Rabu, 16 Februari 2011

Piala Citra Malam Penutupan

SURABAYA, 31 Maret 1974, gedung "Mitra", jam 21.35. Malam Penutupan Festival Film 1974. Upacara pembagian piala Citra dan piala lainya yang seharusnya khidmat itu -- agak kacau pada mulanya, hingga terpaksa diulangi sekali lagi. Pengantar acara, Tatiek Tito, melakukan kekeliruan dalam mengumumkan jenis piala untuk pemenang editing (pemaduan gambar terbaik I dan II. Setelah Soemardjono dari Panitia Pusat "turun tangan" sendiri ke depan mikrofon menjelaskan kesalahan yang terjadi dan mohon maaf, piala-piala yang sudah terbagi dikembalikan lagi sebelum piala-piala lain diserahkan kepada yang berhak. "Sayang", klta seorang produser, "kejadian yang amat penting dalam kehidupan seorang karyawan film itu -- yang mungkin hanya sekali dalam hidupnya --harus terganggu begitu rupa". Seorang anggota panitia pusat kemudian menyesalkan kegugupan Tatiek Tito malam itu. Menurut dia, kekacauan beberapa menit malam itu disebabkan karena Tatiek Tito secara emosionil terlibat oleh hasil pengumuman Dewan Juri. Maklumlah karena ia merupakan salah seorang bintang yang filmnya ikut dinilai dalam Festival (dan film itu, Tokoh, tak beruntung mendapatkan piala apapun di luar dugaan). Walaupun demikian, paknya Tatiek Tito malam itu melihat sebabnya di tempat lain: karena hasil-hasil penilaian Dewan Juri baru mendadak bisa diketahui di waktu Ketna Juri, Prof.dr. Soenarko, membacakannya malam itu -- setelah seminggu lamanya dirahasiakan dengan ketat sekali. Ini mungkin menyebabkan orang-orang di luar Dewan Juri tidak cukup siap untuk menampung pelaksanaan hasil-hasil penilaian tersebut, misalnya dalam menyiapkan pengumuman pembagian piala. Goenawan Mohamad yang ikut jadi anggota Dewan Juri 1974 juga ikut kena "tugas merahasiakan" hasil-hasil keputusan. Ini agak merepotkan. TEMPO, seperti tahun lalu, minggu ini juga merencanakan menulis laporan utama tentang FFI dan hasil-hasilnya. Menurut perhitungan Editor Bur Rasuanto, laporan utama itu harus disiapkan pertengahan pekan lalu. Soalnya kemudian: bagaimana harus siap pekan lalu, bila hasil-hasil FFI waktu itu harus dirahasiakan? Untunglah bahwa kerahasiaan hasil-hasil Dewan Juri 1974 pada akhirnya tetap terjaga, sampai dengan Goenawan dan Ed Zulverdi pulang kembali dari Surabaya awal minggu ini setelah mengikuti FFI 1974 dari dekat. Bagi para pembaca TEMPO yang setia agaknya cukup jelas kenapa TEMPO setiap kali ada peristiwa penting dalam perfilman Indonesia selalu memunculkan laporan utama tentang itu. Rubrik Film TEMPO dengan sengaja mengutamakan pembicaraan film-film nasional, dengan sekali-sekali diselingi film-film asing yang dianggap relevant untuk publik Indonesia. Kami selalu menganggap pentingnya film nasional untuk jadi bahan perhatian, terutama bagi kalangan terpelajar yang merupakan bagian penting dari pembaca TEMPO. Dalam rangka itu pulalah TEMPO dalam FFI 1974 termasuk salah satu majalah yang ikut menyumbangkan piala (bagi penyutradaraan terbaik kedua, yang dimenangkan oleh Has Manan dalam Film Rio, Anakku). Tentu saja ada unsur "pengiklanan" dan promosi dalam piala-piala semacam itu. Hal ini menyebabkan kami ingin menyarankan pada Panitia buat FFI tahun depan: dengan dibatasinya jumlah piala Citra hanya untuk mereka yang prestasinya "terbaik", pembatasan mana mulai berlaku tahun ini (di tahun lalu semua pernenang dapat piala Citra), tahun depan hendaknya disiapkan piala-piala tersendiri yang tidak memungkinkan perlombaan "iklan" dalam pembagian hadiah. Sejenis piala-piala Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik umpamanya perlu diperbanyak. Mungkin namanya piala Rukiah, piala Cornel Simanjuntak, dan semacam itu -- yang sebaiknya berasal dari lembaga-lembaga perfilman sendiri yang cukup berwibawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar