Rabu, 23 Februari 2011

Di panggung, tidak di tempat lain


DASAR anak tunggal, ia badung. Apalagi ketika ayahnya Tan Soen-tjiang, Cina totok - tak bisa lebih setanun berumah-tangga dengan isterinya, Dasih, wanita Betawi tulen asal Jembatan Lima. Perkawinan itu tak disetujui oleh keluarga lelaki. Lalu ayahnya kawin lagi dengan gadis Tionghoa. Karena itu, dibanding ke delapan adiknya--yang kini semuanya sudah tiada --kulitnya terbilang berwarna. Dari situ bermula ia dipanggil Si Item, dan kemudian Pak atau Oom Item. Ketika keturunan Cina ramai-ramai ganti nama Indonesia, ia justru bertahan dengan nama pemberian orang-tuanya: Tan Tjeng-bok. "Yang penting kan prilaku kita, sebagai ukuran baik-tidaknya pribadi seseorang", kata aktor 3 jaman yang tetap laris itu. Selain Si Item ia anggap sebagai nama Indonesianya, lebih dari itu juga sebagai merek dagangnya sekaligus. Dalam setiap pertunjukan di televisi, klab malam atau di mana pun --ia selalu memakai nama itu untuk setiap tokoh yang ia perani. Acaranya memang tak tetap. Tapi di televisi, sejak 4 tahun lalu, sebulan 2 kali ia muncul dalam grup Senyum Jakrta bersama artis-artis lama dan baru. Yang lama misalnya Netty Herawaty, Darussalam, Djauhari Effendy. Yang baru: Mansyursyah, Didit Kasidi, Lenny. Untuk pertunjukan di tempat lain sekarang ia memakai namanya sendiri untuk grupnya, Tan Tjeng-bok Cs. Sebelumnya, di klab malam, ia pernah memakai nama Metropolitan Big Five. Tapi belum sampai 2 bulan grup ini bubar. Karirnya yang pertama sebenarnya sebagai biduan - ketika umurnya baru 12 tahun, di Bandung. Ia sendiri lahir di Jakarta 2 tahun sebelum abad ke-l9. berakhir. Belum setahun, kedua orangtuanya bercerai. Ibu tetap di Jakarta, ayah Hijrah ke Bandung. Selama 6 tahun dirawat ibunya, kemudian dibawa ayahnya ke Bandung. "Ibu tiri maupun adik-adik dan ayah saya sebenarnya baik. Tapi entah mengapa saya sering tak betah di rumah", katanya. Dan ia sendiri mengaku, semasa kecil memang nakal. Ngamen Itu Nista Amat sering bolos dari Hollandsch Chinese School (setingkat SD) di jalan Braga, berkali-kali gurunya melapor kepada orang-tuanya. Saking pusingnya, baru sampai kelas 3 sang ayah menyuruhnya berhenti. Toh ia tak bebas bermain. Ia belajar silat di rumah, di bawah asuhan ayahnya sendiri yang konon pernah jadi murid kedua seorang guru persilatan Sianw Lin-shi. Ia senang. Karena kepatuhannya sewaktu-waktu ia mendapat kesempatan main di luar rumah. "Tapi jangankan diijinkan, tanpa ijin pun saya senang kluyuran", kata Tjeng-bok lagi mengenang masa kecilnya. Yang mengaet hatinya ternyata orkes kroncong. Mula-mula sebagai penonton biasa, belakangan turun berjoget dan mencoba tarik suara. Dengan lagu Kroncong Muritsku, ia berhasil. Terakhir ia pun tercatat sebagai biduan Orkes Kroncong Si Goler pimpinan Mat Pengkor. Tapi mendengar itu, ayahnya - yang sehari-hari berdagang barang pecan-belah di jalan Klenteng, Bandung naik pitam, karena memandang dunia ngamen sebagai nista. Maka Si Item dihajar. Merasa tertekan, ia minggat ke Jakarta, mencari ibunya yang ternyata masih tinggal di Jembatan Lima - sanpai meninggalnya sekitar tahun 30-an. Di Jakarta orkes kroncong lagi menjamur saat itu. Tapi Si Item tak lagi berminat. Ia malah jadi kranjingan pada Wayang Cina, semacam stamboel atau komedi bangsawan, sejenis perkumpulan sandiwara Miss Tjitjih di Jakarta sekarang. Bedanya, Wayang Cina hanya memainkan cerita-cerita Tiongkok. Ia ikut rombongan Sui Ban-lian yang waktu itu main tetap di Serina Park, persisnya di Pasar Bulan, Mangga Besar. Meski hubungannya dengan sutradara Tek Bie intim betul, toh selama 3 bulan tak sekali pun ia diajak main. "Soalnya para pemain suka ngisap candu. Saya tidak. Saya cuma ditugaskan jadi pesuruh saja", tuturnya. Mendadak ayahnya menyusul. Tapi di Bandung, ia tetap saja kluyuran. Suatu kali, malam Tahun Baru Imlek saat banyak orang ngamen -- ia bergabung dengan rombongan lenong Si Ronda pimpinan Ladur. Habis Imlek, rombongan berkeliling ke perkebunan-perkebunan di Jawa Barat. Dan ketika itulah ayahnya tak sabar lagi. Ia diusir Sejak itu tak lagi berjumpa dengan ayahnya--sampai di tahun 20-an ia mendengar kabar si ayah meninggal. Rombongan Si Ronda berkeliling jalan kaki. Dari Bandung ke barat, pernah sampai Puncak, Bogor. Ke arah lain pernah sampai Sumedang. Karena administratur perkebunan yang orang Belanda tak suka lenong, yang menanggap mereka cuma mandor-mandor saja. Itu pun tak setiap mandor. Maka pahit getir pun ia rasakan: dalam perjalanan mereka tak jarang kelaparan. Untung, daerah perkebunan begitu luas hingga tidak setiap meter terawasi penjaga. Maka Ladur, pemimpin rombongan dan 18 anak-buahnya, tak ragu-ragu menyikat buah apa saja yang mereka jumpai. "Satu batang rokok cap Bolong terbuat dari tembakau Jawa, rasanya seperti rokok putih sekarang --terkadang diantri oleh 8 orang" kata Tjeng bok. Begitulah,selama 6 bulan Si Ronda mengembara. Kembali ke Bandung. Tjeng-bok bergabung dengan stamboel Indra Bangsawan. Mula-mula diterima sebagai tukang membenahi panggung. Belakangan, toneel directeur (sutradara) Djalfar Toerki menariknya sebagai pemain pembantu. Ia puas. Soalnya 'stambul yang ini dari seberang, kalau tak salah dari Inggeris". Ratna Asan Tak krasan ikut stambul, ia bergabung dengan orkes Hoetf scher pimpinan Gobang, keliling Jawa. Dari kota ke kota, namanya mulai tenar. Lagu yang sering dibawakannya tetap kesayangannya yang dulu: Kroncong Muritsku. Kepuasan dengan grup ini pun tak sebe rapa. Di Bangil, ia ketemu opera Dardanella pimpinan Pedro yang keturunan lusia. "Dengan Dardanella inilah saya baru merasa puas. Saya lupa daratan Keliling terus, boleh dikata dari Sabang sampai Merauke". Dikenal sejak 1915 sampai menjelang 1940, grup ini memang luar biasa waktu itu. Main di setiap kota sampai berbulan-bulan, Dardanella selalu menyewa gedung bioskop untuk panggungnya. Di Jakarta, biasanya main di bioskop Thalia. "Ceritanya hebat-hebat, sering kali karya Shakespeare", ujar Tjengbok mengenang bangga. Misalnya Hamlet, Romeo and Juliet dan lain-lain. Tapi juga cerita-cerita 1001 Malam seperti Thief of Baghdad, atau cerita-cerita film seperti Mark of Zorro, Son of Zorro, The Three Musketeers. Sesudah marhum Andjar Asmara masuk, tahun 1920, sering juga dimainkan naskah karangan bekas wartawan terkenal majalah D'Orient itu. Antara lain Rantai 99, Boven Digoel, Soeara Dala Koeboer, Medan bij Nacht Yang paling terkenal adalah cerita Dr. Samsi, dimainkan oleh pasangan Astaman sebagai Dr. Samsi dan Tan Tjeng-bok sebagai Leo van de Bruijn. Untuk membekali ketangkasan pemain-pemainnya, Pedro tak tanggung-tanggung memanggil guru khusus untuk mengajar 'seni' akrobatik seperti trapeezee, ringen, shandowtracker. Mengenang marhum Pedro, Tjeng-bok berkata: "Saya berterima-kasih kepadanya. Karena dialah, saya dulu pandai main anggar. Lantas sukses dalam karir saya, sampai-sampai digelari orang Douglas Fairbanks van Java". Douglas Fairbank Sr (1883 -1939) adalah bintang film dan produsir Hollywood yang lebih terkenal karena peranan-peranannya sebagai pahlawan, antara lain dalam film-film The Mark of Zorro (1920), The Three Musketeers (1921, Robin Hood (1922), The Black Pirate ( 1926) dan The Iron Mask (1929 ) . Bersama Charlie Chaplin ia mendirikan perusahaan film United Artists. Bintang Dardanella yang lain, misalnya Riboet Dua dan Miss Dja. Tapi honor Tjengbok menurut pengakuannya paling tinggi di antara semua pemain. Itulah sebabnya, ketika itu, ia hidup mewah - punya mobil sedan 8 silinder merk Studebaker seharga 2.000 gulden. Kalau Dardanella main di Jakarta, ia tidur di sebuah hotel di Bogor. Tapi musim bukannya tak pernah berubah. Akhir tahun 30-an Dardanella melaneong ke luar negeri. Ia tak bernafsu ikut . 'Bagaimana mungkin akan berhasil kalau pemain-pemainnya tak mahir bahasa Inggeris?", begitu pikiran Tjeng-bok. Benar. Karena yang bisa ngomong Inggeris cuma Anjar Asmara, sampai di India Dardanella bubar. Sebagian anggotanya, termasuk Anjar AsmaraKembali ke tanah air. Selebihnya berkelana, antara lain Miss Dja yang sampai kini menetap di AS bersama anak perempuannya Ratna Asan, yang belakangan main dalam film Papillon bersama Steve McQueen. Nyaris bagaikan cerita panggung, perjalanan karirnya tak sepi dari pasang-surut. Begitu Dardanella tutup layar, Tjeng-bok ikut sandiwara keliling Orfeuse pimpinan Manoch, kemudian juga Star pimpinan Afiat. Biar pun diperkuat oleh si Douglas Fairbanks van Java tak satu pun grup-grup itu mampu mengulang kecemerlangan Dardanella. Untung keadaan segera berubah, dan nasib Si Item pun berubah pula. Menjelang Jepang masuk, di Jakarta berdiri perusahaan Java Industrial Film (JIF) milik The Tjeng-boen. Dengan JIF inilah Si Item memasuki babak baru: perfilman. Film pertamanya Srigala Hitam. Disutradarai Tan Tjoei-hok, pemilik studio Hajam Woeraek. Itu sudah jamannya Film bicara "Tentu saja tidak sebaik film-film sekarang yang pengisian suaranya pakai dubbing. Dulu teknik rekamannya langsung ketika shooting", kata Tjeng-bok. Kawan mainnya dalam film itu antara lain Muhammad Mohtar dan Hadidjah, ibunya violis Idris Sardi. "Ketika itu cuma saya yang dikontrak. Lainnya pemain lepas. Saya dikontrak 3 tahun dengan bayaran 250 gulden sebulan", tambahnya. Kontrak belum berakhir, studio Hajam Woeroek keburu diduduki Jepang. Jadi Kenek Oplet JIF pun berantakan, meskipun sebelumnya sempat menyelesaikan beberapa film yang dibintangi Tan Tjeng-bok: Ajah Berdosa, Si Gomar, Singa Laoet, Rentjong Atjeh. Dengan film-film yang dibuat setelah kemerdekaan sampai kim, Tjeng-bok sudah main tak kurang untuk 50 judul. Filn-filmnya yang kemudian ini antaranya: Sebulan Di Ibukota, Badai Selatan, Aku Tak Berdosa, Ketemu Jodoh, Tabah Sampai Akhir, Drakula Mantu. Paling akhir adalah Sjahdu, disutradarai oleh John Tjasmadi, yang sampai kini belum beredar. Ia juga pernah main ludruk dan ketoprak. Setelah JIF bangkrut, ia masuk Miss Tjitjih pimpinan Said Abubakar Bafagih, yang ketika itu main secara tetap di Kebon Pala, Jakarta. Sekarang, seperti diketahui, di Jelambar di sebelah barat kota -- setelah beberapa waktu pindah-pindah tempat. Pernah tinggal di Bandung, Tjeng-bok tak sulit main dalam cerita-cerita berbahasa Sunda. Said Abubakar bahkan pernah mempercayakannya menyutradarai beberapa lakon, di antaranya Fir'aun, Sultan Hasanuddin dan cerita-cerita kepahlawanan lainnya. Tapi toh ada juga kesulitan lain yang justru tidak terduga: penguasa melakukan sensus terhadap emua orang Cina, yang kemudian diharuskan bayar pajak orang asing Karena di Jawa Timur semua tak begitu ketat ia lari ke sana. Di masa itulah ia ikut rombongan ludruk, juga ketoprak, bahkan juga rombongan wayang orang Wargo Wardowo pimpinan Ripto di Surabaya. Ia ditugaskan sebagai penata teknik dan pengurus peralatan pang gung. Dua pekan lalu, di rumah nya di jalan Bandengan Utara Gang Makmur Jakarta Utara, ia berkata: "Harap dicatat, sayalah orangnya yang membongkar. ludruk, ketika itu, menjadi tidak melulu memakai bahasa Jawa". Bagaimana bentuk 'pembongkaran' itu secara terperinci, tidak sempat diterangkan. Yang pasti, setelah Proklamasi ia kembali ke Jakarta. Tidak lagi kluyuran. Kecuali kalau ada panggilan main di tempat lain atau ia sendiri sengaja berlibur. Meski begitu, di Jakarta nasibnya tidak lantas baik. Kehidupan sandiwara di awal Republik berdiri memang agak suram, setidaknya tak sebagus yang dibayangkannya ketika masih di Jawa Timur. Maka ketika seorang kawannya mengajak jadi kenek oplet, ia tak menolak. Tapi dua tahun bekerja ia merasa tak cocok. Sambil tetap menumpang di rumah kawannya di Gudang Arang di Jakarta Kota, ia mencoba jual obat. "Ayah saya dulu juga pandai mengobati sakit eksim. Bahan-bahannya dari reramuan daun dan akar-akaran. Saya masih hafal resepnya". Bahkan ayahnya pernah berpesan agar sesudah dewasa kelak ia mempraktekkan kebolehan itu untuk menolong orang lain, tanpa bayar. Apa boleh buat, warisan itu akhirnya ia praktekkan justru untuk mencari nafkah. Ia pasang iklan dan peminatnya ternyata lumayan. Setiap penderita kebetulan selalu sembuh dengan cepat. Dan suatu waktu, persisnya lupa, ia ketemu marhum Bing Slamet yang sudah lama mengenalnya. Bing mengajaknya melawak di Princen Park, taman hiburan Lokasari sekarang. "Bak buaya tak melewatkan bangkai, saya sambut ajakan Bing dengan gembira", katanya. Baru setelah itu karirnya sebagai tukang ngamen nyambung lagi, meski 'jabatan' sebagai tukang obat tak ditinggalkannya. Cuma tak lagi pasang iklan - hanya kalau ada orang datang saja. Ia sudah tua sekarang. Garis-garis di wajahnya sudah dalam. Tapi kulitnya belum rapuh betul.Mata dan kupingnya masih berfungsi baik. Ia masih tampak sehat, memang. Waktu kanak-kanak dulu suka berenang, tapi bukan di pemandian yang resmi. Cuma di kali Ciliwung atau Angke - karena ibunya, sesudah menjanda, jadi tukang cuci pakaian yang tentu saja selalu bergiat di pinggir sungai. Si Item kecil ketika itu memang membantu memikul bakul cucian ke sana. Sesudah dewasa, beberapa waktu ia senang juga jalan kaki. Sebelum jam 5 pagi biasanya sudah bangun dan dari rumahnya, di bilangan Bandengan Jakarta Kota, jalan kaki ke Kantor Pos. Pulang-pergi jaraknya lebih dari 3 kilometer. Itu beberapa waktu yang lalu. Sekarang jarang.Malas " katanya. Rumahnya yang ia tinggali sekarang miliknya sendiri. Dibeli Rp 65 ribu 14 tahun lalu, setelah bertahun-tahun ngontrak melulu di Gudang Arang. Meskipun bangunannya bertingkat, rumah itu kelihatan agak sarat. Ukurannya cuma 4 x 9 meter tapi penghuninya 9 orang: Tjeng-bok sendiri, plus Sarmini isterinya ibu mertua, satu anak perempuan berikut suami, 3 cucu dan seorang lagi yang numpang. Anaknya sebenarnya 2 orang, cucu 8 orang. Anak yang tinggal bersamanya sekarang yang nomor 2, Sri Anami namanya, perempuan. Sejak umur 8 tahun, Sri Anami, isteri pegawai perusahaan Telesonic itu, jadi pemain wayang orang. Berhenti 7 tahun lalu -- setelah berumur 25 tahun lantaran berumah-tangga. Tak Tjeng Bok yang pertama kini di Purbolinggo, juga perempuan. Nawangsih namanya. Suaminya bekerja di pabrik gula. Perkawinan Tjeng-bok--Sarmini sudah berumur lebih 30 tahun. Menurut Tjeng-bok, isterinya yang berasal dari Jawa Timur itu isterinya yang terakhir.Isteri pertama dan kedua, orang Bandung. Isteri ke-3 sampai 10, dari Jawa Timur. Katanya sendiri, jumlah isterinya nemang bukan main, "lebih dari seratus". Tapi ia lupa namanya satu-persatu.Yang jelas, perlama kali ia menikah tahun 1917. "Yang paling berkesan ialah isteri saya yang kedua. Saya berumah-tangga sampai 2 tahun", katanya. Dua tahun merupakan rekor terlama, sebab dengan isteri-isteri lainnya (sebelum Sarmini), cuma bisa bertahan tak lebih dari 3 bulan saja .... Jual Layang-layang Ada sebab lain mengapa rumahnya terasa sumpek. Meskipun Tjeng-bok mengambil tempat sendirian di tingkat dua, tak dengan sendirinya ia leluasa Potret-potret, guntingan koran, komik dan poster-poster serta banyak kertas-kertas lagi tak sedikit menyita ruangan: menempel di dinding dan bertumpukan pula di meja. Dua kursi plastik dan kursi kebun, juga ada di sana. Di bawah, selain padat oleh 8 penghuni juga padat barang-barang. Satu ruangan besar bagian depan untuk warung. "Isteri saya itu iseng. Dia buka warung", katanya. Warung itu kelihatannya lengkap menjual keperluan harian. Ada beras, gula, kopi, minyak goreng, minyak tanah, arang. Juga segala macam barang kelontong seperti benang jahit. ember plastik, bahkan juga layang-layang. Jalan depan rumahnya pun cuma 1 meter. Dan kampung itu memang cukup padat penduduk. Rumah-rumah berdempet, nyaris tak berjarak. Bocah-bocah pun lumayan banyak. Tetapi keluarga itu tampaknya betah di sana. Setidaknya sehari-hari kelihatan rukun dan damai. Kalau tak ada acara Tjeng-bok lebih sering di rumah saja. Sehari-harian di loteng. Kalau tak menerima tamu ya baca koran, komik atau mendengarkan musik. Tapi kalau di halaman ada yang berteriak: "Oom Item ada tamu! Oom Item ada tamu!", dan ia tak menyahut -- itu tandanya ia lagi tenang mendengkur di kursi, atau di dipan di ruangan bawah. Soalnya, siang-siang, sorot matahari begitu getol di bagian atas. Dan si Oom yang sudah uzur ini acap kali begitu lesu buat menantangnya. Tapi jangan dikira ia sudah layu. Main dalam film Syahdu, ia toh masih sanggup merogoh honor nyaris Rp 1 juta dari kantong produsir. Dan untuk setiap panggilan pertunjukan, ia memasang tarip Rp 250 ribu ke atas, main di TVRI, ia cuma mendapat Rp 10 ribu. "Dalam hal ini saya tak memperhitungkan honor. Yang penting, penampilan itu sebagai bukti bahwa saya masih artis", katanya. Maklum. Sebab apa yang telah ditumpuknya sepanjang usianya itulah sebenarnya satu-satunya hidupnya: di panggung, atal untuk penonton -- dan tidak di tempat lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar