Selasa, 01 Februari 2011

Enam buah yang berkesan

14 Agustus 1982
Enam buah yang berkesan

TIDAK ada kabaret untuk FFI 1982, seperti yang tahun lalu dipersiapkan Acub Zaenal di Surabaya. Kirk Douglas dan Farrah Fawcett pun tidak datang. Padahal Widodo Sukarno sudah telanjur mereklamekan kehadiran mereka di Jakarta. Tak mengapa. Masih ada 2 aktor hitam, Jim Brown dan Richard Roundtree, yang akan jadi bintang tamu di samping Trini Lopez, Barbara McNair serta beberapa nama lain yang agak kurang dikenal di sini. Patut dicaut pula kesediaan Wapres Adam Malik untuk membuka FFI di Balai Sidang Senayan, Senin malam pekan ini di samping adanya beberapa hal baru yang sebaiknya tidak diabaikan. Pertama-tama, yang benar-benar baru dan ramai dibicarakan adalah sistem penjurian bertahap (lihat Munculnya KPU dan Notaris). Dalam penjurian model ini diskusi antara para juri ditiadakan. Angka-angka rupanya lebih menentukan. Mungkin karena itu kehadiran seorang notaris dianggap mutlak untuk mengamankan angka-angka tersebut, yang terkumpul pada tahap praseleksi. Menjelang penjurian tahap akhir, para sutradara yang karyanya diunggulkan sebagai film terbaik wajib membuat satu pernyataan tertulis. Ini pun satu ketentuan baru. Dalam pernyataan itu sutradara tersebut menegaskan, film mereka bukanlah jiplakan dari karya orang lain. Nah! Tak salah lagi, ketentuan ini tentu ada kaitannya dengan 2 unggulan film terbaik yang diduga keras menjiplak film asing. Masih ada lagi yang baru: terbentuknya Yayasan FFI yang berfungsi sebagai panitia tetap FFI. Yayasan ini merupakan satu aparat Dewan Film, khusus bertanggungjawab mensukseskan tiap FFI sejak tahun ini. Penanganannya segera bisa disaksikan -- misalnya pada sistem penjurian yang diusahakan disempurnakan atau kegiatan pesta yang agak dibatasi. Di samping itu pengenalan film Indonesia ke masyarakat ditingkatkan. Antara lain lewat pameran, pekan apresiasi dan pemutaran unggulan film terbaik di 3 bioskop terkemuka di Jakarta: Plaza Theatre, New Garden Hall dan Djakarta Theatre. Dengan kombinasi kegiatan serupa itu, siapa tahu FFI bisa tampil sebagai sebuah peristiwa budaya dan tidak sekedar pesta meriah yang penuh glamur. Sejak FFI diselenggarakan pertama kali, 1955 di gedung Metropole (sekarang Megaria) Jakarta, kegiatan pesta memang selalu lebih menonjol. Sedang khalayak selalu mengulang keluhan mereka: "Film Indonesia kok tidak maju-maju." Tidak maju-maju? Dari segi jumlah, sesudah terpukul oleh SK Menpen No. 224, (yang intinya menghapuskan kewajiban importir untuk memproduksi film), produksi film Indonesia memang merosot -- meski kemudian punya kecenderungan naik lagi. Produksi yang 134 judul (tahun 1977), turun berturut-turut menjadi 60 (1978), 38 (1979), lantas kembali naik jadi 54 (1981) dan 70 (1982). Benarkah dalam 5 tahun, SK No. 224 punya pengaruh dalam menaikkan mutu seperti yang secara tidak langsung menjadi ambisinya? Jawabnya ya, namun tidak seperti yang diharap. PADA 1980, saat pukulan SK 224 masih membekas ada film berani tapi murah biayanya seperti Perawan Desa (karya sutradara Franky Rorimpandey, pemenang Citra untuk film terbaik). Juga Harmonikaku dan Yuyun, di samping Kabut Sutra Ungu yang manis tapi rada mahal. Tahun 1981 pilihan tema cukup beraneka. Mulai dari Gadis Penakluk, Usia 18, Perempuan Dalam Pasungan (karya Ismail Subardjo, pemenang Citra film terbaik). Bukan Sandiwara, Gadis dan Para Perintis Kemerdekaan. Dan keragaman tema itu nampak berlanjut tahun ini, walaupun seorang pengamat berkata tidak melihat hal itu. Meski tidak banyak, beberapa judul patut disebut. Serangan Fajar (karya Arifin C. Noer produksi PPFN) yang kolosal, yang merekam sebuah episode Perang Kemerdekaan. Lalu Sang Guru dan Bukan Istri Pilihannya (karya Edward Pesta Sirait), Gadis Marathon (karya Chaerul Umam), Tangan-Tangan Mungil (karya Yazman Yazid) dan Bercanda Dalam Duka. (karya Ismail Soebardjo). Sopan, dalam pengertian tidak melayani naluri rendah penonton, film-film tersebut mengandung sikap moral yang teguh, orientasi sosial yang cukup kuat, telaah perwatakan yang lumayan, dan di atas semua itu mengesankan usaha pencarian ke bidang-bidang yang jarang atau belum dirambah. Bagaimanapun ini satu upaya terpuji -- bukti bahwa para insan film tidak selalu berputar-putar pada tema ringan di permukaan, seperti yang selalu dituduhkan. Sejak Perawan Desa, Usia 18, Rembulan dan Matahari, kehendak membuat film baik yang berpijak di bumi dan masyarakat Indonesia nampak terus diperjuangkan, kendati tidak terlepas dari macam-macam kompromi. Besar kemungkinan, untuk mencari-cari contoh kompromi, peran guru dalam Sang Guru sengaja dipercayakan kepada S. Bagio karena nama pelawak itu sudah merupakan jaminan bagi penonton. Dengan alasan yang sama duet Yenny Rachman dan Roy Marten masih diteruskan dalam Gadis Maratbon. Syukur keduanya menghayati peran dengan baik, hingga kasting yang disodorkan pada Umam, sutradara Gadis Marathon, tidak meleset. Tapi sesudah memahami kompromi semacam ini, dan "konsekuensi lois" entah apalagi yang harus dihadapi para seniman film, tidak ada salahnya bila kita membubuhkan sekedar catatan tambahan. Kecuali Serangan Fajar, lima film lainnya adalah film cerita biasa, yang menampilkan wajah realisme dalam pendekatan yang berbeda. Sang Guru misalnya, dalam penokohan cenderung karikatural, tapi ceritanya melontarkan isu yang amat realistis: pencarian integritas dan kejujuran yang, seperti sering dikatakan, sulit ditemukan dalam tata-nilai masyarakat yang sedang berubah. Dari materi cerita mestinya bisa lahir sebuah film drama, tapi sutradara Edward Sirait berangkat dari konsepsi berbeda -- yang terbukti kurang pas untuk pengarahan akting auupun cerita. Dalam Gadis Marathon, cerita sejak awal dibangun rapi. Kamera lincah dan editing mengesankan. Namun ketika sampai pada konflik yang menentulcan -- saat KONI Ja-Bar memecat pelatih Anton Sudirgo -- cerita menjadi agak samar. Perdebatan seru dalam adegan ini kurang kuat mencerminkan motivasi pemecatan, satu hal yang menjadi kunci penutup kisah. Tangan-Tangan Mungil, yang berhasil menyelam ke lubuk jiwa anak-anak, nampak diolah rapi seraya menawarkan keharuan di sana-sini. Namun penggarapan tokoh kurang seimbang, hingga ada yang terabaikan. Tampil dengan sendi-sendi fakta yang lebih kokoh, Bukan Istri Pilihannya cermat menggambarkan kehidupan pedasaan yang kemudian dipertautkan dengan kehidupan kota besar. Tapi ada juga beberapa cacat kecil yang mengganggu seperti dalam credit title yang berkepanjangan, hingga merusak konsentrasi penonton. Terakhir Bercanda Dalam Duka. Film ini menampilkan seting desa terpencil di Jawa Timur, dan amat menarik karena permasalahan yang khas, penokohan yang khas, penataan artistik dan penataan suara yang hampir sempurna. Pengolahan yang dilakukan Ismail Soebardjo setingkat lebih baik dari karyanya, Perempuan Dalam Pasungan. Namun kericuhan penggambaran dalam dimensi jarak, serta terlalu gelapnya bagian tertentu, lagi-lagi meninggalkan cacat kecil. Memang, kelemahan-kelemahan di atas tergolong kerikil-kerikil kecil yang bisa saja menyebabkan orang tergelincir. Kalau kini ada yang dituntut dari seniman film, maka itu tampaknya tidak lain dari ketekunan, khususnya dalam penulisan skenario dan penyutradaraan. Dan bila TEMPO kali ini kembali menurunkan film-film pilihannya, tak lain dimaksud sebagai ekspresi penghargaan kepada jerih-payah para seniman dan pekerja film kita, tanpa ingin mempengaruhi para juri FFI yang baru akan menyiarkan hasil penilaian mereka 14 Agustus pekan ini. GADIS MARATHON Pemain: Yenny Fachman, Roy Marten Rachmat Hidayat, Pong Harjatmo Skenario: Sjuman Djaya, Sutradara: Chaerul Umam. Film ini segera memikat karena menyorot sisi buruk dunia olahraga di tanahair. Konteksnya: nasib pelatih yang terombang-ambing, bibit unggul yang kurang tersalurkan karena ketiadaan dana, serta salah-urus yang seakan tiada habis-habisnya. Lewat skenarionya, Sjuman Djaya menampilkan kebuntuan dunia atletik khususnya dan penyakit-penyakit masyarakat yang menggerogoti olahraga pada umumnya. Berusaha menjangkau permasalahan yang lebih luas, film ini tidak berhenti pada pribadi-pribadi. Sebuah tema yang tidak biasa dalam perfilman Indonesia. Toh sutradara trampil sekali menjalin dan mengakrabkan 'kisah olahraga' itu kepada penonton. Ada misi yang dititipkannya. Bahwa para juara adalah manusia biasa. Mereka tidak bisa hidup hanya dari sanjungan. Seperti yang lain, mereka butuh pengertian dan perlindungan. Meski tidak istimewa, Gadis Marathon boleh dipujikan untuk penyutradaraan terbaik (Chaerul Umam) dan pemain utama wanita terbaik (Yenny Rachman). TANGAN-TANGAN MUNGIL Pemain: Kiki Amelia, Dina Mariana, Kak Seto, Kusno Sudjarwadi, Skenario: Parakitri & Th. A. Budi Susilo Sutradara: Yazman Yazid. Bertolak dari kasus seorang anak perempuan yang salah asuhan, film ini berusaha memberi tempat yang layak bagi Jiwa anak-anak yang sedang tumbuh -- lewat cita-cita seorang pendidik, Kak Seto. Mengetengahkan suka-duka tiga bersaudara perempuan: Lala (Kiki Amelia), Mita, dan Dina (Dina Mariana). Plus ibu mereka yang penuh pengertian serta ayah yang senantiasa merindukan seorang anak lelaki. Akibat keinginan yang tak sampai ini, ayah membesarkan si bungsu Lala seakan bocah itu anak lelaki. Banyak konflik terjadi, banyak tokoh terlibat, tapi semuanya ditata dalam irama yang terpelihara. Permainan Kiki Amelia wajar dan mengesankan, satu prestasi yang perlu diperhitungkan. Di samping itu skenario yang diolah bersama oleh Parakitri dan Th. A Budi Susilo pantas terpilih sebagai skenario terbaik tahun ini. SANG GURU Pemain: S. Bagio. Maruli Sitompul, Rahayu Effendi, Bambang Hermanto, Skenario: Parakitri, Sutradara: Edward Pesta Sirait Seorang guru yang lugu bernama Topaz (S. Bagio) tampil sebagai pahlawan kejujuran. Ia gagal berhadapan dengan kepala sekolah, nyonya penggede dan pejabat tinggi. Kebetulan sekali ketiganya bermental korup. Terus terang ini sebuah pilihan tema yang berani, apalagi dialognya melabrak ke sana-ke mari -- dengan konsekuensi tidak lolos sensur. Terlepas dari penokohannya yang karikatural, plus gaya akting Maruli dan Rahayu Effendi yang menurut konsep sutradara harus distilisasikan hingga terlihat teatral, film ini menumbuhkan optimisme di lubuk penonton. Diam-diam kita berkata, "Harapan itu ada. Badan Sensortoh masih peka." Satu hal lain yang tidak kurang'penting ialah bagaimana film ini memberi porsi terbesar untuk dialog. Dalam hal ini permainan Bagio (dan Bambang Hermanto) telah menyelamatkannya. Memang, Bagio layak dipilih sebagai pemain utama pria terbaik tahun ini. SERANGAN FAJAR Pemain: Antonius Yacobus, Dani Marsuni, Amoroso Katamsi, Suwastinah, Suparmi, Nunuk, Chaerul Umam, Skenario & Sutradara: Arifin C. Noor. Film ini memberi kesan lain dari kebanyakan film Indonesia, terutama dari segi sinefotografinya. Sebagian besar adegan terpampang dalam warna tunggal kehijauan atau kecokelatan -- seakan kita membalik kembali album lama. Ini memang kisah masa lalu -- masa perang kemerdekaan -- dan dalam hal itu ide dan emosi berpaut bagus dengan teknik. Agak sayang film ini mengalami kesulitan bercerita. Kisahnya terdiri dari tiga lapis. Lapis pertama kisah bocah Temon, saksi dalam masa yang bergolak hebat. Lapis kedua kisah keluarga (Amoroso Katamsi), para ningrat yang kena angin perubahan di masa republik ditempa. Lapis ketiga sebuah kisah resmi: bagaimana pelbagai angkatan bersenjata tumbuh dan bergerak, dengan tokoh sentral pemuda yang kini jadi Presiden Soeharto. KETIKA lapis itu dicoba dipertautkan oleh Arifin, tapi tidak luluh benar. Keberaniannya bereksperimen memang bisa menyebabkan kita berdecakk-ck-ck, tapi sebuah "propaganda patriotisme," seperti dikatakan sendiri oleh sutradaranya tentang film ini, akan lebih menggugah jika penonton tidak disibukkan menyesuaikan diri dengan eksperimen itu. Termasuk eksperimen untuk berkisah dengan cara wayang: ada gunungan, ada goro-goro, bahkan ada semacam suluk. Toh Arifin tetap menunjukkan keunggulannya sebagai sutradara yang lama berpengalaman dengan para pemain pentas: dia bisa membikin seorang yang hampir nol menjadi tujuh angkanya dalam memainkan peran. Terbukti dari permainan Dani Marsuni sebagai Temon, yang baru pertama kali itu berhadapan dengan kamera. Dani berperan dengan mantap, mengimbangi Suparmi yang melakonkan tokoh Mbah, seorang pemain dari dunia ketoprak. Dan Amoroso Katamsi yang berperan amat meyakinkan sebagai tokoh ningrat. Keduanya, Suparmi dan Amoroso Katamsi, tepat dipilih sebagai pemeran pembantu pria dan wanita terbaik tahun ini. Ada pun gelar juru kamera terbaik tak pelak lagi diberikan kepada M. Soleh Ruslani, juru kamera kawakan yang tahun ini telah mempersembahkan kepada kita "gambar-gambar yang mengagumkan."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar