Senin, 31 Januari 2011

Arifin Chairin Noer 1974-1992

Arifin Chairin
Saya penggemar film dia G30s/pki, walaupun ini sudah terang-terangan propaganda pemerintah ORBA, tetapi secara film sangat baik. Jarang ada sutradara Indonesia yang bisa atau dapat memfilmkan sebuah peristiwa besar seperti ini, walaupun dalam bentuik pesanan. Dana yang dikeluarkan cukup hebat juga dan dukungan fasilitas sehingga film ini sangat baik.

Anehnya, setelah ORBA runtuh, tidak ada yang menghujat beliau ini, mungkin krn beliau sudah wafat duluan sebelum runtuhnya ORBA. Tidak seperti yang dialami Leni Refenstal yang masih hidup walaupun rezim Nazi sudah runtuh


MELAWAN BADAI 1974 ARIFIN C. NOER
Director
TAKSI 1990 ARIFIN C. NOER
Director
PETUALANG-PETUALANG 1978 ARIFIN C. NOER
Director Of Photography.Director
PENGKHIANATAN G.30.S/PKI 1984 ARIFIN C. NOER
Director
BIARKAN BULAN ITU 1986 ARIFIN C. NOER
Director
DJAKARTA 1966 1982 ARIFIN C. NOER
Director
PENGKHIANATAN G-30-S P.K.I. 1982 ARIFIN C. NOER
Director
RIO ANAKKU 1973 ARIFIN C. NOER
Director
BIBIR MER 1991 ARIFIN C. NOER
Director
SUCI SANG PRIMADONA 1977 ARIFIN C. NOER
Director
TASI OH TASI 1992 ARIFIN C. NOER Television film Director
CAS CIS CUS 1989 PUTU WIJAYA
Actor
HARMONIKAKU 1979 ARIFIN C. NOER
Director
SERANGAN FAJAR 1981 ARIFIN C. NOER
Director
MATAHARI-MATAHARI 1985 ARIFIN C. NOER
Director
YUYUN PASIEN RUMAH SAKIT JIWA 1979 ARIFIN C. NOER
Director.

WHO's Arifin Chairin Noer


Nama:
Arifin Chairin Noer
Lahir:
Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941
Pekerjaan:
Sutradara Film
Meninggal:
Jakarta, 28 Mei 1995
Agama:
Islam
Profesi:
Sutradara
Isteri:
  • Nurul Aini (Cerai 1979)
  • Jajang C. Noer
Anak:
  • Vita Ariavita dan Veda Amritha (Dari Nurul)
  • Nitta Nazyra dan Marah Laut (Dari Jajang)
Pendidikan:
  • International Writing Program, Universitas Iowa, AS (1972)
  • Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta (1967)
  • SMA Jurnalistik, Solo
  • SMA Negeri Cirebon (tidak selesai)
  • SMP Muhammadiyah, Cirebon
  • SD Taman Siswa, Cirebon
Karir:
  • Sutradara film (1977-1995).
  • Penulis skenario film (1971-1995)
  • Kepala Humas Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972)
  • Pendiri dan pemimpin Teater Kecil (1968-1995)
  • Anggota Studi Grup Drama Yogyakarta (1962)
  • Sutradara Teater Muslim (1962)
  • Wartawan Harian Pelopor Baru
  • Manajer Personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia
Karya:
  • Tasi Oh Tasi (1992)
  • Bibir Mer (1991)
  • Taksi (1990)
  • Cas Cis Cus (1989)
  • Biarkan Bulan Itu (1986)
  • Matahari-Matahari (1985)
  • Pengkhianatan G-30-S/PKI (1984)
  • Pengkhianatan G-30-S PKI (1982)
  • Djakarta 1966 (1982)
  • Serangan Fajar (1981)
  • Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (1979)
  • Harmonikaku (1979)
  • Petualang-Petualang (1978)
  • Suci Sang Primadona (1977)
  • Melawan Badai (1974)
  • Rio Anakku (1973)
Penghargaan:
  • Sea Write Award dari Kerajaan Thailand (1990) untuk bidang sastra
  • Anugrah Seni dari pemerintah RI (1971)
  • Sutradara terbaik versi FFI diperolehnya melalui film “Serangan Fajar” dan “Taksi”
  • Pemenang skenario terbaik FFI 1974 dalam film “Melawan Badai”
  • Pemenang skenario terbaik FFI 1973 dalam film “Rio Anakku”
  • Piala The Golden Harvest dalam FFA 1972 untuk dialog terbaik dalam film “Pemberang”
  • Pemenang pertama sayembara penulisan lakon DKJ naskah drama “Kapai Kapai” (1972)
  • Pemenang kedua sayembara naskah drama (1967)
  • Pemenang pertama sayembara penulisan lakon Teater Muslim “Mega Mega”
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan H. Saidi Guru 1 B, Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Arifin Chairin Noer yang lebih dikenal dengan nama singkatan Arifin C. Noer, adalah sutradara teater dan film Indonesia terkemuka dan termahal pada masanya. Sutradara kelahiran Cirebon, 10 Maret 1941, ini beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik. Meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995.


Arifin amat terkenal lewat film kontroversial yang disutradarainya: Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Film ini diwajibkan oleh pemerintah Orde Baru untuk diputar di semua stasiun televisi setiap tahun pada tanggal 30 September untuk memperingati insiden Gerakan 30 September 1965.

Arifin C. Noer, Anak kedua Mohammad Adnan, ini telah memulai kiprahnya dalam dunia seni sejak kecil. Sejak masih duduk di bangku SMP, ia telah berminat pada seni. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon. Kemudian melanjut ke SMA Negeri Cirebon namun tidak selesai. Lalu masuk SMA Jurnalistik, Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta (1967) dan International Writing Program, Universitas Iowa, AS (1972).

Ketika masih duduk di SMP dan SMA, ia telah mengarang cerpen dan puisi, lalu mengirimkannya ke majalah mingguan yang terbit di Cirebon dan Bandung. Sajak pertamanya, Langgar Purwodiningratan, mengenai masjid tempat ia bertafakur. Semasa sekolah ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Sastrawan Surakarta. Di sini ia menemukan latar belakang teaternya yang kuat. Dalam kelompok drama bentukan Rendra ini, ia menulis dan menyutradari lakon-lakonnya sendiri seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja.

Naskah karyanya Lampu Neon, atau Nenek Tercinta, telah memenangkan sayembara Teater Muslim, 1967. Kemudian saat kuliah di Universitas Cokroaminato Solo, ia bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegoro tersebut. Lalu ia hijrah ke Jakarta.

Di tengah minat dan impiannya sebagai seniman, ia sempat meniti karir sebagai Manajer Personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia dan Wartawan Harian Pelopor Baru.

Lalu tahun 1968, ia mendirikan Teater Ketjil dan berhasil mementaskan cerita, dongeng, yang seperti bernyanyi. Tentang orang-orang yang terempas, pencopet, pelacur, orang-orang kolong, dan sebagainya. Mencuatkan protes sosial yang transendental, tetapi kocak, dan religius.

Naskah-naskahnya menarik minat para teaterawan dari generasi yang lebih muda, sehingga karyanya banyak dipentaskan di mana-mana. Karya-karyanya telah memberi sumbangan yang besar bagi perkembangan seni peran di Indonesia.

Karya-karya tulisnya berupa naskah lakon yang kemudian disutradarainya dan dipentaskan oleh Teater Ketjil yang dipimpinnya, menunjukkan eksistensinya sebagai salah seorang pencetus bentuk teater modern Indonesia.

Teaternya akrab dengan publik. Ia memasukkan unsur-unsur lenong, stambul, boneka (marionet), wayang kulit maupun golek, dan melodi pesisir. 'Menurut Penyair Taufiq Ismail, Arifin adalah pembela kaum miskin.

Lakon-lakonnya antara lain: Kapai-Kapai (1970), Tengul (1973), Madekur dan Tarkeni (1974), Umang-Umang (1976), dan Sandek Pemuda Pekerja (1979). Lakon Kapai-Kapai dimainkan orang dalam bahasa Inggris dan Belanda di AS, Belgia, dan Australia. Pada 1984, ia menulis lakon Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi.

Kemudian ia berkiprah dalam dunia layar perak sebagai sutradara. Lewat film Pemberang, ia dinyatakan sebagai penulis skenario terbaik di Festival Film Asia 1972, dan mendapat piala The Golden Harvest. Arifin kembali tampil sebagai penulis skenario terbaik untuk Rio Anakku, dan Melawan Badai dalam Festival Film Indonesia 1978. Ia meraih Piala Citra.

Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai menyentuh kamera ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. 'Arifin merasakan bahwa pengalaman banyak menyutradarai teater, ternyata, merupakan dasar yang sangat perlu untuk film.

Pada masanya, Arifin adalah penulis skenario dan sutradara terkemuka dan termahal. Namun kala itu ia masih menghuni rumah kontrakan di Jalan Rawa Raya, Pisangan, Jakarta Timur, tapi sudah memiliki Mitsubishi Lancer berwarna putih. Sehingga ia berujar kasihan terhadap diri saya sendiri, sebab orang sering menudingnya orang kaya.

Film perdananya Suci Sang Primadona (1977), melahirkan pendatang baru: Joice Erna, yang memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Terbaik FFI 1978. Film ini, menurut Volker Schloendorf -- sutradara Die Blechtrommel, pemenang Palme d'oro Festival Cannes 1979 -- dari Jerman, ''Menampilkan sosok wajah rakyat Indonesia tanpa bedak. Arifin cermat mengamati tempatnya berpijak.''

Menyusul film-filmnya: Petualang-Petualang, Harmonikaku, dan Yuyun, Pasien Rumah Sakit Jiwa, juga Matahari-Matahari. Belakangan, Serangan Fajar dinilai FFI 1982 sebagai Film Terbaik. Sedang Pengkhianatan G-30-S/PKI, filmnya terlaris yang dijuluki superinfra box-office. Lewat film ini lagi-lagi Arifin meraih Piala Citra sebagai Penulis Skenario Terbaik, 1985. Kemudian Arifin menggarap film Djakarta (1989). Setahun kemudian, filmnya Taksi pada FFI 1990, terpilih sebagai film terbaik, meraih enam piala citra.

Ia menikah dengan Nurul Aini, istrinya pertama, dikaruniai dua anak, Vita Ariavita dan Veda Amritha. Pasangan ini bercerai pada 1979. Kemudian Arifin menikah lagi dengan Jajang Pamontjak, putri tunggal dubes RI pertama di Prancis dan Filipina, yang memberinya pula dua anak, Nitta Nazyra dan Marah Laut.

Lalu, ia menderita sakit kanker hati dan lever. Sempat menjalani operasi kanker di Singapura, sebelum kemudian sejak 23 Mei 1995 dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Namun nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia pada Minggu, 28 Mei 1995, pukul 06.25.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar