Minggu, 30 Januari 2011

NAPSU GILA / 1973

NAPSU GILA


Piah (Suzana) melamar jadi perawat jompo di Wisma Cikolot yang tempatnya terpencil. Penghuni rumah jompo ini diantaranya Nurnaningsih mantan bintang film yang filmnya tidak pernah sukses, mantan kapten kapal (Tan Tjeng Bok) yang mempunyai hobi mengintip wanita. Sejak kedatangan Piah, sering terjadi pembunuhan misterius terhadap penghuni rumah. Mula mula Nurnaningsih mati tergantung. Piah menganggapnya gantung diri, tapi Kapten kapal melihat Piah sebagai pembunuhnya. Kapten juga terbunuh, tapi oleh Baron salah satu penghuni rumah jompo. Sementara itu Bisu (Bissu) yang mencurigai Piah, akhirnya terbunuh juga. Polisi yang menyelidiki akhirnya membuka tabir misteri, Piah lah yang melakukan semua itu. Ia melarikan diri ke tempat itu karena telah membunuh ayah angkatnya yang akan memperkosanya.




 FULL MOVE part 2


News
12 Oktober 1974
Nafsu jompo(Nafsu Gila)


Film "nafsu gila" sutradara ali shahab, memiliki gambar-gambar yang menarik tetapi elemen ceritanya belum digarap dengan baik. film ini lebih menampilkan kisah ribut di rumah gila daripada tentang orang-orang jompo.


Mudah-mudahan tidak berlebihan, tapi saya ingin menyebut Nafsu Gila ini film pertama yang memanfaatkan kemungkinan variasi sudut pemotretan sampai batas-batas terakhir. Suatu kemajuan, suatu prestasi. Memang. Tapi sebagian besar penonton juga tahu bahwa gambar-gambar indah saja tidak cukup memaksa kita untuk mengakui keberhasilan sebuah film. Gambar itu sendiri, meskipun elemen utama, tetap bukan elemen tunggal dalam film. Terutama jika tontonan tersebut dibebani pula dengan sebuah kisah. Dalam hal film Nafsu Gila, elemen cerita itulah yang justeru tercecer tak tergarap. Ali Shahab sebagai penulis cerita sebenarnya berniat berkisah tentang orang-orang jompo, tapi akhirnya yang muncul tidak lebih dari kisah ribut di rumah gila. Tingkah yang aneh-aneh para penghuni "Wisma Tjikoto" yang digambarkan oleh Ali Shahab memang bisa timbul dari kejompoan. Tapi melihat fisik penghuni wisma itu, (perhatikan kekuatan berkelahi Husin Lubis, Tan Tjeng Bok serta tubuh gempal Nurnaningsih) tidak bisa lain: kumpulan orang-orang gila. Menjijikkan Tidak cukup dengan menggilakan tokoh-tokoh tua dalam wisma tersebut, Ali Shahab kemudian juga mengedankan tokoh Pia (Suzanna) yang datang ke wisma itu sebagai pengasuh tunggal. Pia punya riwayat yang sudah amat klise. Anak pungut dari keluarga yang mandul, suatu malam sang ayah angkat berhasrat menikmatinya. Ibu angkat yang menyaksikan kejadian tegang itu. sekali banting oleh Hadisyam Taha (bermain sebagai ayah), mampus. Tapi Tahax juga mampus oleh tusukan tangkai payung Pia. Karena membunuh, Pia melarikan diri ke Tjikoto yang terpencil itu. Entah bagaimana, di Tjikoto itu, Pia tiba-tiba menjadi pembunuh berdarah dingin. Dan adegan-adegan pembunuhannya itulah yang menjadi tontonan utama dalam film ini.

 Sudah tentu dengan limpahan darah serta pose-pose yang meskipun kreatif, tapi ekor-ekornya bisa menjijikkan juga. Lantaran tokoh Pia itu toh sudah ikut edan, memang tidak guna lagi menyiasati akhir cerita yang berkesudahan dengan matinya Suzana di ujung peluru seorang pemburu (atau barangkali juga polisi yang menyaru). Untungnya kegilaan yang berlimpah ruah itu tidak pula sampai menghancurkan kemampupuan para bintang tua yang dilumpuhkan Ali Shahab dalam film produksi PT Tidar Film ini. Bintang-bintang tua yang biasanya hanya mendapat kesempatan muncul sebagai figuran, melahirkan karya Ali yang terbaru ini, mereka nenunjukkan akting yang mengagumkam Terutama Tan Tjeng Bok. Bintang sebelum perang ini bermain bahkan lebih baik dari pemunculannya di televisi dalam berbagai kesempatan melawak. Nurnaningsih yang memainkan dirinya sendiri, Bissu yang bermain sebagai ahli purbakala, Habibah sebagai nenek lumpuh, semua muncul dengan kepedihan yang kadang-kadang mengharukan, Husin Lubis, sebenarnya juga bisa bermain baik, tapi porsi permainannya yang terlalu banyak berhubungan degan darah -- darah manusia maupun tikus yang disantapnya tiap sarapan pagi menyebabkan berkurangnya simpati pada dirinya. Ini terpulang juga pada Ali sebagai pengarang cerita. Bombasme yang mencuak di berbagai bagian adalal akibat langsung keinginan bersensasi sang sutradara. Memang suasana sensasionil yang timbul akibat pertemuan tokoh-tokoh di "Wisma Tjikoto" itulah yang menari Ali Shahab, bukan suatu kehidupan sosial yang melatar-belakanginya. Apalagi suatu kehidupan kejiwaan yang menjadi inti soal-soal yang ia gambarkan. Ketimpangan macam ini rasanya masih akan teru ada sepanjang Ali Shahab sendiri yang menulis kisah untuk film-film yang dibikinnya. Kariernya sebagai penulis cerita murahan yang laris itulah yang menjadi perintang baginya untuk bisa menulis kisah-kisah yang hidup, manusiawi dan membumi. Sayang. Salim Said

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar