Kamis, 10 Februari 2011

CINTA / 1975

CINTA
(LOVE)

BEST FILM FFI 1976
Sarah (Marini), seorang penyanyi klab malam, harus menghidupi suaminya, Paul Lasut (Koesno Sudjarwadi), yang penjudi. Di suatu tikungan jalan, mobil yang dikendarai Sarah hampir bertubrukan dengan mobil seorang pemuda gagah, David Panggabean (Ratno Timoer), direktur bank. Peristiwa ini berlanjut dengan saling jatuh cinta. Lasut tewas tertembak di meja judi. Sarah menuduh kematian Lasut karena uang pemberian David. Ia menjauhi David, yang tetap saja setia mengunjungi tempat kerja Sarah. David sendiri punya masalah dalam pekerjaannya, karena ulah pembantu utamanya. Semua masalah berakhir. David dan Sarah menikah, seolah lambang kemenangan "cinta" yang ada dalam impian.


News
22 Mei 1976
Dongeng manis marini+ratno

CINTA Cerita: Wim Umboh/Dedy Arman Sutradra: Wim Umboh Produksi: PT Aries - Insantra Film *** BARANGKALI "cinta"lah yang tidak pernah lenyap dari bioskop. Tapi untuk mengungkapkan cinta sebagai tema pokok selama 1 sampai 2 jam pertunjukan diperlukan usaha yang cukup, sehingga tema kawakan itu iidak sampai memualkan dan menjadi sampah klise. Wim Umboh dengan film ini kelihatan berusaha untuk menampilkan sesuatu, yang meskipun tidak baru dari segi penggarapan, jangan menjadi kampungan bagi beberapa orang yang tidak lagi dalam keadaan bercinta. Tetapi juga tidak mengurangi api asmara yang sedang "indehoi". Nah, seekor kuda putih yang berwajah sehat tampak nongkrong setengah badan di atas layar, sementara angin mengibaskan bulu suri dan dedaunan yang menjadi "latar depannya".

















Ambillah ini sebagai simbul cinta yang tak kunjung capek atau hanya sebagai bumbu pemanis -- karena pada akhir film kuda tersebut memang tampil sebagai bagian dari kisah cinta David Panggabean (Ratno Timoer) dengan Sarah (Marini). Lagu Cinta dari Titiek Puspa yang dikerjakan oleh Idris Sardi gemerincing, menampilkan nama-nama para pendukung. Lalu dengan cepat tampak jalanan di Jakarta. Cerita dimulai dengan mempertunjukkan Ratno Timoer sedang lomba lari dengan seorang lelaki yang kemudian dikalahkannya. Ternyata lomba lari yang cukup didramatisir itu berakhir pada kotak yang berisi koran baru. Sebuah penipuan kecil tapi dapat segera memperkenalkan lingkungan hidup tokoh utama. Kemudian dengan cepat kita dikenalkan pada Sarah dengan suaminya yang penjudi dan brengsek (Kusno Sudjarwadi). Perkenalannya yang pertama dengan David terjadi lewat jendela mobil. Kemudian dalam sebuah resepsi.








Di situ David, direktur sebuah Bank, jatuh hati pada pandangan pertama. Biasanya sesudah ini sering kita iumpai "ada main" antara Sarah dan David. Syukurlah penggarap cerita (Wim dan Dedy Arman) tidak mengunyah pola tersebut. Mereka membiarkan Sarah tetap cinta pada suaminya. Sementara itu David setelah tidak menyembunyikan cintanya tidak disuruh untuk pencinta gelap. Justru sang suamilah yang digerakkan oleh cerita untuk memeras David, sambil menjadikan Sarah sebagai sarana . Dalam sebuah perjudian seorang penjudi yang kalah (Rendra Karno) kemudian menembak Kusno. Yah, Puitis Film ini barangkali menjadi bertele-tele kalau diselipkan adegan pengusutan kematian Kusno. Untunglah ia mengelak. Sementara itu Sarah tidak pula cepat-cepat jatuh ke David. Lelaki itu sendiri tiba-tiba, karena akal busuk dari wakilnya, tertimpa oleh pemecatan. Dalam keadaan terpecat, meskipun pakaiannya tetap parlente, David menemukan Sarah di samping kolam renang bersama wakilnya (Wahab Abdi) yang kemudian sudah dinobatkan jadi pimpinan. David menggebrak lelaki busuk itu dan melemparkannya ke kolam. Kemudian Sarah menyusul David ke rumah.


















Lalu kamera Lukman Hakim mulai menunjukkan kebolehannya menampilkan adegan ranjang. Pintu perkawinan terbuka. Tapi penonton masih diminta bersabar karena masa lalu Sarah- yang dahulunya sangat mendambakan anak dari suaminya -- masih mengejar. Kandungan Sarah gugur karena. kecelakaan kecil. Wanita ini jadi menderita batin. Kamera mulai aktip lagi menampiLkan suasana Sarah yang sedang dirundung duka, dengan gambar-gambar yang manis dan, yah, puitis. Sampai Sarah terpaksa dibawa ke rumah sakit jiwa, dimana seorang korban cinta yang lain (Idris Sardi) menyanyikan lagu Cinta lalu mengembalikan ingatan wanita yang betul-betul kelihatan sederhana tetapi mempesona itu. Film ini lancar karena tidak terganggu oleh kekurangan teknis yang elementer sebagai seni "gambar-bergerak". Gambarnya memang tidak Inenunjukkan kedalaman, kecuali kemanisan, karena cahaya tidak diolah shingga layar tampak datar.















Tapi toh sudah menunjukkan kesan-kesan yang sugestip. Misalnya pada adegan close-up Marini memakai kerudung hitam, sementara 3 buah lilin menyala di belakangnya, atau pada saat ia berjalan dalam duka, sementara latar belakangnya salib-salib putih kuburan. Atau pada saat-saat ia sedang terganggu jiwanya dan tergeletak di pinggir pantai. Memang bagi orang yang terlalu rasionil ini berlebih-lebihan. Tetapi sejak semula film ini memang tidak dimaksudkan untuk memaparkan logika tetapi menyanyikan cinta dalam beberapa momen-momennya yang jadi pilihan penulis cerita. Sutradara tentulah pantas juga diketengahkan atas kontrolnya yang bagus untuk tokoh David, sehingga bintang yang seringkali kaku itu kali ini bermain pas. Sementara angle kamera untuk Marini sangat menguntungkan bagi yang bersangkutan, sehingga potensinya yang besar sebagai pemain jelas terpapar. Tentu saja masih selalu lita dibuat tertegun melihat layar perak yang manis itu tak lebih dari impian-impian semata karena ia lepas dari kehidupan rumit kenyataan, yang tidak begitu sederhananya seperti tergambar dalam cerita hiburan ini. Mobil-mobil bagus, rumah-rumah bagus, kamar-kamar bagus, p
akaian-pakaian bagus dan dubbing suara yang hanya mengutamakan kepingin jelas terdengar (dan menghilangkan kemungkinan menghidupkan suasana) memang bisa mengesalkan. Tapi prestasi sebuah dongeng ialah dalam hal menyuguhkan diri sehingga meyakinkan, bahwa itu bukan perkosaan pada kenyataan. Begitulah Cinta kadangkala memang mengelakkan kenyataan untuk lebih dapat memaparkan sesuatu yang indah dan mengharukan. Singkatnya, film ini enak ditonton. Putu Wijaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar