Sabtu, 05 Februari 2011

AMBISI / 1973

AMBISI

Film ini mendapat penghargaan FFI'74 untuk film Komedi

Ceritanya: Film Komedi.
Bing bekerja sebagai penyiar pada radio swasta Undur-undur, bersama dengan Benyamin S. Pekerjaannya ini membuat ia tidak akur dengan istrinya, hingga seolah ia dapat saluran pada seorang penggemarnya, Anna Mathovani. Bing pulalah yang kemudian "mengorbitkan" Anna sebagai penyanyi. Ternyata Bing harus sadar diri setelah Anna sukses. Pacarnya muncul. Beruntung istri Bing sadar juga. Tampilnya penyanyi dan kelompok penyanyi terkenal, tampaknya diharap menjadi daya tarik film ini. Film ini cukup menarik, baik dari cerita dan konsepnya. Enggak tahu Nyaa abbas waktu membuat film ini sempat terpikir olehnya kalau film adalah film musikal juga? Bagaimana tidak film musikal, hampir dari awal film hingga akhir banyak menampilkan lagu-lagu yang sangat ngetren saat itu Seperti Koesplus, Godblees, dan penyanyi lainnya. Hal ini masuk kedalam ceritanya sendiri karena ceritanya tentang seorang penyiar radio yang sering memutar lagu-lagu hits saat itu, sudah pasti film ini penuh dengan lagu-lagu yang hits saat itu. Karena belum adanya video musik/video klip, maka Nyaa Abbas membuatnya sendiri, lalu memasukan unsur yang ada dalam lirik itu kedalam sebuah gambar, ini mirip sekali dengan video Klip yang juga menampilkan penyanyi aslinya di dalam klip tersebut, padahal film ini dibuat tahun 1973.









Sedangkan
Sound of the music 1965, sedangkan Pink Floyd the
Wall alan Parker dibuat tahun 1982 yang banyak orang bilang pencetus video klip pertama dan juga pertama yang memberikan ide untuk membuat MTV. Tetapi NYaa Abbas sudah melakukan hal itu di tahun 1973? Tentu film ambisi dan Sound of the music beda, karena dalam ambisi tidak ada pemain yang bernyanyi dalam sebuah adegan, yang ada menggunakan penyanyi dan lagu saat itu. Ada video klip KoesPlus Di Bui yang semua orang tahu saat itu Koes Plus lagi dipenjarakan karena meniru musik kebarat-baratan atas kebijakan presiden Soekarno. Lagu itu sangat populer sekali, dan NYaa Abbas membuat video Klip Koesplus itu sangat bagus sekali, settingan penjara dan cahaya Tuhan menerangi mereka (Koesplus). ...pernah dipenjara tiga bulan oleh rezim Soekarno. Bersama dirinya saat itu personel Koes Plus yang lain,Tony, Nomo, dan Yok mendekam di di Penjara Glodok pada tahun 1965. Mereka dianggap memainkan musik yang tidak mencerminkan budaya bangsa. (baca Diakhir textline ini)

Selain itu juga Nyaa Abbas juga mengkritik kebijakan pemerintah tentang lagu-lagu terutama agar tidak meniru kebarat-baratan. Salah satu dialoq dalam film adalah demokrasi dalam bermusik, demokrasi dalam menyalurkan lagu-lagu kesukaan, dan demokrasi berpendapat. Juga ada dialoq Bing Slamaet di dalam bis, lagu Indonesia lebih baik, setelah menegor seorang remaja yang memutar lagu-lagu asing di dalam bis.

Nyaa Juga menyindir studio rekaman, yang penuh dengan glamor dan wanita, dia tidak sungkan-sungkan menampilkan seorang direktur perusahaan rekaman yang sedang main cinta di kantor ketika Bing di kejar Biduanita 6 oktaf itu. Tetapi nya ingin mengulas tentang musik hits Indonesia saat itu. Memang jalan yang lain baik adalah melalui sudat pandang radio yang sering memutar lagu-lagu hits.
Opening film dimulai kesibukan Bing menyiapkan sarapan buat Istrinya yang bermalas-malasan, penonton sudah tahu, Bing adalah Suami Takut Istri. Harmonis Bing bekerja di radio bersama Ben Nyamin cukup harmonis sekali. Lalu muncul wanita menurutnya memilih hidupnya dengan menyanyi saja. Di sisi lain ada calon penyanyi yang sangat percaya diri dan meneror dengan khas Nyaa Abbas, tetapi suaranya jelek sekali. Bahkan NYaa membuat adegan lucu sekali ketika biduanita ini merampas mic radio dan memaksa untuk mencoba suaranya, kontan saja suara itu terdengan ke semua orang yang sedang mendengarkan radio ini, anak-anak kecil berlarian meninggalkan radio mereka, nenek-nenek bubur-bubur mematikan radionya. Maria memang memiliki suara yang bagus, tetapi bukan hanya itu alasan Bing mau mengorbitkan Maria menjadi penyanyi terkenal, ternyata karena Bing Merasa Maria jatruh cinta padanya dengan sejumlah peristiwa dan apa yang dilakukan Maria terhadapnya, membuat Bing merasakan Maria Jatuh hati, dan begitu juga dialami Bing. Selagi ia kesal dan muak dengan istrinya sendiri yang pemalas dan tidak pernah baik padanya sebagai suami, BIng terhasut juga. Segala macam upaya dilakukan Bing, hingga dipuncak film Maria sukses sebagai penyanyi terkenal.

Penonton akan mengira BIng akan berhasil mendapatkan Maria ketika di sukses, tetapi salah. Setelah berhasil nyanyi di panggung dan mendapat respon yang baik, Bing hanya bilang, selamat, kamu akan menjadi penyanyi yang terkenal, setelah itu Maria memperkenalkan laki-laki misterius itu ke Bing sebagai cowoknya. Dengan entengnya Maria mengucapkan terima kasih dan pergi begitu saja dengan cowoknya. Ending yang baik sekali. Nyaa serasa menyindir beberapa produser atau yang mendongkrak penyanyi dan artis yang sedang rumor saat itu dalam kasus yang sama. Cuma disini ending sangat baik karena BIng tidak berhasil mendapatkan Maria. Maria hanya butuh jasa Bing sampai mengangkat dia saja, setelah itu dia pergi dengan cowoknya di mata Bing. Nyaa tidak membuat adegan Bing termenung lama-lama atau memperlihatkan ke stressan Bing yang selama ini dimanfaatkan oleh Maria. Tetapi kepergian Maria hanya menampilkan tatapan kosong Bing hanya beberapa menit saja, lalu Cut, ke rutinitas rumah tangga seperti awal film, ternyata istrinya Bing sedang sibuk membuat sarapan untuk Bing. Sekarang Bing yang diatas kasur, tidur, sedang istri membuat sarapan. Istri kini sayang pada BIng karena ia takut di tinggal Bing ke wanita lain, mengingat kerjaan Bing sangat memungkinkan hal itu. Dan Bing semakin sayang pada istrinya. Ending yang bagus, karena tidak sampai menghancurkan rumah tangga si tokoh, tetapi memperbaikinya menjadi hal yang lebih baik. Sangat bijak endingnya.

Selain kemasalan dalam bentuk beberapa penyanyi/group band yang terkenal saat itu, kemasan yang lucu kha Nyaa Abbas, yang paling tidak masuk akal adalah kurangnya adegan yang memperlihatkan apa alasan istrinya takut Bing meninggalkannya. Kalau dibilang materi, keluarga BIng biasa-biasa saja, toh diawal film diperlihatkan istrinya tidak peduli sama Bing. Dan di ending film istri mau merubah sikapnya hanya takut kalau ditinggal bing ke wanita lain. Kalau Nyaa ingin mendapatkan respon dari penonton agar merestui jatuh hati Maria ke Bing (memang penonton mendukung mereka, lalu setelah penonton melihat Maria pergi begitu saja dengan pacarnya ketika dia sudah di puncak sukses,...penonton mulai membenci Maria dan simpatik kasihan pada Bing. Lalu Bing kembali ke Istrinya..penonton juga bahagia). Tetapi hendaknya ada satu adegan atau peristiwa bahwa istrinya sanyang sama dia, dan takut ditinggalkan.

Film ini juga mendapatkan salut atas atristik yang dilakukan Ami priyono, sehingga memenangkan FFI penata artistik terbaik.


Benyamin S and Bing Slamet - Tukang Sayur





News
SUMBER : INDONESIA RAYA, 20 JANUARI 1974
Berusaha Tampilkan “Visi” Dalam Film2 Musik


Ketika ber-omong2 dengan MIR, sutradara Nya Abas Akup yang baru lalu menangani film music “Ambisi” mengatakan, dalam menggarap film2 musik yang di Indonesia ini belum terlalu banyak, dia berusaha menampilkan dan mengolah hal2 lain dari yang telah ada. Istilah gagahnya berexperimen. Tetapi berhasil atau tidak experimennya tersebut, “hal itu saya serahkan pada penilaian masyarakat” demikian Nya Abas.

Menurut sutradara yang pernah digossipkan dengan Debby Cintia Dewi ini, biasa lagu2 yang ditampilkan dalam film2 yang dimaksudkan sebagai “film musik” selalu dibawakan oleh tokoh2nya atau dinyanyikan dalam resepsi2, kelab2 malam dan sebagainya. Atau kalau tidak, dibawakan oleh si tokoh seperti dalam film2 India.

Tetapi Nya Abas mencoba menampilkan bagaimana jerih payah penyanyi, kehidupan suka dan duka penyanyi atau musikus2. Sehingga setiap penonton tidak hanya menghayati lagu2 yang dibawakan itu saja, tetapi sekaligus bisa menangkap visi, apa yang hendak disampaikan oleh si pencipta lagu atau si penyanyi tersebut.

Bagaimana kita mampu mengajak penonton untuk ikut menukik kedalam dada si senimannya, haru dan merasakan apa yang dirasakan oleh si seniman tersebut, katakanlah ikut terlibatdengan pengalaman bathin si senimannya, demikian Nya Abas.

- Apakah film2 musik bisa popular dikalangan penonton Indonesia? Tanya MIR.
- Masalah popular atau tidak erat hubungannya dengan masalah selera penonton. Berbicara masalah selera penonton hal ini masih relatip. Soalnya bukan film music atau film drama dan sebagainya, tapi bagaimana pengolahannya dan penyajian kita terhadap penonton. Komunikatip atau tidak. Sebab mengukur selera penonton film Indonesia jangan hanya dengan barometer Jakarta saja. Buat masyarakat Jakarta atau satu dua kota besar menilai lagu2 Panbers, Mercys, sebagai lagu2 cengeng. Tetapi untuk daerah, kota2 seperti Cirebon, Semarang dan lain2nya, justeru lagu2 mereka jadi favorites masyarakat. Buat saya sendiri misalnya, lebih senang lagu2 yang dibawakan oleh God Bless. Tetapi apakah selera saya ini mewakili penonton? Jawaban yang berbentuk Tanya dari Nya Abas ini memang patut menjadi renungan cineas2 kita.
- Apakah akan mencoba menggarap film2 musik lagi?
- Ya. Ada tawaran dari seorang produser. Tapi karena saya masih manggarap film lain, sementara saya tangguhkan. Tapi keinginan untuk menggarap film2 musik memang ada.


Kenapa Koes Plus di Penjara oleh Soekarno?
Ketika sebelum proklamasi, Sukarno berorasi, “beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”, jelaslah bahwa empat orang di antaranya bukan dari jenis anak-anak pasangan Koeswojo dan Atmini. Khusus kepada Tony, Nomo, Yon, dan Yok, Sukarno yang kemudian menjadi presiden, menyiapkan pidato tersendiri yang dilontarkannya pada 17 Agustus 1965 di depan Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia:

“Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia kenapa mesti Elvis-elvisan?”

Ketika pidato itu diucapkan, keempat anak Koeswojo sudah hampir dua bulan mendekam di penjara Glodok (Jakarta) dan menghuni sel nomor 15 bersama tiga tahanan lainnya. Mereka ditangkap 29 Juni 1965, setelah menyanyikan lagu The Beatles: “I Saw Her Standing There” di rumah seorang kolonel. Di tahun-tahun tersebut, barang siapa yang menggandrungi lagu-lagu Barat, dianggap kontra-revolusi dan terindikasi terlibat kegiatan subversif yang merong-rong budaya nasional.

Hari itu, karena peringatan ulang tahun kemerdekaan, Koes Bersaudara diberi jatah keluar sel dan boleh menerima tamu. Yang datang membesuk adalah sang adik, Koestami Koeswojo alias Miyik, ditemani personel grup band Dara Puspita yang diawaki Susi Nander, Titiek Hamzah, Titiek AR, dan Lies AR. Dara Puspita adalah kelompok musik yang sama-sama menggandrungi The Beatles, meski belakangan lebih memilih “taat hukum” dan berhenti memainkan tembang-tembang band asal Liverpool itu.

Sebagai selebritas, Tony, Nomo, Yon, dan Yok memang tak kurang pembesuk. Selain empat saudara kandungnya (Jon, Din, Miyik, dan Ninuk), para fans dan pacar juga datang silih berganti membawa aneka makanan. Apalagi saat itu mereka sudah tak lagi menghuni ruang isolasi seluas 2 x 2 meter. Ukurannya memang sedikit lebih besar dibanding sel Bung Karno di penjara Banceuy (Bandung) yang hanya 1 x 1,7 meter saat menulis “Indonesia Menggugat” pada 1930. Tapi mereka harus berdesakan empat orang dan hanya ditemani tikar, dengan jeruji besi ukuran besar. Belakangan, keempatnya dipindahkan ke ruangan yang lebih luas, bersama tiga tahanan lainnya: Saleh yang ditahan karena korupsi, serta Atun dan Rahin yang terlibat kasus pembunuhan.

Meski begitu, tak seujung rambut pun mereka menyentuh para personel Koes Bersaudara. Tony dan adik-adiknya bahkan bersahabat baik dengan Om Yopie, seorang tahanan senior yang nama aslinya Tan Sio Gie alias Hartanto. Dibui karena membunuh seorang polisi!

“Ya, kami waktu itu memang selebritis. Waktu Koes Bersaudara dimasukin situ, orang-orang pada teriak ‘hidup Koes Bersaudara! Hidup Koes Bersaudara!’ hahaha...” kenang Yon Koeswojo, sang vokalis.

Selain statusnya sebagai pesohor, salah satu kunci keselamatan mereka di dalam penjara karena hampir setiap malam, mereka menghibur para narapidana dengan lagu-lagu merdu, termasuk syair-syair gereja yang menyentuh dan membuat trenyuh. Para sipir pun menghargai dan senang dengan keberadaan mereka di sana, yang membantu mengurangi ketegangan atmosfir penjara.

“Di dalam tahanan, saya menemui manusia-manusia yang berjiwa paling besar. Terhukum yang rata-rata adalah sahabat-sahabat setia. Ketika kami dibebaskan, ada beberapa penjahat kaliber berat yang mencucurkan airmata. Sungguh mengejutkan. Mereka betul-betul merasa kehilangan kami,” kata almarhum Tony Koeswojo dalam sebuah wawancara dengan Ekspres, 4 Oktober 1971.

Yang dimaksud Tony sebagai “penjahat kaliber berat” itu tak lain adalah Om Yopie yang saat itu berperan sebagai voorman, yakni napi senior (dan biasanya paling ditakuti), yang dipercaya menjaga keamanan bui. Tony pun mencipta sebuah lagu untuk sang “Voorman” :

Voorman jangan dulu kunci kamarku
Tunggu sebentar permintaanku
Kan kupetik bunga biru


Sebulan sebelum pidato “Elvis-elvisan” Bung Karno yang menyindir Koes Bersaudara, surat kabar Harian Rakjat, Minggu 18 Juli 1965, sudah memuat karikatur bergambar empat personel The Beatles yang berpakaian Inggris lengkap dengan dasi kupu-kupu. Mereka diilustrasikan sedang berjingkrak-jingkrak. Di atas karikatur itu, ada gambar piringan hitam bertuliskan “Kabir Manikebu” yang retak akibat pukulan tangan yang bertulis “Komdak VII/Djaya”.

“Kabir Manikebu” adalah akronim dari Kapitalis Birokrat - Manifesto Kebudayaan. Istilah pertama adalah julukan yang disematkan kaum Kiri pada lawan-lawan ideologis mereka, sementara Manikebu adalah kelompok budayawan, sastrawan, dan cendikiawan yang berseberangan paham dengan kelompok komunis. Istilah “manikebu” sendiri adalah akronim olok-olok yang diambil dari “mani kebo” alias sperma kerbau. Dan karikatur empat personel Beatles itu sepertinya juga ditujukan untuk mengolok-olok empat anak lelaki Koeswojo yang meringkuk di Glodok.

Sebulan pertama di tahanan, tak henti-hentinya Tony dan ketiga adiknya diinterogasi tentang berbagai hal seputar kenekatannya mendendangkan lagu-lagu Beatles di panggung-panggung terbuka. Tapi karena jawaban yang mereka berikan tetap sama—karena suka dan diminta para penonton, alias tak ada alasan politis—maka interogasi pun dihentikan.

Aturan hukum yang mereka langgar adalah Penetapan Presiden Nomor 11/1963 yang melarang musik-musik cengeng atau berbau Barat, dinyanyikan. Alasannya, lagu-lagu seperti milik Elvis Presley atau The Beatles tidak menunjukkan karakter budaya Indonesia, mengajarkan hura-hura, kontra-revolusi, dan merupakan produk negara Barat seperti Inggris dan Amerika yang dibenci Presiden Sukarno karena mendukung terbentuknya negara Malaysia. Padahal, Sukarno sendiri sedang menggelorakan Komando Ganjang Malaysia, dan menganggap pembentukan negara tersebut adalah proyek perpanjangan tangan kapitalisme dan imperialisme global di Asia. Istilah sangarnya neokolim alias neo-kolonialisme.

Dus, judul Penetapan Presiden 11/1963 itu sendiri sebenarnya jauh lebih seram: Pemberantasan Kegiatan Subversi, yang juga diteken Sekretaris Negara, Mohammad Ichsan pada 16 Oktober 1963. Tentu saja di antara 20 pasal itu tak disebut secara gamblang tentang larangan menyanyikan lagu-lagu John Lennon atau Elvis Presley. Tapi di bagian Penjelasan, dinyatakan bahwa strategi, taktik, dan teknik kegiatan subversi itu “banyak dan beraneka ragam serta berubah dengan tipe perkembangan”.

Lalu muncullah rincian tentang apa-apa saja yang dapat dikategorikan sebagai “teknik kegiatan subversi”, seperti: (1) operasi psikologis lewat desas-desus, pamflet, surat kabar; (2) pengacauan ekonomi; (3) pengacauan politik; hingga; (4) kebudayaan, yaitu memasukkan pengaruh-pengaruh kebudayaan asing untuk merusakkan kepribadian bangsa melalui kesenian.

Tak cukup dengan itu, Presiden Sukarno juga mengeluarkan Instruksi Presiden yang memerintahkan segenap komponen bangsa untuk kembali ke kepribadian dan budaya nasional, menyusul pidatonya yang menggelegar pada 17 Agustus 1964 yang tersohor dengan judul Tavip: Tahun Vivere Pericoloso alias nyerempet-nyerempet bahaya. Saking seriusnya dengan urusan kebudayaan asing ini, dibentuklah panitia khusus yang terdiri dari Oei Tjoe Tat, Adam Malik, dan Mayor Jendral Achmadi pada 22 September 1964 (Majalah Pantau, 21 Oktober 2001). Tugasnya menyusun rekomendasi langkah-langkah yang perlu diambil Presiden untuk mengatasi apa yang dianggap sebagai dekadensi moral dan budaya, terutama di kalangan generasi muda. Warga negara yang masih mendengarkan atau memainkan musik-musik ngak ngik ngok harus ditindak oleh polisi.

Ngak ngik ngok?

Sudah pasti itu istilah ciptaan Bung Karno, yang pertama kali diucapkan secara resmi dalam pidato kenegaraan peringatan proklamasi 17 Agustus 1959. Setelah mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli tahun yang sama, Sukarno mencanangkan tahun itu sebagai tahun “penemuan kembali revolusi kita” dan lalu memperkenalkan konsep Manipol-USDEK (Manifesto Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia).

“Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi; engkau jang tentunja anti-imprialisme ekonomi, engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock ‘n roll - rock‘n rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi? Kenapa di kalangan engkau banjak jang gemar membatja tulisan-tulisan dari luaran, jang njata itu adalah imprialisme kebudajaan?”

Tahun itu The Beatles memang belum lahir. John Lennon baru merintis melalui sebuah kelompok musik yang ia namakan The Quarrymen, di mana James Paul McCartney, George Harrison, atau Ringo Starr belum lagi bergabung. Nama The Beatles sendiri baru muncul pada Agustus 1960 atau setahun setelah Sukarno berpidato. Jadi yang dirujuk oleh pidato “penemuan kembali revolusi kita” itu sepertinya lagu-lagu rock ‘n roll angkatan Elvis Presley, Everly Brothers, Tommy Sands, atau aliran musik yang di Inggris kala itu dikenal sebagai skiffle.

Saat pidato ngak ngik ngok tahun 1959 itu, Koes Bersaudara juga belum eksis. Baru Tony Koeswojo yang jadi “anak band” di sekolahnya lewat kelompok Gita Remaja yang ia dirikan bersama teman-temannya. Sementara adik-adiknya seperti Nomo, Yon, dan Yok belum bergabung dan lebih sering menonton sang kakak bermain musik di rumah. Tapi seruan Bung Karno itu terlanjur bergulir menjadi gerakan kebudayaan yang sangat kental nuansa ideologis. Kelompok komunis menyerang produk-produk kesenian Barat sembari menonjolkan apa yang mereka sebut sebagai kesenian rakyat, sementara kalangan kelas menengah terdidik menolak mengaitkan kesenian dengan sentimen politik dan ideologi. Saat Koes dibui, Juni 1965, beberapa seniman mendatangi kejaksaan dan meminta penjelasan tentang batasan musik dan irama seperti apa yang dibolehkan dan mana yang dilarang. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar