Minggu, 30 Januari 2011

TERANG BOELAN FULL MOON EILAN DER DROOMEN, HET / 1937

TERANG BOELAN
FULL MOON
EILAN DER DROOMEN, HET








 



Adegan Terang boelan, Roekiah dan gadis-gadis sedang memancing. Nomor 2 dari kiri adalah dinamit yang meledakan pemasaran luar biasa film ini

Terang Boelan adalah film yang semata-mata berorientasi pada selera publik pribumi, tidak berpotensi untuk seni atau mengemban idealisme. Untuk itu ia mengajak Joshua dan Othniel Wong. Setingan cerita tentang asmara yang terbataskan oleh wilayah, singapura, malaka dan pulau Sawoba. Gaya penampilan film ini amat dekat dengan gaya film yang dibintangi Dorothy Lamour yang masa itu sedang popular, kehidupan orang primitif yang ada di Hawaii. Perempuan di pulau Sawoba juga sama berpakainannya dengan primitif di Hawai, yaitu mengenakan sarung hingga sampai dada, dan juga keindahan alamnya sama seperti di Hawaii dalam film Dorothy Lamour itu. Dan juga perahu kayu yang panjang juga bentuk rumahnya yang sama seperti di Hawaii. Ceritanya Romantisme, perkelahian, nyanyian dan lawak. Tujuannya adalh untk mengibur dengan baik penonton yang kehidupan sehari-harinya yang penat. Karena ini diambil dari panggung maka pemainnya juga pemain panggung termasuk Roekiah yang artis panggung dan penyanyi keroncong yang cukup terkenal saat itu. Ismail Marzuki juga ikut membantu untuk musik para pemainnya yang bernyanyi termasuk juga Rd Mochtar yang tidak bisa menyanyi. Dan hasilnya film Terang Boelan mendapat sambutan yang luar biasa dari seluruh pelosok.

Kasim (Rd Mochtar) dan Rohaya (Roekiah) berjanji untuk saling cinta dan setia, tapi bapak Rohaya, seorang pendeta (Muhin), menjodohkan anaknya dengan Musa (ET Effendi), seorang penyelundup. Sebelum pernikahan berlangsung, Rohaya lari bersama Kasim dari pulau tempat kediamannya, Sawoba, ke Malaka (Malaysia). Di sana mereka bertemu dengan Dullah (Kartolo). Kebahagiaan mereka tidak lama, karena terlihat oleh Musa, yang sebagai penyelundup candu menyamar jadi orang Arab bernama Syekh Ba' Abul. Datanglah bapak Rohaya yang membawa anaknya pulang. Kasim menyusul ke Sawoba, dan belakangan muncul pula Dullah, membantu. Kasim berhasil melumpuhkan Musa dalam suatu perkelahian seru.















Peredarannya juga ke Singapura dan mendapatkan keuntungan besar selama dua bulan.
Sukses komersial yang dicapai film ini ternyata tidak menggembirakan hati pendiri ANIF, karena bertolak belakang ide awalnya yang membuat film dokumentar. Juga mutunya jelek tidak artistik dan jauh beda dengan film Pareh. Terang Boelan mengutamakan hiburan dari pada artistik, karena mutu rendah dan selera rendah untuk memenuhi tuntutan yang ingin bermimpi, bukan berfikir. Maka pemimpin ANIF memutuskan untk berhenti membuat film cerita. Lalu Balink dan Wong keluar dari ANIF, dan Balink meneruskan impiannya itu ke Amerika untuk membuat film yang hebat. Walaupun di Amerika ia gagal hanya menjadi wartawan saja, tetapi semangatnya tetap ada hingga ia mengingal di Amerika 1976 usia 69 tahun.

Dalam selebaran propagandanya, disebutkan Sawoba adalah pulau yang tak kalah indahnya dengan pulau Hawaii. Padahal, pulau itu cuma khayalan yang diambil dari SA(eroen), WO(ng), BA(link). Film laris pertama dan dijual kepada RKO Singapura dan dalam dua bulan peredaraannya menghasilkan S$ 200.000. Lahirlah pasangan romantis pertama, Rd Mochtar - Roekiah. Roekiah adalah istri Kartolo, yang kemudian lahir Rachmat Kartolo, biduan, pemeran dan sutradara. Film laris pada 1938.


News

Film Terang Boelan 1937 Desember 9, 2009 oleh alwishahab

Foto koleksi Sinematek Indonesia memperlihatkan adegan Film Terang Boelan produksi 1937, yang dalam Belanda bernama Het Eilan der Droomen. Film ini disutradarai Albert Balink dan skenario Saeroen, wartawan 1930-an. Terang Boelan merupakan film Indonesia pertama meledak di pasaran, hingga dibeli perusahaan film RKO Singapura, dan dapat sambutan luas ketika diedarkan di Semenanjung Malaya. Film drama ini dibintangi oleh Roekiah (berada di tengah dalam foto), ketika sedang memancing bersama para artis pembantu.
Dalam film inilah Roekiah menyanyikan lagu Terang Bulan yang kini jadi lagu kebangsaan Malaysia Negaraku. Setelah mengklaim berbagai budaya Indonesia sebagai miliknya, muncul polemik asal muasal lagu kebangsaan negeri jiran itu. Mantan ketua Sinematek Indonesia, Misbach Yusa Biran, berpendapat lagu Terang Bulan adalah jenis musik stabul 2 (irama keroncong). Lagu ini berasal dari imigran keturunan Portugis yang tinggal di Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.
Kemudian, berkembang melalui pertunjukan opera stambul tahun 1900 di Surabaya. Nama stambul dari kata Istambul di Turki kemudian berubah menjadi tonil. Pada masa Jepang karena tonil berasal dari Belanda diganti menjadi sandiwara.
Misbach membantah, klaim Malaysia terhadap lagu yang kini menjadi lagu kebangsaannya. Karena, di Malaysia tidak dikenal lagu irama keroncong, tapi Melayu. Keroncong hanya dikenal di Pulau Jawa. Meski demikian, lagu Terang Boelan kemudian sangat dikenal di Malaya (belum bernama Malaysia) karena filmnya diputar di Semenanjung Malaya. Lagu itu di Malaya kemudian menjadi lagu rakyat.
Ketika merdeka dari Inggris tahun 1957, lagu tersebut mereka jadikan lagu kebangsaan. Lagu ini menjadi sangat populer sejak dibawakan oleh orkes ‘Live of Java’ dan dinyanyikan oleh Ismail Marzuki. Sejak dijadikan lagu kebangsaan Malaya, lagu Terang Bulan terlarang dinyanyikan di Indonesia guna menghormati negara tetangga kita. Sampai-sampai film Terang Bulan produksi 1957 yang disutradarai Wim Umboh dilarang beredar.
Kenapa di era sebelum Perang Dunia II Terang Boelan dipilih sebagai judul film? Karena lagunya sangat digemari masyarakat menyebabkan mendapatkan sukses besar di pasaran. Di antara lirik lagu tersebut adalah:
Terang Bulan Terang Di kali
Buaya Nimbul Disangka Mati
Jangan Percaya Mulut Lelaki
Berani Sumpah Tapi Takut Mati
Roekiah, artis idola tahun 1930-an adalah ibu dari penyanyi Rachmat Kartolo, penyanyi dan pemain film tahun 1980-an. Roekiah yang kawin dengan aktor Kartolo, meninggal dunia tahun 1945 dalam usia 28 tahun. Kala itu, Rachmat Kartolo masih balita.
Bagi Misbach, tidak menjadi persoalan Terang Bulan dijadikan lagu kebangsaan Malaysia. Tapi, jangan mengklaim sebagai pemiliknya. Kita sendiri mengakui bahwa keroncong berasal dari Portugis dan dangdut dari India.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar