Senin, 07 Februari 2011

BUDAK NAFSU / 1983

BUDAK NAFSU


Penyerbuan bala tentara Dai Nippon ke kota kecil di pantai utara Pulau Jawa merupakan awal bencana bagi keluarga janda Fatima. Demi menyelamatkan puterinya, Ija, dari pemerkosaan, Fatima bersedia menyerahkan tubuhnya. Bersama wanita-wanita muda lainnya ia diangkut tentara Nippon dan harus berpisah dengan pamannya, Waknatu. Pemuda yang diam-diam mencintainya, Janatu, dipaksa menjadi heiho.

Di kapal, Fatima dan kawan-kawannya diperkosa habis-habisan. Janatu yang ingin membela diberondong peluru. Kapal dibom pesawat Sekutu. Fatima yang berhati emas tetap menolong seorang perwira yang terapung-apung. Di Penang, perwira Nippon itu membalas budi dengan menitipkan Fatima kepada Opsir Takashi.

Pejuang-pejuang Malaya dipimpin Abdullah ingin membebaskan Tun Ramli yang tertangkap. Fatima diminta bantuannya. Ketika hal ini diketahui, Fatima disiksa oleh Kenpeitai. Takashi nekad menolongnya dan melakukan harakiri untuk menebus dosa.

Di Pasir Panjang, Fatima menderita sakit rajasinga. Penduduk mengucilkannya. Untung ada Mak Habsah, perempuan tua yang telaten merawatnya dalam hutan. Fatima berangsur sembuh.

Setelah Jepang menyerah, Abdullah mengantarkan Fatima ke Medan. Di tengah laut mereka dipergoki patroli NICA. Sekali lagi Fatima terjatuh ke dalam cengkeraman tangan-tangan buas. Ia disekap di benteng Belanda di Palembang.

Pejuang-pejuang Republik Indonesia menyerbut benteng tersebut untuk membebaskan pimpinan mereka, Bermawi. Fatima yang menderita shock dirawat di Rumah Sakit Jiwa.

Tahun ’60-an, Bermawi telah menjadi seorang Panglima dan bertemu kembali dengan Fatima. Perempuan malang ini dibiayai ke Jakarta. Keinginannya cuma satu, mencari puterinya, Ija. Di Rumah sakit, Fatima bertemu dengan Dr. Ati yang sangat mirip dengan Ija. Ternyata Dr. Ati memang Ija adanya !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar