Sabtu, 05 Februari 2011

BING SLAMET KOBOI CENGENG / 1974

BING SLAMET KOBOI CENGENG


Film terakhir Bing Slamet. Berhasil mengumpulkan 530.013 penonton di Jakarta, menurut data Perfin.

Film ini yang paling terlaris diantara semua film seri Bing Slamet, 3 diantaranya, Bing Slamet Setan Jalanan, Bing Slamet Sibuk, Bing Slamet Dukun Palsu. Dan bahkan konon kabarnya, film ini telah menyedot jumlah penonton lebih banyak dari film Ratapan Anak Tiri. Dari dulu Nya sudah banyak membuat film komedi parodi yang akarnya diikuti oleh jenis komedia di Indonesia sampai saat ini. Film ini tentang kehidupan para Koboi, tetapi bagaimana cara Nyaa mencampur adukan budaya Indonesia. Apakah ini menyindir banyaknya film Konoi saat itu sehingga ia membuat film ini. Budaya Koboi bercampur dengan budaya Indonesia. Ada kesan dalam film ini semua yang berbau koboi adalah hanya kebudayaan yang dipaksakan saja sebuah trent zaman. Sehingga biar bagaimana pun terasa aneh dan ganjil bila orang Indonesia berkalu selayaknya koboi, istilahnya tidak pantes lah. Ini yang terasa dalam film itu, dan kalau Nyaa ingin menyindir orang Indonesia yang sedang gandrung dengan budaya asing, maka film ini sangat sempurna. Dibalut komedian adalah khas Nyaa, tapi yang penting adalah pantas apa tidak pantesnya orang Indonesia selaku Koboi dan lebih pantes lagi ketika dimunculkan budaya lokal sendiri. Bagaimana seorang bandit yang masuk Bar, Eddy Sud...dengan tampang dan karakter yang sempurna sekali sebagai penjahan jago tembak, tetapi ia memesan beras kencur dari pada wisky. Bagaimana segerombolan perampok yang kelaparan masuk ke bar dan ingin makan dengan menu petai, dan sedangkan bartendernya sedang mengulek sambel trasi di meja bar. Dalam film ini percampuran itu nyata sekali, oleh karena itu film ini sangat menyindir kita sebenarnya, tetapi penonton tertawa karena sebenarnya mereka mentertawakan diri mereka sendiri. Film ini sangat populer sekali, siapa yang tidak kenal dengan istilah Cicak Bin Kadal sebuah logo dari ancaman penjahat terhadap Bing Slamet.

Sebuah parodi dan sindiran yang menggunakan dunia koboi. Jago tembak Eddy Sud (Eddy Sud) menyelamatkan Vivi (Vivi Sumanti), anak Bing (Bing Slamet). Bing sendiri yang menerima surat ancaman dari komplotan bandit lalu mengadakan kontrak kerjasama dengan Eddy Sud. Ia juga berlatih menggunakan pestol. Vivi ternyata kemudian diculik. Sherif Ateng lalu mengerahkan warga kota dan memaksa Bing agar tak membayar tebusan. Otak penculikan itu ternyata Eddy Sud sendiri. Vivi berhasil dibebaskan, dan Eddy duel dengan Bing. Kemenangan tentu pada Bing.

Eddy Sud sebagai pimpinan Kwartet Jaya yang paling menganggap film ini penting selain film Kwartet Jaya lainnya. Nya yang menulis sendiri skenarionya mengatakan Tidak suka membuat film komedi lelucon fisik, tetapi bagaimana lelucon ini saling tali menali dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Lelucon yang seperti ini memang tidak dibuat tuntas, karena pengetahuan penonton mengenai suatu pekara yang menjadi sumber lelucon itu sendirilah yang bakal merampungkan dan sekaligus melahirkan gelak tawa. Contohnya saat Amplop sumbangan Iskak kepada suku Indian yang lagi menyunatkan anaknya. Sumbangan itu tidak iklas, karena setelah menyerahkan amplop itu Iskak menyuarakan maksudnya mohon bantuan untuk menghadapi gerombolan Cicak Bin Kadal. Bagi yang akrab denmgan hal amplop dan sogok menyogok pasti akan tertawa, tetapi bagi yang tidak akrab dengan situasi itu, mungkin mereka tidak akan tertawa. Tetapi yang ditampilkan dalam film ini, adalah hal yang ada dan sering kita lihat di masyarakat (yang paling khas). Seperti juga saat Eddy Sud menanyakan sama anak buahnya. "Kenapa kamu bertindak tanpa menunggu instruksi saya? Koboi Jenggot menjawab, "Kan bapak bilang dari Senin suruh bertindak? Eddy Sud menjawab lagi, Bukan senin ini. Inikan Senin Wage, sedangkan saya bilang senin kliwon." Sangat kontras dengan aksi koboi memasukan unsur kalender jawa dalam hal bertindak, bagi yang bukan orang jawa mungkin tidak tertawa. Ini yang disebut oleh Nyaa tidak mau membuat lelucon fisik, lelucon yang hanya mengelitik, tetapi dampaknya nanti ketika orang paham akan maksud itu akan membuat tawaan yang segar.




























BING Slamet (yang "asli') masih sakit, tapi Bing Slamet Koboi Cengeng ternyata beringas. Film ini berhasil menarik gelombang penonton sampai dengan pekan lalu di Jakarta, setelah 3 minggu di pasaran yang ramai. Suksesnya bisa ditulis dengan huruf besar. Pertama kali muncul, ia diputar dalam pertunjukan-tengah-malam --ketika orang Jakarta digoda oleh dua hal pergi ke Pekan Raya atau nonton Tbe Godfatber. Ini artinya pemilik bioskop cukup tekad buat melihat Koboi Cengeng berduel menandingi dedengkot "Mafia" Marlon Brando yang lebih siap dengan gemerlapan iklan. Dan ternyata hasilnya memang alhamdulilah: si Koboi tidak kalah. "Hasilnya di luar dugaan", kata produser Bucuk Suharto dari PT Safari Sinar Sakti yang membikin film komedi itu. Barangkali soalnya karena Koboi ini lebih memihak mereka yang kantongnya tidak terlalu tebal, sementara Tbe Godfather memasang karcis dengan harga yang masya Allah: Rp 5000. Tapi di samping itu siapa memangnya yang tidak ingin tahu film yang dibintangi kwartet Jaya ini? Cerita "koboi" cukup dikenal. Koboi cengeng, tentu lebih menarik. Apalagi dengan Bing Slamet, Eddy Sud, Iskak & Ateng .... Dan hitung punya hitung tercapailah kesimpulan: Koboi Cengeng merupakan film terlaris di antara semua film segi "Bing Slamet" (3 yang lain adalah: Bing Slamet Setan Jalanan, Bing Slamet Sibuk dan Bing Slamet dukun Palsu). Berita tidak resmi bahkan menyebutkan film ini telah menyedot jumlah penonton lebih banyak dari Ratapan Anak Tiri, yang dalam Festival Film Indonesia 1974 di Surabaya mendapat piala khusus buat film paling laku. Meskipun fihak PT Safari Sinar Sakti belum bersedia membenarkan, tapi Bucuk Suharto dengan yakin menyebut, bahwa Koboi Cengeng adalah film Indonesia pertama yang terbanyak menarik penonton di bioskop kelas satu di Jakarta. Jungkir-Balik Bisa saja ditafsirkan bahwa sang produser dengan ucapan itu sedang menambah propagandanya. Tapi yang disajikan oleh Koboi memang bisa diperhitungkan sebagai sesuatu yang lebih baik dari film lelucon Indonesia yang lain. Karya Nya' Abbas Akub ini (ia sutradara & penulis skenario) telah menjungkir-balikkan pola umum film Western dan dengan cara itu memperlihatkan bagaimana orang Indonesia membikin sebuah parodi tentang cerita koboi: di sloon si jago tembak bukannya minum wiski tapi beras kencur, dan sang pemilik tanah bicara dengan aksen Batak yang berat. Sementara itu orang-orang Indian terima sumbangan uang dalam amplop waktu punya hajat menyunatkan anak, dan kereta kuda yang mogok dilengkapi dengan segitiga pengaman. Parodi atas film Western memang relatif mudah, karena film jenis ini -- sejak zaman Hollywood bisu sampai dengan zaman Jango yang mewah peluru -- punya pola yang praktis cuma itu-itu juga. Maka tak mengherankan bila orang merangsang buat memperolok-olokkannya: dalam film Cat Bellou misalnya kita ketawa karena si jago tembak yang dinanti-nanti, dimainkan Dleh Lee Mervin, ternyata bukan seorang yang gagah perkasa seperti lazimnya, tapi seorang pemabuk & penidur bertampang kere. Bahkan orang Jepang juga pernah bikin parodi Western: sang koboi, sebelum masuk saloon, melepaskan sepatunya di ambang pmtu seperti layaknya seorang Jepang. Tak lama kemudian ia luka terinjak pecahan botol. Dari segi ini, Koboi Cengeng tidak terlalu luarbiasa. Tapi sebuah parodi dalam lelucon film Indonesia sungguh jarang. Di tahun 1954 Perserikatan Artis Film membikin koboi Adios. Disutradarai oleh Bambang Sudharto dan dibintangi Roostiaty & Djoni Sundawa, film ini hanya mencoba meniru film Western sungguhan. Dengan kuda kacang dan koboi berambut keriting, Adios toh begitu serius mau berlagak Amerika. Akibatnya penonton cuma ketawa sebal. Dengan Koboi Cengeng, yang tersembur adalah ketawa segar. Orang terbahak, atau tersenyum panjang-lebar, menyaksikan suatu olok-olok terhadap hal-hal yang biasanya distel tegang. Dalam rangka ini pula agaknya gelak & keplok yang sama bisa diberikan kepada karya Kwartet Jaya yang lain. Setelah Koboi, Kwartet ini muncul di TVRI dalam acara peringatan ulang-tahun Jakarta. Sajiannya ialah sebuah parodi singkat atas lakon lenong Si Pitung -- dengan Ateng sebagai Bang Pitung, itu tokoh jagoan yang filmnya diperankan Dicky Zulkarnaen dengan tampang serius. Walaupun tanpa Bing Slamet yang waktu itu sedang dirumah-sakitkan, mutunya toh di atas rata-rata hidangan Kwartet Jaya sebelumnya: Pitung-Ateng bertempur dengan Demang-Iskak dalam gaya silat Betawi sambil sekali-sekali Ateng meminjamkan goloknya kepada lawannya yang kelupaan bawa senjata. Mungkin semua ini pertanda, bahwa gaya parodi akan jadi salah satu unsur yang hidup terus dalam pertunjukan lelucon Indonesia. Tapi mungkin pula tidak. Untuk parodi dibutuhkan kecerdasan yang lebih dan kebebasan yang cukup buat berolok-olok. Syarat-syarat ini mungkin belum mapan dan merata dalam dunia film kita. Betapapun, dengan Koboi Cengeng telah kembali sesuatu yang sewajarnya ada dalam humor: ketawa sehat, tanpa terlalu banyak nasihat. Di situ penonton tak dianggap sebagai anak-anak yang perlu diwejang. Di situ kita diperlakukan sebagai sesama yang bisa diajak untuk geli terhadap gambaran stereotip yang itu-itu juga dalam fikiran kita sendiri. Kopkamtib Agaknya karena kembalinya humor murni seperti itu maka Eddy Sud otak & organisator Kwartet Jaya begitu gembira dengan Koboi Cengeng sebelum ia melihat hasilnya di pasaran. Ia menganggap Koboi sebagai film Kwartet Jaya yang paling berarti, dan Nya' Abbas Akub diajaknya lagi buat produksi yang akan datang: Ateng Minta Kawin (maklum, Bing lagi "sibuk" dirawat). Jika diingat kembali film pertama Bing-Eddy-Iskak-Ateng kegembiraan Eddy Sud bisa dimengerti. Film itu, Bing Slamet Setan Jalanan, memang cukup sukses menurut hitung dagang. Hasmanan, yang menyutradarai film ini, bahkan sampai sekarang masih tetap menganggap Setan Jalanan sebagai "ijazah"nya untuk mendapatkan kepercayaan dari para produser. Setelah berkali-kali tidak berhasil membuat film yang banyak rezeki, Hasmanan tiba-tiba merasa ketiban pulung ketika Safa-i Film dengan Setan Jalanan sibuk menghitung laba. Meskipun demikian, dari segi mutu film komedi, Hasmanan di situ agaknya tidak terlalu berhasil: sutradara yang banyak membaca ini rupanya takdirkan untuk menanjak dengan film Rio, Anakku -- dan film-film larisnya yang kemudian memang bukan film lelucon. Barangkali karena buat komedi yang enak, Setan Jalanan agak terlalu berat dibebani tugas lain: mendidik Film komedi Indonesia pertama yang berwarna dengan layar lebar ini memang punya hubungan erat dengan instruksi Kopkamtib di iahun 1972 yang membubarkan gang-gang remaja -- para gondrong yang berganja-ganja & berkebut-kebutan di jalan raya. Melihat ini, PT Safari Sinar Sakti dapat ide: Setan Jalanan, menurut Bucuk Suharto, ialah "untuk membantu usaha pemerintah sambil juga menghibur masyarakat". Dan pemerintah memang dibantu dan masyarakat memang terhibur -- tapi untuk mendidik sembari melucu diperlukan teknik yang lebih halus daripada yang terasa dalam Setan Jalanan. Terutama bila dibandingkan dengan Koboi Cengeng. Film ini, meskipun ada juga menyentil dosa di masyarakat (uang suap, amplop), pamrih "pendidikan" nya tak menonjol. Tak terasa ada propaganda apapun, selain propaganda buat ha, ha, ha. Tampak lebih ada keleluasaan seni melucu di dalamnya. Mungkin ini karena Koboi ringan tanpa beban, mungkin pula karena Nya' Abbas Akub yang pendiam itu punya kecenderungan untuk tidak perlu berteriak dalam menggurui ataupun dalam menarik ketawa (lihat: "Lelucon Saya Tidlk Fisik"). Itu tidak berarti bahwa Koboi Cengeng hanya punya humor aristokrat. Sebagaimana Asrul Sani pun masih mempergunakan teknik lelucon sandiwara populer dalam komedinya Jembatan Merah (Raden Mochtar terjatuh waktu mau duduk, karena kursinya ditarik), Nya' Abbas juga bersedia untuk kompromi dengan selera penonton -- yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Maka ini adalah langkah keduanya setelah A.M.B.l.S.I. (dapat penghargaan dalam FFI 1974 untuk komedi), dan barangkali suatu koreksi terhadap "kegagalan Komersiil" filmnya Matt Dower (1969). Beralih Ke Atas Dan jika pembicaraan tiba pada soal 'kompromi", Nya' Abbas -- sebagai sutradara didikan Perfini -- bisa mengungkapkan pengalaman yang cukup penting. Konon almarhum Usmar Ismail, yang mempelopori masuknya para seniman dan intelektuil ke dalam dunia film di awal tahun 50-an, telah bertekad untuk tidak membikin film yang hanya mau menyenangkan masyarakat untuk dapat duwit mereka. "Anda harus ingat, waktu itu film India dan Malaya merajai pasaran di negeri kita", cerita Nya' Abbas. Dan sebagai lazimnya corak film impor yang merajai pasaran itulah yang menjadi contoh soal bagi pmbuatan film nasional. Tapi, sambung Abbas pula, "ketika Golden Arrow masih membikin film dongeng macam Pangeran Hamid, Bawang Merah Bawang Putih, kita di Perfini sudah tertarik pada neo-realisme Italia". Sayang, uang yang dipertaruhkan oleh Usmar dalam cita-citanya yang mulia itu akhirnya toh juga uang yang harus tunduk pada adat istiadat perdagangan, yang antara lain harus tunduk pada hukum permintaan dan penawaran. Walhasil, Usmar dengan Perfininya terpaksa mundur selangkah dan berkompromi. Dan lahirlah film-film macam Heboh (Cepot & Udel), Tiga Buronan, Juara Tahun Enam Puluh dan sebagainya. Ternyata film-film tersebut menghasilkan uang yang lumayan kepada Perfini, meskipun apa yang sebenarnya mereka sebut dengan "kompromi" itu tidak lain dari "mengisahkan hal sebenarnya yang ringan-ringan yang mudah dicerna publik". Kompromi gaya Perfini yang tetap menghasilkan film bermutu ini rupanya masih tetap dihayati oleh Abbas Akub hingga sekarang. Justeru dalam keadaan masyarakat sedang berubah. Menurut pengamatan sutradara ini, "pengunjung bioskop sekarang ini sudah beralih ke atas". Maksudnya, "kalau di awal tahun lima puluhan yang banyak mengunjungi bioskop adalah para pegawai negeri, tukang becak anak-anak sekolah, maka sekarang ini mereka itu -- akibat penghidupan ekonomi yang merosot -- telah digantikan oleh kelas yang leih atas". Karena itulah pada dasarnya Abbas Akub tidak terlalu merasakan kesukaran untuk kompromi sekarang ini, jika dibandingkan dengan apa yang harus ia lakukan di awal tahun limapuluhan. "Sekarang ini kita tidak perlu turun ke bawah lagi. Tingkat inteligensi penonton kita berada setaraf dengan intelegensi pembuat film", katanya. Berdasar pada konsepnya itulah maka Abbas menuliskan skenario dan menyutradarai Koboi Cengeng dalarm suatu kerangka lelucon yang lebih subtil dari film-film komedi lainnya yang kini juga membanjiri Indonesia. Abbas yang mengaku tidak suka membuat lelucon fsik itu menciptakan sejumlah lelucon yang bertali-temali dengan kehidupan sehari-hari kita. Lelucon-lelucon yang demikian ini memang tidak dibuat selesai. Sebab pengetahuan penonton mengenai satu perkara yang jadi sumber lelucon itu sendirilah yang bakal merampungkan dan sekaligus melahirkan gelak ketawa. Dalam film Koboi Cengeng contoh yang plastis adalah amplop sumbangan Iskak kepada kepala suku Indian yang lagi menyunatkan anaknya. Sumbangan itu tidak bisa disebutikhlas karena dalam beberapa detik saja,ia sudah mengemukakan maksudnya mohon bantuan untuk menghadapi gerombolan bajingan Cicak bin Kadal. Bagi mereka yang tahu persoalan yang sering timbul di sekitar wartawan amplop (tokoh Indian kebetulan dimainkan oleh seorang wartawan), adegan kecil itu sudah merupakan sumbu besar untuk sebuah ketawa gerr. Senen Kliwon Lelucon seperti itulah barangkali yang dimaksudkan Abbas ketika ia berbicara tentang "lelucon yang tidak fisik, lelucon yang hanya menggelitik". Kenyataannya, lelucon yang demikian adalah lelucon yang konotatif, karena itu diperlukan pengetahuan dan pengalaman tertentu untuk menikmatinya. Mereka yang tidak pernah berkenalan dengan STNK, SIM dan segi-tiga pengaman tentulah tidak bisa menikmati adegan dengan perlengkapan tersebut dalam Koboi Cengeng. Di sini kelihatan bahaya komersiil lelucon demikian dalam berhadapan dengan publik yang luas dan berbeda-beda daya tangkapnya. Bagian pertama adegan 77: Beberapa bandit menyambut Eddy dengan segan. Eddy menemui Koboi berjenggot. Koboi enggot: Pak Cicak . . . Eddy: Goblok kamu. Kenapa kamu bertindak tanpa menunggu instruksi saya. Koboi: Tapi waktu itu bapak bilang hari Senen suruh bertindak. Eddy: Bukan Senen ini. Ini kan Senen Wage, sedang saya bilang Senen Kliwon. Barangkali hanya orang Jawa dan sejumlah kecil orang yang tahu kalender Jawa yang mengerti kelucuan adegan tersebut. Untungnya jumlah orang Jawa dan mengerti Jawa (termasuk Nya' Abbas, biarpun dia Aceh) di negeri ini cukup berjubel, lelucon madu ini masih punya potensi komersiil. Entah di Malaysia, apalagi Thailand. Tidak semua produser suka mentolerir sutradara macam Abbas Akub ini, terutama setelah Matt Dower dituding sebagai "film seni, tapi tidak komersiil". Jauh setelah Perfini sukses dengan komedi-komedi halusnya di tahun 50-an, komedi-komedi berwarna Indonesia yang bermula dengan sing Slamet Setan Jalanan masih saja melanjutkan kebiasaan komedi kasar yang selesai dan amat fisik. Pengalaman menunjukkan bahwa dalam hal seperti ini orang tidak bisa seluruhnya menyalahkan pemilik modal. Kemampuan & kebebasan sutradara juga harus diperhitungkan. Demikianlah Setan Jalanan, sekedar mengulangi pola banyolan "berkonyol-konyol" Kwartet Jaya -- yang sudah sering memenuhi acara TV. Di sana tidak ada ruang tersisa bagi imajinasi penonton, sebab semua lelucon yang dibuat adalah banyolan yang selesai. Kelucuan dipetaruhkan bukan pada keseluruhan suasana film, tapi secara fragmentaris: pada tatarias, pada gerak aneh di sana-sini. Secara komersil, kelihatannya yang demikian hebat, sebab ia bisa menjangkau penonton yang banyak. Tapi kalau benar pengamatan Abbas mengenai penonton yang menggeser ke atas, bisa dimengerti kalau karya Hasmanan yang membuka seri Bing Slamet itu terpaksa mengaku kalah pada hasil kerja Nya' Abbas Akub baik mutu maupun uang yang dihasilkan. Masih seri "Bing Slamet", Motinggo Boesye muncul dengan cerita Bing Slamet Dukun Palsu. Nama-Boesye dan komedi bagi peminat kesusasteraan Indonesia adalah dwi-tunggal yang sulit dilupakan. Semasa jadi penulis drama Boesye adalah yang terbanyak menghasilkan cerita komedi. Drama-dramanya yang mendapatkan ilham dari komedi-kcedi Anton Chekov itu tidak pula jelek. Anehnya, karya Boesye dalam seri "Bing Slamet" adalah yang terjelek. Dalam suasana perdukunan seperti sekarang ini, cerita ciptaan Kwartet Jaya itu sungguh merupakan materi yang amat baik bagi seorang penulis skenario dan sutradara yang kreatif. Apa yang dilakukan Boesye tidak lebih dari mengikuti kemauan kawanan pelawak tersebut, dan hasilnya memang pengulangan hambar dari sejumlah lawakan TV Kwartet Jaya. Dari segi tema -- sebagai juga Hasmanan Boesye tentu saja bisa berbangga telah menghasilkan sebuah karya dengan tema anti-pedukunan dan anti-klenik. Tapi kalau pedukunan yang dihancurkan, nampaknya sia-sia. Sebab yang dibikin Boesye lebih kurang cumalah dukun menurut imajinasi orang kota yang sebagian besar hidupnya diurus oleh dokter praktek umum. Orang Bunting Di tempat lain adalah sutradara Nawi Ismail. Pembuat film yang populer dua seri Si Pitung ini, sejak tahun limapuluhan kabarnya memang terkenal sebagai pembuat komedi. Tidak pernah Nawi membuat film dengan PT Safari, karena itu ia tidak terlibat dalam pengulangan lawakan Kwartet Jaya. Tapi justru karena itu Nawi Ismail malah makin bebas cuplik kiri kanan, mulai dari lawakan Costello hingga banyolan Jerry Lewis. Bukan cuma itu. Sebagai sutradara yang menilai penonton sebagai "orang yang selalu pingin disuguhi hingga kenyang dan perut membuncit Nawi juga tidak tanggung-tanggung dalam menciptakan lawakan-lawakannya. Orang bunting sekalipun jadi materinya. Demikianlah maka kejadian lahirnya seorang manusia masih juga sempat dijadikan bahan tertawaan oleh Nawi dalam Benyamin Brengsek ketika si tukang becak konyol (Benyamin S) yang membawa perempuan hamil tua (Conny Suteja) mengalami kecelakaan. Adegan-adegan kasar dan klise misalnya kue yang dilempar ke muka, orang jatuh ke dalam kolam lawakan ala Johny Walker dari India, lelucon babu & jongos yang lazim dalam film-film Indonesia tahun 50-an penuh bertaburan dalam karya Nawi anak Betawi ini. Dari seri Benyamin yang betul-betul mengingatkan lawakan dan lelucon India adalah film Benyamin Si Abunawas. Cerita dan skenario ditulis oleh Tindra Rengat. Orang akan mengalami kesulitan untuk mencari hubungan antara jalan cerita dan judul Abunawas. Tokoh 1001 malam itu terkenal cerdik, sehingga raja sekalipun bisa diperdayakannya. Tapi Benyamin dalam film ini bermain sebagai orang bego, sekaligus sebagai tokoh orang kaya. Bisa ditebak bahwa Benyamin memainkan peranan ganda dalam tontonan produksi PT Dipa Jaya Film ini. Tidak salah lagi, suatu hal yang lazim ditemukan dalam film-film India. Sayangnya pengaruh film dari anak benua Asia itu tidak dicernakan dengan baik kecuali mengutip bagian-bagian yang diperkirakan bisa menghasilkan uang saja. Selain mengulangi lawakan-lawakannya dalam film-film sebelumnya, Benyamin juga mendapat beban menyanyi untuk lebih mengkomersilkan tontonan ini. Kabar angin memang menyebut film ini cukup menghasilkan uang, meskipun mengalami kesukaan untuk mendapat kesempatan muncul di bioskop-bioskop Jakarta. Masalahnya sudah tentu bagaimana memperkirakan tingkat selera humor para penonton umumnya. Takut mengambil risiko akan tidak laku, biasanya para produser atau sutradara tampak mengambil ancang-ancang untuk menjangkau lapisan masyarakat terbesar -- dengan membayangkan bahwa mereka ini hanya bisa menelan lelucon yang elementer dan tidak berkembang. Kenyataan bahwa dagelan Mataram, lenong, ludruk dan grup Srimulat bisa digemari rakyat banyak tanpa menjadi kasar dan begitu-begitu saja, rupanya tidak masuk hitungan. Agaknya bisa dikatakan, bahwa banyak film lelucon Indonesia menampilkan daya humor yang mandul dibanding dengan para pelawak lokal itu. Kegemukan tubuh Ratmi masih terus saja dipakai buat memancing ketawa dalam kontras dengan si kurus Sam Harto. Atau si Ateng seolah-olah hanya bisa lucu karena ia pendek (Koboi Cengeng masih memanfaatkan faktor ini sedikit: Ateng naik kuda pakai tangga khusus -- tapi kali ini tak ada ejekan verbal dari Iskak. Bahkan di samping soal bentuk tubuh yang tak cukup bisa jadi sumber variasi lelucon itu, terkadang ditampilkan soal kentut atau air seni. Saking kepingin mencari tawa & laba, lelucon hanya berkisar antara yang goblog dan yang konyol, yang jorok dan yang tolol. Sontoloyo Puncak dari pola itu barangkali tercapai secara lengkap dalam pembuatan film Paul Sontoloyo. Ia dibintangi Krisbiantoro, yang entah kenapa bersedia main dalam film ini sementara ia uring-uringan. Adapun film ini ditulis dan disutradarai oleh Cabin Joe, yang kartu namanya penuh dengan keterangan tentang kebolehannya. Meskipun begitu bahasa yang dipakai skenario adalah masih "bahasa Keng Po", kata Krisbiantoro. Maklumlah, Cabin Joe (65 tahun) yang berdomisili di Hongkong itu telah meninggalkan Indonesia 20 tahun yang lalu. Tentu saja ia kalangkabut menggambarkan Indonesia sekarang. Menurut yang dikemukakan Krisbiantoro, "Ia menggambarkan orang-orang Indonesia bodoh-bodoh, masih percaya dukun, suka berak di pinggir kali, percaya pada gunung-gunung suci, menyembah kambing. Pokoknya menggambarkan Indonesia seenaknya saja". Walaupun soal percaya dukun dan soal di pinggir kali memang masih umum di sini, toh Kris naik pitam, "Rasa kebangsaan saya jadi meledak". Mungkin bukan rasa kebangsaan yang terutama meledak, tapi rasa humor yag sehat. Krisbiantoro sendiri cukup punya "rasa" itu, maka ia berang karena skenario Sontoloyo ini. Contoh: Life music: Music perkawinan. Paul terkejut melihat naga menyembur air, naga sedang menyembur air dari hidungnya. = Paul merasa geli melihat (naga) tersebut, dari geli jadi histerious sampai ingin kencing, ia berbalik ke belakang (away camera) buka celana dan kencing saja. = Kencingnya (Paul) nyembur seperti naga = Kencingnya Paul menyiram mukanya si penggotong Paul. Nampak mukanya si penggotong itu jadi lucu, karena asin dan baunya kencing Paul. Krisbiantoro, yang bermain sebagai Paul, mengaku kepada Mansur Amin dari TEMPO bahwa ia harus melakukan adegan kencing sampai 2 x. Yang satu lagi, katanya, malahan harus mengencingi muka Ratmi Bomber. Karena protes Krisbiantoro, adegan mengencingi muka Ratmi terpaksa dibatalkan. Tapi Cabin Joe tidak kehilangan akal. Dengan segera diciptakan adegan baru di mana Krisbiantoro harus meniup kondom sebagai ganti balon. "Tidak benar itu", bantah Darwin, produser eksekutif film tersebut. Tapi Krisbiantoro dengan cepat membantah pula "Bagaimana tidak, saksi banyak, kok Lha terang kelihatan kondom disobek dari pembungkusnya, masih berminyak dan saya harus meniupnya", gerutunya kepada Mansur Amin yang mengunjungi tempat lokasi di Toserba Sarinah pekan silam. Entah nasib apa yang menanti film Sontoloyo ini nanti. Skenarionya sudah lolos dari "pemeriksaan" Direktorat Film, pembikinan sudah mulai, tapi kekesalan Kris tak disembunyikannya Cabin Joe sendiri kabarnya terpaksa berisirahat selama 4 bulan di Hongkong -- ia sakit hernia. Produser yang tidak ingin membiarkan modalnya terendam, dengan segala daya membujuk asisten sutradara (yang ternyata juga orang baru) untuk melanjutkan pembuatan film. Mungkin bila kelak selesai dan beredar di pasaran, Sontoloyo akan jadi salah satu contoh bagaimana film lawak Indonesia dewasa ini telah berkembang: Sikap gampangan dalam membuat film bagaimanapun juga tampaknya masih tetap bisa berlaku di Indonesia. Demikian juga sifat latah. Kabar angin yang terdengar sampai di kantor PT Safari Film pekan silam misalnya menyebut adanya sebuah perusahaan film yang akan membuat film koboi, setelah Koboi Cengeng sukses. "Boleh saja" kata Bucu Suharto, "kami tak berkeberatan, asal baik". Tentu saja boleh tidaknya dan baik-tidaknya bukan Bucu Suharto yang menentukan. Tapi syarat "asal baik" memang layak dikemukakan, supaya yang lahir bukanlah film "asal jadi". Sebab sementara membanyaknya film komedi memungkinkan penemuan bakat-bakat baru di samping Kwartet Jaya dan Benyamin, bisa juga nasib buruk berbalik: orang merencanakan membikin film komedi, tapi karena cara kerjanya aneh, hasilnya hanya tragedi. Pertama kali tentu tragedi buat produser, kemudian tragedi buat kwalitas dan pasaran film komedi Indonesia seterusnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar