Rabu, 09 Februari 2011

ENAM DJAM DI DJOGDJA / 1951

ENAM DJAM DI DJOGDJA


Film ini dogolongkan Dokudrama, produksi 1950. Film ini bercerita tentang pendudukan kota Jogja pada perang kemerdekaan kedua (1846-1949) dan kegiatan para pejuang di dalam dan di luar kota. Tokoh utama dalam cerita ini adalah kota Jogja. Menampilkan tokoh para aktivis gerakan bawah tanah pimpinan Mochtar (Del Yusar). Cerita jadi menarik disaat ditampilkan orang tua (R.Ismail) ayah seorang komandan Gerlia. Tokoh ini menginginkan kembalinya jaman normal dan bosan dengan perjuangan yang tidak kunjung selesai. Tokoh historis tidak tampil sama sekali. Penonton juga tahu kalau yang memimpin serangan umum ke kota Jogja adalah Overste Suharto, meskipun Suharto sendiri tidak pernah tampil, sebaliknya dalam Janur kuning yang mengangkat namanya. Setelah Yogyakarta diduduki Belanda (Desember 1948), pasukan Republik Indonesia melakukan perang gerilya. Pada suatu ketika Yogya diserbu dan bisa diduduki, walau cuma selama enam jam. "Serangan Oemoem" pada 1 Maret 1949 itu sekedar menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa RI masih punya kekuatan, dan tidak (belum) hancur seperti dipropagandakan Belanda. Film ini dengan sadar melukiskan peristiwa nyata terkenal dalam sejarah revolusi Indonesia itu dengan cara fiktif, karena merasa dokumen-dokumen yang ada masih belum lengkap dan takut menyinggung berbagai pihak. Yang dilukiskan adalah kerja sama antara rakyat, tentara dan pemerintah. Meski fiktif, tapi fakta nyata menjadi acuannya. Dan kisah disuguhkan lebih dari sisi rakyat atau tentara yang berpangkat rendah. Tekanan Belanda membuat rakyat menderita dan berbagi sikap. Ada yang mendukung perjuangan tentara, ada yang menggerutu. Tentara yang memeras rakyat pun sekilas dilukiskan. Kesulitannya adalah menyatu padukan sikap, gerakan dan menegakkan disiplin semua anggota gerakan. Ada juga terselip kisah cinta. Tidak ada tokoh yang menonjol dalam kisah, karena begitu banyak pihak yang diceritakan sedikit-sedikit, karena yang jadi tujuan memang pelukisan peristiwa itu secara global


NEWS
12 Maret 1977
Film yang mengharukan


GAMELAN sayup-sayup. Seorang pemuda berpakaian Jawa keluar dari pintu. Mengendap-endap. Di luar jauh di sana, terdengar panser dan truk tentara Belanda berseliweran. Pemuda itu hati-hati menyelinap di antara rumah-rumah kampung Yogya yang padat itu, lalu menghilang. Di waktu subuh, ia kembali ke rumah tempatnya menumpang. Ia berusaha agar langkahnya tak membangunkan induk semangnya. Tapi ketika ia naik tangga ke kamarnya sendiri di atas, ia dengar wanita itu sudah bangun di kamar bawah. Habis sembahyang subuh. Cepat-cepat ia masuk ke kamar tidumya, berganti pakaian, memakai slaapbroek lagi, membuka jendela dan pura-pura baru bangun tidur. Tapi ibu itu, masih mengenakan mukena, muncul di pintu. "Apakah nak Mohtar baru ketemu ngarsa dalem?", tanyanya. Pemuda itu tak bisa mengelak lagi. Rahasianya tersingkap. Wanita itu tahu, bahwa pemuda yang mondhok di rumahnya itu adalah seorang anggota gerakan di bawah tanah, kurang-lebih penghubung antara para gerilyawan di gunung dengan kraton Yogya, yang diam-diam melawan kekuasaan pendudukan Belanda. Hari itu di tahun 1949. Dan kisah ini dihidupkan dalam film cerita Enam Jam Di Yogya -- satu cerita berlatarkan sejarah, yang dibuat Usmar Ismail di tahun 1950. Hanya satu tahun jaraknya, antara kejadian sebenarnya dengan dibikinnya film itu. Tapi ketika di awal Maret 1977 film itu diputar kembali di TVRI, masih ada yang terharu menyaksikannya. Seorang rekan menangis, diam-diam. Waktu itu adegan ketika pasukan gerilya memasuki lorong-lorong sempit kota, disambut penduduk dengan gembira .... ***

MEMANG, sesuatu yang indah. Perjoangan dan setiakawan, masing-masing dan semuanya adalah sesuatu yang indah. Kini dalam Festival Film Indonesia '77 orang-orang berbicara tentang "sesuatu yang indah" yang lain. Tidak apa. Wim Umboh tidak salah jika ia kini membuat Sesuatu Yang Indah dan itu berarti percintaan seorang pilot atau gadis bar yang hangat dalam ajojing. Zaman telah berganti. Yang jadi pertanyaan ialah: mengapa Enam Jam di Yogya justru menggetarkan, dalam zaman yang telah berganti ini? "Itu hanya nostalgia biasa dan agak kuno dari seorang yang mulai berumur", kata seorang, setengah mengejek. Mungkin. Seorang wartawan tua kemudian berbicara tentang film itu. "Film itu dibuat oleh Usmar dengan alat-alat yang sederhana", katanya, "tapi ia bisa mencerminkan ke-Indonesia-an kita". Kini, katanya lagi, teknologi sudah jauh lebih lengkap, tapi kita kehilangan wajah kita sendiri. *** TAK selamanya enak terdengar, bila seseorang mengeluh tentang masa kini seraya memuji masa yang silam. Tapi agaknya kita pun setuju: ketika dalam film Enam Jam di Yogya seseorang menyebut nama "Pak Harto", terasalah ada sesuatu yang lain. Kata itu tetap berarti nama Presiden kita sekarang, yang waktu itu memimpin serangan umum dan berhasil merebut Yogya selama 6 jam yang menentukan. Tapi di tahun 1950, ucapan itu jelas jauh dari niat menjilat. Seperti sambutan penduduk kampung kepada pasukan yang masuk ke kota itu, yang menyebabkan seorang rekan menangis entah kenapa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar