Minggu, 30 Januari 2011

Selebritas Miss Roekiah

Selebritas Miss Roekiah

Darah seni Roekiah mengalir dari orang tuanya. Sejak kecil, bahkan ketika baru dilahirkan, Roekiah telah bersentuhan dengan dunia panggung. Dia lahir di Cirebon pada 1916, ketika rombongan komedi bangsawan orang tuanya yang sedang berkeliling singgah di kota tersebut.Ibunya adalah seorang primadona panggung asal Cianjur. Sedangkan ayahnya merupakan seniman asal Belitung, yang pada 1913 mengembara bersama rombongan komedi bangsawan.

Sejak kecil Roekiah ikut dalam pengembaraan rombongan komedi bangsawan bersama kedua orang tuanya. Kehidupan sebagai “anak wayang” membuat ia tidak mendapat pendidikan sekolah. Sebenarnya orang tuanya tidak menghendaki Roekiah menjadi seorang sri panggung seperti mereka, tetapi Roekiah bersikeras untuk tetap “hidup” di atas panggung. Kegemarannya waktu kecil adalah bernyanyi. Dan memang bakat nyanyi inilah yang akhirnya membuat namanya dikenal orang. Cita-citanya sedari kecil yaitu dapat bernyanyi di depan umum, tetapi ayahnya selalu melarang ia untuk melakukan hal itu.

Pada suatu ketika, ia meminta izin kepada ibunya untuk tampil bernyanyi di atas panggung. Ibunya memberi izin. Roekiah pun bernyanyi di atas panggung dan mengisi bagian selingan. Di tengah-tengah ia menyanyi, ayahnya tiba-tiba datang dan marah sekali. Namun lama-kelamaan sikap ayahnya melunak dan Roekiah menjadi bagian dalam rombongan komedi bangsawan orang tuanya. Penonton sangat menggemari suaranya yang merdu, ditambah wajahnya yang cantik, ia menjadi buah bibir publik. Sebagaimana pemain-pemain sandiwara pada masa itu, Roekiah pun berpindah-pindah dari satu perkumpulan ke perkumpulan yang lain. Pada 1932, Roekiah masuk ke dalam rombongan tonil Palestina. Di dalam perkumpulan inilah ia bertemu dengan Kartolo, seorang pemain musik yang kemudian menjadi suaminya.

Setelah Palestina mengalami krisis di Magelang, akhirnya Roekiah dan Kartolo memutuskan untuk keluar dari perkumpulan tersebut dan kemudian mereka masuk rombongan Faroka Opera di bawah pimpinan Westkin. Pada 1936, Roekiah dan Kartolo yang menetap di Batavia memutuskan untuk keluar dari Faroka dan meninggalkan dunia panggung, setelah Roekiah melahirkan anak kedua. Nasib Roekiah dan Kartolo berubah ke arah yang semakin baik di tahun 1937. Saat itu, Roekiah ditawari menjadi pemain dalam film yang akan dibuat oleh Albert Balink di bawah perusahaan ANIF (Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat). Film Terang Boelan buatan Balink ini yang kemudian mengangkat namanya menjadi sangat terkenal. Film ini meledak di pasaran. Kesuksesannya bahkan sampai ke Singapura, dengan menghasilkan 200.000 Dollar dalam dua bulan. Duetnya bersama Raden Mochtar mencetuskan model sistem bintang (daya tarik bintang film) yang lalu ditiru oleh perusahaan film lain. Pasca kesuksesan mereka membintangi film Terang Boelan, banyak perusahaan film mengambil pemain sandiwara untuk bermain dalam film-film produksi masing-masing. Tren perpindahan pemain sandiwara ke film ini membuat dunia panggung sempat sepi di akhir masa kolonial.

Setelah sukses dengan film Terang Boelan, Roekiah dan Kartolo membentuk rombongan sandiwara Terang Boelan Troep dan melakukan pertunjukan keliling hingga mendapat sukses di Singapura. Kemudian mereka kembali ke Batavia. Di Batavia, Roekiah dan Kartolo adalah penyanyi orkes keroncong Lief Java yang sangat dikenal, terutama oleh para pendengar radio. Lagu-lagu mereka yang terkenal yaitu Terang Boelan, Boenga Mawar, dan Krontjong Fatima.

Pada 1939 Roekiah dan Kartolo ditarik menjadi pemain di perusahaan film Tan’s Film Company. Film pertama yang dibintanginya pada perusahaan ini adalah Fatima. Roekiah dalam film ini tetap dipasangkan dengan Raden Mochtar. Pada masa itu mereka adalah pasangan yang paling romantis di layar lebar. Film tersebut meraih sukses besar. Dalam waktu enam bulan, f 200.000 dihasilkan. Sebagai seorang primadona di Tan’s Film, Roekiah mendapat honor sebesar f 150 dan Kartolo f 50, jauh dari penghasilan mereka ketika membintangi film Terang Boelan. Selain itu, mereka juga mendapat sebuah rumah di Tanah Rendah Batavia.

Seluruh film yang diperankan oleh Roekiah laku di pasaran, walaupun pasangannya, yaitu Raden Mochtar, telah keluar dan kemudian digantikan oleh Djoemala.

Ketika namanya semakin populer, wajah Roekiah terpampang di hampir semua majalah dan koran kala itu, sebagai seorang model iklan sandal Tjap Matjan dan mesin Singer. Sepanjang karirnya di layar lebar, Roekiah membintangi film-film seperti Terang Boelan, Fatima, Gagak Item, Siti Akbari, Roekihati, Sorga Ka Toedjoe, Koeda Sembrani, Poesaka Terpendam, dan Keseberang. Film yang disebut paling akhir adalah film propaganda buatan pemerintah pendudukan Jepang yang diproduksi pada 1944. Film tersebut merupakan film terakhir yang dimainkannya. Pada 1945 ibu dari aktor kawakan Rachmat Kartolo ini meninggal dunia, tetapi filmnya masih terus diputar dan tetap digemari. Perempuan multi-talenta ini akan terus tercatat dalam lembaran sejarah. Boleh dibilang, Miss Roekiah merupakan perempuan pertama yang menyandang gelar sebagai seorang selebritis Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar