Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1979 Palembang Ada Kemajuan

MALAM itu tebakan di Palembang ialah: siapa menang? Sekitar 7 ribu penduduk memenuhi separuh Stadion Bumi Sriwijaya untuk malam penutupan Festival Film Indonesia VII -- setelah 3 hari yang lalu, 9 Mei, dibuka di tempat yang sama oleh Dirjen Radio, Televisi dan Film Malam itu sekaligus akan diumumkan siapa pemenang piala Citra. Dengan sistim "nominasi" -- diumumkan terlebih dahulu masing-masing lima calon untuk tiap satu piala Citra -- dugaan memang jadi terbatas. Yang jelas dua film calon pemenang terkuat belum sempat dilihat banyak orang: Pengemis dan Tukang Beca dan November 1828. "Yah, 'kan sutradara kita yang kuat cuma ada lima," kata seorang anggota Dewan uri. Di antara yang lima itu, tiga di antaranya memang tak mempunyai film yang diikutsertakan dalam FFI kali ini: Ami Prijono, Sjuman Djaya dan Arifin C. Noer. Tinggal Wim Umboh yang mengikutsertakan film terbarunya PTB dan Teguh Karya dengan November 1828. Sistim "nominasi" itu memang yang baru dari FFI VII. Sumardjono, Ketua Penyelenggara FFI VII, dalam satu konperensi pers mengatakan bahwa sistim nominasi antara lain untuk merangsang agar calon-calon yang disebutkan terdorong hadir di Palembang. Hasilnya memang belum nampak: banyak bintang tetap absen. Tapi sistim nominasi ini menurut Rosihan Anwar, Ketua Dewan Juri, ada manfaatnya juga. "Dalam kenyataannya sering film yang tidak menang dan yang menang hanya selisih satu nilai. Dengan disebutkannya juga lima terbaik, film-film yang tidak menang tapi berbeda sedikit nilainya disebutkan juga," kata Rosihan di Palembang menjelang berangkat ke lapangan udara Talangbetutu. Suasana memang terasa lesu. Meski tak ada yang mencoba mencari biang kelesuannya. Dengan jelas kelesuan itu pun mewarnai Pawai Artis. Berangkat dari Stadion Bumi Sriwijaya, Kamis 10 Mei, keliling kota Palembang, 75 mobil hias ternyata tak ada separuhnya yang mengangkut bintang film. Dan sambutan massa ternyata justru tertuju kepada artis yang mengaku bukan bintang film tapi pelawak: Bagyo dan kawan-kawan. Sidang MMPI di Palembang ini, 10-12 Mei, pun nampak tenang-tenang saja. Hal yang semula diduga akan menimbulkan tarik urat, ialah tentang SK 224 Menpen, ternyata dianggap "tidak perlu dipersoalkan lagi," sebab sudah dianggap sebagai keputusan inti sidang MMPI 1978 di Ujung Pandang. Akhirnya, malam itu, 12 Mei di Stadion Bumi Sriwijaya, setelah Dewan Juri yang diwakili oleh Mochtar Lubis membacakan catatan Dewan Juri, diumumkanlah para pemenang Citra (lihat Box). Alhamdulillah sampai akhir pekan lalu, belum terdengar keributan yang mengekori penutupan festival film kemarin. Seperti peristiwa di Ujung Pandang tahun lalu ketika diketahui Aktor Terbaik Kaharuddin Syah tidak mengisi suaranya sendiri. Juri "tidak lagi cerewet" seperti dirasakan kalangan film. Tentu saja masih mengritik. Misalnya menurut juri, dari banyak film remaja yang beredar, kurang diperlihatkan kaum remaja itu harus bekerja keras guna mencapai prestasi yang dibanggakan. Kritik itu sudah bisa diduga. Dua bulan sebelum festival, di Jakarta diselenggarakan seminar film oleh Dep. Penerangan dengan tema "Film Sebagai Alat Perjuangan dan Pembangunan Bangsa." Seminar menelurkan beberapa pokok pikiran. Yang menarik adalah rumusan, "film harus bersifat dan berfungsi kultural edukatif." Dalam pengertian, "film Indonesia harus mampu menggambarkan sifat-sifat manusia Indonesia yang mampu mengendalikan diri sendiri agar tidak mengganggu keseimbangan dan keserasian." Diakui oleh Asrul Sani yang melaporkan hasil seminar, sulit memberikan pengertian kultural edukatif itu secara kongkrit. "Sebetulnya kita masing-masing tentu sudah memahaminya," sebut Asrul. "Kini tinggal bagaimana melaksanakan bersama konsensus kultural edukatif itu." Bagaimana ukurannya secara pas sulit diutarakan. Tapi ia memberi contoh film Krisis, Pejuang, Chicha, Inem Pelayan Sexy, dan Malin Kundang, sebagai yang telah memenuhi ukuran tadi. Soal apakah film itu disenangi dan laku dijual, dan apa film hanya thema, rupanya bukan urusan seminar. ADAKAH kaitan antara seminar itu dengan festival film Palembang? Dari 38 film cerita yang dinilai juri, mungkin bisa disebut November 1828 dan Buaya Deli yang kira-kira masuk ukuran hasil seminar. Kebetulan yang disebut pertama, berhasil merebut 6 Citra. Masih menjadi pertanyaan, kalau hasil seminar dimasukkan ke dalam film dengan menggebu-gebu -- tidakkah hasilnya akan merupakan propaganda? Lalu porsi mana lagi yang harus disediakan Pusat Produksi Film Negara (PPFN) untuk film penerangannya? Dalam pertimbangan keputusan juri di festival Palembang tampaknya hal itu, tidak terlalu penting. "Film dapat berperan secara amat berarti, jika secara sadar dipergunakan untuk mengembangkan sikap hidup dan nilai-nilai budaya yang mendorong berkembangnya manusia Indonesia seutuhnya," sebut juri. Di Ujung Pandang dulu juri masih bisa menilai sekitar 60 film cerita -- tapi kini di Palembang jumlah itu tinggal 38 film cerita saja, dan 14 film dokumenter. Kelesuan dalam memproduksi film memang sudah membayang sejak Nopember tahun lalu. Masa panen '77/'78, ketika produksi melejit dari hanya sekitar 58 pada '76, ke jumlah 134 judul film, tidak lagi akan datang rasanya. Kini untuk memproduksi setiap judul film, pemilik modal mempunyai taruhan yang besar. Mungkin iklim yang demikian, siapa tahu, akan melahirkan film pilihan -- tidak asal jadi. Sebagai dicatat juri: "Film Indonesia sekarang pada umumnya menunjukkan kemajuan besar dalam teknik kamera, editing dan beberapa penyutradaraan telah mencapai tingkat dan kerapian yang tinggi," kata juri. Nah, sampai ketemu di FFI VIII (yang mungkin begitu-begitu juga acaranya, dan mahal ongkosnya) di Semarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar