Pada festival sebelumnya pemilihan aktris (wanita) cilik ada, mengapa tahun ini tidak ada? J: Tahun ini memang tak ada aktris cilik yang menonjol. Memang Shanti Idris diajukan oleh juri awal, tapi menurut pertimbangan dia tak menunjukkan permainan menonjol dan malah menurun dibanding tahun lalu. Dia tak terpilih lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar