Kamis, 10 Februari 2011

Co – Director untuk Wim Umboh 1980

Awal tahun 1981 Wim Umboh akan kembali menyutradarai film yang diangkat dari novel Mira W yang berjudul "Disini Cinta Pertama Kali Bersemi". Novel ini merupakan hal yang dinantikan oleh Wim sejak kontrak pertama dengan pihak yang akan memproduksi filmnya. Dalam film tersebut Wim Umboh akan bekerja sama dengan PT Elang Perkasa Film dan PT. Garuda Film. Proses pembuatan film ini juga mempertimbangkan kondisi fisik Wim yang baru saja sembuh dari sakit dan masih memerlukan banyak istirahat. Pihak produser mengambil langkah pengamanan dengan menyusun karyawan yang dapat menghasilkan garapan tidak jauh dari Wim Umboh. Ketua Umum KFT mengingatkan untuk mencegah kemungkinan yang tidak dikehendaki dikemudian hari, hendaknya antara sutradara dengan pendampingnya serta pihak produser harus disusun suatu kontrak yang jelas dan terperinci menyangkut hak.
Peringatan 40 Hari Perginya Seorang Sineas Besar Indonesia : Karya-karya Wim Umboh Paduan Komersil dan Artistik 1974
Inne Hermina, istri terakhir Wim Umboh menyatakan akan menyelenggarakan selamatan untuk memperingati 40 hari meninggalnya Wim Umboh yang akan diselenggarakan di rumahnya. Selain itu, orang-orang film juga merencanakan mengadakan acara peringatan khusus untuk mengenang sineas yang selama hidupnya mengabdi di dunia film melalui sebuah acara khidmat di TIM. Wim Umboh perlu dibicarakan dan diperingati karena Wim bukan hanya milik keluarganya semata, tetapi juga milik masyarakat khususnya masyarakat perfilman. Kepergiannya merupakan titik akhir hidupnya namun pengabdian dan karyanya tidak akan terlupakan. Bahkan pada saat-saat sakit, Wim Umboh masih menghasilkan sejumlah judul film layar bioskop dan sinetron. Wim Umboh juga dikenal sebagai perintis dan penemu terobosan baru di dunia perfilman nasional, Wim yang mengawali pembuatan film berwarna pertama di Indonesia dan juga pertama pembuat film layar sinemascope. Seluruh karya Wim Umboh telah menghasilkan 29 piala Citra sebagai sutradara dan editor terbaik, bahkan Wim juga pernah menerima penghargaan tertinggi dari pemerintah lewat Dewan Film Nasional.
Wim Umboh : bikin film komedi yang bermutu sulit, tapi... 1974
Wim Umboh merupakan sutradara besar yang terkenal dengan film film drama yang bertema percintaan kali ini mencoba untuk membuat fil komedi yang bermutu. Ternyata membuat film komedi yang bermutu itu sulit. Oleh karena itu Wim Umboh membuat film "Senyum di pagi Bulan Desember" dengan ciri film komedi yang unik berdasarkan dari sebuah cerita.
Wim Umboh Belum Ada Yang Saingi 1979
Menurut Hasaman, sutradara senior, di Indonesia ini belum ada sutradara Indonesia yang dapat melampaui Wim Umboh, baik pengetahuan maupun popularitasnya di dalam dan luar negeri.
Wim Umboh dan figuran-figuran 1974
Film "Senyum di Pagi Bulan Desember" yang mengambil lokasi syuting di penjara Sukamiskin Bandung ini membutuhkan 200 figuran untuk adegan perkelahian sesama narapidana. Dalam membuat film Wim Umboh sangat serius mengarahkan para pemainnya. Sebagai sutradara besar Wim Umboh selalu melahirkan film-film nasional yang bermutu.
Wim Umboh dan Peng-Kaderan Artis 1973
Film-film nasional mulai ditinggalkan penontonnya karena penonton mulai bosan dengan casting yang tidak berubah. Film-film nasional selalu menampakkan wajah beberapa pemain yang kadang bisa ditemui dalam produksi yang berlainan, sehingga akhirnya mengundang kesalahan pengertian tentang ketiadaan pengganti para artis dalam tahun-tahun mendatang. Menurut Wim Umboh, kasus ini muncul kemungkinan besar karena untuk menjaga mutu disamping segi komersil dari film yang akan dibuat, sedangkan disisi lain hal ini mengundang beberapa ketidakbaikan terhadap muka-muka baru yang sesungguhkan mempunyai bakat besar untuk menjadi aktor/aktris yang besar nantinya. Kekhawatiran ini dihadapi Wim Umboh dengan memunculkan muka baru dalam setiap produksi filmnya, semacam pengkaderan artis sehingga nantinya bisa mencetak bintang-bintang baru yang akan menggantikan bintang-bintang lama yang semakin tua dan kehilangan potensi besar dalam bermain.
Wim Umboh ingin bangkit bersama film nasional 1995
Wim Umboh merayakan hari ulang tahunnya yang ke-62 bertepatan dengan ulang tahun ke-19 PT. Internasional Pratama Studio. Saat itu kondisi kesehatannya sudah kelihatan mulai membaik dibandingkan pada beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut Wim Umboh mengajak para insan perfilman di Indonesia agar bersatu untuk meningkatkan perfilman nasional disamping itu juga perlunya dukungan pemerintah agar tidak mengeluarkan peraturan-peraturan yang dapat membatasi kreativitas orang film.









Wim Umboh marah-marah pada Joice Erna 1978
Joice Erna, Aktris terbaik FFI tahun 1978 menolak tawaran Wim Umboh untuk membintangi film "Pengemis dan Tukang Becak" sehingga Wim Umboh memarahinya. Awalnya Wim akan mempertemukan Joice Erna dengan Kaharuddin Syah Aktor Terbaik Tahun 1978, tetapi Joice menolak karena ia sudah menerima tawaran Pitrajaya Burnama untuk mendukung filmnya. Pada saat Joice Erna mendapat predikat Aktris Terbaik tahun 1978, dikatakannya bahwa dia tidak bersedia main dua film dalam waktu bersamaan. Wim Umboh bukanlah satu-satunya sutradara yang pernah ditolah oleh Joice, Turino Junaedy adalah sutradara pertama yang ditolak oleh Joice sebelum terpilih sebagai artis terbaik.
Wim Umboh Mulai Garap “Tokoh” 1973
Wim Umboh mengawali pembuatan film "TOKOH" (The Great Man) dengan mengadakan selamatan di kediamannya Rabu malam yang dihadiri oleh Ketua Badan Sensor Film; Ketua KFT dan sejumlah besar bintang-bintang film ibukota. Film "Tokoh" ini merupakan produksi yang ke-17 PT. Aries Raya International Film bersama PT. Far Eastern Film Coy.
Wim Umboh Peroleh Tiga Golden Marlion 1973
Wim Umboh sutradara film "Perkawinan" yang memperoleh tiga hadiah Golden Marlion duduk berdampingan dengan Ratno Timor pada penutupan Festival Film Asia Ke-19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar