Kamis, 24 Februari 2011

Djamaluddin Malik

Disekitar tahun 70-an, almarhum mendapat sakit yang cukup parah, sehingga memerlukan perawatan dokter. Selanjutnya dirawat di Rumah Sakit Fatmawati, kemudian atas pertimbangan serta nasehat dari para dokter yang merawat, almarhum diharuskan berobat di Munchen (Munich – Jerman Barat). Dalam istilah kedokteran, almarhum menderita sakit yang macam-macam (konflikasi) sehingga sukar untuk diobati dengan secepat mungkin.
Akhirnya pada tanggal 8 Juni 1970, H. Djamaluddin Malik menghembuskan nafasnya yang terakhir. Turut mendampingi almarhum sewaktu menghembuskan nafasnya : Zainal Malik (sekarang di Amerika Serikat), Camelia Malik, Yudha Asmara Malik, Lailasari Malik. Jenazah almarhum diterbangkan dari kota Munchen ke Jakarta, dan disemayamkan di Pekuburan Karet Jakarta sesuai dengan permintaan beliau menjelang wafatnya.
Setelah wafatnya almarhum H. Djamaluddin Malik, beliau diangkat sebagai Tokoh Perfilman Nasional bersama-sama dengan H. Usmar Ismail. Disamping itu pula atas Keputusan Presiden Republik Indonesia pada tahun 1973, di Istana Negara telah dikukuhkan/ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional R.I. dengan mendapat Bintang Mahaputra Kelas II / Adipradhana, yang diterima oleh istri almarhum, Ny. Elly Yunara Djamaluddin Malik.
Dengan adanya pengukuhan dari Presiden Republik Indonesia tersebut, maka tidaklah salah apabila dalam Festival Film Indonesia, nama almarhum dicantumkan sebagai salah satu kehormatan untuk Piala Citra. Begitu pula dalam The Best Actor & Actrees, nama beliaupun mendapat kehormatan (berupa piala).
Selanjutnya sebagai penerus cita-cita almarhum, Ny, Elly Yunara Djamaluddin Malik, meneruskan cita-cita tersebut sesuai dengan batas kemampuan yang ada pada dirinya, PT. Remaja Ellynda Film yang berkantor di Jalan Cianjur No. 18 Jakarta adalah salah satu usaha Ny. Elly Yunara Djamaluddin Malik. Dua prosuksi film yang telah ditelorkan/dihasilkan adalah : Malin Kundang dan Jemabatan Merah.






Djamaludin Malik sendiri yang mengawasi jalannya syuting film produksi Persari








Jamaluddin Malik adalah ayah dari artis Camelia Malik. Beliau sebagai pelopor industri film nasional juga sebagai produser, tidak sedikit bintang dan karyawan yang lahir dan berkembang dalam perusahaan yang dipimpinnya. Lewat perusahaan Persarinya yang terletak di Polonia, yang sangat luas Jamaluddin Malik telah membuat 3 film berwarna yaitu Rodrigo de Villa (1952), Leilani (1953) dan Tabu (1953) yang seluruhnya dilaksanakan di Pilipina. Bekerjasama dengan Sampuguita tahun 1962 membuat film berwarna yang berjudul Holiday In Pilipina yang menggunakan 3 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Tagalog dan Inggris padahal film tata warna Indonesia baru lahir tahun 1968. Berbicara tentang Jamaluddin Malik pasti ada keterkaitan dengan Usmar Ismail. Mereka merupakan Dwi Tunggal tokoh film Nasional sesudah lahirnya Republik Indonesia, dan keduanya adalah pelopor dalam bidangnya masing-masing.
Ketika Djamaluddin Malik, Pres. Direktur Persari mengadakan perjalanan ke Singapura, Hongkong dan Manila, oleh kaum artis Malaya diadakan penyambutan di kota tersebut. Nampak Djamaluddin Malik di tengah bintang-bintang Show Bros seperti P. Ramlee, Mariam, Omar Rojik dll.






Djamaluddin Malik tidak dapat mengikuti Festival Film di Tokyo dikarenakan pencekalan dirinya sehingga tidak dapat menghadiri festival tersebut yang telah direncanakan keberangkatannya bersama para tokoh perfilman Indonesia. Tokoh-tokoh yang sudah dijadwalkan untuk hadir dalam Festival Film di Tokyo antara lain Oei Tiang Tjay, Turino Djunaedi, dan Usmar Ismail. Tidak dijelaskan alasan pencekalan terhadap Djamaluddin Malik padahal festival tersebut sangat penting artinya bagi para insan dalam dunia perfilman di Indonesia. Kunjungan ke Festival Film Tokyo di tersebut diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman baru dalam dunia film yang berguna bagi perkembangan film di Indonesia.
Djamaluddin Malik dikenal sebagai tokoh perfilman nasional, dermawan, bos dan raja seniman Senen. Sebelum terjun ke dunia film, ia pernah bekerja diperusahaan-perusahaan Belanda yang membuatnya memiliki pengetahuan tentang kiat berdagang dan manajemen perdagangan modern sekaligus menghimpun kekayaan. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional berkat jasanya membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air lewat kelompok sandiwara Panca Warna yang pentas keliling hampir di seluruh kota besar Indonesia. Ia juga mempelopori berdirinya industri perfilman Indonesia bergaya Hollywood lewat NV Persari, untuk mengangkat kehidupan para artis asuhannya. Nahdlatul Ulama (NU) di pilihnya untuk kiprah pengadian dirinya kepada kepentingan masyarakat dan agama, dan ia berhasil meyakinkan para ulama NU mengenai pentingnya sebuah lembaga kebudayaan untuk menampung dang mengembangkan bakat kesenian di pesantren dan NU juga sangat efektif untuk sarana dakwah kemudian melahirkan Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia)
Kepergian Jamaluddin Malik bagi artis film dan seni budaya Indonesia merupakan suatu schok mental yang cukup kuat bagi dunia perfilman Indonesia. Menoleh kebelakang tentang Jamaluddin Malik, yang humoris, walaupun dalam keadaan sakit ia masih sempat bercanda dengan artis dan kawan kerabatnya, seolah-olah dia tidak mau merasakan penyakit yang dideritanya. Sebagai pejuang besar dunia perfilman Indonesia yang banyak menghasilkan kurang lebih 60 buah film. Jamaluddin tidak saja ulet dalam memperjuangankan produksi film , tapi dia juga seorang pejuang dalam memperhatikan nasib para artisnya dan membangun suatu komplek perumahan sederhana bagi artis film dan crewnya di daerah Kebayoran Baru. Tanggal 8 Juni, jam 03.00 berita kesedihan itu datang begitu mendadak, Jamaluddin Malik meninggal dunia. Dalam hari pemakamannya di Karet berlangsung dengan upacara kebesaran militer, dimana Jamaluddin Malik ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Sehubungan akan diterbitkannya "Majalah Film" pernah dikemukakan antara lain :
1 Ditampilkannya tulisan dengan judul "In memorium H. Naziruddin Naib" salah seorang tokoh perfilman nasional yang telah meninggal;
2. Majalah ini hendaknya mengadakan rubrik khusus suka duka para importir film dan para penguasa bioskop;
3. Pengusaha film dalam negeri hendaknya tidak membuat film sex dan tidak memasukan agar perfilman kita untuk tidak lagi memasukkan film porno;
4. Akan mewawancarai Jamaluddin Malik sekitar kemajuan nya yang telah diperolehnya sejak bergerak di bidang swasta, di bidang politik, maupun di bidang lembaga legislatif dan lembaga kenegaraan, dengan tidak melupakan jasanya sebagai seorang tokoh perfilman nasional dan sebagai pendiri PERSARI. Pembicaraan tersebut diatas terjadi hanya beberapa hari sebelum kita di Indonesia, dikejutkan oleh meninggalnya Jamaluddin Malik di Muenchen Jerman Barat. Semasa hidupnya Jamaluddin Malik merupakan seorang yang rendah hati dan tetap mau berbuat baik. Penghormatan dan penghargaan yang telah diberikan pemerintah, telah dimakamkan almarhum dengan upacara kebesaran negara dan untuk mengenang jasanya Guberbnur DKI Jakarta, Ali Sadikin memberikan piala bergilir bagi pemenang Festival Film Asia dengan disebut piala Jamaluddin Malik (Jamaluddin Malik Award).
Jenazah almarhum H. Djamaluddin Malik akan dipindahkan dari pemakaman umum Karet ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Rabu, 23 April 1975. Almarhum terakhir menjabat anggota DPA dan salah seorang Ketua PB Nahdathul Ulama, juga dikenal pula sebagai tokoh Perfilman Nasional.
Jenazah almarhum Haji Jamaluddin Malik, Rabu besok di pindahkan dari Pemakaman Karet ke Taman Makan Pahlawan Kalibata. Jamaluddin Malik meninggal dunia di Muenchen, Jerman Barat pada tanggal 7 Juni 1970. Semasa hidupnya dikenal sebagai tokoh perfilman yang aktif dan memimpin lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbumi). Dimasa revolusi fisik aktif dalam barisan merah putih dan pernah menjadi penasehat delegasi RI di PBB, juga menjabat sebagai anggota DPRGR/MPRS, anggota Dewan Pertimbangan Agung dari bulan Januari 1969 sampai wafatnya 1970. Ia menerima Bintang Mahaputra Adipradana II secara anumerta tahun 1973.
Elly Yunara mantan artis di era tahun 1930-an merupakan seorang salah seorang artis yang diorbitkan oleh Persari. Film yang pernah dibintangi oleh Elly Yunara adalah Tjiung Wanara dan Ayah Berdosa. Elly Yunara dinikahi oleh Djamaluddin Malik yang merupakan seorang produser dan pemimpin perusahaan Persari merupakan sosok istri yang selalu mendukung kegiatan dunia film suaminya sampaidi akhir hayatnya. Setelah Djamaluddin Malik meninggal dunia Elly Yunara menjadi produser film Malin Kundang dan Halimun yang merupakan menjadi karya terakhirnya.

Kita mengenalnya sebagai tokoh perfilman nasional. Oleh teman-temannya, Djamaluddin Malik dikenal sebagai seorang dermawan. Dia ini menjadi bos atau raja seniman Senen, pasar Senen waktu itu menjadi tempat kencan para seniman untuk membicarakan aneka problem bangsa. Kepada Djamaluddin inilah, para seniman yang saat itu jauh dari kehidupan glamor mengharapkan bantuan keuangan, baik sekadar untuk minum kopi, membeli buku, menonton sandiwara, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Ia membuka rumahnya selama 24 jam bagi siapa saja yang ingin datang.

Kedermawanan tidak hanya pada orang yang dianggap miskin. Pertunjukan kesenian atau tonil banyak yang dibiayai Djamaluddin Malik secara pribadi. Hal itu di maksudkan untuk memacu perkembangan seni budaya nasional yang waktu itu sedang pada tahap rintisan. Sebelum terjun ke dunia seni budaya, khususnya film, putera Minang kelahiran tahun 1917 ini bekerja di sebuah maskapai palayaran Belanda. Ia juga pernah bekerja di sebuah perusahaan dagang Belanda. Dari pengalaman bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda tersebut, dia memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kiat berdagang dan manajemen perdagangan modern, dan sekaligus bisa menghimpun kekayaan.

Bakat entrepreneurshipnya berkembang dengan modal finansial yang memadai, sehingga dalam waktu yang relatif singkat ia menjadi saudagar yang kaya pada zamannya. Ketika terjadi perebutan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Jepang pada tahun 1942, di mana semua aset dan kekuasaan Belanda di ambil alih oleh Jepang, Djamaluddin mulai melangkahkan kaki untuk perjuangan dengan mendirikan kelompok sandiwara Panca Warna. Kelompok ini pentas keliling hampir di seluruh kota besar Indonesia untuk membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air, untuk menghadapi penjajahan. Atas jasanya inilah ia diangkat sebagai seorang pahlawan Nasional.

Drama Djamaluddin berjudul Ratu Asia, pernah di pentaskan di Garden Hall, Jakarta. Pada masa kemerdekaan yakni tahun 1951. Ia mempelopori berdirinya industri perfilman Indonesia dengan gaya Hollywood dengan mendirikan NV Persari (Perseroan Artis Republik Indonesia). Studio film yang berlokasi di bilangan Polonia, Jatinegara berada di areal tanah yang sangat luas dan memiliki sarana yang lengkap, baik untuk latihan, shooting, dan pertunjukan film dan drama. Studio ini juga dilengkapi pula dengan perumahan para artis. Sejak awal ia memang ingin mengangkat kehidupan para artis, yang kebanyakan baru meniti karir dalam asuhannya sendiri. Gedung ini sering dijadikan tempat pertemuan para seniman dan budayawan. Pertemuan para ulama NU juga sering kali diadakan di sini.

Studio ini sangat produktif menghasilkan film, dengan produksi rata-rata delapan film setahun, sehingga ia tampil sebagai seorang produser film pribumi terbesar saat itu. Sementara itu usaha dagangnya juga terus berkembang pesat. Kesibukan yang luar biasa dalam dunia film dan perdagangan itu membuat Djamal merasa jauh dari agama, sehingga mengalami kekeringan dan kemiskinan rohani di tengah kekayaan materi yang melimpah. Menyadari bahwa hal itu akan membahayakan bagi keseimbangan hidupnya Djamal memutuskan untuk melakukan perjalanan fisik dan rohani ke Tanah Suci untuk mengisi kehausan rohaninya dengan menunaikan ibadah haji. Hal itu kemudian turut mengilhami lahirnya film Tauhid yang diproduksinya.

Ketika berada di Tanah Suci itulah timbul kesadarannya bahwa dirinya harus juga mengabdikan diri kepada kepentingan masyarakat dan agama. Maka ketika kembali ke Tanah Air tahun 1952, ia memilih Nahdlatul Ulamauntuk berkiprah. Walaupun telah aktif di NU aktivitasnya di dunia film tidaklah berhenti. Justru melalui NU itulah dia ingin rintisannya itu bisa lebih berkembang, dan beberapa pengurus NU daerah menghidupi aktivitas politik dan kebudayaan organisasinya dengan menjadi distributor film yang dibuatnya. Aktivitasnya di bidang politik berujung pada tuduhan ia bersimpati pada pemberontakan PRRI, sehingga mengakibatkannya dipenjara pada tahun 1958. Namun tak lama ia mendekam di hotel prodeo, karena secara logika, tak mungkin sebagai orang NU ia terlibat, sebab NU secara resmi mengutuk pemberontakan tersebut.

Kesenian sangat penting sebagai sarana perjuangan melawan kezaliman dan kemungkaran yang banyak di lakukan oleh PKI dengan lembaga kebudayaannya.Katanya. Maka berdirilah Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), yang pada konggres pertama di Bandung 1962 ia dikukuhkan sebagai ketua umum Lesbumi dengan dibantu Usmar Ismail sebagai ketua I dan Asrul Sani ketua II. Ketika ia terpilih sebagai Ketua II PB partai NU, maka jabatan ketua umum Lesbumi ditinggalkan kemudian di ganti oleh Usmar Ismail. Djamaludin meninggal tak lama setelah itu di Munich, Jerman, saat berobat kesana. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera II (Adipurna) dan pada tahun 1973 dikukuhkan sebagai pahlawan nasional.

Alwi Shihab di masa muda dan kawan-kawannya berpose di jalan Cianjur No. 18 Alwi Shihab dipercaya oleh Djamaludin Malik untuk mencatat pesan-pesannya menjelang wafatnya di Munchen

Bangunan inilah yang dinamakan studio Persari yang pertama kali di Kebayoran Baru, Jakarta
Djamaluddin Malik, Presiden Direktur Persari sudah kembali ke Indonesia dari Manila dengan membawa Film "Akibat" yang merupakan salah satu dari enam film Persari yang diproses dan dicetak di Manila. Film-film ini dikirim ke Manila karena sama sekali tidak mendapat kerjasama dari Perusahaan Film Negara yang semestinya membantu perusahaan film nasional. Hal lain yang diperoleh adalah saling bertukar pengalaman antara pemain-pemain dengan teknisi Indonesia dengan Filipina. Persari juga berhasil membuat kontrak dengan L.V.N. Studio yang merupakan studio terbesar di Manila untuk mengadakan suatu produksi film berwarna. Selain itu juga Persari akan mengadakan suatu produksi bersama dengan studio besar lain yaitu Nolasco Pictures, Inc, dimana semua teknisi dan co-sutradaranya didatangkan dari Filipina. Lima film Persari lainnya yang diproses dan dicetak di Manila adalah Rindu, Bunga Bangsa, Bakti Bahagia, Malioboro dan Rumah Hantu
Djamaludin Malik berjabatan tangan akrab dengan aktris cantik dari Filipina
Delegasi NU mengunjungi Presiden Soekarno di Istana Negara. Kepada Bung Karno pun tampak Djamaludin Malik akrab bercanda dan tertawa
Kemajuan industri perfilman Indonesia saat ini tidak terlepas atas jasa Djamaluddin Malik. Berbagai usaha dilakukan untuk mencapai maksud dan tujuannya antara lain dengan menerima bantuan kredit dari salah satu bank pemerintah untuk memajukan industri film. Selain mempunyai jiwa seni Djamaluddin Malikjuga mempunyai jiwa sosial yang cukup tinggi hal ini dibuktikan dengan adanya pernyataan dari berbagai kalangan yang pernah mendapat bantuan sosial dari Djamaluddin Malik baik itu dari kalangan artis ataupun pegawai Persari.
Djamaludin Malik bersama Mas`ud Pandi Anom "tangan kanan"nya di awal berdirinya Persari

Bioskop "tempo doeloe" yang gencar memutar film India "musuh bebuyutan" film Nasional

Djamaludin Malik mengadakan konferensi pers atas nama Persatuan Pengusaha Film Indonesia (P.P.F.I) dengan maksud untuk beramah-tamah dari hati ke hati antara pengusaha film dengan para redaktur film. Isi dari konferensi pers itu antara lain membahas tentang tulisan yang simpang siur di berbagai majalah mengenai industri film dan usaha PPFI untuk mengadakan pertemuan secara berkala dengan pers film. Dibahas pula mengenai bantuan pemerintah dalam hal pembangunan industri film Indonesia antara lain dengan jalan membatasi import film luar negeri yang akan berlaku pada tahun depan, memberikan devisen yang diperlukan untuk mengimport alat-alat, bahan-bahan mentah dan tenaga-tenaga ahli. Djamaludin juga akan mengusahakan agar para wartawan film dapat mengikuti jalan dan hasil Pesta Film Indonesia yang kedua di Medan. PPFI juga akan mengusahakan sebuah laboratorium bersama untuk mencetak film dan sebagainya dengan mempergunakan laboratorium PFN yang sedang dibangun sebagai laboratorium terbesar di Asia Tenggara. Secara spontan pula Djamaluidn Malik menjambut lahirnya Persatuan Pers Film Indonesia (Perfeti)
Bos Persari, selalu berstelan putih-putih, mobilnya Chevrolet paling mewah
Artis, Citra Dewi, Rima Melati, Djamaluddin Malik

Djamaluddin Malik membawa Bung Hatta berkeliling Studio Persari di Polonia, yang terbesar di Asia Tenggara, yang sangat luas dan mempunyai berbagai sarana dan prasarana penunjang produksi film

Ini cara pendekatan khas Djamaludin Malik, memeluk Run Run Shaw "raja perfilman di kawasan Asia",

Pada saat penandatanganan perjanjian pembelian alat-alat pembuat film antara Djamaludin
Malik dan V. Spankeren wakil dari Westre
Djamaluddin Malik saat menerima kunjungan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo di Studio Persari
Djamaluddin Malik membawa Delegasi Sineas dan Artis mengunjungi Wakil Presiden Moh. Hatta dan Ibu Rahma Hatta di tempat kediaman resmi

Andjar Asmara, R.M. Sutarto dari PFN, diantarkan oleh Djamaludin Malik meninjau perumahan keluarga Persari di Kotabaru Kebayoran


Dalam suatu acara resmi "Dwi Tunggal` Usmar Ismail - Djamaluddin Malik menyambut Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan Ibu Nani Sadikin
Djamaluddin Malik saat ngobrol dengan Asrul Sani yang dikagumi kepintaran dan kecerdasannya

Djamaluddin Malik dan Presiden Soekarno mengobrol dan tertawa gembira di Istana Negara

Film layar lebar, Persari, Produksi,



Foto Bersama di depan Kantor Persari yang mula-mula di Jalan Hayam Wuruk

1 komentar: