Kamis, 24 Februari 2011

Capcay komplit & sayur asam


BANYAK orang menuduhnya membuat barang kodian. Hasil kerjanya pernah mendapat julukan "musik konveksi". Kalau memang begitu, menurut Idris Sardi, kesalahan bukan hanya datang dari dirinya. Dalam pembuatan musik untuk film dikatakannya masih terdapat jurang: "ada sutradara yang tidak mengerti". Ada pula produser yang pesan musik seperti beli pisang goreng.

"Malah ada yang minta kalau bisa dalam dua hari harus jadi", kata Idris. Dan pengalaman komponis yang sudah membuat hampir 60 musik film itu dibenarkan Frans Haryadi, yang mengatakan: "Kesan saya mereka memang mau cepat saja". Padahal menciptakan musik untuk sebuah film, paling sedikit membutuhkan waktu dua minggu. Itupun, menurut Frans kalau kondisinya memungkinkan. Sehingga bagi Ketua Jurusan Musik LPKJ itu, "musik film kita pada umumnya hanya menempelkan saja". Sudah tentu penilaian musik tempel tidak berlaku untuk semua film. Paling tidak usaha untuk membuat musik film yang baik sudah dimulai. Lihat saja misalnya musik film Perkawinan yang telah berhasil mendapat hadiah pertama pada festival film yang lalu. Irawati Sudhiarso, salah seorang jurinya, menilai musik karya Idris Sardi itu: cocok, manis dan sangat membantu. "Lagunya simple dan pengolahannya tidak mengganggu". Idris dalam film itu berhasil menyajikan musik yang karakteristik untuk orang Indonesia modern. "Tidak ada liku-liku yang bersifat pretensi", ujar Ira. Lagi: "polanya menjadi satu dan ada kontinuitas". Jadi bukan lagi musik yang hanya sekedar tempel. Sebab seperti kata Idris pula: musik untuk film "adalah musik untuk gambar, musik yang kawin dengan gambar". Dan dia telah melakukannya dalam Perkawinan. Saya sendiri malu. Tentu saja kemenangan Idris Sardi dalam festival itu tercapai setelah melalui jalan yang panjang. Hampir 20 tahun yang lalu, pada zaman Perfini dan Persari, bersama Saiful Bahri dan Cok Sinsu, Idris sudah ikut-ikutan jadi anggota. Baru sepuluh tahun kemudian, dalam film Jakarta By Pass yang disutradarai Liliek Sudjio, Idris menangani penuh pembuatan musiknya. Namun menurut pengakuannya, baru dalam film Macan Kemayoran dia merasa berhasil untuk meyakinkan diri, jadi memang beralasan kalau dia mengatakan: "Membuat musik film bukan barang baru". Walau begitu sampai kini tukang viul itu merasa belum mendapat kemantapan. "Saya masih mencari bagaimana membuat musik film yang tepat", katanya. Sehingga dengan terus-terang diakuinya: membuat musik film sampai kini dilakukannya dengan perasaan saja. Dengan serba kira-kira. Di ceritakannya: bagaimana dia di samping waktu yang sempit, h arus menonton rush copy yang masih berantakan.

Belum lagi proses mixingnya kadang-kadang tak sempat hadir - untuk mengatur bas dan treblenya. "Sehingga kadang-kadang kepegang kadang-kadang tidak", demikian ia berkeluh. Keluhan Idris malah tidak hanya sampai di situ. Walaupun instrumen musik tidak mutlak harus lengkap Ingemar Bergman misalnya hanya mempergunakan sebuah selo untuk mengiringi filmnya - namun peralatan dan jumlah pemain yang serba terbatas di negeri ini memaksa Idris berkiblat ke negeri Jepang. Musik untuk tujuh film Idris seperti Mereka Kembali, Anjing-Anjing Geladak, Perkawinan dan lainnya, dimainkan dan direkam di Jepang. Hasilnya memang belum tentu lebih bagus. Tapi barangkali pengalaman Irawati selaku juri musik dalam festival film kemarin bisa memperkuat pilihan Idris itu. "Angka-angka yang lumayan", kata Ira, "ternyata hasil rekaman luar-negeri. Padahal saya sendiri malu memberi nilai tinggi untuk komponis atau rekaman luar negri". Konon musik dalam film Pahlawan Gua Selarong yang diciptakan Murdiana dan seorang Jepang bernama Kaburake, juga cukup berhasil memberikan suasana yang Indonesia. Musik borongan. Mengandalkan kondisi pribumi, jelas Idris tidak suka. Coba bayangkan ceritanya kalau akan membuat pesanan seorang produser. Yang harus dicari dulu pemainnya. Kemudian mesti dipikirkan instrumennya. Yang terakhir itu sungguh terasa sulit. Sehingga pernah dialaminya: keinginan memakai nada setinggi-tingginya tidak bisa terpenuhi dan terpaksa diturunkan. Bahkan Idris cepatcepat menarik kesimpulan, "Kita mengalami krisis di seksi tiup". Maka ibarat memhikin sayur asam, "terpaksa asamnya diganti dengan cuka", katanya. Sedang di Jepang, tak heran, semuanya serba lengkap. Pemain maupun instrumen. "Disana saya bisa bikin capcay komplit". Sukses Idris barangkali tidak menjadi ukuran kepuasannya sendiri. Dia bilang "selalu bertemu dengan kesalahan-kesalahan dalam film saya, termasuk Perkawinan", Irawati pun bukannya tidak menemukan karya jelek Idris dalarn beberapa filmnya. "Saya hampir tidak percaya bahwa itu karya dia juga". Karena itu akan lebih baik barangkali kalau Sardi tidak lagi mem buat musik borongan. Kata Irawati: "Ilham lebih baik untuk atu cooker daripada untuk banyak cooker". Tentu saja asal orang film pun mau mengerti. Karena sekarang masih terasa "komponis terlalu didikte oleh sutradara", kata Frans Haryadi. Bahkan kepada Frans, pembuat karya musik film Malinkundang, Mat Dower, Salah Asuhan itu, pernah ada produser yang menganjurkan agar membuat lagu yang sederhana dan tidak usah rumit. Maksudnya yang gampangan saja. "Ini tandanya tidak punya apresiasi", kata Frans. Lantas kalau sutradara sudah inain cut, "wewenang komponis dimana ?", tanya Irawati. Yah. Di mana ya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar