Rabu, 16 Februari 2011

INI bukan untuk pertama kalinya Wahyu Sihombing, sutradara film, teater, dan sandiwara televisi, menjadi ketua dewan juri FFI. Tahun silam ia juga ditunjuk untuk posisi itu. Sedang di tahun-tahun 1983 dan 1984 ia duduk dalam komite seleksi yang bertugas memilih film-film yang akan dinilai dewan juri FFI. Karena pengalamannya selama empat tahun mengamati film buatan dalam negeri itulah, menarik untuk mengikuti komentar Sihombing terhadap film Indonesia peserta FFI 1986 sebagai yang dikisahkannya kepada wartawan TEMPO, Salim Said. Berikut ini petikan hasil wawancara: Tentang tema cerita Kalau ada perubahan tema dari tahun-tahun sebelumnya, dan itu memang ada, itu bukan karena adanya perubahan konsepsi. Melainkan perubahan selera produser -- tentu saja karena para produser menganggap selera penonton telah bergeser. Dalam hubungan ini jugalah kita harus melihat munculnya komedi seperti Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Bukan karena ada konsepsi yang jelas mengenai komedi yang tidak harus dimainkan pelawak. Tapi semata-mata karena perkiraan terhadap selera penonton tadi. Film ini ternyata laku. Ini suatu bukti bahwa film yang bagus tidak selalu jatuh di pasaran. Kemajuan teknik dan masalah artistiik Kerja kamera, editing, banyak mengalami kemajuan. Tapi teknik penyuaraan masih parah. Sayangnya, penguasaan teknik ini belum lagi menjadi alat ekspresi. Kenapa? Lah, siapa, sih, juru kamera kita? Siapa editor, juru suara, juru rias, penata artistik? Orang-orang ini hampir tidak pernah baca skenario film yang mereka kerjakan. Bagaimana mereka mengerti nilai dramatik film itu? Akhirnya yang berkarya cuma sutradara. Yang lain turut perintah. Ini seperti mahasiswa yang lulus tapi cuma belajar dari diktat, tidak dari buku. Jelas, kesenjangan antara kemampuan teknis di satu pihak dan kemampuan ekpresif di pihak lain. Dan ini semua terjadi karena struktur dunia perfilman kita, yang didominasi produser, tidak kondusif untuk membuat orang-orang itu mempelajari skenario dengan baik. Akting, emosi, unsur luar Para pemain kita pun rata-rata memperlihatkan kemajuan dalam bidang teknik. Pengucapan dialog dan gerakan tidak sekaku dulu lagi. Jauh lebih santai. Ini tentu merupakan hasil pengalaman, baik secara sendiri maupun bersama. Tapi di sini pun ada masalah, seperti yang saya kemukakan tadi. Mereka ini masih tetap saja belum memahami struktur kejadian, struktur emosi, dan struktur dialog yang mereka sendiri ucapkan. Sumber persoalan itu ialah tidak dikuasainya motivasi dan emosi peran. Selain itu hubungan bagian dalam dari suatu watak dengan bagian luarnya bagaimana melahirkan, bagaimana mengucapkan, bagaimana gerak-gerik watak -- itu soal yang masih tetap dihadapi para pemain kita. Maka. selain studi watak. mereka juga harus melakukan studi adegan. Mengetahui watak yang dimainkan saja masih belum cukup, sebab lingkungan sekeliling, adegan di mana ia ada, juga amat menentukan. Latihan, belajar sendiri, jangan tunggu penataran Parfi, itu syarat jadi pemain baik. Sutradara dan produser Dalam tubuh perfilman Indonesia sekarang, sutradara itu cuma babu produser. Termasuk saya juga. Apa maunya produser, kami para sutradara turut saja. Karena itu, saya selalu bilang, kalau film Indonesia jelek, kita orang film ini harus mawas diri. Ada beberapa sutradara yang bernasib baik, seperti Teguh Karya, Arifin C. Noer, dan Sjumandjaja. Ini karena ada mitos tentang mereka sebagai pembuat film Indonesia terkemuka. Dulu mitos demikian dimiliki Wim Umboh, hingga kemauan Wim selalu dituruti produser. Citra tidak mempengaruhi larisnya film? Itu betul. Misalnya tahun lalu, Kembang-Kembang Kertas yang disutradarai Slamet Rahardjo mendapat Citra. Tapi di pasaran tidak laku. Umumnya film yang mendapat Citra itu tidak tergolong film yang laku. Tapi ini tidak perlu mengherankan, bukan? Barang bagus tidak selalu laku, barang jelek tidak selalu dibenci. Tentang kriteria penilaian Kita menilai film tidak berdasarkan perhitungan laku-tidaknya. Juga tidak perhitungan apa pun di luar film itu sendiri. Sekali kita harus melenceng, misalnya dengan alasan pendidikan, pemerataan, atau apa, bisa kacau semuanya. Kita juga menilai film sesuai dengan kondisi Indonesia. Karena itu, kita tidak menggunakan perbandingan dengan film-film asing yang bagus, apakah itu film-film buatan Akira Kurosawa atau Bergman. Sebab, kalau pakai standar film asing jenis itu, mungkin tidak ada yang menang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar