Rabu, 09 Februari 2011

BIG VILLAGE / 1969

BIG VILLAGE

Saya pernah mendengar istilah Jakarta The Big Village all the world. Mungkin yang dimaksud adalah masyarakat urbanisasi ke Jakarta yang sudah terjadi dari dulu hingga saat ini terus berdatangan sehingga Jakarta menampung banyak sekali orang dari berbagai suku, bahasa, ras dan budaya masing-masing. Saat ini juga termasuk orang dari luar negeri. Sehingga apa yang akan terjadi, bila semua orang di Indonesia yang berbeda suku dan budaya ini numpuk di Jakarta. Bayangan saya adalah dahulu Jakarta sangat sepi, tetapi kini sudah sesak. Inilah mungkin gambaran dari film ini juga. Tetapi dengan mengambil judul berbahasa Asing, Usmar Ismail tidak dapat di pahami untuk siapa dia membuat film ini. Apakah ini cermin bagi masyarakat Indonesia, atau ingin menunjukan bagi bangsa asing atas fenomena kota Jakarta yang mungkin lebih dimirpkan dengan kota New York yang nemampung berbagai suku dan bangsa.
Sebuah sketsa tentang Jakarta yang meski wujud fisiknya kota besar, tapi perilaku orang-orangnya masih dusun. Kisah berputar pada keluarga Partoyo (Rachmat Hidayat), direktur sebuah perusahaan besar, yang menelantarkan keluarganya. Saat ulang tahun 20 perkawinannya, ia masih berunding dengan kompanyonnya, dan mengejar karyawatinya yang cantik. Anak lelakinya sering ngebut dan ditangkap polisi, bahkan terakhir masuk dalam perangkap sebuah gang perjudian. Untuk melunasi hutangnya, ia merampok, ditangkap dan diadili. Anak perempuannya kabur dengan seorang penyanyi pop. Lalu ada wartawan yang ingin mengikis kebejatan sosial masyarakat, tapi toh korannya memuat foto-foto setengah bugil, hingga sering cekcok dengan istrinya. Ia menguntit terus keluarga Partoyo. Ada ustad yang mencoba memahami perubahan keadaan ini, sambil terus melakukan tugasnya. Di akhir film, dalam sidang pengadilan, hakim berkhotbah tentang keadaan sosial Jakarta yang mempengaruhi kehidupan keluarga Partoyo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar