Senin, 07 Februari 2011

BUKAN SANDIWARA / 1980

BUKAN SANDIWARA

Sepasang suami-istri (Roy Marten dan Jenny Rachman) hidup saling setia, namun terasa hambar karena tak punya anak. Lama-lama akar hubungan mereka terguncang juga. Suami, sebagai diplomat dan berpos di Jepang, menerima jalan keluar berupa pembuahan buatan bagi istrinya. Hanya saja, sperma yang ditanam ternyata sperma Jepang,
hingga bayi yang lahir lebih mirip orang Jepang. Suami tak bisa menerima kenyataan ini. Anak yang diharapkan datang, tapi justru ini awal bencana. Sang suami menerima kehadiran anak itu, tapi dalam hati selalu menolak. Konflik inilah yang perlahan-lahan diselesaikan
News

BUKAN SANDIWARA Terbadap temanya, inseminasi degan sperma donor, saya merasa sangat syuuur. Ini suatu problema baru dan aktual. Di Barat, banyak orang bikin film tentang produk teknologi. Tapi mereka lebih tertarik pada aspek suspense, misteri dan horror-nya. Bukan manusianya. Nah, saya bisa bilang, inilab film pertama yang bicara tentang konflik manusia dengan teknologi secara kejiwaan.
Secara manusiawi. -- Sjuman Djaja DIA mungkin benar. Tapi secara sekilas -- sesudah ia menggarap fi Kabut Sutra Ungu (diangkat dari novel Ike Soepomo) yang laris dan kini Bukan Sandiwara (dari novelet Titie Said) -- terkesan bahwa sutradara Sjuman Djaja tengah berubah. Orientasinya tak lagi pada masyarakat kelas bawah seperti dicerminkan filmnya terdahulu, misalnya, Si Doel Anak Betawi (1972) dan Si Mamad (1973). Atau Yang Muda Yang Bercinta (1977), yang sarat dengan protes sosial. Sebab KSU maupun BS (karyanya yang ke-10 dan 11) bercerita tentang keluarga elite. Ia dicurigai telah bersekongkol dengan pasar -- sengaja membuat film hiburan supaya laku.

Dan ia marah. "Saya tidak kompromi dengan siapa pun. Nggak ada itu kompromi dengan pasar ataupun selera publik," katanya tegas. Sjuman Djaja, 48 tahun, lulusan Moskow beranak 3 yang sampai sekarang masih menduda, menegaskan bahwa ia tak pernah berubah. Kalau toh ada, katanya, barangkali pada cara ia menyampaikan pikirannya lewat film. Sesudah sukses KSU secara komersial, dialah sutradara termahal saat ini. Dengan biaya sekitar Rp 250 juta, digarap dalam waktu 4 bulan, Bukan Sandiwara ternyata bukan film diskusi tentang teknologi yang kering. Sebab -- menurut pengarangnya, Titie Said --ceritanya yang "75% berdasarkan kisah nyata" itu pada dasarnya sebuah melodrama biasa. Hendro (Roy Marten), diplomat yang bertugas di Jepang, ternyata lelaki mandul. Perkawinannya bertahun-tahun dengan Pia (Yenny Rachman) tak menghasilkan anak. Kerinduan akan anak itulah yang akhirnya mendorong pasangan itu bersepakat mencoba upaya teknologi baru. Mereka datang ke Prof. Tsushiro (Wahyu Sihombing), meminta sperma lelaki yang tersedia di sana. Berhasil. Pia mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan . . . Jepang. Meski udah diberitahu sebelumnya oleh Tsushiro, Hendro tak sanggup menghadapi kenyataan itu. Ia terpukul dan malu harus jadi ayah seorang anak yang ternyata berasal dari sperma orang Jepang. Sejak kelahiran anak itu -- bernama Rani -- Hendro kehilangan keseimbangan. Bahkan ia jadi impoten dan hendak membunuh Rani. Dan ia menuding istrinya sebagai biang keladi seluruh keguncangan itu. Konflik itu terus berlarut sampai ketika mereka kembali ke Indonesia. Hendro, juga Pia, tak tahan lagi hidup bersandiwara terus. Yaitu di depan orang lain bermanis-manis, sementara pasangan tak rukun lagi. Frustrasi Hendro makin menjadi-jadi setelah secara kebetulan suami istri itu melihat inseminasi benih unggul pada kerbau-kerbau di sebuah peternakan. Untunglah kedua mertua Pia (Maruli Sitompul dan Nani Wijaya) tak peduli pada asal-usul Rani. Kehadiran anak itu sebagai cucu diterima mereka dengan lapang, penuh kegembiraan. Ketika Hendro terang-terangan tak mau mengakui anak itu, kedua orang tua itu hanya tersenyum sambil berjalan-jalan bersama menantu dan cucunya.
Film yang panjangnya hampir 3 jam itu pun berakhir -- menyarankan suatu happy ending. Tak pelak lagi, dengan film ini Sjuman telah memamerkan ketrampilan penyutradaraan yang hampir sempurna. Visualisasi yang kuat dengan kecermatan ada detil -- yang semula hanya tampak pada film Teguh Karya -- menegaskannya. Sjuman menunjukkan kemahirannya mengolah konflik. Sehingga, meskipun panjang, filmnya tetap memikat. Ritmenya terjaga. Editingnya yang tangkas banyak membantu terpeliharanya segi dramatik. Eksperimen dalam pengambilan gambar yang dicobanya dalam Kabut Sutra Ungu membuahkan hasilnya di sini. Dengan kata lain, gambarnya -- di samping artistik berkat pencahayaan yang cermat sangat efisien, berhasil memberi tekanan pada cara pengucapan sutradara. Hanya musik dan rias para pemainnya yang barangkali sedikit menggangu. Dan, sebagaimana diakui Sjuman sendiri, ada beberapa adegan yang mengingatkan orang pada film lain. Misalnya, ketika tokoh Pia berbaring di tempat tidur dengan kepala tengadah di bibir ranjang. Gambar itu dipadu (dalam disolve) dengan adegan kilas-balik diiringi suara gemuruh kereta api. Itu sangat mirip dengan adegan dalam Apocalypse Now. Bagaimanapun, Bukan Sandiwara-lah yang rasanya paling layak memperoleh predikat yang terbaik. Begitu pula permainan Yenny Rachman. Dan -- ini penting juga -- Sjuman tak kehilangan kekhasannya. Ia tetap peka dan kritis menghadapi lingkungannya. Helikopter jatuh, mobil baru mogok, telepon rusak. Cemoohannya terhadap teknologi itu muncul dalam filmnya secara kocak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar