Rabu, 23 Februari 2011

Dia sakit hati

"KETIKA kami dalam kemelut dulu, kami punya rencana bunuh diri bertiga. Kamar sudah kami siram dengan bensin. Saya sudah siap dengan pistol dames. Tapi Arie tiba-tiba berkata: "Jangan mama, kita tidak boleh mati. Saya tidak mau mati, saya belum bisa membalas kebaikan mama. Arie belum membahagiakan mama." Ini cerita Suzanna, aktris termahal untuk Indonesia, kepada wartawan Benta Buana dalam perjalanan di mobil. Waktu itu mereka dari RS Pertamina ke rumah, setelah usaha untuk menolong nyawa Arie Adrianus Suprapto tidak berhasil. Arie, selesai dari SMP Pangudi Luhur, enggan melanjutkan sekolah. Bukan berarti menganggur total. Dia gemar kerja bengkel. Motornya Yamaha selalu di tanganinya sendiri. Juga mengisi acara 'Arena Remaja' di Radio Amigos. Bisa mencapai semester ke-V untuk kursus musik di LPKJ, dan ibunya bahkan berniat mengirimnya ke Amsterdam, Belanda, untuk belajar lebih dalam tentang musik. Kamis 8 September malam, Arie pergi ke rumah temannya wanita, Wiwiek. Kepada Wiwiek Arie memberikan sajaknya: "Seorang pemabuk berjalan dengan langkah gontai/Ia sedang dilanda duka/Tiada kata tiada sapa/Ia mati tak tersangka." Sekitar jam 01.30 malam yang sama, di depan rumahnya, Arie dikeroyok - orang pemuda. Teman Arie bisa selamat, tapi Arie ketusuk dari lambung hingga tenggorokan. Jam 0.04 pagi, dia meninggal. Arie banyak teman. Bergaul tanpa pandang kelas (bahkan tukang parkir, tukang rokok, turut melawatnya). Di rumahnya ada lapangan badminton, dan lapangan ini selalu ramai oleh teman-teman Arie. "Dia sakit hati kepada papanya," lanjut Suzanna. "Papanya sering datang menengok, tapi selalu berakhir dengan: 'Papa pulang disikyo,' dan inilah kalimat yang dibencinya." Keluarga Suzanna memang goyah ketika Dicky Suprapto (pacar Suzanna ketika remaja dan bertempat tinggal berdekatan di Magelang) tidak kembali lagi ke rumah mereka. Dicky, waktu itu 33 tahun, bertemu dengan Rahmawati Sukarno, waktu itu janda 24 tahun,di suatu klab malam. Kabarnya mereka terus saling jatuh cinta. Dicky kontan meninggalkan isterinya Suzanna dan kedua anaknya Arie dan Kiky. Dicky dan Rahmawati hidup bersama di rumah Rahmawati selama 4 bulan. Kemudian menikah secara Islam: seorang penghulu datang ke rumah Rahmawati di suatu sore jam 5, tanggal 27 Pebruari 1975. Dicky belum cerai secara resmi dengan Suzanna waktu itu. Kepada pers pernah terlontar ucapan Dicky: "Saya tidak pernah menikah sah dengan dia," maksudnya Suzanna. Dua keluarga Indo (Suzanna dan Dicky) dari Magelang ini dibesarkan dalam ajaran Katolik. Mereka juga menikah secara Katolik -- tidak mungkin cerai. Terutama Arie terpukul sekali. Sebentar dia jadi morfinis. Kemudian membentuk gang bernama 'Ereran,' yang untuk daerah Kebayoran terkenal sebagai tukang-tukang ngebut. Sesekali terlibat perkelahian, tanpa menggunakan senjata. "Bulan-bulan terakhir dia manis sekali," demikian sang ibu. "Malah sering keluar alemamlya." Juga sebelum jam 11.00 di malam yang naas itu: dia baru menstarter Yamahanya setelall jauh dari rumah. Ini bukan kebiasaannya. Ketika teman-temannya bertanya, Arie berkata: "Ah, nggak enak aja ama enyak." Dan secara bergurau: "Gua mau ngeledek polisi nih. Abis kacamata gua diambil." Arie, langsing dan berambut gondrong manis, memang mengenakan kacamata. Malam itu, ketika seorang pastor sembahyang terakhir kalinya, Arie terbaring dalam peti dengan dua buket anggrek. Mengenakan celana putih, hem putih dan sepatu karet putih. Di dadanya diletakkan sebuah kitab suci dan tangannya menggenggam seuntai rosario merah muda. Keesokan harinya, Arie dikuburkan di Bogor di pekuburan Batu Tulis. Banyak rekan-rekan artis melawat. Antara lain produser Turino Junaedi, Kris Pattikawa dan isterinya Rina Hasyim, Tina Melinda, Roy Marten alias Salam, Titiek Puspa yang berbusana kebaya renda siklam dengan bunga di kedua kuping. Dicky Suprapto yang tampak dalam posisi serba-salah dan bingung, turut mengantar Arie ke Bogor bersama Rahmawati yang tampak subur. Suzanna, dalam kesedihan yang parah, kelihatan mengendalikan diri. Rencananya, sebenarnya tanggal 10 bulan ini dia teken kontrak film lagi. "Hasil film itu," demikian Suzanna, "untuk menyenangkan kedua anak saya." Setelah Dicky lari pada Rahmawati, Suzanna memang boleh dikata hilang dari peredaran dunia film. Dia lebih senang di rumahnya yang kokoh dan besar itu, beryoga sampai 5 atau 6 kali sehari, mengayuh sepeda pagi-pagi sekali atau pergi ke tempat kakak perempuannya di Bogor. Di tahun 1971 Suzanna adalah aktris pertama yang mendapat honor paling tinggi. Waktu itu dia mendapat 1 juta rupiah untuk film Bernafas Dalam Lumpur. "Mama, benarkah Oom Farouk menempeleng mama?" tanya Arie yang waktu itu masih 10 tahun. "Benar. Cuma main-main," jawab sang ibu. "Dan mama buka baju?" "Benar, seperti yang Arie lihat sekarang," ujar Suzanna, tentang anaknya yang masih di bawah umur tapi mendengar segala macam reaksi penonton BDL. Dan kata Suzanna lagi: "Saya paling tidak bisa berbohong terhadap anak." Arie sekarang, 17 tahun, telah tiada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar