Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1973 dan Hasilnya adalah...

DARI hasil penilaian juri Festival Film Indonesia (FFI) 1973 terdapat hal-hal yang sudah bisa diperkirakan dan ada juga yang mengejutkam Sebagai film terbaik -- berdasarkan angka-angka yang dikumpulkan dari pelbagai elemen produksi -- adalah Perk winan karya Wim Umboh, yang telah diresensikan Salim Said dalam TEMPO (24 Maret) sebagai "satu lagi pencapaian yang menggembirakan bagi film-film nasional". Film kedua terbaik adalah Pemberang, yang disutradarai Rasmana, juga sudah ditulis di TEMPO (3 Maret) sebagai "film tegang Indonesia terbaik hingga sekarang". Yang agak kontroversial mungkin dipilihnya penyanyi Benyamin S. sebagai pemain yang terbaik. Tapi tentang Rima Melati (terpilih oleh PWI 1971 sebagai aktns terbaik) dan Fifi Young -- masing-masing sebagai aktris terbaik pertama dan kedua -- agaknya tak akan banyak keterkejutan, walaupun di kalangan pengamat film ada banyak yang mencatat bahwa Widyawati dalarn Perkawinan menunjukkan puncak perrnainannya-meskipun dalam film lain dia tak seberapa. Tentang Dicky Zulkarnaen (sebagai aktor terbaik kedua), Tanty Josepha dan Arman Effendi (masing-masing selagai aktris dan aktor harapan), serta Dewi dan Andy Carol (pemain kanak-kanak terbaik), kita belum dengar komentar. Yang harus dicatat tentulah bahwa penilaian juri betapapun juga adalah sesuatu yang nisbi, tergantung dari apresiasi mereka dan bahan yang ada pada mereka. Tentang persoalan-persoalan penjurian, dalam nomor ini Goenawan Mohamad (yang pernah menjadi desk film TEMPO dan bekas anggota Badan Sensor Film serta termasuk sebagai salah satu juri dalam Festival Film 1973 ini) menuliskan saran-sarannya mengenai penilaian film untuk masamasa yang akan datang, berdasarkan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam FFI 1973. Di dalam tulisannya juga dikemukakan, bagaimana sebenarnya penilaian tentang aktor dan aktris terbaik yang dilakukan PWI Jaya selama ini, dengan disem,urnakan arah dan sistemnya, bisa berhubungan saling si-mengisi dengan penilaian segi ucting oleh sebuah dewan juri dalam satu festival. Dengan demikian, konflik yang terjadi secara diam-diam atau terbuka antara PWI Jaya dengan FFI 1973 sebenarnya tak perlu terjadi dan diperpanjang -- kalau kedua belah fihak memang tidak mau terjebak dalam vested-interest. Tentang konflik itu sendiri dikemukakan oleh laporan yang disusun Salim Said dan dibantu sepenuhnya oleh Martin Aleida. Melihat bahwa dalam suatu festival di Indonesia di waktu yang I ampau terdapat film lewat Jarn Malam sebagai film terbaik (juga dikemukakan dalam box tersendiri dalam laporan utama ini), satu kesimpulan bisa diambil agaknya: bahwa dulu, ketika pembuatan film masih sederhana tekniknya, ternyata terdapat kemauan untuk membuat film yang pada dasarnya tidak mengincar keuntungan komersiil belaka, seperti halnya film Lewat Jam Malam itu. Dewasa ini, keberanian itu makin jarang, kecuali mungkin sedikit dengan film produksi Sarinande Wajah Seorang Laki-Laki (dikerjakan bersama Teater Populer). Agaknya perubahan institusionil dalam kehidupan perfilman kita perlu diadakan, agar karyawan film kita tak cuma terpaksa harus diburu-buru untuk produksi-produksi yang berlaba, tapi juga menyempatkan waktunya untuk membikin film yang merupakan karya seni, meskipun kalau perlu tak laku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar