Sabtu, 05 Februari 2011

AWAL PERJALANAN NYA ABBAS AKUP


AWAL PERJALANAN NYA ABBAS AKUP
Oleh Soemardjono

Awalnya hanya sebuah iklan di harian PEDOMAN, INDONE- SIA RAYA dan MERDEKA. ::? Ini mengundang anak muda , isan SMA untuk dididik menjadi asisten Sutradara, asisten juru kamera, asisten Penata Artistik dan asisten Editor. Tahunnya adalah Berbondong-bondonglah anak muda lulusan SMA, bahkan tak sedikit pula yang sudah mahasiswa, telah mendaftarkan diri diperusahaan N.V. Perfini jalan Menteng Raya 24 A. Dalam ujian itu ditanyakan siapa Shakespier, Bernard Show, Andjar Asmara, Armen pane, dan Raden Saleh Hamlet karya siapa. Apa judul asli THE LONG MARCH. Apa kepanjangan dari PFN.

Uraikan apa arti Soneta, Puisi, Syair, Sajak, pantun dan Prosa. Pokoknya ujian itu cukup serem, sulit dan berbelit, sehingga dari kurang lebih 200 calon hanya lulus dua puluh lima orang. Bung Usmar lsmail berbangga hati, karena dari calon-calon itu terdapat nama, MD Aliff eks Letnan satu TNI putra Minangkabau, Suwargono mahasiswa Ul anak Jawa, Nur Alam Putra Makasar Abdul Moeis, mantan penvira CpM. Nya Abbas Akup, mahasiswa FHUI putra Aceh dan lain-lain yang mencerminkan kelompok anak muda dengan pendidikan dasar yang cukup dan berasal dari pelosok- pelosok Tanah Air Indonesia. Satu- satunya calon wanita yang lulus adalah Sriyani gadis Jawa "jebolan" ITB jurusan Seni Rupa. Anaknya manis, karuan saja menjadi bunga. Sriyani kemudian menjadi asisten Penata Artistik dibawah bimbingan Basuki Resobowo. Ujian akhir dari kursus Sinematografi PERFINI dilaksanakan. Semua peserta hadir, kecuali seorang bernama Nya Abbas Akup. Beberapa hari kemudian, Nya Abbas Akup muncul di kantor Perfini.

Dia minta maaf tidak dapat hadir pada waktu ujian. Alasannya, pada waktu bersamaan Nya Abbas juga harus menempuh ujian di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sesuai dengan peraturan, seorang peserta kursus Perfini yang tidak disiplin otomatis gugur. Dengan sendirinya Nya Abbas kena peraturan ini. Tapi entah bagaimana caranya, dia dapat dispensasi khusus dari Bung Usmar. Dan saya mendapat kewajiban mengujinya secara khusus. Saya menaruh simpati pada anak muda ini yang umurnya pantas menjadi adik saya. Nya Abbas menjawab pertanyaan dengan sikap yang pasti. Kadang-kadang dia membuat contoh dengan humor-humor ringan. Ujian itu kemudian menjadi sebuah formalitas saja.

Pada saat itu NV Perfini sedang membangun studio film di desa Mampang Prapatan. Dan dalam persiapan produksi film berjudul "KAFEDO". Sebuah adaptasi dari sandiwara radio karya B. M. TAHAR. Dan B. M. TAHAR mulai bergabung dengan Perfini sebagai penulis skenario. Bung Usmar yang baru saja kembali dari studi perfilm di Amerika Serikat, menerapkan manajemen produksi film dengan gaya baru yang amal intensif. Lulusan kursus Perfini dalam manajemen itu mendapat tempat yang terhormat. Salah satu dari sistem manajemen itu adalah kegiatan SCRIPT CONFERENCE, yaitu rapat khusus untuk membicarakan skenario. Sekaligus sistem ini juga menjadi cara yang amat efektif untuk belajar menulis skenario yang benar. Sejak itu, ketentuan posisi kamera seperti long shot, medium shot. close shot dan sebagainya tidak lagi dicantumkan dalam skenario. Skenario menjadi daftar murni tentang adegan yang menjadi konsep dasar sebuah film.

Berbagai aspek Tata Kamera atau Sinematografi benar-benar menjadi sarana atau metoda penyutradaraan. Nya Abbas Akup tercatat sangat rajin mengikuti rapat serupa ini. Dan dalam produksi KAFEDO dia dipilih oleh Usmar sebagai asisten Sutradara. Di Perfini ada peraturan, tidak sembarang orang boleh mengikuti pemutaran Rush-Copy (hasil cetakan pertama yang baru saja keluar dari laboratorium. Saya sebagai kepala Editing berkewajiban membuat daftar siapa saja yang boleh mengikuti pemutaran Rush-Copy itu. Nama Nya Abbas tentu ada di daftar itu. Tapi, entah bagaimana daftar yang diketik rapi itu setelah sampai ditangan Nya Abbas bertambah panjang dengan beberapa nama (dengan tulisan tangan ) orang-orang yang sama sekali tidak berhak, mbok Rin pelayan studio, Pak Marto penjaga gudang, Bung Salim pegawai administrasi, Bung Rojali penjaga malam dan sebagainya. Wah, saya tersinggung juga.

Saya datangi Nya Abbas dengan agak emosi, saya tuduh dia menghina peraturan Perfini. Eh, dengan enteng dia menjawab kalau dia main-main saja. Dengan berkelakar dia menyebut masalah demokrasi, tentang hak rakyat kecil di lingkungan studio Perfini. Tapi Dia minta maaf dan menganjurkan agar lain kali kalau saya marah lagi, jangan saya mendatangi dia, tapi dia yang harus dipanggil, begitu sikap pemimpin yang baik katanya. Nya Abbas memang suka jahil untuk melampiaskan rasa humornya. Lama-lama saya memahami juga sifatnya itu. Mas Manto amat sayang padanya. Mas Manto sungguhpun menduduki posisi yang amat penting dalam Dewan Direksi Perfini, setelah Bung Usmar tapi suka iseng seperti Nya Abas. Dia suka menyebut Abbas itu, nakal tapi menarik. PERFINI tidak berhasil baik dalam memasarkan film-filmnya. Sungguhpun film-film Perfini karya Usmar lsmail dan Djayakusuma selalu mendapat tanggapan penuh rangkaian bunga yang indah dari Pers Film Indonesia.

Film Perfini kurang merakyat. Dalam kondisi seperti itu Perfini mengalami kesulitan keuangan. Kemudian, muncul sebuah gagasan yang "revolusioner" Bagai- mana kalau kader-kader perfini diberi kesempalan membuat film sendiri. Baik, sejak itu kader-kader itu diminta secara kolektif menciptakan cerita dan skenarionya. Muncullah Nya Akub sebagai hero. Dia amat kreatif dan aktif . Dalam waktu singkat, atas kepemimpinan Akub kader-kader Perfini berhasil mengajukan proposal kepada Dewan Direksi Perfini, lengkap dengan skenario, rincian/bagan produksi dan rencana biayanya. Satu-satunya Perfini mengatakan: Biaya produksi harus ditekan semim mungkin. Nya Abbas ditunjuk sebagai sutradara. Seluruh awak produksi terdiri dari para kader yang telah terlatih. Judul filmnya,,H EBOH,,. Sebuah istilah dari Batak yang kemudian menjadi amat populer. Mang Udel dan Mang Cepot yang sudah amat poputer di RRI Jakarta dipilih menjadi pemeran utama.

Sejak awal, Nya Abbas memang sadar akan membuat komedi slepstick. Sebuah film banyolan yang kelewat lucu oleh situasi konyol. Pemotretan (shooting) berjalan amat lancar dan penggunaan bahan baku irit ( hemat ) sekali. Nyaris satu berbanding satu. Waktu pemutaran Rush-Copy, Nya Abbas minta izin saya agar penontonnya tidak terbatas. Dia ingin memperoleh sambutan spontan untuk mengukur apakah filmnya bakal sukses. Benar juga, penonton Rush- Copy tidak dapat menahan ketawa, semua terpingkat-pingkal kecuali Usmar lsmail hanya tersenyum-senyum saja. Saya pribadi merasa sangat puas. Bukan karena filmnya; tapi Nya Abbas ternyata "murid " yang baik. Dia praktekan berbagai trik-trik yang saya ajarkan pada waktu kursus dulu, terutama tentang penggunaan kamera secara terbalik dan bagaimana editing dapat digunakan untuk membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Dalam film Heboh itu, Mang Udel mendadak saja dapat mengendarai sepeda beroda satu. Dan berkali-kali berjalan mundur dengan kecepatan yang amatinggi.......... Heboh menjadi film komidi yang amat sukses. Dan Nya Abbas diam-diam telah menjadi dewa penolong bagi Perfini. Kader-kader Perfini mulai tampak kemampuannya, namun Nya Abbas tetap saja menjadi bintangnya. Film kedua Nya Abbas berjudul "JUARA 1960" juga sebuah film slepstick yang dibintangi oleh Mang Udel dan Mang Cepot. Sungguhpun film ini juga sukses, tapi Nya Abbas menjadi jenuh. Dia mengajukan usul membuat film anak-anak. Dia memilih cerita anak-anak karya ALWi DAHLAN. Yang setelah melalui proses penulisan skenario olehnya bersama penulis ceritanya, film itu dirubah judulnya menjadi JENDRAL KANCIL.

Film ini mendapat tanggapan publik luar biasa, tidak hanya komersial tetapi juga mutunya dipuji oleh siapa saja. Bahkan para ahli menganggap film ini adalah film anak-anak Indonesia yang sangat edukatif Sampai pada saat itu, sungguhpun telah mencapai sukses berulang kali belum juga terjadi perubahan sikap pada pribadi Nya Abbas. Dia tetap amikal dan bersemangat tinggi. untuk mengembangkan karirnya sebagai sutradara. Honorariumnya tetap kecil, tapi dia sama sekali tidak pernah mengeluh. Pada suatu hari NYa Abbas menyatakan kepada saya bahwa dia berniat membuat film detektif . Rupanya dia memang penuh fantasi yang variatif. Tapi beberapa minggu kemudian saya sebagai salah seorang anggota Direksi mendapat skenario berjudul TIGA BURONAN.

Dalam proposalnya Nya Abbas mencalonkan Bing Slamet sebagai peran utama. Setelah skenario itu sempat saya baca, biasa sebagai persiapan rapat Dewan Direksi perfini, saya sempat menegur Nya Abbas. "Bas. kau mau membuat komedi lagi, katanya mau membuat film detektif". "Ah, enggak" jawabnya. Bagaimana tidak kalau peran utamanya Bing Slamet. Lalu dia bicara panjang lebar tentang Gagasannya. Dalam film "Tiga Buronan" Bing Slamet harus benar- benar acting sesuai dengan perannya sebagai "BOSS" penjahat. Bing Slamet sama sekali dilarang melawak. Bing Slamet akan didampingi oleh Tukijo dan Menzano, bukan oleh Ateng dan lskak. ldea Nya Abbas ini dapat menjadi tantangan luar biasa. Tapi apa mungkin terlaksana, sebab Bing Slamet itu sudah menyatu dengan pribadinya sebagai pelawak yang amat terkenal. Dalam rapat Direksi Perf ini saya menyokong gagasannya.

Dan dalam rapat Direksi itu diputuskan Nya Abbas boleh melaksanakan projeknya. Di mata saya, dengan Tiga Buronan ini Nya Abbas tampak makin matang sikapnya sebagai sutradara. Dan kemajuan-kemajuannya tampak sekali dalam menentukan konsep dasar tematiknya, dan pengadeganan. Juga dalam menggunaan aspek-aspek sinema berarti lebih jelas sebagai upaya kedekatan Sinematik. Hasilnya tampak sekali, pada upaya perhatian penonton Nya Abbas melaksanakannya dengan penuh kesadaran. Sayang sekali gagasannya untuk membuat detective Story" tidak tercapai. Kehadiran Bing Slamet dimata penonton tak dapat dirubah oleh gagasan Nya Abbas.

Namun demikian TIGA BURONAN berhasil menampilkan profil pedesaan yang tidak terjangkau oleh aparat keamanan. Barangkali tidak banyak yang tahu, bahwa "TIGA BURONAN" Ditolak oleh Badan Sensor Film. Alasannya, film ini dapat menstimuir timbulnya kejahatan di daerah- daerah pedesaan. Kami semua terkejut dan tidak dapat memahami keputusan BSF itu. Bagaimana pun seriusnya Nya Abbas Akup diam menggarap Film Tiga Buronan, tetap saja hasilnya "Lucu". Apa lagi dengan kehadiran Bing Slamet. Memang sudah sifat Nya Abbas yang rasional (tidak emosional), menghadapi keputusan BSF itu dia tenang-tenang saja. Oleh Direksi NV Perfini diputuskan untuk meminta BSF meninjau kembali penolakannya atas Tiga Buronan melalui sidang Pleno. Mas Manto dan saya diperintahkan untuk membela Tiga Buronan di pengadilan Pleno BSF. Saya terkejut sekali, setelah sidang Pleno selesai, mendadak Mas Manto meminta pimpinan sidang Pteno agar saya diberi kesempatan bicara dengan komentar bahwa saya adalah Editor Supervisi yang dapat mewakili aspirasi Sutradara. Baiklah, saya mengemukakan kepada Pleno bahwa masyarakat lndonesia setelah merdeka dari kolonialisme Belanda keadaannya tidak lagi sebodoh perkiraan kita. Mereka tidak begitu saja mudah terpengaruh oleh sebuah film komidi seperti ini.

Sebagai bukti bahwa film ini adalah komidi terlihat dalam pertunjukan tadi, semua anggota BSF yang hadir pada sidang Pleno ini terus menerus tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan pada saat film selesai dan lampu ruangan menyala, saya menyaksikan wajah para anggota berseri-seri seperli belum selesai menikmati kekekocakan Tiga Buronan. Kita perlu bersikap wajar-wajar saja. Dan mohon difahami di belakang Tiga Buronan ini tertanam sekian ratus ribu rupiah dari perusahaan film nasionai yang bermodal lemah. Rupanya tidak terjadi perdebatan sengit dalam pleno itu. Setelah saya menunggu beberapa saat,tidak lebih dari satu jam, sudah dikabarkan bahwa sidang Pleno BSF meloloskan Tiga Buronan tanpa potongan. Film itu tak lama kemudian beredar dan mendapat sambutan bagus dari masyarakat Sampai artikel ini ditulis saya belum pernah mendengar ada sebuah desa didatangi perampok yang terilhami oleh film Nya Abbas Akup ini.

Dari Rockefeller Foundation ditawarkan kepada Perfini sebuah bea siswa untuk belajar Tealer dan Film di Amerika. Bung Usmar serta merta menawarkan bea siswa itu kepada Nya Abbas. Pada mulanya Nya Abbas ragu-ragu untuk menerima tawaran itu. Maklum Nya Abbas saat itu sudah berkeluarga. Tapi, akhirnya dia berangkat juga. Dia belajar di Universitas Los Angeles California (U.C.L.A) departemen Teater dan Film. Pada lembaga yang sama Bung Usmar dan Djayakusuma juga belajar perfilman. Bea siswa yang tersedia hanya untuk satu dua semester saja. Tapi entah bagaimana Nya Abbas dapalt memperpanjang waktu belajar menjadi dua tahun, malahan di juga diperbolehkan membawa keluarganya. Bagaimana caranya. Menurut pengamatan saya, disamping pandai membuat film komidi, Nya Abbas juga lihay dalam membujuk dan menyakinkan orang lain. llmu itu selama ini juga menjadi salah satu senjatanya untuk tetap jaya. Tanpa terasa waktu telah bergulir sesuai dengan jadwal kehidupan.

Nya Abbas pun pulang ke Tanah Airnya. Pers tidak ada yang menyambutnya. Dia memang biasa diam-diam dan menjauhi publikasi. Saya pun terkejut menjumpai dia di kantor Bung Usmar jalan Menteng Raya 244. Dari wajah Bung Usmar yang agak kemerah-merahan saya menduga telah terjadi silang kata yang serius antara dua tokoh lulusan U.C.L.A. ini. Wajah Nya Abbas biasa- biasa saja. Tenang dengan sedikit senyum yang sinis. Baru belakangan saya tahu rupanya Bung Usmar marah karena Nya Abbas menuntut honorarium yang lebih tinggi. Dan apabila tuntutannya tidak di kabulkan maka dia terpaksa tidak dapat kembali bekerja di Studio perfini. Bung Usmar menganggap sia-sia saja mengirim Nya Abbas belajar ke Amerika kalau akhirnya tidak dapat dimanfaatkan untuk Perfini. Saya tetap bersahabat dengannya. Malahan pada waktu Nya Abbas mendapat projek baru, yakni membuat film Action berjudul "TIKUNGAN MAUT", dia minta saya menjadi editornya dengan honorarium Rp. 5.000.000,-. Suatu jumlah yang tidak mungkin saya impikan selama kerja di studio Perfini. Bekerja sama dengan dia menjadi amat asyik, kecuati didorong oleh honorarium yang tinggi juga karena wawasan Sinernatografinya sudah melangkah ke depan jauh sekali. Dia sama sekali tidak mencampuri pekerjaan saya, bahkan senang sekali filmnya saya sunting dengan gaya eleptikal.

Tikungan Maut yang bicara soal anak muda yang gila kebut-kebutan itu menjadi amat dinamis. Satu-satunya adegan yang dia minta saya merubahnya dengan lamban untuk dapat lebih menikmati oleh penonton. Adegan tentang wanita membuka pakaiannya. Adegan itu harus imajinatif ..... Adegan serupa ini memang hobinya. Sedangkan saya sebagai editor perlu memperhitungkan persepsi BSF. Apa boleh buat, (kemauan Sutradara adalah kemauan Super Star. Memperhatikan sikapnya lebih lanjut, terutama dipengaruhi oleh honorarium yang pernah dia berikan kepada saya, Nya Abbas memang berjuang untuk penghargaan lebih linggi bagi karyawan Film. Menurut pendapatnya Profesionalisme harus dijual sesuai dengan keahlian yang telah diperoleh melalui upaya yang penuh kesulitan dan dalam waktu yang lama. Kalau dia sedang membuat film baru, maka dia juga memperjuangkan honorarium yang cukup bagi pembantu-pembatunya.

Ada beberapa kenang-kenangan yang tak terlupakan. Pada suatu hari, beberapa bulan menjelang peristiwa G30S/PKl, dimana iklim politik sudah amat panas, Nya Abbas datang ke rumah saya diantar oleh beberapa wartawan film. Nya Abbas ingin memaksa saya. KFT harus segera bergabung pada kubu yang revolusionar agar tidak terlindas oleh jalannya revolusi Indonesia. Dengan sikap serius ia meminta agar saya membuat pernyataan bahwa KFT masuk dalam kubu Barisan Sukarno. Dia sudah menyiapkan Pers untuk segera menyiarkan sikap gaya itu. Saya menolak permintaannya. Saya menganggap KFT masih terlalu muda untuk bersikap politik sejauh itu. Dan KFT memang organisasi non politik, karena itu asasnya cukup PANCASILA. Sungguhpun dia saya kenal sebagai ahli membujuk dan menyakinkan orang lain, tapi saya berusaha bertahan pada pendirian saya. Rupanya dia amat kecewa. Dan wartawan-wartawan itu pun diajaknya pergi dari rumah saya tanpa pamit. Saya sejenak merenungkan dia, karena kaget bahwa dia ternyata punya sikap potitik yang kuat. Sayang sekali sikap itu tidak bertanjut, tapi selalu tercermin dari karya-karyanya yang ada saja sisipan kritik sosial yang tajam dan menggigit.

Dia sering pinjam mobit saya. Fiat tua yang sudah sangat ketinggatan jaman orde baru. Mobil itu pada suatu hari kaca pintu depannya tidak dapat ditutup dengan baik. Rupanya itu mengganggu dia. Pada waktu dia bertamu ke salah seorang ibu didaerah Kebayoran, dia tidak dapat duduk tenang karena khawatir mobil saya bakal dicuri orang. Begitulah pada waktu dia mengembalikan mobil saya, rupanya di jok depan tertinggat amplop berisi uang. lsinya cukup banyak untuk membiayai kebutuhan hidup saya satu bulan. Saya segera menilponnya untuk memberitahukannya bahwa dia tertinggal sebuah amplop penuh uang di mobil saya. Dengan enteng did menjawab, "Aku tidak tertinggalkan uang, tapi aku sengaja meninggalkan uang untuk memperbaiki kaca pintu mobilmu". Lebih lanjut dia berkata, "djon, engkau ini mestinya malu, Ketua KFT, Dekan Akademi Sinematografi, anggota Dewan Film Nasional seumur hidup dan anggota MpR lagi, tapi hidupmu seperti kere" Nya Abbas kembali ke alam baka dengan usia belum tua. Saya tidak merasa kehilangan sahabat yang dermawan itu, saya malah bersyukur karena kematiannya itu sebuah pelepasan dari hidupnya yang menderita sakit untuk waktu yang lama. Beberapa bulan sebelumnya dia menyatakan kepada saya, bahwa dia merasa lega telah mampu membelikan rumah dan mobil baru untuk keluarganya. Uang dari hasil eksplotasi keahliannya sendiri. Seorang profesional yang jujur dan lugu telah pergi meninggalkan kita, tapi kita tetap akan tertawa menghormati karyanya sebagai warisan yang abadi. Bunga Mawar sering dipetik lebih dulu ....................... I Penulis adalah rekan almarhum Nya Abbas Akup, dan dosen pada Fakultas Film dan Telev i si lnstitut Kesenian Jakafta - L2KJ

1 komentar: