Rabu, 09 Februari 2011

ANANDA / 1970

ANANDA

Film terakhir Usmar Ismail.

Film ini adalah produksi PERFINI. Inilah kisah film Cinderella Indonesia yang beakhir tragis dan sedikit misterius. Namanya boleh siapa, meskipun dalam fiolm dipanggila Irma, lalu Ananda (lenny Marlina) dan pangkal kesedihan adalah ibu yang mati dan ibu tiri ( Mike Wijaya) yang tidak baik hati. Sebagai penjual goreng pisang ia memikat Tarna (Ferry Irawan). Ketika di pantai, Kasan (Ismar Lubis) mengejarnya. Waktu kembali ke kota dengan warisan harta nenek, ia terlibat dengan Rachim (Rorimpandey).





















I
rma alias Ananda (Lenny Marlina) harus berjualan pisang goreng sejak kematian ibunya, apalagi ia mendapat ibu tiri yang tak baik hati. Kemudian mulailah "petualangannya" dengan lelaki. Pertama Tarma (Ferry Irawan), lalu Kasan (Ismar Lubis) dan waktu mendapat warisan ia terlibat dengan Rachim (Frank Rorimpandey). Ternyata Rachim kawin dengan gadis lain, sementara ia sudah tak perawan lagi. Maka terjerumuslah dia dalam pergaulan anak brandal, sampai masuk bui. Lalu muncul Halim (Rachmat Hidayat), wartawan yang mengaku paman Ananda, hingga sang gadis ini bisa bebas. Ketika kehidupan mulai layak, muncul Azam (Galeb Husein), dan Ananda pun jadi nyonya. Saat Ananda sedang sendirian di rumah, muncul kawan lamanya yang brandal, menagih janji. Ananda terbunuh dengan keris pusakanya sendiri. Ananda mulai hidup baru dirumah mewah dan sedang sendirian, muncul laki-laki misterius yang penonton menduga adalah kenalan Ananda, tetapi lain. Ananda dibunuh, dan pembunuhnya tidak diberitahukan. Penonton bisa menebaknya siapa. PERFINI memang bukan membuat film detektif, jadi persoalan siapa yang membunuh tidak tahu.Usmar sendiri berkeinginan sederhana dengan film-filmnya dalam menceritakan kehidupan drama manusia. Jadi yang menarik adalah drama itu sendiri, dan inilah karya Usmar yang terakhir dan juga yang paling mencerminkan dirinya. SElain film yang ia garap dengan penuh tawaran ide-ide dari yang lainnya. Jadi film ini banyak yang bilang Usmar Ismail sekali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar