Senin, 31 Januari 2011

GITA CINTA DARI S.M.A. / 1979

GITA CINTA DARI S.M.A.



Novel ini adalah salah satu novel remaja terbaik sepanjang masa? Gita Cinta dari SMA adalah film yang memberikan inspirasi pada remaja zamannya justru karena kesederhanaan, kepolosan, dan kejujuran? Kisah cinta Galih dan Ratna tulus dan indah? Naskahnya sendiri memang bagus, meskipun untuk sinetron ada penambahan dan pengurangan di sana-sini tapi tetap tidak mengurangi intisarinya.
Film ini bercerita tentang kisah cinta dua pelajar SMA yaitu Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman). Keduanya adalah bintang kelas, baik dalam pelajaran, olah raga maupun sopan santun. Bisa dibilang keduanya adalah pelajar teladan. Sayang cinta mereka tidak kesampaian karena ayah Ratna telah menjodohkan putri mereka dengan seorang insinyur. Dengan segala macam paksaan, cinta mereka diputuskan. Akan tetapi meskipun begitu adanya, mereka secara diam-diam selalu bertemu karena cinta mereka.


 

Novel berjudul Gita Cinta Dari SMA ini merupakan novel remaja terpopuler di era tahun tujuh puluhan. Novel yang satu ini pernah difilmkan yang pemerannya adalah Rano Karno dengan Yessy Gusman.
Kini, kisah remaja tersebut di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang ditayangkan oleh Indosiar, dengan pemerannya adalah Paundra Karna serta Ratna Galih.
Menurut Eddy D. Iskandar sendiri, pada waktu sekarang ini banyak remaja-remaja yang sudah tidak seperti remaja waktu dulu. Sehingga sekarang ini sudah banyak kasus tentang remaja yang muncul.
Oleh karena itu, ia ingin remaja yang benar-benar lugu, polos dan menampilkan sesuatu yang dapat disebut klasik. Oleh karena itulah, Eddy D. Iskandar kembali menerbitkan novel tersebut. (ind/erl)


















Drama Musikal
JAKARTA, KOMPAS.com Masih ingat cerita cinta Galih dan Ratna dalam novel laris Gita Cinta dari SMA dari era akhir 1970-an? Maret tahun depan di Jakarta, novel karya Eddy D Iskandar itu akan dipanggungkan dalam bentuk drama musikal berjudul Gita Cinta The Musical oleh koreografer Ari Tulang.

Ide memindahkan kisah Galih dan Ratna ke drama musikal itu diawali dengan impian yang sama dari Ari Tulang, Maera Hanfiah, dan Dian HP. "Jadi, saya, Mbak Maera, Dian HP, itu punya mimpi. Saya itu pengin banget bikin musical play Indonesia, begitu juga dengan Mbak Maera dan Dian HP," jelas Ari, yang didapuk jadi sutradara dan koreografer Gita Cinta The Musical, di Jakarta Selatan. "Cuma, kami enggak ketemu-ketemu. Dalam arti, kami masing-masing enggak tahu punya mimpi (yang sama). Sampai, akhirnya Sulung Landung ketemu kami bertiga dan ngomong soal ini," sambungnya.
Akhirnya, setelah menyatukan impian yang sama dan persepsi masing-masing, Ari, Maera, dan Dian langsung melakukan survei ke London (Inggris) untuk mengonsep drama musikal yang ingin digelar di Tanah Air. "Akhirnya, kami pergi ke London dalam arti kata kami lihat play yang ada di sana, berpikir kira-kira apa ya yang cocok diterapkan di Indonesia," terang Ari. Dari situ, mereka sepakat untuk mementaskan sebuah kisah yang ringan, "Bukan yang berat seperti tentang agama, tentang politik, tapi cerita cinta," terang Ari lagi.
***
Menurut mereka, kisah cinta identik dengan remaja. Namun, supaya bisa dinikmati sebanyak mungkin penonton, harus cerita cinta "klasik" Indonesia yang digarap. "Kami cari cerita lama, supaya orang begitu dengar lagunya sudah kenal. Kalaupun ada lagu baru, orang akan lebih menyerap dengan nyaman," kata Ari.
Gita Cinta dari SMA pun terpilih dengan bumbu sesuai dengan masa kini. "Akhirnya kami pilih Gita Cinta dari SMA, yang kami permak sedikit atas izin pengarangya," kata Ari lagi.
Gita Cinta The Musical, sambung Ari, akan berbeda dengan novel dan film Gita Cinta dari SMA. "Alurnya agak berbeda, karena di musical play harus dinamis. Satu contoh, versi kami, ada guru olahraga. Dalam novel, tidak ada," ujarnya. "Terus, ada cheerleaders, free style basket yang lagi tren sekarang ini, untuk menguatkan unsur-unsur remaja zaman sekarang supaya lebih dinamis," tutur Ari memberi sedikit bocoran.
***
Ari dan kawan-kawan tentu saja menemui kendala dalam mewujudkan mimpi mereka. "Yang pertama adalah mencari teater yang memadai. Kalau kita lihat musical play di luar, back stage-nya memungkinkan kita memuat banyak properti untuk menunjang setting cerita. Nah, di kita (Indonesia) belum ada gedung yang memadai, meski ada Gedung Kesenian Jakarta," papar Ari.
"Kendala yang kedua adalah kita belum mempunyai pemain-pemain atau entertainer yang lengkap dalam arti dia bisa akting, menyanyi, dan punya daya tangkap koreografi yang cukup baik," sambungnya.
Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Ari. Karena para pemeran dalam drama musikalnya bersemangat ambil bagian, Ari dkk memperoleh energi untuk mengatasi kendala tersebut. "Nah di sini saya melihat mereka itu punya semangat, itu yang bikin saya bahagia sekali," ujarnya.
Dengan mementaskan Gita Cinta The Musical, Ari tidak mau muluk-muluk memasang target untung besar. "Ekspektasinya sangat gampang, yaitu menghibur dan diterima, karena mau bikin musical play seperti yang di luar negeri belum bisa, karena gedung yang memadai dan pemain dengan paket lengkap belum ada," ujarnya lagi. "Jadi, kalau sudah bisa menghibur saja, itu sudah bahagia buat kami," pungkasnya. (C7-09)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar