Senin, 31 Januari 2011

DJAUH DIMATA / 1948

DJAUH DIMATA


1947 Belanda mengaktifkan lagi Multi Film. Pada awalnya untuk membuat film berita Wordende Wereld untuk diputar di kota-kota yang sudah diduduki Belanda, juru kamera perang Charles Breyer yang dimasukan ke Multi Film. Lalu 1948 Multi Film memproduksi film cerita. Multi Film adalah perusahaan swasta milik J.C Moll, karena dioperasikan untuk keperluan pemerintah, maka disubsidi oleh pemerintah Belanda. Maka perusahaan ini tidak boleh bikin film cerita, karena cari untung. Maka didirikan South Pasific Film Corp (SPFC) untuk membuat film cerita, walaupun semua fasilitas menggunakan Multi Film, tetapi secara resmi tidak melanggar aturan. SPFC membuat film cerita dengan menggunakan cew Multi Film yang berpengalaman dalam film berita atau film penerangan, juru kamera A.A. Denninghoff-Stelleng dan orang laboratorium Charles Breyer, dan Andjar Asmara muncul sebagai sutradara., yang menentukan pihak Belanda .Yang disebut sutradara dalam SPFC sama kedudukannya dengan perusahaan Cina sebelum PD2 hanya sebagai melatih acting dan dialoq, selebihnya juru kamera yang mengatur. Pemilihan sudut pengambilan/angel kamera, serta panjang pendeknya shot ditentukan oleh juru kamera Denninghoff, bahkan di editing pun

1948 Andjar Asmara menyutradarai produksi pertama Djauh Dimata berdasarkan tulisannya. Sepertinya ada keinginan meniru film Amerika You Always In My Heart yang juga bertumpu pada lagu. Tapi Andjar masih belum bisa melepaskan diri dari cara panggung Toneel puluhan tahun yang lalu. Cerita berjalan secara kebetulan dan berakhir dengan Happy Ending yang mudah. Ternyata film ini sukses diputar di kota-kota yang diduduki Belanda yang memang sedang haus hiburan. Maka Andjar dipercaya membuat film yang ke dua.

Ali (Ali Yugo) jadi buta gara-gara kecelakaan lalu lintas, padahal ekonomi keluarga sedang morat-marit. Malah masih banyak hutang yang belum terbayar. Dalam keadaan terdesak itu, sang isteri Ratna (Ratna Asmara) pergi ke Jakarta untuk mencari uang. Tak percaya kesetiaan isterinya, Ali menulis surat yang isinya minta Ratna tak usah kembali lagi. Isi surat dijadikan cambuk oleh Ratna untuk meniti karir sebagai penyanyi. Salah satu lagu yang sukses dan digemari masyarakat adalah "Djauh Dimata". Ali juga menyenangi lagu tersebut. Oleh Iskandar (Iskandar Sucarno) Ratna dibawa pulang, pura-pura bekerja sebagai babu di rumah Ali. Tapi Ali mengenali suara isterinya, dan terjalin kembali hubungan mesra Ali dan Ratna.










Kedua dari kiri : Ali Yugo (aktor), Duduk, kedua dari kiri : sutradara Andjar Asmara, Ratna Asmara (aktris, isteri Andjar) dan juru kamera Denninghoff Stelling. Produksi South Pasifik Film Corporation (SPFC), "Djauh Dimata" (1948). Berdiri, kedua dari kanan : Usmar Ismail

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar