Minggu, 30 Januari 2011

RANJANG SIANG RANJANG MALAM / 1976

RANJANG SIANG RANJANG MALAM

Karno (Robby Sugara) dan Dina (Tanty Josepha) besar di kampung nelayan dan berhubungan terlalu jauh hingga Dina hamil. Karena malu, mereka pergi ke kota. Karno bekerja sebagai sopir truk, dan Dina menjadi penjahit. Nasib buruk menimpa mereka. Karno menabrak orang hingga harus masuk penjara, sementara bayi mereka harus dirawat khusus di rumah sakit, karena lahir prematur. Dina masuk perangkap Ibu Syam (Ruth Pelupessy), yang ternyata seorang germo. Karno curiga akan perubahan Dina, hingga tak mau dijenguk lagi. Dina frustrasi, jadi peminum, sampai berjumpa dengan Trisno (Rachmat Hidayat), sang penyelamat. Karno lari dari penjara dan menumpas sarang germo Ibu Syam, dan memohon Trisno untuk menjaga Dina.

NEWS

05 Februari 1977
Pokoknya: ranjang

RANJANG SIANG RANJANG MALAM Cerita, Skenario & Sutradara: Ali Sahab Produser: PT Sugar Indah Film RANJANG -- siang atau malam adalah kombinasi menarik buat nama Ali Shahab. Dari film pertamanya, Bumi Makin Panas, ranjang senantiasa memainkan peranan penting buat Ali. Dalam film Ranjang Siang, Panjang Malam, yang kini sedang beredar, ranjang lagi-lagi memainkan peranan istimewa. Kelanjutan cerita amat tergantung pada ranjang. Tanti Josepha, isteri sopir truk, Robby Sugara, dibikin sedemikian rupa sehingga memang cuma bisa terdampar ke ranjang pelacuran. Sudah tentu Tanti tidak senang jadi pelacur, meski wajah dan tubuhnya memang terlalu berlebihan untuk jadi istri sopir truk. Tapi inilah Ali Shahab, penulis cerita, skenario dan sutradara yang berkemauan keras. Begitu keras kemauannya melihat Tanti jadi pelacur, hingga semua orang yang ketemu perempuan malang itu dipaksa saja jadi jahat sejadi-jadinya. Pemilik truk yang dikemudikan Roby Sugara itu bahkan mendesak untuk meniduri Tanti sebelum memberi uang membayar rumah sakit bersalin -- ketika isteri sopir belum lagi melampaui masa 40 hari setelah bersalin. Rumah pelacuran yang dipimpin oleh Ruth Pellupessy juga disulap oleh Ali menjadi semacam rumah penjara bagi wanita yang pernah berkolaborasi dengan musuh dalam zaman Perang Dunia kedua di Eropa.

Kalau dalam kehidupan sehari-hari sang mucikari yang banyak tergantung pada kebaikan hati sang WTS, maka dalam film ini -- demi memperlihatkan kemalangan Tanti - kenyataan disesuaikan saja dengan harapan-harapan Ali. Tapi sutradara yang satu ini masih melihat ada manusia baik, meski jumlahnya sedikit. Rahmat Hidayat dimunculkan Ali sebagai pengarang yang amat baik, jago berkelahi meski juga suka minum lebih dari sebotol wiski sebelum mengemudikan mobil dengan selamat hingga ke tujuan. Maka meski Rahmat hidup membujang, kecewa terhadap pacarnya, tidur serumah dengan Tanti semalam suntuk, tapi toh isteri sopir selamat dari kejahilan sang pengarang. Seperti biasa, Ali masih tetap terampil. Sudut pemotretan tetap mengasyikkan. Tapi potret tentang manusia yang baru diimpikan, pastilah tetap sebuah potret belum selesai. Dan impian tentang manusia yang cuma hitam atau cuma putih, rasanya tidak akan pernah bisa dipotret dengan kamera sebaik apapun, dengan sutradara setrampil macam apapun. SS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar