Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1975 Medan

FESTIVAL Film Indonesia 1975 penghujung April yang lalu di Medan (TEMPO 10 Mei) ternyata ada buntutnya di kota itu. Tak sampai seminggu kemudian, berlangsung pula semacam "festival". Tapi yang difestivalkan bukanlah filmnya. Cuma "aktor dan aktrisnya". Ceritanya begini. Menjelang akan berlangsungnya FFI 1975 di Medan, gubernur Marah Halim telah bermurah hati mengeluarkan Rp 50 Juta kepada tiga produser asal kota itu untuk membantu mereka membuat tiga film. Ketiga film tersebut dipaksa siap pada waktunya agar dapat diburu ikut FFI. Tersebutlah tiga film anak Medan itu: Butet, produksi PT Orando FiIm, setulus Hatimu produksi PT Surya Indonesia Medan Film dan Batas Impian produksi bersama CV Sinar Film Medan dengan PT Sapta Januar Film dari Jakarta. Dalam film-film ini banyak anak-anak Medan ikut main. Nah, gaya permainan merekalah yang mau dinilai sehingga nanti akan dipilih menjadi apa yang dinamakan "aktor dan aktris terbaik Medan 1975". Hebat bukan? Akan hal ketiga film tersebut di dalam FFI, memang tak satu pun dapat nomor apa-apa. Kecuali bagi Tanty Yosepha yang dipilih sebagai aktris terbaik FFI 1975 lewat film Setulus Hatimu. Sedangkan film atas Impian yang berdasarkan cerita Ibrahim Sinik, oleh Ketua Juri FFI, Prof. Soelarko disebutnya sebagai "sebuah film konyol" seperti disiarkan harian waspada Medan. Akan hal Butet yang pernah ricuh soal cerita dan skenarionya itu (TEMPO 8 Pebruari), juri FFI menghargai dengan sekedar surat penghargaan kepada gubernur Marah Halim yang "telah berkenan memberikan bantuan kepada perfilman nasional untuk menggali sejarah perjoangan rakyat Sumatera". Sekedar basa-basi obat pelipur lara saja. Tanpa Cingcong 1 Mei, Seksi Wartawan Film PWI Cabang Medan mengeluarkan surat kepada suatu dewan juri yang akan memilih "aktor dan aktris terbaik" itu. Juri terdiri dari kolonel A. Wahid Lubis (Ketua) Drs Bistok Sirait, Dra Yusmaniar Noor, Sabaruddin Ahmad, B.A. dan Djohan A. Nasution. Pada 3 Mei ketiga film tersebut diputar non stop di biosIop Raya Medan. Sekaligus untuk dinilai oleh dewan juri tersebut. Tanpa banyak cingcong dan setelah mata juri (3 di antaranya dosen Bahasa Indonesia) melihat para pendukung asal Medan dalam film-film tersebut dari segi mimik dan ekspresi, gerak serta penghayatan, pada 6 Mei sang juri sudah siap "menilai". Sedangkan siapa pemenangnya barulah pada 8 Mei malam diumumkan dalam satu upacara meriah di Balai Wartawan PWI Cabang Medan di Jalan Adinegoro. Setelah mengingat dan menimbang, maka inilah pemenang-pemenang menurut keputusan dewan juri versi Seksi Wartawan Film Medan itu: pemain pria terbaik I Aziz Harahap B.A. (pegawai TVRI Medan yang sering main drama) yang menjadi ayah Diana dalam film Butet. Pemenang kedua Anif, kapten Belanda dalam Butet juga. Sedangkan Zainuddin A, tukang kebun dalam film Setulus Hatimu dapat nomor tiga. Dan pemain harapan Nicholas Pulungan, sebagai si Malik dalam Butet. Pemain wanita terbaik I Rita Frieda Pangaribuan, sebagai Rita dalam Setulus Hatimu, kedua: Ernie Tanjung, teman Malik (juga) dalam Batas Impian, Nurhafni yang jadi anak dalam Butet kebagian nomor tiga sementara yang harapannya adalah Anneke Saodah, ibu Mila dalam film Setulus Hatimu. Selain itu juri juga sepakat untuk memilih pemain anak-anak terbaik I: Faris yang jadi Irman dalam Batas Impian, II, Adi Rangkuty, anak paman Aldi dalam Setulus Hatimu. Pemain anak-anak wanita I: Ida Syahir, adik Aldi dalam Setulus Hatimu dan pemenang kedua Anisah, jadi Farida kecil dalam film Batas Impian. Mungkin karena istilah "aktor dan aktris" terlalu gede bagi mereka ternyata dalam surat piagam akhirnya disepakati ditulis dengan sebuah "pemain terbaik". Tapi pada malam itu bukan mereka saja yang kebagian piala, bahan kosmetik, obat batuk, piagam dan vandel Sie Wartawan Film PWI Medan. "Semua pendukung-pendukung dari ketiga film itu juga kita berikan", kata Asmas Tatang Amara, sang ketua. Dan, "gagasan mengadakan pemilihan ini memang berasal dari kami sebelum adanya FFI 1975 di Medan. Tujuannya untuk menggairahkan para produser film Medan agar mereka dapat memproduksi kembali". Dan pendapat A. Ganie Rahman, produser Setulus Hatimu: "Kita perlu memberi semangat kepada artis-artis Medan. Perasaan mereka perlu kita hibur". Tapi kenapa baru setelah FFI 1975 permainan mereka dijurii? "Ada maksud sebelum FFI berlangsung. Tetapi nanti tentu pandangan orang lebih tidak baik lagi. Bisa saja kita dikatakan mau mendahului FFI. Lagi pun ketiga film anak Medan itu pada waktu itu belum ke luar dari sensor", balas Ali Soekardi, salah seorang pengurus PWI Cabang Medan yang menjadi kordinator di Seksi Wartawan Film tersebut. Nah, mungkin pemain-pemain film dari Medan itu sekarang sudah bisa berpuas-puas diri. Hanya yang gagal, niat untuk memberikan tropi kepada gubernur Marah Halim sebagai "pembina perfilman nasional di Sumatera Utara" dan kepada Walikota M. Saleh Arifin yang dianggap "pengarah perfilman nasional di Medan". Marah Halim berdasarkan nota dari pembantnya, Tengku Putera Aziz "menolak". Kabarnya ia "ingin semua unsur seniman dan budayawan mengangkat dia, baru beliau mau". Sedangkan kepada walikota tak jelas apa sebabnya hasrat Seksi Wartawan Film Medan diurungkan, kecuali, "tak tepat timingnya". Sedangkan di antara penerima tropi pada malam itu, dikabarkan siangnya ada yang membelinya dengan uang sendiri. Lalu pada malam itu diserah terimakan kembali kepadanya. Dan ia pun merasa "puaslah" sebagai salah seorang "aktor". Toh tepuk tangan hebat juga malam itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar