Minggu, 30 Januari 2011

PERAWAN DI SEKTOR SELATAN / 1971

PERAWAN DI SEKTOR SELATAN

















Film ini dimunculkan tepat waktu disaat semua orang muak dengan adegan klub malam, mobil sport, baju dan rumah mewah. Ini film perang. Lalu betapa segarnya melihat alam dan manusia yang berjuang dengan persoalan khas mereka puluhan tahun silam. Banyak yang bilang film ini adalah manusia dalam revolusi. Alam juga mengakui paling senang membuat film tentang revolusi karena tokohnya jelas kontras.

Disebuah wilayah terpencil di Jawa Barat, bertahan sejumlah gerliawan yang cukup membuat Belanda pusing. Selain pejuang ini pusing karena peraturan perang, mereka juga memiliki pertentangan diantara mereka.

Kisah ini menarik karena manusiawi dan Indonesiawi sekali. Diawalai gadis Indo yang putus asa karena ibunya seorang Nyai dan menjadi mangsa amukan rakyat di Subang pada awal revolusi. Luka itu lah yang menyeret Laura (Farida Sjuman Djaya) akhirnya menjadi mata-mata Belanda yang diseludupkan diwilayah republik. Dan ia berhasil mengacaubalaukan gerliawan walaupun penyamarannya sebagai Patimah kakak seorang anggota gerliawan terbongkar.

Dengan tidak melupakan dialog-dialognya yang sebahagian besar sloganistis serta adegan kematian Laura yang agak diromantisir (pakai Khotbah dan senyum segala), harus diakui bahwa cerita yang sederhana itu telah dituangkan ke dalam skenario yang cukup memikat oleh Alam. nampakna Alam sang sutradara mengenal betul akan kisah ini, sehingga suasana masa perjuangan itu bukannya tidak berhasil memancing nostalgia para penonton.

Dalam film ini ada kapten Wira (Kusno Sudjarwadi) bekas sodanco dan komandan sektor Selatan. Kobar (Lahardo0, , Komandan Lasykar Rakyat yang kurang sabaran, ada Sadeli jago tidur dan ahli tembak, juga pedagang A Tjong yang cinta tanah leluhur Tiongkok dan bertentangan dengan anak yang jatuh cinta dengan gerliawan. Tokoh tokoh ini hidup dan akrab dengan penonton, karena itu nyata adanya saat revolusi dulu.

Meskipun demikan tidak bisa dikatakan film ini sempurna. Juru kamera Kasijo bekerja kurang teliti, tidak menghasilkan gambar baik. Juga Simanungkalit juga tidak banyak membantu dari segi ilustrasi musik. Juga lirik yang dinyanyikan pada akhir film juga. untung Alam bisa menguasai pemainnya sehingga meskipun banyak adegan yang menjadi kurang berhasil karena dialoq yang sloganistis (pertengkaran Amoy dengan A Tjong) namun secara keseluruhan suasana bisa dipertahankan. Tetapi andaikan Alam masih suka menyediakan waktu membenahi permainan Lahardo, maka pemain dengan tubuh mukibat ini barangkali bisa lebih ditolong dari kesan "Itu-Itu juga" Farid Sjuman bermain jauh lebih bnaik dari film yang pertama, Palupi. Pemain-pemainnya yang lain mungkin akan lebih mengasyikan andaikata pengisian suara dikerjakan dengan lebih teliti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar