Rabu, 23 Februari 2011

Bebas, nggak janji deh



PERKARA dua buah lagu Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), berjudul Makin Tipis Makin Asyik dan Nggak Janji Deh Ya, Senin pekan lalu, mentah di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Majelis hakim diketuai Made Puspa Aryana memvonis bebas dua orang produser kaset itu Ong Eng Kiat, 32 tahun, dan Waiyanto Gemilang, 39 tahun, masing-masing pimpinan PT Union Artis dan PT Purnama Record, dari tuntutan hukum (ontslag). Semula mereka dituduh menipu dan menggelapkan hak cipta kedua lagu, yang sudah menjadi milik orang lain, Harwiyono dari PT Dwi Eka Mekar (DEM). Majelis hakim dalam persidangan, yang di luar kebiasaan -- berlangsung sampai malam -- menganggap kasus itu semata-mata perkara perdata murni. Sebab, "Sebelumnya sudah ada perjanjian jual beli master rekaman kedua lagu itu antara Ong Eng Kiat dan Harwiyono -- salah seorang pimpinan PT DEM," kata Hakim Made Puspa Aryana. Semula, 25 April 1987, Ong Eng Kiat selaku produser rekaman album Warkop DKI -- yang berisi lawak dan lagu Makin Tipis Makin Asyik serta Nggak Janji Deh Ya -- mengikat perjanjian jual beli master dan cover kaset album itu dengan distributornya, Harwiyono. Dijanjikan pula bahwa Ong, dalam waktu delapan bulan, dilarang menjual lawak dan lagu dalam album itu kepada pihak lain. Untuk itu Ong menerima pembayaran dari PT DEM sebesar Rp30 juta. Sekitar September 1987, menurut dakwaan Jaksa Nyonya S.T. Wardha Tori, Ong membujuk dan meminjam master album Warkop DKI dari karyawan PT DEM, Darma Halim dengan alasan akan mencocokkan kembali isi album tersebut. Ternyata, Ong menjual lagi kedua lagu tadi kepada produser lain, Waiyanto, dengan harga Rp500 ribu. Waiyanto, kemudian, mengedarkan sekitar 5.000 kaset hasil rekaman kedua lagu itu bersama lagu-lagu lama. Berdasarkan itu Jaksa Wardha menuduh Ong dan Waiyanto melakukan penipuan, penggelapan, penadahan, dan persaingan curang. Tapi jaksa tak mengaitkan kasus itu dengan Undang-Undang Hak Cipta. Dalam tuntutannya, Wardha bahkan hanya menuntut Ong dengan pasal penipuan, sementara Waiyanto terbukti menadah. Karena itu, kedua terdakwa dituntut jaksa masing-masing 1 tahun dan 6 bulan penjara. Sebaliknya, Pengacara Otto Hasibuan menganggap perkara itu perdata murni. Sebabnya, ya, perjanjian jual beli tadi itu. Majelis hakim, sependapat dengan pembela, dan memvonis bebas kedua terdakwa. Atas putusan itu jaksa langsung kasasi. Terlepas dari tepat tidaknya vonis hakim, yang lebih menarik adalah proses persidangan perkara itu. Kendati perkara itu tak terbilang besar, majelis menyelenggarakan persidangan itu secara maraton. Bahkan, pada sidang Senin pekan lalu itu, acara tuntutan jaksa langsung dilanjutkan dengan pleidoi pembela, replik, plus duplik. Bahkan malam hari itu juga, selepas beduk magrib, majelis hakim membacakan vonisnya. Menurut Hakim Made Puspa Aryana, sidang maraton itu ditempuh untuk mengejar batas waktu kepindahannya ke Singaraja, Bali. Jaksa, katanya, yang sudah diberi waktu selama dua minggu, baru bisa menyampaikan tuntutannya pada Senin itu. Padahal, keesokan harinya ia harus berangkat untuk dilantik, Rabu pekan lalu, sebagai Ketua Pengadilan Negeri Singaraja. Untuk menunda sidang dan mengganti majelis hakim, katanya, jelas tak mungkin. Sebab, "Bisa-bisa pemeriksaan mulai dari nol lagi. Padahal tahap pembuktian sudah selesai, majelis sudah punya gambaran vonisnya, dan ketua pengadilan berharap perkara itu segera diputus," tutur Aryana. Untunglah, hari itu juga, pembela bersedia menyampaikan pleidoinya secara lisan. Begitu juga replik jaksa dan duplik pembela. Yang penting, "Semua prosedur sudah dijalani, sidang maraton itu tak menyalahi hukum acara," ujar Aryana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar