Minggu, 06 Februari 2011

BERDJOANG / 1953

BERDJOANG

Film ini dibuat tahun 1943, bearti Jepang sudah menduduki Indonesia. Film ini buatan Nippon Eigasha termasuk beberapa film pendek Di Desa 1943, Di Menara (1943), Djatoeh Berakit 1944, Gelombang 1944, Hoedjan 1944, Keris pusaka 1944, ke Seberang 1944, dan film panjangnya Berdjoang .

Pembuatan ini dimulai tanggal 1 September 1943, sedangkan Rd.Ariffien selaku penulis skenario dan sutradara. Tetapi sebenarnya Bunjin Kurata yang menyutradarai dan Rd.Ariffien hanya sebagai pembantu.

Di Baledesa Legok, orang sedang asyik mendengarkan pidato seorang Soco yang mengobarkan semangat untuk memasuki balatentara. Diantaranya terdapat pemuda Saman (Sambas) dan Anang (Moh.Mochtar) yang ingin berkorban untuk membela tanah air. Karena Saman kakinya pincang, maka tidak bisa mendaftar sebagai Heiho (serdadu Jepang). Saman dan Anang bersahabat erat, antara lain karena kekasih Anang, Hasanah (Dahlia) adalah adik Saman. Ahmad (Chatir Harro) seorang pemuda terpelajar yang tinggal sekampung dengan Anang dan Saman, tealh terpikat juga pada kecantikan Hasanah. Tetapi sebaliknya, Hasanah tidak tertarik Ahmad pemuda pemalas dan perkau tidak baik. Ahmad juga tidak mau mendengarkan ajakan Saman dan Anang untuk masuk Heiho.

Anang kemudian menjadi Heiho yang terkemuka. Karena rajin maka ia diangkat menjadi Hanco, Adapun Saman yang tidak bisa menjadi prajurid tidak putus asa mencari jalan keluar agar bisa menyumbangkan tenaganya kepada pemerintah. Ia bekerja di perusahaan Ceremai milik Gozali (Mahmud) seorang hartawan dan pemurah. Semula ia hanya menjadi kuli lepas, tetapi diangkat menjadi mandor. Selanjutnya menjadi mandor besar. Karena kecakapannya dan kejujurannya, Saman diangkat sebagai kuasa perusahaan Ceremai dibawah putri Gozali, Nani (R.A.Pulunggana) Perusahaan Ceremai semakin maju. Yang diutamakan adalah keperluan Pemerintah, umpamanya kopi, teh, kapas dan sebagainya. Ini sesuai dengan cita-cita Saman yang ingin menyumbangkan tenaganya digaris belakang. Takdir menemukan Saman dan Nani menjadi suami istri. Mereka memiliki tujuan yang sama, berguna bagi negeri dan masyarakat. Hasanah tetap setia menanti Anang, meski pun Ahmad sudah sering mengatakan bahwa Anang telah meninggal di Jakarta ditabrak mobil.

T
ernyata Hanco Anang sudah kembali ke kampungnya bersama prajuritnya, mendatangi Saman. Distu ia ketemu Hasanah. Saman menerangkan bahwa ia tidak bisa menjadi prajurit, tetapi berhasil dalam pertanian. Hanco Anang setuju. Kemudian Anang minta maaf sama Saman, karena kepincanganya adalah akibat kesalahan mereka ketika masa kecil. Ketika mereka bercakap itu terdengar teriakan Maling!!!. Diluar orang sedang mengejar seseorang. Anang ikut mengejar, yang diteriaki maling tertangkap, dan orang itu Ahmad. Ia mencuri di kantor Gozali. Atas perintah Saman, kuasa perusahaan Gozali, Ahmad dilepaskan. Tapi sempat juga mendapat beberapa pukulan dari Anang. Suara terompet berbunyi, Hanco Anang harus pergi kembali untuk berjuang. Saman, Hasanah dan Nani melihat kepergian Hanco Anang dengan penuh semangat dan gembira.

Salah satu yang menarik dari film propaganda ini, adalah tokoh antagonisnya malah pemuda terpelajar. Padah sebelum perang tokoh utama adalah dari kaum terpelajar. Contohnya Tokoh A.K.Gani dalam Asmara Moerni tokoh yang mau berjuang, sedangkan di Berdjoang tokoh Ahmad yang terpelajar tidak mau berjuang. Malah ia diperosokan sebagi pencuri. Malah anak desa Anang yang diangkat menjadi pahlawan. Terbayang adanya antipati pada mereka yang menerima pendidikan barat dan menjadi sangat kagum akan pendidikan barat. Diangkatnya anak kampung sebagai pahlawan adalah suatu trobosan yang luar biasa. Dan pada kenyataanya banyak anak desa yang masuk PETA (pembela Tanah Air) termasuk Jendral Besar Sudirman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar