Sabtu, 05 Februari 2011

DARI HEBOH HINGGA BONEKA

DARI HEBOH HINGGA BONEKA
Oleh S.M. Ardan

Sejak Festival Film Indonesia (FFl) 1984 tersedia piala khusus "Bing slamet" untuk film komedi terbaik. Tapi tidak setiap tahun ada pemenangnya. piala itu tetap ditempat pada FFI tahun 1984, 1985,1987,1988 dan 1990. Peraih piala "Bing Slamet" sejauh ini adalah Kejarlah Daku Kau Kutangkap (FFl 1986) hasil penyutradaraan Chaerul Umam berdasarkan skenario Drs. Asrul Sani. Menyusul Si Kabayan Saba Kota (FFt 1989), yang disutradarai Maman Firmansya dari skenario Eddy D. lskandar dan Boneka Dari lndiana (FFl 1991) yang cerita, skenario, dan penyutradaraannya di tangani oleh Nya Abbas Akup. Apa artinya ? Bahwa piala "Bing Slamet"diperuntukkan hanya bagi lilm Komedi, bukan banyolan atau lawakan. Dan bahwa tidak gampang membuat film komedi(yang baik). Setidak-tidaknya harus digarap sama serius seperti membikin film jenis- jenis lain, termasuk drama. Nya Abbas Akup, kelahiran 22 Aprit 1932, merupakan hampir satu-satunya sutradara Indonesia yang konsekwen membuat film-film komedi. HINGGA meninggat dunia pada 14 Februari 1991 Nya Abbas terlihat dalam pembikinan 34 film, selama 37 tahun. Hanya dalam 7 film almarhum tidak bertindak sebagai sutradara. Dari 27 film garapannya, cuma 4 judul yang non komedi. Masing-masing Langkah-langkah di Persimpangan (1965), Tikungan Maur(1966), Nenny (1968), dan Catatan Harian Seorang Gadis (1972). Tidak mengherankan bila pada FFI 1991 Nya Abbas mendapat piala khusus sebagai sutradara yang konsekwen membuat film-film komedi, meski secara anumerla. Ya, sejak penyutradaraan per- lama Heboh (1954) hingga Boneka (1990), Nya Abbas membuat penonton terbahak-bahak, walau 'Orangnya tidak lucu". Hampir 33 tahun lalu saya pernah menulis dalam majalah '10 harian ( 3 X sebulan) ANEKA No. 7 Th. X/1 Juli 1959. Judutnya "Sutradara Muda-usia Nya Abbas Akup : ORANGNYA TTDAK LUTJU, tapi film-filmnya membuat penonton terbahak-bahak. Waktu itu dia memang masih muda. Lulusan kursus sutradara penyelenggaraan Perfini tahun 1952 itu mula-mula jadi asisten bagi sutradara D.Djajakusuma dalam pembuatan Harimau Tjampa (1953), Setahun kemudian telah diberi kepercayaan untuk menjadi sutradara (penuh). Lahirlah Heboh. Sukses (komersial) mulai dicapai lewat Tiga Buronan (1957), yang dibintangi Bing Slamel. Film berikutnya, Djenderal Kantjil(1958) juga laris. Film anak- anak itu menampilkan Achmad Albar, yang kini dikenal sebagai musikus rock. Setelah Djenderal Kantjil beredar itulah saya bertemu dengan Nya Abbas Akup di kantor Perfini, Menteng Raya (Jakarta). Terjadi wawancara tak resmi. Mengenai proses pemilihan pemain anak-anak filmnya ke-4 yang akhirnya dimenangkan oleh Achmad Albar dan Mangopul Panggabean itu. (Filmnya ke-2 adalah Djuara 1960 (1956), dengan Mang Udel/Drs.Purnomo dan Mang C"por)... DENGAN 4 film komedi itu Nya Abbas Akup tergolong beruntung, sebab membual film komedi lebih langsung bisa mengetahui berhasil tidaknya kerja dengan mengukur tertawa tidaknya penonton melihat adegan yang dimaksudkan sebagai adegan lucu. Karena tidak jarang bahwa publik diam saja menyaksikan adegan yang (oleh sutradara/penulis skenario) dimaksudkan sebagai lelucon. Tapi sebaliknya sering, pula terjadi, bahwa sesuatu adegan yang tidak dimaksudkan lucu, justru bikin penonton terpingkal-pingkal. (Pemunculan pertama Bing Slamet dalam Tiga Buronan teranglah tidak dimaksudkan sebagai adegan kocak). Saya bertanya (dalam tulisan di ANEKA tahun 1959)

: "Anda ketawa melihat pemunculan pertama Bing Slamet sebagai Mat Codet membawa gendi dalam Tiga Buronan ? Anda terbahak menyaksikan Mangopul Panggabean sedang asyik memandangi ikan melalui kaca pembesar dalam film anak-anak DjenderalKantjil?"

Kemudian : "Pembaca budirhan terbahak-bahak melihat Mangopul berulang-ulang terjatuh karena dia tak berhasil mencapai cabang pohon jambu ..... "Hampir saja adegan itu saya buang sama sekali,"kata Nya Abbas, "karena teman-teman tidak tertawa ketika Djenderal Kantjil dipu- tar di show-room studio." Apakah rol/peran untuk Mangopul dibikin setelah diketemukannya pemain cilik itu? "Tidak. Rol itu memang sudah ada, tapi kebetulan sekali cocok betul untuk dia......, "jawab Nya Abbas. Bagaimana anda menemukan Mangopul? "Dari 150 anak-anak yang datang untuk ditest dialah yang paling berani, dan cerdas nampaknya. Mangopul sudah lebih dulu datang dengan seorang temannya, sedangkan Achmad adalah anak yang datang be- lakangan." "Orangnya sih tidak lucu, sikapnya sederhana dengan sisiran rambut yang unik. Omongannya kadang-kadang terseling humor. Meskipun tahu orang akan tertawa karenanya, tapi dia berlagak tidak tahu.

Pembawaannya ini terbayang cula pada ke-4 hasil penyutradaraannya". Dengan mengutip tulisan "kuno", saya ingin menegaskan bahwa Nya Abbas kemudian nyaris serupa dengan Nya Abbas awal. Pembuatan Tioa Buronan masih sama ketika menggarap Cintaku di Rumah Su su n, 30 tahun kemudian. Dari film itu Nya Abbas merailr penghargaan internasional, skenario terbaik dalam Festival Asia-Pasifik 1988.
Penulis adatah staf ahti pada Sinematek lndonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar