Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1973 Catatan Anggota

SALAH satu dari tujuh anggota Dewan Juri Festival Film Indonesia 1973 adalah Goenawan Mohamad dari TEMPO. Enam Yang lain: Moh. Said (tokoh Taman Siswa, anggota Akademi Jakarta darn Badan Sensor Film), Gajus Siagiair (pengajar kritik film di LPKJ dan anggota BSFJ, Kusnadi (pelukis, pembikin beberapa film dokumenterJ, Ekana Siswolo (pejabat Departemen Penerangan, dengan pengalamari di PFN dan ihistrator, majalah Kisah), D.A.Peransi (pelukis, beberapa kali membuat film dokumenter dan semi-dokumenter, dosen cinematografi di LPKJ, serta peniah jadi anggota juri festival film di Eropa) dan lrawati Sudiarso (musikus, anggota DKJJ. Catatan-catatan di bawah arti adalah pendapat Goenawan Mohamad pribadi: SEORANG juri harus punya satu ketakutan. Ia perlu takut kalau-kalau basil keputusannya akan dicemooh ramai-ramai oleh para penilai cendekia di luar dewan juri. Tapi serentak dengan itu is juga harus punya semacam keberanian -- untuk mempertanggungjawabkan hasil penilaiannya dalam pengadilan hatinya sendiri. Dia punya kekuasaan yang lebih besar, pada saat yang singkat itu daripada kekuasaan seorang kritikus atau penulis resensi. Sebab itu dia di ganduli beban yang lebih berat pula, tepat di lehernya. Terutama, bila ia seorang juri dalam sebuah festival film Indonesia di tahun 1973. Saya tak bermaksud melebih-lebihkan. Setiap festival film dalam situasi perfilman kita dewasa ini mau tak mau akan menyangkut promosi dagang, walaupun FFI 1973 menurut harapan bukan arena promosi, tapi semacam kompetisi mute. Sebuah film yang terpilih jadi film terbaik -apabila belum pernah diputar, seperti halnya Perkawinan - mengincar sasaran box office, sebab setiap film yang kini dibuat memang membidik sejumlah uang besar yang dinamakan "laba". Seorang aktor atau aktris yang terpilih bisa dipastikan akan segera diminta ke sana kemari untuk main. Artinya, uang penghasilan nya akan banyak - meskipun bakatnya bisa jadi tercecer-cecer tak keruan karena didera produksi A, B, C, D, E, F dan seterusnya dalam waktu yang singkat. Piala "Citra" Dengan kata lain, setiap hasil penilaian juri setiap festival manapun dewasa ini mau tak inau menyangkut hasib ,perdagangan sejumlah orang. la berurusan dengan masa depan sejunilali atig - benda yang rupanya makin erkuasa kini hingga dapat nienyebab kan manusia jadi seinacam barang kelontong. Maka, sadar akan hal itu, seoi-ang anggota juri mau tak mau harus niernelihara wewenangnya dari kancah komersiil itu. la ingat bahwa ia akan ikut menentukan ke mana singgahnya sebuah piala yang namanya "Citra", dipilih , oleh Kepala Negara Republik, dan diharapkan jadi piala yang terhormat. Ia juga ingat bahwa betapapun belum sempurnanya penyelenggaraan FFI 1973, iktikad baik yang terkandung dalani penyelenggaraannya harus jadi bahan tradisi festival-festival yang akan datang. Dengan begitu seorang juri perlu herusaha meletakkan dasar bagi cari kerja juri juri berikutnya, dan mengakui kekurangan-kekurangan yang telah di alaminya. Bagi saya, kalimat lazim bahwa "keputusan juri tak bisa diganggu gugat", hanya berarti keputusan itu sudah final. Tapi tidak absolut. Piala dan pengliargaan yang sudah diberikan memang tak boleh ditarik kembali, tapi harus tetap diakui bahwa penilaian'juri bersifat nisbi. Orang lain berhak meragukan tepatnya penilaian itu, tentu saja berdasarkan pertimbangannya sendiri yang juga nisbi. Hasil karya film bukan prestasi atletik, yang bisa diukur dengan stop watch. Kepala sama berbulu, pendapat berlainan. Bahkan adanya semacam pertukaran fikiran atau diskusi mengenai hasil penilaian juri akan membantu kita utama untuk meningkatkan ketajaman dalam apresiasi film, dan mendorong juri agar selalu bertanggungjawab. Kita tak boleh terjebak kesembronoan. Perincian Sebab menilai sebuah film sebagai suatu totalitas adalah satu pal. Menilai basil-basil perincian kerja film itu: skenarionya, editingnya, bahkan permainan aktor dan aktrisnya,, adalah pal lain. Sarnpai berapa jauh suatu skenario tidak diubah oleh sutradara dalam proses pembikinan film? Sebuah buku pernah diterbitkan tentang dua versi Guillette de l'esprit dari Fellini: satu versi adalah skenario sebelum shooting, satu versi adalah rekaman kembali dari film -- dan nyata benar bedanya. Itu satu contoh, yang umum diketahui orang film, tapi yang menyebabkan seorang penonton-termasuk juri -- cuma sampai batas tertentu saja bisa menilai suatu skenario sebagai suatu elemen yang berdiri sendiri, terpisah dari tangan sutradara. D.A.Peransi, yang punya pengalaman sebagai juri festival film internasional di Negeri Belanda dan di Jerman, pernah mngatakan pada saya bahwa sebaiknya juri diberi kesempatan membaca skenario suatu film yang dinilai: dari sini bukan saja bisa dilihat mutu skenario itu sendiri, tapi kreativitas penyutradaraan dan editor. Tapi sudah tentu saran yang baik ini mustahil untuk dilaksanakan. Juri FFI 1973 harus bekerja dalam 11 hari (dari jam 15.30 hingga malam) untuk menonton 36 film, termasuk 6 film dokumenter dan 1 film "tamu" yang tak ikut dinilai, Panji Tengkorak. Dan di samping soal waktu yang pendek itu, siapa tahu ada film yang tanpa skenario. Laki-Laki Tak Bernama Wim Umboh konon salah satu contohnya. Kesulitan yang sama juga terdapat dalam persoalan acting. Konsistensi mutu permainan seorang aktor Indonsia kini masih amat meragukan, dan mungkin sekali tergantung pada siapa si sutradara dan bagaimana skenario dan malah juga hasil dubbing suaranya di studio. Sophaan Sophiaan dalam Cintaku Jauh di Pulau berada sekian derajat di bawah Sophaan Sophiaan dalam Pemberang. Widyawaty dalam PerkaDin bermain bagus sekali, tapi dalam Si Bongkok ia paling-paling cuma tampak cantik. Fifi Young dalam Malin Kundang baik, dalam Pengantin Tiga Kali mencapekkan. Sentot, pemain baru yang berasal sebagai penari, lebih menonjol di Mutiara Dalam Lumpur tapi berabe dalam Kabut di Kintamani -- di mana ia tertawa keras-keras, tanpa kita tahu ada kah ketawa itu hasil karyanya, atau hasil pengisian suara. Benyamin S yang memperoleh angka terbanyak untuk FFI 1973 -- suatu "surprise" --menonjol lantaran peranannya dalam komedi seperti Intan Perduri, sebagai orang kampung di udik Jakarta yang melarat. Tapi untuk peran lain, misalnya sebuah film cinta kota besar, mungkin ia bakal bumpet seperti kalau Roy Rogers harus berhenti jadi koboi dan main dalam film sejarah Mesir. "Aktor" Atau "Permainan" Semua contoh tadi menimbulkan problim: sampai berapa jauh totalitas sebuah karya film bisa dimulai dalam elemen-elemen produksinya untuk kemudian masing-masing elemen dinilai secara adil? Mungkin kita belum berani mempelopori suatu pendekatan baru dalam penilaian film, yang berheda sama sekali dari tradisi yang sudah ada, baik di Hollywood maupun Hongkong. Saya kira pada suatu ketika nanti perlu ada semacam metode Ganzheit dalam penilaian itu, sehingga yang dinilai cuma film terbaik, tanpa embel-embel editing, pengarahan artistik, ilustrasi musik, teknik suara dan lainlaim Dengan demikian karya film sebagai hasil kerja-sama beberapa unsur akan lebih jelas. Pada gilirannya ini akan merangsang keutuhan kerja yang seimbang dalam suatu proses produksi. Kalaupun ada elemen yang perlu dinilai, maka barangkali itu hanya pilihan cerita atau thema atau alur cerita -- dan bukan skenario. Tentang penilaian terhadap satu pemegang peran - utama atau pembantu untuk satu festiva pengertiannya agaknya juga harus lebih sederhana. Para juri FFI 1973 telah berusaha mengambil jalan tengah yang sulit untuk memilih pengertian "aktor terbaik" dengan "permainan atau acting terbaik". Tapi para juri FFI yang akan datang barangkali perlu membatasi diri pada penilaian "permainan" atau "acting" terbaik saja dan tidak memilih "aktor" atau "aktris" terbaik. Sebab bagi saya dua pengertian itu berbeda. Seorang "aktor" terbaik dalam tahun tertentu harus dinilai berdasarkan konsistensi mutu permainannya dalam pelbagai macam film dan pelbagai macam peran selama satu tahun. Kalau dia baik terus selama itu, dia berhak memperoleh gelar tersebut. Dan sebaiknya penilaian hal ini dilakukan oleh kritisi film atau wartawan film yang harus mengikuti perkembangan para bintang selama suatu masa tertentu. Di situlah sebetulnya fungsi yang bisa dipegang oleh PWI Seksi Film: menurut saya, dalam menirai aktor dan aktris terbaik wartawan film perlu mengikuti cara para wartawan olahraga di SIWO dalam memutuskan siapa olahragawan terbaik untuk satu tahun. Seperti halnya kiper Ronny Paslah tak hanya dinilai prestasinya dalam satu pertandingan, juga Sukarno M.Noor akan lebih mantap mutunya sebagai aktor bila dinilai berdasarkan sejumlah filmnya. Batas Juri Dengan begitu terdapat semacam isimengisi antara dua macam penilaian. Tanpa mengadakan semacam festival lain, karena wartawan & kritisi film seharusnya sudah mengikuti perkembangan seorang bintang secara kontinyu, penilaian mereka dengan cara itu akan lebih punya bobot dalam memilih "aktor terbaik" di suatu tahun. Dan sementara itu penilaian juri dalam satu Festival Film mendapatkan peluang untuk lebih berendah-hati: juri suatu Festival hanya menilai permainan terbaik seorang bintang -- yang belum tentu aktor atau aktris terbaik untuk satu tahun - dari salah satu film yang difestivalkan. Dan memang di. situlah batas observasi seorang juri festival. Ia hanya mengambil keputusan berdasarkan bahan yang ada. Bahkan dalam memilih peran utama terbaik, para juri FFI 1973 terpaksa memakai daftar "calon" yang di ajukan produser, yang kadang-kadang kurang praktis: untuk film Mama, misalnya, yang disebut "peran utama" adalah sederet nama--Sukarno M. Noor, Andy Auric, W.D. Mochtar, Rima Melati dan lain-lain -- hingga juri terpaksa memilih salah satu saja untuk mereka nilai. Yang lain terbuang. Nampaknya dalam pencantuman nama macam itu ada kekaburan pengertian antara "bintang terkenal" dengan "peran utama" -- suatu hal yang kali ini terpaksa ditelan dengan seret oleh dewan juri. Kelak agaknya hal ini perlu diperbaiki. Perbaikan lain yang mungkin perlu diadakan, seperti pernah disebutkan dalam suatu percakapan oleh D.A Peransi ialah pentingnya diskusi antara juri mengenai sejumlah film dan pemain yang terpilih, agar diperoleh suatu hasil yang telah diuji validitasnya. Prosedur ini dalam dewan juri FFI 1973 praktis tidak ada: rembugan antar juri terbatas pada teknik penilaian dan penghitungan. Agaknya secara ekstrim bisa dikatakan, bahwa yang berlangsung dalam penjurian FFI 1973 adalah kombinasi angkaangka, dan bukan komunikasi apresiasi dan ideide. Untunglah, perbedaan angka-angka penilaian antara para juri pada umumnya ternyata tak banyak berbeda. Tapi prosedur demikian menyebabkan setiap juri pada hakikatnya bekerja sendiri-sendiri. Betapapun, ada semangat kerjasama yang tinggi, bukan saja antar juri, tapi dengan panitia, yang dengan teguh menjaga otonomi juri. Tradisi ini tentunya patut dipertahankan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar