Minggu, 30 Januari 2011

RORO MENDUT / 1982

RORO MENDUT - The Rebellious Woman


Film ini diangkat dari Novel, Y.B. Mangunwijaya tak mau dicantumkan namanya tatkala Roro Mendut diangkat ke layar putih oleh Ami Prijono. Alasannya cukup beragam, mulai ketidak cocokan atas cerita novel ke layar lebarnya...atau karena Ami terlalu melihat sudut seksualitas Roro Mendut-nya saja, dari pada sejarahnya. Toh ,Akhir cerita ini membuat sengketa dengan penulis ceritanya. Dalam cerita rakyat aslinya memang bunuh diri yang terjadi, tapi Mangunwijaya membuat akhiran terbuka yang diharapkan menjadi lambang perlawanan dan optimisme.

Roro Mendut (Meriam Bellina), wanita muda dan cantik adalah salah satu dari seluruh kekayaan Kadipaten Pati yang diboyong ke Mataram. Karena suka citanya, Sultan Agung berkenan menghadiahkan semua hasil rampasan perang itu kepada Tumenggung Wiroguno (WD Mochtar), yang berhasil memimpin penumpasan pemberontakan Kadipaten di pantai utara Jawa di abad XVII tersebut. Wiroguno tidak bisa menikmati hadiah itu sepenuhnya. Roro Mendut menolak untuk dijadikan selir. Wiroguno sangat terpukul dan harga dirinya runtuh, karena ditolak Roro Mendut. Demi menegakkan wibawa dan harga dirinya, Wiroguno menghukum Roro Mendut untuk membayar pajak yang sangat besar jumlahnya. Ternyata Roro Mendut selalu bisa memenuhinya. Caranya, dia mengisap dan menjual rokok itu di sebuah warung tertutup. Makin pendek batang rokok yang diisap, makin mahal harganya.

Suatu ketika Roro Mendut bertemu dan jatuh cinta dengan Pronocitro (Mathias Muchus). Tentu saja hubungan cinta mereka terhalang oleh kungkungan Tumenggung Wiroguno. Maka Pronocitro mencari siasat dengan menghamba kepada Tumenggung Wiroguno. Pada suatu kesempatan ia mengajak Roro Mendut melarikan diri, mencari kebebasan dan kebahagiaan bersama. Tentu saja Wiroguno sangat murka. Ia bertekad menangkap Roro Mendut kembali, bukan semata-mata karena persoalan harga diri dan wibawa pribadi. Demi menegakkan citra keagungan dan kekuasaan Mataram yang jaya atas daerah Kadipaten Pati. Pronocitro dan Roro Mendut bunuh diri.

This exquisitely designed and photographed film is set in the 17th century kingdom of Mataram in Central Java. It is based on a legend that has been reworked many times in traditional performances, songs and narratives, and more recently has appeared in Ketoprak popular drama, and in novel form. In the film the old legend intertwines a story of passion and love, with subtle references to cultural contradictions in Indonesia. The armies of the king of Mataram have suppressed the rebels in the North coast of Java. But one coastal woman, Roro Mendut, refuses to surrender to her aristocratic captor, who leads the army. Roro Mendut uses her sexuality to resist the sexual aggression of a powerful man. When she and her lover die in their attempt to escape captivity, we are left asking if weapons and force are an adequate means of conquering the spirit of resistance. Though set in a kingdom of the past, cultural and sexual conflicts combine in this film to make it a powerful and yet subtle statement about power relations of today. Of particular note in the film is the use of traditional dances from Central Java and the North Coastal regions as a means of expressing both cultural and sexual difference. It is one of the most successful recent attempts to incorporate elements of traditional culture into a modern Indonesian narrative film. (Notes by Krishna Sen) This video release version has been subtitled by SBS Television in Australia.

Suggested Reading

Barbara Hatley "Texts and Contexts.The Roro Mendut Folk Legend on Stage and Screen" in K. Sen (ed.) Histories and Stories. Cinema in New Order Indonesia (Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 1988) Krishna Sen "Repression and Resistance: Interpretations of the Feminine in New Order Indonesia" in Virginia Matheson Hooker (ed.) Culture and Society in New Order Indonesia

Kisah asli Roro Mendut.
Roro Mendut dalam cerita rakyat Indonesia, adalah seorang perempuan cantik yang hidup di Pulau Jawa pada zaman Kesultanan Mataram abad ke-17. Kecantikannya memukau semua orang, termasuk Wiroguno yang sangat berkuasa saat itu.
Namun, Roro Mendut bukanlah wanita yang lemah. Dia berani menolak keinginan Wiroguno yang ingin memilikinya. Bahkan dia berani terang-terangan untuk menunjukkan kecintaannya kepada pemuda lain pilihannya, Pronocitro (Pranacitra, dalam bahasa Indonesia).
Wiroguno yang murka mengharuskan Roro Mendut untuk membayar pajak kepada kerajaan. Roro Mendut pun harus berpikir panjang untuk mendapatkan uang guna membayar pajak tersebut. Sadar akan kecantikannya dan keterpukauan semua orang terutama kaum lelaki kepadanya, akhirnya dia tiba pada suatu ide untuk menjual rokok yang sudah pernah dihisapnya dengan harga mahal kepada siapa saja yang mau membelinya. Roro Mendut dan kekasihnya, Pranacitra, mati bersama demi cinta mereka.
Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok lintingan, dengan lem dari jilatan lidahnya, menggambarkan potensi perempuan dalam pemasaran. Di samping itu, penolakan Roro Mendut diperistri oleh Tumenggung Wiroguno memperlihatkan kemandirian perempuan Nusantara saat itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar