Rabu, 02 Februari 2011

API DIBUKIT MENORAH (Gugurnya Tohpati) / 1971

API DIBUKIT MENORAH
(Gugurnya Tohpati)



Film ini berdasarkan novel SH Mintardja.

Ceritanya ditulis Djaja sendiri, ceritanya Dikisahkan Royan perang saudara antara Djipang dan Padjang beberapa abad silam. Djipang kalah perang dan sisa-sisa pasukannya kerkeliaran menghantui rakyat, terutama pimpinan Tohpati (WD.Mochtar), untuk mengatasi keganasan pasuka liar itu, Padjang mengirim panglima muda Untoro (Kies Slamet) sebagai tenaga bantuan bagi Widoro (Kusno Sudjarwadi) pamanya yang menjadi kepala prajurit Padjang di Kademangan sangkal Putung.

Dalam perjalanan Sangkal Putung itulah Untoro di hadang dan adiknya (Agung Sedaju) dihadang oleh gerombolan Djipang. Untoro terluka tapi Agung meloloskan diri dan selamat sampai di Kademangan Sangkal Putung di mana ia disambut sebagai juru selamat.






















Selain bersiap-siap menghadapi serangan Tohpati, disangkal putung juga timbul persoalan lain. Sebaba Sedaju yang dikagumi rakyat juga sempat memancing iri hati Sindati ( Sosialisman), karena Gadis Skar Mirah ( Nunik Gunadi). Konflik ke dua anak muda ini semakin besar. Sehingga ketika terjadi perang besar anatara Tohpati dan Djipang, Sindati secara licik menikam Untoro dari belakang. Sang panglima tidak mati tapi Sindari menghilang dan Tohpati gugur .


Kisah ini cukup menarik dan di tengah membanjirnya film-film silat Indonesia yang lebih menonjolkan cucuran darah dan tehnik membunuh, Karya Djaja ini menonjol dengan skenario yang tidak bertele-tele serta cukup bersih dari selogan dan kata-kata berhikmat, jalan cerita dituangkan dalam siloloit. Kebiasaan Djaja menyisipkan adegan dolanan anak-anak Jawa, nyanyian bersama sambil menumbuk padi, serta adegan adu pukul rotan, semua ini demikian sehingga penonton tidak merasa menyaksikan sebuah film dakwah.




Film ini menggunakan tenaga crew yang banyak, meski skenarionya lumayan, penyutradaraannya tidak jelek. Toh film ini tidak bisa dikatakan berhasil. Pembantu kreatifnya tidak sanggup menandingi kreatifitasnya. Juru kameranya Thamizi ternyata terlalu amatir, sehingga sukar membedakan siang dan malam. Sudut-sudut pemotretannya juga tidak memberi andil yang baik kalau tidak malah sering memberikan kesan sandiwara, pada beberapa adegan. Kecuali adegan pertempuran masal yang menarik, adegan-adegan lain kurang asyik dipandang mata.


Barang kali penyuaraan dubbing yang kurang digarap dengan baik sehingga permainan para aktor tidak terlalu menonjol, meskipun tidak jelek. Tetapi yang paling berhasil adalah penanganan Djaja terhadap aktor WD.Mochtar sehingga "Yang itu-itu aja" dari aktor ini dapat dihindarkan.








Djaja & Ishak di lokasi



4 komentar:

  1. dimana bisa membeli film ini ?

    BalasHapus
  2. gan punya filnya api di bukit menoreh...

    kalo ada saya boleh beli ?

    08119009279

    BalasHapus
  3. Sama gan..saya juga mw beli..

    BalasHapus