Minggu, 30 Januari 2011

BERANAK DALAM KUBUR / 1971

BERANAK DALAM KUBUR / Birth In The Tomb



Disutradarai bersama AWALUDIN, Ali Sahab Bertindak sebagai Co Director

Dari komik berjudul "Tangis dalam Kabut".

Dhora (Mieke Wijaya), mengesankan penderita psikopat. Ia membunuh ibunya untuk menguasai perkebunan Ciganyar. Ayah tirinya (Ami Prijono) karenanya hilang ingatan. Adiknya, Lila (Suzanna), pengantin baru, disiram air racun, tapi tak mati. Ketika hendak dikubur, terdengar tangis bayi. Ia melahirkan dan ditolong pembantu setianya, anaknya diselamatkan dokter dan di akhir film sempat kembali pada suaminya, Robby (Robby Hart) yang pulang dari luar negeri dan memecahkan misteri hantu pengganggu. Hantu tadi adalah Lila yang menakut-nakuti penduduk Ciganyar, padahal sebenarnya ia hanya berurusan dengan Dhora. Tapi, horor itulah yang memang hendak jadi jualannya.

















 
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 1/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 2/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 3/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 4/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 5/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 6/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 7/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 8/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 9/10
Beranak Dalam Kubur (Suzzanna) - Part 10/10

























MERASA berbakat melukis, Ali Shahab, 33 tahun, yang tamat SMP di tahun 1958 melanjutkan pendidikan di ASRI Yogya hingga tingkat B 2. Ketika berada kembali di Jakarta pada tahun 1963, ia ternyata tidak bisa hidup dengan modal bakat itu saja. Waktunya yang senggang dimanfaatkan untuk giat dalam grup kesenian remaja Kuncup Harapan. Di sana ia merias para pemain sandiwara -- kepandaian yang ia pelajari secara pribadi ketika masih di Yogya, mengatur dekor, melukis karikatur di koran Berita Minggu serta sesekali ikut naik pentas. Koran Berita Minggu ikut terkubur setelah Gestapu, menyebabkan Ali Shahab terpaksa mencari usaha lain. Ia mendirikan koran mingguan Indonesia Jawa. Dari sanalah melancarkan novel-novelnya macam Turrte Girang, yang kemudian ternyata mendapat sambutan luar biasa dari para pembaca yang mendesak agar cerita bersambung itu dibukukan. Perkenalan Ali Shahab dengan dunia film terjadi di tahun 1967 ketika ia diminta oleh sutradara Misbach Yusa Biran untuk menjadi juru rias bagi para artis. Di Balik Cahaya Gemerlapan. Pekerjaan yang sama ia lakukan kembali di tahun 1970 untuk film Air Mata Kekasih. Untuk film Si Goudrong (1971) ia sudah menjadi CO-director. dan ketika menjadi co-director dalam film Beranak Dalam Kubur, saat yang belum ia harapkan tiba secara mendadak: sutradara Awaluddin sakit, dan Ali Shahab terpaksa menggantikannya. Hasilnya kemudian dianggap memuaskan oleh sang produser, dan Ali Shahab dipercayai oleh Dicky Suprapto untuk menangani film Bumi Makin Panas. Selepas merampungkan Nafsu Gila, kini Ali mulai lagi bersibuk dengan Tante Girang, film berdasar novelnya sendiri. Berikut ini adalah bagian penting percakapan sutradara muda itu dengan kepala desk film TEMPO, Salim Said. Tanya: Apa sebenarrnya yang anda ingin kisahkan dalam film Nafsu Gila ini? Jawab: Saya ingin dalam cerita ini mengumpulkan orang dengan macam-macam karakter serta latar belakang. Di sana ada bekas bintang film (Nurnaningsih), ada bekas kapten kapal (Tan Tjeng Bok), ada bekas anggota gerombolan (Husin Lubis), ada ahli purbakala (Bissu) dan sebagainya. Juga ada sedikit pesan bagaimana balas budi seorang anak terhadap orang tuanya. Cerita ini munigkin belum populer di sini, tapi di Eropa, orang-orang tua teklah dimasukkan ke dalam asrama sehingga anak-anak itu tidak lagi terganggu oleh kejompoan orang tua mereka. T: Pengetahuan anda mengenai rumah, jompo itu, adakah berdasarkan pengamatan ataukah sekedar hasil bacaan saja? J: Pengetahuan bacaan. Saya tidak pernah lihat rumah jompo. T: Melihat fisik dan tinglah laku tokoh-tokoh anda itu, saya kok tidak menangkap kesan rumah jompo. Saya sangat cenderung mengatakan bahwa yang anda gambarkan itu adalah rumah gila. J: Kalau penghuni rumah jompo itu orang jompo benar-benar itu terlalu biasa. Dan kalau rumah sakit jiwa, maka di sana harus ada dokternya. T: Saya melihat kehadiran mereka di rumah terisolir itu lantaran alasan psikologis, bukan fisik (ketuaan) yang biasanya menjadi alasan untuk jadi penghuni rumah jompo. Kehadiran Suganda tanpa pembantu, kematian berturut-turut tanpa kontrol dari yayasan pemilik rumah tersebut, serta itu membawa saga pada kesimpulan bahwa anda mengorbankan logika: J: Saya tidak merasa mengorbarkan logika, tapi sekedar mengarahkannya. Cerita itu kan diarahkan. Lakipula kalau saya gambarkan semua -- lengkap dengan, yavasan dan pengawasannya -- terus terang cerita ini tidak akan jadi suspense. T: Waktu anda berniat untuk membuat film Nafsu Gila, apakah anda terutama tertarik pada kejadian-kejadian yang silih berganti di wisma itu? J: YA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar