Sabtu, 05 Februari 2011

Cita-cita Jadi Diplomat Beralih Ke Sutradara Nya Abbas Acup dan Film-film Komedi

SUMBER : PIKIRAN RAKYAT, 19 Juni 1976
Cita-cita Jadi Diplomat Beralih Ke Sutradara Nya Abbas Acup dan Film-film Komedi

NYAK ABBAS ACUP adalah salah seorang sutradara yang banyak belajar kepada tokoh sutradara film Indonesia Usmar Ismail almarhum. Kariernya dirintis dari bawah, mulai dari Clapper boy, asisten sutradara sampai menjadi sutradara. Ikut kegiatan film mulai dari “Krisis” (Usmar Ismail), kemudian menjadi asisten sutradara dalam film “Harimau Campa”. Th 1954 oleh Usmar Ismail ia dipercayakan menyutradarai film “Heboh”. Film tersebut ternyata sukses komersil. Kemudian menyusul film-film lainnya “Juara”, “Jenderal Kancil”, “Tiga Buronan”, “Mat Dower”, “Dunia Belum Kiamat”, “Bing Slamet Koboi Cengeng”, “Ambisi”, “Cacatan Harian Seorang Gadis”, dan “Cewek Badung”.

Selain menjadi sutradara, ia juga sebagai penulis cerita dan penulis skenario. Skenario yang paling baru yang digarapnya adalah “Cintaku Di Kampus Biru”, berdasarkan novel Asahadi Siregar, yang disutradarai oleh Ami Prijono.

Sutradara kelahiran Malang dari Ibu Jawa dan Ayah Aceh ini, semula bercita- cita ingin menjadi Dilpomat, karena itu memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tapi setelah ia diterima bekerja di Perfini, ia tak mau meneruskan kuliah lagi.

“Waktu itu saya baru tingkat dua. Saya membaca iklan dalam sebuah surat kabar. Iklan tersebut berbunyi begini: “Dicari calon asisten sutradara. Yang berminat harap mendaftarkan diri, dan akan diuji lebih dahulu. Bagi yang diterima akan diberikan gaji yang memuaskan”. Tertarik oleh kalimat ‘gaji yang memuaskan’ itu, saya mencoba melamar. Saya diuji oleh satu team penguji, yang diantaranya adalah Usmar Ismail dan Hamidi T. Jamil. Saya dimintai pendapat tentang sebuah film Indonesia. Kebetulan saya pernah menonton film “Long March”. Saya bilang, film itu lamban dan gelap. Hamidi T Jamil cepat bertanya: “Saudaraku tahu siapa sutradaranya?” Saya jawa: “Ya!” Sambil menyebut nama Usmar Ismail, yang tidak saya ketahui waktu itu ada di hadapan saya. Kemudian saya diterima!”.

Walaupun kuliah di Fakultas Hukum tak dilanjutkan, tapi Nya Abbas Acup sempat mengenyam pendidikan di University of California Los Angeles (U.C.L.A) di Amerika Serikat.

Sebagai seorang sutradara film, Nyak Abbas Acup tidak menutup diri pada perkembangan berbagai macam bentuk kesenian. Itulah sebabnya, sekalipun ia resminya tinggal di Bandung, tapi sering kelihatan di lingkungan Pusat Kesenian Taman Ismail Marjuki. Ia rajin menonton drama, tari, musik, pameran lukisan, pembacaan puisi dan menghadiri ceramah. Tidak heran kalau iapun akrab dengan berbagai macam seniman.

Dalam memilih tema cerita, hampir sebagian besar film-film Nyak Abbas Acup bercorak komedi. “Dengan komedi, segala bentuk kritikan bisa dilontarkan tanpa langsung menyinggung pribadi seseorang, karena diungkapkan dibalik humor. Bahkan mungkin masyarakat penonton awam takkan menangkap apa yang tersirat dibalik kelucuan itu. Saya selalu berusaha membuat film komedi yang baik, dan bukan lawakan yang kasar”.

Tentang bentuk lawakan kasar ini, Nya Abbas Acup menuding film-film Nawi Ismail yang kebanyakan dibintangi oleh Benyamin. “Tapi saya salut sama Benyamin. Bagi saya, Benyamin seorang pemain yang penuh ide. Sikapnya lucu, sehingga mempengaruhi kelucuan dalam permainan yang khas”.

Lalu, Nyak Abbas Acup menceritakan simpatinya terhadap cara kerja dan permainan Benyamin dalam film “Ambisi”. Dalam membuat sebuah film, Abbas Acup mesti melihat sikap produser. Kalau ternyata dalam waktu shooting film, sang produser banyak campur tangan, ia lebih suka mengundurkan diri. Ia tak mau kalau idenya menjadi buyar. Juga terhadap pemain, ia lebih suka pemain yang tidak ‘Sumuhun dawuh’, yang nrimo begitu saja kemauan sutradara. Ia lebih suka kepada pemain yang kritis, yang bisa meningkatkan atau mengembangkan apa yang diberikan sutradara. Dalam hal ini, ia terkesan oleh Titiek Puspa dalam “Cewek Badung”. Arkian, waktu hendak membuat film “Jendral Kancil”, banyak sekali anak- anak yang mendaftar ingin ikut main. Diantaranya anak sang produser (Usmar Ismail), dan anak tokoh film (Jamaluddin Malik) yang sekarang beken sebagai pimpinan God Bless, Ahmad Albar. Dari sekian banyak pelamar, ia memilih nama : Mangapul Panggabean dan Ahmad Albar, setelah melalui test. Ia tidak bersikap pilih kasih dalam menentukan pemain. Sekalipun anak produsernya, kalau tidak cocok terpaksa dia tolak. Dalam hal ini, ia begitu mengagumi keterbukaan dan kebebasan yang diberikan Usmar Ismail.

“Bagi saya, almarhum adalah satu-satunya sutradara yang terbaik di Indonesia”. “Jadi sutradara sekarang tak ada yang sebagus Usmar Ismail?”. “Tidak ada”, jawabnya begitu yakin. Tapi Nyak Abbas Acup tidak memungkiri, kalau ia senang kepada Syuman Djaya. “Saya cocok dengan Syuman, terutama dengan cerita- cerita yang dipilihnya. Syuman selalu memilih tema, kehidupan sosial masyarakat kecil”.

Terhadap film-film Nyak Abbas Acup semacam: “Bing Slamet Koboi Cengeng” dan “Mat Dower”, konon mendapat perhatian khusus dari beberapa orang pengamat film luar, di antaranya dari Perancis.

Nyak Abbas Acup juga memberi klasifikasi terhadap masyarakat penonton. Menurut dia, terdapat empat kelas, ya itu: yang hanya berdasarkan naluri dasar, yang berdasarkan mata dan telinga, yang berdasarkan pemikiran, dan yang karena kebutuhan spiritual. Sebagian besar penonton film Indonesia, masih termasuk ke dalam kelas pertama. Sebab itu tidaklah heran, jika sebagian besar film Indonesia banyak yang asal mengungkapkan sex, kekerasan, atau lawakan-lawakan konyol. Peningkatan terhadap mutu film Indonesia, menurut Nyak Abbas Acup baru sampai pada taraf ke dua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar