Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1974 Antara Air MAta Dan Mutu

FILM Indonesia mungkin tak perlu nangis terus-menerus. Posisi dan mutunya semakin baik. Acara Festival di Surabaya akhir pekan lalu membuktikan itu. Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI 1974, di malam penutupan waktu membacakan penilaian umum film-film Indonesia selama setahun lalu, selain menyebutkan sejumlah kritik, juga menyebut adanya "kemajuan yang sangat menggem-birakan". Kritik yang disebutkan Prof.dr. R.M. Soelarko, sang Ketua, mungkin pedas. Serang pejabat tinggi secara pribadi mengatakan, bahwa "kritik itu mungkin benar, tapi sebaiknya tak disampaikan di malam itu". Barangkali. Tapi catatan tentang "kemajuan" itu tak boleh dilupakan kiranya. Kemajuan yang terutama jadi perhatian Dewan Juri 1974 ialah kemajuan ketrampilan teknis dan juga mutu, dan kesimpulan ini memang bukan basa-basi. Kemajuan lain yang tampak dalam serentetan acara 3 hari di Surabaya berbentuk sambutan yang luar biasa dari masyarakat setempat -- untuk melihat sendiri bintang-bintang film Indonesia, yang menurut sebuah poster masih disebut sebagai "artis-artis Ibukota". Sekitar hampir setengah juta manusia membanjiri jalanan di mana pawai lewat di sepanjang 5 km. "Belum pernah ada kejadian seperti itu sepanjang yang saya ingat", ujar seorang pejabat kepolisian Surabaya. Dan meskipun polisi berhasil menjaga kcamanan, Farouk Afero robek jasnya ditarik-tarik, Sofia W.D. dan beberapa bintang lain dicabut cincin mereka waktu bersalaman dengan khalayak ramai. Beberapa bintang mengeluh, atau pura-pura mengeluh, tapi umumnya gembira (kecuali mungkin yang kemudian ternyata tak mendapatkan piala). Seorang sutradara berkata "Yang menang dalam festival di Surabaya ini adalah film Indonesia secara keseluruhan". Ia mengingatkan bahwa di Surabaya posisi film Indonesia di bioskop-bioskop belumlah menggembirakan. Tapi dengan keramaian itu, meskipun yang datang nonton ada juga orang-orang dari luar Surabaya, harapan untuk lebih gembira cukup besar. Apalagi Gubernur Jawa Timur dalam percakapan dengan orang-orang film selama pesta kebun yang meriah di tempat kediaman resminya setengah menjanjikan, untuk menghaluskan bioskop-bioskop di daerahnya memutar film Indonesia dalam waktu-waktu tertentu -- hal yang juga berlaku di Jakarta. Jika film-film Indonesia memang makin menarik, dan lebih banyak diperhatikan media massa lain, nampaknya keharusan itu akan mudah menemukan alasan -- walaupun sistim distribusi film Indonesia konon masih lebih tergantung pada ujung jari para pemesan dan calo-calo daripada calon konsumen itu sendiri. FFI 1974 dengan sendirinya suatu promosi dagang juga. Tapi jelas bahwa promosi itu kini tak begitu sulit. Sejak di tahun 1970 Turino Djunaidy mendobrak pintu kelarisan dengan sernafas Dalam Lumpur dan kemudian tahun lalu Sandy Suwardi Hassan mengorbitkan Ratapan Anak Tiri, tampak ratapan-ratapan lama akan berhenti. Gelombang film cengeng perangsang air mata yang lagi keras dewasa ini (menggantikan gelombang erotika dan adu jotos di waktu yang lampau) ternyata berhasil menciptakan gelombang penonton yang amat besar. Sandy Suwardi, sebagai penghasil film tedaris 1973, di malam penutupan FFI 1974 dapat sebuah piala dari Panitia, sementara Faradilla Sandy (8 tahun) anaknya yang berbakat dan banyak dikerumuni peminta tandatangan, mendapatkan sebuah piala untuk akting kanak-kanak -- dengan tepukan gemuruh. Sebagian Benar Namun puncak malam itu sudah tentu bukan pemberian piala untuk film terlaris. Festival sekaligus promosi kwalitas di luar soal dagang. Sebuah Dewan Juri telah dibentuk (terdiri dari : Prof. dr. Soelarko, R.M. Soetarto, Ny. Maria Ulfah Subadio, Sri Martono, Hasyim Amir, D. Djajakusuma, Goenawan Mohamad dan Moh. Said -- yang di malam penutupan itu merupakan satu-satunya anggota yang berhalangan datang) dan bekerja selama awal dan pertengahan Maret untuk menilai 25 film cerita + 1 film dokumenter. Hasil penilaian yang tertutup rapat selama satu minggu, akhirnya malam itu dibuka dari amplop yang diacak dan dikawal polisi, untuk dibacakan oleh Ketua Dewan Juri. Beberapa keputusannya mengejutkan, mengecewakan dan menimbulkan beberapa perdebatan. Beberapa lainnya nampaknya cocok dengan dugaan dan harapan -- yang banyak tersiar di pelbagai penerbitan atau cuma secara bisik-bisik. Berikut ini adalah sederet catatan: Film Jembatan Merah yang oleh majalah POP bulan Maret ditaruh nomor satu dalam daftar pilihannya ternyata tak menang apa-apa. Memang, ini adalah karya terbagus Asrul Sani, mungkin lebih bagus dari Palupi yang memenangkan Festival Film Asia di Jakarta tahun 1970. Namun agaknya Asrul masih tetap kurang pas dalam menggarap film yang maunya puitis dan sekaligus lucu ini: seperti kecende-rungan Asrul yang selalu nampak dalam skenario, JM masih terasa sarat verbal. Ia penuh katakata di bagian-bagian yang sebenarnya bisa cukup dikemukakan dengan sugesti visuil. Contoh: menjelang film berakhir orang sudah tahu sebenarnya penyelesaian apa yang terjadi antara si pencopet (Sukarno M. Noer) dengan si pelacur bekas isterinya (Mutiara Sani), sebelum mereka berbimbingan tangan di atas Jembatan Merah, dan matahari terbit di timur, dan (seperti sudah diduga terlebih dulu) wig merah lambang kejalangan itu dilemparkan si wanita ke air kali. Sukarno tak perlu kiranya berbicara lagi. Apalagi usahanya memakai aksen Surabaya-Madura sering mengganggu, karena masih berat dengan warna aksen Medan --aksen asli Sukano yang rupanya sulit disembunyikan. Setidaknya keverbalan yang ini lebih sulit diabaikan daripada melupakan film A Pocketful of Miracles dari Frank Kapra (dengan Bette Davis & Glenn Ford) yang 10 tahun yang lalu disambut senang di Indonesia -- yang sebagaimana JM juga tentang si ibu miskin yang ditolong seorang bandit besar untuk bertampang "kaya" sejenak guna menghadapi calon besan yang bangsawan. Orang juga bisa melupakan pola kelucuan yang agak terasa diulang-ulangi: kecanggungan orang tak terpelajar untuk harus meniru adat orang terpelajar. Tapi tetap Jembatan Merah akhirnya termasuk kategori film yang "sayang sekali...". Lebih Datar Tokoh Wim Umboh juga tidak beruntung. Kabarnya Wim, yang tahun lalu memenangkan banyak hadiah dengan Perkawinan, sangat optimis bahwa tahun ini ia akan menang. Tokoh-nya, yang sccara komersiil tak begitu berhasil seperti film-filmnya yang lain, agaknya termasuk dalam proyek Wim buat membikin film "berat". Tapi Tokoh yang ceritanya tenntang seperti benang panjang itu terlalu tipis untuk digantungi sejumlah besar peran. Nasibnya seperti Mama (1972), meskipun problematiknya lebih bersahaja -- namun dengan hasil lebih datar pula. Mungkin ini disebabkan karena Fadly dokter gigi yang dieoba Wim untuk jadi bintang film dengan peran cukup berat, masih harus diinjeksi kepekaan untuk bermain kurang mekanis. Wim kali ini tak begitu berhasil mengolah bintang baru. Ini di luar hoki yang lazim ada ditangannya. Tatiek Tito --pemegang peran berat satunya lagi -- lebih baik sedikit dari Fadly, tapi juga tak mengesankan. Kecuali bibirnya. Namun kelemahan terpokok Tokoh ialah karena cerita ini tanpa konsentrasi. Sebuah "biografi" dari satu tokoh imajiner sejak sebelum perang, Tokoh kekurangan intensitas dan sekaligus kekurangan kejelasan alasan. Untuk berbicara tentang cinta & kesetiaan seorang wanita, ruangan ternyata begitu luas buat riwayat seorang pengacara. Untuk berbicara tentang hidup seorang pengacara dengan wanita-wanitanya film ini tak meyakinkan kita bahwa soal itu penting adanya. Advokat Amir Laksmana (Fadly) nampaknya seorang tokoh masyarakat: berita perkawinannya disiarkan dan sedikit dikomentari oleh radio (entah pemancar mana), dan ia begitu dipuja dari jauh oleh gadis Mana (Paula Rumokoy) yang tidak hidup di sekitarnya dan tak dikenalnya. Tapi tentang pengacara yang sukses sejak jaman "Landraad van Neder-landsche Indie" ini (seharusnya Wim lebih teliti: "Nederlandsche Indie") kita tak tahu bagaimana ia orang hebat di masyarakat. Wim mungkin mencoba seni berbicara secara implisit. Tapi konsekwensi sebuah cerita "biografis" ialah mengunjukkan latar yang lebih luas dari sekedar ruang rumah di mana terjadi konflik-konflik rumah-tangga. Wim memang sudah melakukannya dengan mencoba bercerita tentang perjalanan Amir Laksmana di tahun 1945. Ia mencoba menghidupkan kembali situasi Surabaya di masa akhir Jepang dan reolusi. Ia bahkan mengambil satu bagian film dokumenter pemboman Palembang oleh Jepang di tahun 1941 (satu bumbu yang cukup baru buat film Indonesia kini -- walaupun kita tak tahu apa hubungan kota Palembang dengan cerita). Tapi di babakan masa setelah kemerdekaan latar itu hilang dari film. Bahkan di bagian ini kita tak diberi lagi petunjuk-petunjuk waktu dari "biografi". Satu-satunya petunjuk ialah berkibarnya sang Merah Putih dan ucapan sang pengacara bahwa "kita sudah merdeka" sementara ia berpakaian dan berpotongan rambut model tahun 1970-an di kantornya yang mentereng. Kronologi tiba-tiba lenyap. Dan bila film ini mau bercerita tentang riwayat cinta dari masa ke masa, ternyata kronologi yang setengah-setengah itu pun tidak terpaut dengan satu psikologi. Bagian demi bagian ceritanya seperti terpisah-pisah, yang satu tak menjadi dasar bagi yang lain. Kehadiran wanita setia, yang ternyata adalah sang "pencinta agung" dalam film ini, dimainkan Tatiek, nampaknya hendak ditampilkan sebagai pengikat bagian-bagian itu. Tapi fondasi yang kokoh yang mempertautkan sang pengacara dengan sang wanita dari awal sampai akhir, tidak nampak cukup dibangun. Para protagonis -- Fadly, Tatiek dan Paula -- pada dasarnya masih protagonis dongeng: tanpa akar di suatu bumi, sementara Tokoh adalah cerita yang ingin banyak menyangkutkan diri dengan bagian sejarah Indonesia modern. Terapung-apung Yang tidak menampilkan protagonis dongeng ialah Laki-Laki Pilihan. Inilah film Niko Pelamonia yang terbaik. Tapi pengadap-tasian cerita The Godfather (dilakukan tanpa menyebut sumber) sekaligus merupakan kekuatan dan kelemahannya. Kekuatannya terletak justru dalam kepekaan dan kecermatannya menyesuaikan latar Amerika dan Sicilia tahun l920-an dengan latar Jakarta --Banten tahun 1920-an. Kelemahannya ialah karena struktur cerita Mario Puzo sangat kedodoran: The Godfather menarik bukan disebabkan oleh ketrampilan menyusun cerita, tapi karena ia menggali kehidupan satu keluarga Mafia dan kekerasannya dari dalam -- satu hal yang belum pernah dilakukan pengarang Amerika, di saat orang sedang tertarik kembali babakan sejarah kriminalitas setengah abad yang lampau. Struktur yang kurang kompak itu yang merupakan soal gawat untuk memindahkannya ke film: bagaimana meletakkan dan mengamankan fokus. Dalam film yang dibikin Paramount dengan Marlon Brando fokus itu ditaruhkan pada Brando. Dalam produksi Tuti Mutia Film ini fokus maunya diletakkan pada Niko Pelamonia (yang memainkan "si Babe" sendiri). Tanpa membandingkannya dengan The Godfather -- yang belum pernah ditonton para juri -- titik sentral film ini tidak terasa mempertautkan seluruh bagian-bagian film menjadi kesatuan. Prestasi akting Niko (bekas mahasiswa ATNI yang juga dikenal di pentas sepuluh tahun yang lalu) menjadi tenggelam oleh cairnya bagian-bagian lain -- yang tak ditolong oleh bintang muda Deddy Jaya, kwalitas fotografi yang kurang kedalaman, dan adegan-adegan kekerasan yang datar serta kurang segar. Suspens terapung-apung. Dugaan di beberapa kalangan bahwa Cinta Pertama Teguh Karya akan mendapat hadiah tertinggi juga ternyata tidak sepenuhnya tepat. Film ini memang diakui menyenangkan untuk dilihat. Ia dibuat dengan ketelitian dan ketrampilan yang tinggi dengan imajinasi yang cukup -- yang menyebabkan Teguh Karya dinilai menghasilkan penyutradaraan terbaik, satu hal yang sebenarnya tak mengagetkan jika diingat prestasinya dengan filmnya yang lama: Wajah Seorang Laki-Laki. Cinta memang hampir saja berada paling atas dalam penilaian juri, di samping Si Mamad dari Sjuman Djaja. Tapi film kedua Teguh Karya ini menunjukkan sedikit kelemahan dalam penceritaan. Konflik yang berakhir dengan tembak-menembak dan dua kematian agak hambar Flashback yang menjelaskan timbulnya konflik ditampilkan praktis sekaligus dengan cara begitu lengkap di bagian tengah, hingga mengesankan bahwa masa lalu hanya boleh muncul dalam satu bab tersendiri -- seperti dalam novel-novel lama. Tapi kekurangan itu memang baru dirasakan mengganggu justru karena Cinta Pertama nyaris merupakan karya film yang "sempurna" (menurut kenyataan perfilman Indonesia kini). Bahwa akhirnya film ini kemudian terletak di bawah Si Mamad, terutama agaknya karena melihat soal ketrampilan hampir merupakan perbaikan umum dalam film-film produksi 1973 dan karenanya sesuatu yang "lebih" atau "lain" diharapkan untuk menjadi karya terbaik. Komentar Sosial Dan yang "lebih" dan "lain" itu tampaknya terdapat dalam Si Mamad. Dari segi teknis semata-mat, film Sjuman Djaja ini tak kurang cacadnya. Orang bisa melihat bentuk huruf-huruf yang jelek dalam judul yang pretensius ("Renungkanlah..."). Orang bisa merasakan bahwa visualisasi khayalan si Mamad tentang kebahagiaan anak-anaknya, berupa adegan di Taman Ria, agak mencapekkan, kurang kaya untuk sebuah fantasi -- mungkin karena cuma fantasi seorang pegawai negeri yang miskin. Adegan ketika si Mamad menjelang mati melihat bayangannya sendiri naik ke langit juga bisa digugat: ia tersenyum melihat bayangan itu berpakaian dinas dengan kaus tangan putih, seakan-akan ia senang terlepas dari penderitaan dan puas dengan kebersihan dirinya sebagai pegawai. Tapi dalam film, bayangan itu justru menuju langit yang kelam. Dan sementara itu konsekwensi dari senyum dan rasa senang si Mamad di akhir hidupnya kurang dilukiskan sebagai segi baru dari persoalan: Adakah senyum itu bukan senyum yang aneh, karena ia meninggal dengan rasa bersalah yang belum terpupus atas pencuriannya? Adakah senyum itu bukan senyum seorang bapak yang egois sebenarnya, yang meninggalkan sejumlah anak-anak yang masih kecil dan isteri yang hamil tua? Konflik antara kejujuran sebagai sikap yang dilakukan dengan ikhlas, dengan kejujuran sebagai sikap yang dilakukan untuk sekedar memenuhi "target" yang sudah ditentukan, dalam film ini tidak ditampilkan. Konfliknya pada dasarnya satu pola dengan film-film melodrama Indonesia yang lain: antara kejujuran dan ketidakjujuran semata-mata. Dari beberapa segi memang tampak, bahwa Sjuman Djaja masih belum bebas benar untuk sungguh-sungguh membuat film yang tangguh dari godaan pola umum. Tapi masih setengah-setengah dalam mengambil risiko -- pada saat ia mau tampil dengan film yang tampaknya tak akan laris. Tapi hanya dengan itu saja pun si Mamad merupakan prestasi. Mesikipun pola konflik yang itu-itu juga masih terasa, tapi Sjuman telah berhasil mengemukakan satu komentar sosial dengan gugatan yang sah pada keadaan Si miskin memang jujur seperti dalam melodrama yang lain. Tapi dalam Si Mamad kejujuran itu tak mudah: kemiskinan bisa menggugurkannya. Kejujuran tak lagi cukup punya garansi. Film ini mengharukan, sebab milik si Mamad satu-satunya yang paling berharga, yakni kejujuran, ternyata bisa terlepas. Memang, dengan begitu Si Mamad bisa terasa sebagai sebuah film tanpa optimisme. Ia bisa memberi kesan sebagai sebuah apologi, di samping protes, terhadap "jaman edan". Si Mamad yang maunya tak ikut edan itu tampil sebagai suatu anakronisme: dengan pakaian pegawai jaman kolonial, dalam kantor yang mengurus arsip-arsip lama. Tapi dengan begitu film ini merupakan kesaksian tentang suatu masyarakat pada suatu waktu. Di antara film-film bagus untuk FFI 1974. inilah film yang paling berbicara tentang problim terdekat Indonesia kini. Orang tak usah teringat cerita-pendek Anton Cekov darimana konon kisah film ini berasal. Sebab kalaupun saduran, hasilnya lebih halus dari adaptasi The Godfatber jadi Laki-Laki Pilihan. Si Mamad, lebih dari yang lain-lain, menyentuhkan secara intim latar Indonesia -- yang berspeda reyot, yang kampung, yang taat, yang mimpi dan yang diam-diam menanggungkan beban perubahan nilai-nilai. Dan sesuai dengan tema FFI 1974 yang menyebut-nyebut soal "kepribadian nasional", penghargaan tertinggi pun jatuh pada si Mamad. Satu segi lain yang mungkin bisa dicatat ialah bahwa film ini lebih menegaskan lagi komitmen sosial orang-orang film, seperti yang pernah ditunjukkan Usmar Ismail, justru ketika perfilman Indonesia sedang didesak oleh komersialisme. Si Mamad muncul bukan sebagai sekedar barang perdagangan hiburan. Mang Udel Dan Si Rano Sudah tentu penolong terbesar film juman Djaja itu adalah Mang Udel alias Purnomo -- sarjana biologi yang jadi pelawak itu. Tanpa kemampuan aktingnya sebagai orang biasa sehar-ihari, Si Mamad mungkin berakhir jadi atau lelucon atau cerita sentimentil. Dan Mang Udel pun mendapat hadiah untuk akting pria terbaik -- satu hal yang umumnya sudah diduga oleh para kritisi, tapi mungkin cukup mengagetkan bintang-bintang. Tapi kemenangan Rano Karno untuk akting anak-anak terbaik tentunya tak mengejutkan siapapun. Anak Sukarno M. Noor yang kini lebih laris dari bapaknya ini bermain untuk sejumlah besar film yang ikut dinilai -- tanpa ada bintang kanak-kanak lain yang menonjol. Tapi dalam Rio Anakku si Rano memang praktis tanpa cela. Sutradara Has Manan menemukan bahan yang sudah hampir tinggal pakai padanya. Itu tidak berarti hasil tangan sutradara tidak ada -- satu hal yang menyebabkan film terbaik kedua setelah Cinta Pertama ini memboyong piala lebih banyak dari Si Mamad . Keunggulan film ini tak terletak dalam tema ceritanya. Tema itu masih belum berkisar jauh dari cerita-cerita filantropi yang menakjubkan, cerita si-kaya-raya yang begitu sejuk, tenteram dan mentereng tanpa dosa -- hingga kehidupan "Indonesia" dalam film ini serasa liburan di Puncak di tengah villa-villa dan buku dongeng. Juga masih ada kecenderungan mengikuti arus airmata yang lagi laris sekarang. Namun pengolahan cerita film ini -- yang mendapatkan penilaian tertinggi dari juri -- telah berhasil mensubstitusikan kekurangan itu dengan aksen puitis sekedarnya. Klimaks, terjadi pada saat Rio mati, telah dibangun dan dipersiapkan dengan baik sekali sebelumnya. Maka adegan kematian pun terasa wajar, tapi menyentuh, terkontrol, tanpa teriakan histeris seperti dalam film-film Indonesia yang lain. Yang juga istimewa ialah kctegangan yang tetap terpelihara walaupun kematian Rio sudah bisa diduga sebelumnya. Tapi seperti halnya dalam Cinta Pertana, dalam Rio juga cacad kecil menjadi sangat terasa justru karena keseluruhan film tersaji hampir sempurna. Cacad pertama ialah datarnya adegan terakhir, ketika Rano seolah-olah muncul kembali di depan Lenny Marlina: si Rio yang sudah almarhum itu terlalu dekat dan terlalu jelas, dengan gerak-pelan yang klise -- sedikitnya mengingatkan kita pada iklan shampoo Hi-Top di TVRI. Cacad lain ialah kurang efektifnya kamera mewujudkan perubahan Lenny menjadi melek setelah buta bertahun-tahun: peristiwa tu tak tampak begitu hebat sensasinya bagi mata dan dirinya. Di samping itu visualisasi impian si Rio digarap tanpa suasana mimpi. Dan sekedar kecerewetan akan detail: dari mana si Rio begitu mahir memainkan kecapi --walaupun ia punya bakat dan dilatih bermain musik? Betapapun, Has Manan yang nyaris menang dengan penyutradaraan terbaik (dia mendapatkan nomor kedua), telah menghasilkan sebuah film yang memperoleh serba hadiah -- dan mungkin sekaligus memperoleh banyak penonton -- dengan sebuah dongeng sederhana. Orang perlu mengawasinya untuk�20tahun depan: dia bisa di atas sekali. Kerjasamanya dengan Lenny Marlina dan Kusno Sudjarwadi (sejak Di Mana Kau Ibu?, juga dengan Rano dan Alam Surawidjaja) kali ini telah menghasilkan piala untuk akting terbaik kedua buat kedua bintang itu. Ini adalah prestasi bagus, mengingat bahwa Lenny dan terutama Kusno terlalu sering bermain untuk pelbagai film, hingga banyak kali menyebabkan mereka tak sempat menampilkan sesuatu yang lain. Kecuali dalam Rio. A M.B.I.S.I. Hadiah pertama untuk penataan visuil jatuh ke dalam film Nya' Abbas Akub, A.M.B.I.S.I. Yang menerimanya secara resmi ialah Ami Prijono, art director. Bila Cinta Pertama dalam perkara ini mantap oleh kecermatan detail, A.M.B.I.S.I. Lebih mantap dalam keberanian dan kemampuan mencipta, plus kebebasan imajinasi -- yang dalam hasi-hasil Ami terdahulu belum tampak benar. Latar yang plastis pemberi dimensi visuil lagu-lagu Kus Plus dan trio Bimbo dalam komidi musik ini -- sebagian dibikin dalam studio -- mungkin merupakan suatu langkah baru di Indonesia. Nya' Abbas nampaknya memberi Ami kesempatan penuh. Tak mengherankan: kelebihan A.M.B.I.S.I. dari film-film musik lain untuk FFI 1974 terletak dala kemampuannya buat menyajikan lagu bergerak sebagai film -- bukan cuma memamerkan suara dan wajah Penyanyi seperti acara musik TVRI. Maka wajar agaknya bila film ini�20mendapatkan Hadiah Khusus. Nya' Abbas, dalam kegemarannya akan yang lucu dan yang berlagu (Matt Dower, Dunia Hampir Kiamat) menunjukkan keseriusannya untuk menggarap komedi tanpa nyerocos dan gedebag-gedebug. Komedinya tak mentertawakan bentuk tubuh orang lain -- Ateng atau Ratmi Bomber -- tapi mentertawakan, dengan ikhlas kekerdilan-kekerdilan kita sendiri orang-orang biasa dalam hidup sehari-hari. Dalam perumusan para juri, film ini dinilai berusaha meningkatkan mutu film-film komedi dan musik Indonesia dewasa ini -- meskipun dicatat "dengan beberapa kekurangannya". Nya' Abbas memang berhasil menggiring Bing Slamet untuk tidak menghabiskan bakat dan pengalamannya yang kaya itu ke arah kelucuan yang konyol --mereka telah bekerja-sama dengan baik dalam Tiga Buronan belasan tahun yang lalu -- walau masih ada bagian (bentrokan Bing, Fifi Young dan Dedi Damhudi) yang masih terlalu bertingkah dalam mencari efek "grr-rr". Tapi sambil mengucap "tak-ada-gading-yang-tak...", nampaknya harus dimaklumi bahwa cacad hanya baru kelihatan setelah film jadi -- dan dinilai�20terutama oleh orang lain, dalam suatu perlombaan mutu. Dalam FFI 1974�20perlombaan itu berlangsung "dengan jarak berdekatan" seperti kata Has Manan, di mana tak ada seorang sutradara�20atau satu film yang terlalu menonjol diatas yang lain-lain, di mana yang mutunya di atas rata-rata lebih banyak dari yang di bawah. Maka bisa dimengerti jika ada ketegangan yang lebih terasa�20dibandingkan dengan tahun lalu ketika�20orang-orang film mengangkat wajah menuju Surabaya Kamis lalu. Mungkin�20yang justru dalam hati merunduk ialah anggota juri, yang tahu bahwa dari�20berpuluh-puluh wajah bagus & jelek itu lebih banyak yang akan kecewa�20daripada yang gembira setelah keputusan diumumkan. Tapi memang tak�20ada perlombaan yang serius yang memenangkan hampir tiap peserta. Juga�20Festival 1974 yang berakhir di Surabaya itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar